
Mas aku mau ke Solo sabtu besok, saudara ku ada yang menikah!
Ku kirim ke nomor Mas Adam yang seharian ini tidak ada kabar.
Aku meletakkan ponselku diatas meja.
"Kalau ga dikangeni ada,kalau lagi dikangeni gini hilang! Sebenarnya itu orang apa hantu sih?"Aku menggerutu Daan membereskan pakaian ke dalam tas.
Ponselku bergetar aku langsung meraihnya.Di layar tertulis nama Kak Restu.
Aku sedikit kecewa karena ternyata bukan Mas Adam yang menghubungiku.
"Assalamualaikum!"Dengan sedikit malas.
"Wallaikumsalam!lagi apa?"Suara Kak Restu menyapa.
"Lagi beresin pakaian yang mau dibawa besok Kak! Kenapa ?"
"Oh...ga kenapa-kenapa,cuma pengen ngobrol aja besok kan kamu beberapa hari ga temeni aku!"
"Kak Restu ga istirahat?ini udah malem lho Kak!"aku beralasan untuk cepat mengakhiri obrolan kami.
"Disini dingin Del...jadi aku agak susah tidur! Kepala juga agak berat!"Dia mulai mengeluh.
"Ya...balik kesini aja Kak!Toh juga kasihan Mama kamu, sendirian ga ada kamu!"
"Ya kan ada Kak Gibran!"
"Kak Gibran sekarang pindah ke apartemennya Kak!Kak Restu belum tahu?"
"Pindah ke apartemennya?Ga... kakak ga tahu!"
"Tadi sore Kak Gibran pamit sama aku waktu aku ngobrol sama Tante kalau besok beberapa hari aku ada acara keluarga!"
"Beneran Del...yang ini Kak Restu ga tahu!"Dia sepertinya benar-benar tidak tahu.
"Coba kakak tanya sama Tante langsung,mungkin ada yang ingin Tante sampaikan."Aku yang tidak ingin terlalu jauh mencampuri urusan pribadi keluarga Kak Restu.
"Ya coba besok aku tanya Mama langsung!Oh ya kamu berapa hari disana?"Di merubah topik pembicaraan.
"Mungkin senin baru pulang!"
"Jangan lama-lama nanti aku kangen kamu!"Kak Restu sejak kemarin hobi merayu,tapi aku tak bisa berpaling dari Mas Adam yang hingga saat ini belum ada kabar.
"Ya Allah Kak, sekarang jadi receh banget!"
"Del...aku akan berubah,demi kamu!agar aku bisa selalu di dekatmu!"
"Kak,maaf aku dipanggil ibu! nanti kita sambung lagi ya, assalamualaikum!"Aku menutup telepon.
__ADS_1
Aku sedang tak ingin membahas apapun.Rasa itu sudah ku tutup rapat-rapat semenjak rasa kecewa itu ada.Dan sekarang aku sudah memantapkan hati setelah Mas Adam yang melamarku kemarin walau baru sebatas lewat telepon.
Aku kembali menatap foto kami setahun yang lalu,saat pernikahan Rifi dan Alfian.
Saat itu rasa bahagia menyelimuti hatiku.
"Semoga suatu hari nanti,doa yang kita minta akan bertemu di arasy Allah!"
ponselku bergetar satu pesan dari Kak Sela.
Del...besok temani aku fitting baju ya!Kak Sela.
Maaf Kak!besok aku berangkat ke Solo ada saudara ku yang menikah.
Yah... padahal aku juga pengen kamu fitting baju sekalian!tapi ya udah gapapa nanti aku kirim baju kamu kerumah aja, hati-hati ya!
Aku kembali meletakan ponselku.
"Di acara pertunangan Kak Sela nanti pasti keluarga besar Mas Adam berkumpul,dan kemungkinan Mas Adam pun ga pulang!"
Aku membayangkan bertemu dengan keluarga besar Mas Adam.
Ponselku kembali bergetar satu panggilan dari Mas Deni.
"Wallaikumsalam!"angkat ku.
"Ada apa ya Mas,kok malam-malam begini ?"Aku penasaran.
"Ada titipan dari Pak Adam untuk Mbak Adel! sekarang saya sudah di depan rumah mbak Adel."
"Oh...ya aku keluar sekarang!"Aku mematikan panggilan.
Dan keluar menemui Mas Deni.
"Malam mbak!"Sapa Deni saat aku membuka pintu.
"Ada apa ya Mas?"
"Ini ada titipan dari Pak Adam untuk Mbak Adel besok di Solo!"Memberikan sebuah paper bag."Dan besok mbak Adel diantar travel untuk pergi ke Solo nya!"Menjelaskan.
"Dari mana Mas Adam tahu kalau aku mau ke Solo besok Mas?"Aku menatap Deni bingung.
"Ibu yang cerita nduk!"Suara ibu memecah obrolan ku dan Deni.
"Kalau begitu,saya pamit! Assalamualaikum!"Pamit Deni pada aku dan Ibu.
"Kapan ibu cerita sama Mas Adam?"
"Waktu kamu pergi sama Restu,ya Ibu cerita sama Adam tentang kamu yang mau kerja ngurus Restu juga!"Cerita ibu santai,"kenapa kamu keberatan?"Ibu menatapku.
__ADS_1
"Gapapa sih buk,cuma ga enak aja ngrepotin Mas Adam terus!"
"Ibu hanya cerita, karena Adam juga cerita Mamanya! Karena kamu dia jadi lebih baik hubungannya dengan Mamanya!Dia juga cerita banyak tentang perasaannya sama kamu,dia sangat sayang sama kamu!dia hanya ingin menjaga kamu, seperti bapak menyayangi kamu!"mengelus rambut ku.
"Ya semoga aku bisa bermanfaat untuk semua orang yang aku sayangi ya buk!"Aku memeluknya.
"Bapak pasti bangga jika tahu sekarang kamu lebih dewasa!"
"Aku ingin menjadi yang bapak inginkan buk! Karena bapak pasti ingin yang terbaik untuk Adel!"
...*********...
Hari ini kami diantar oleh travel yang dikirim Mas Adam.
Perjalanan selama empat jam kami sampai di tanah kelahiran bapak.Rasa kangen dengan bapak semakin lekat dihati.
Melihat rumah Mbah Kakung tiba-tiba menuntunku ke masa kecilku.Air mata tidak bisa aku tahan.
"Wah... saudara jauh!"Bu Dhe Wati langsung menyapa kami setelah melihat kami turun dari mobil travel."Gimana dek sehat?"Memeluk ibu.
"Alhamdulillah mbak yu sehat!Mbak yu sekeluarga juga sehat kan?"Ibu pada Bu Dhe Wati.
"Alhamdulillah sehat semuanya!eh lha ponakan Bu Dhe sudah perawan,bentar lagi nyusul Mas Bagus!"Memeluk ku.
"Masih sekolah Mbak yu biar lulus dulu!"Ibu tersenyum simpul.
"Ayo masuk!di dalam sudah ada keluarga besar,kita ke dalam!"Menuntun kami masuk kedalam rumah Bu Dhe yang tepat di sebelah rumah mbah Kakung.
"Assalamualaikum!"Kami mengucap salam ketika sampai di depan pintu.
"Wallaikumsalam!"Secara bersamaan keluarga besar bapak sudah berada dirumah Bu Dhe Wati, karena acara akan diadakan besok pagi.
"Loh,Mbak yu ngundang mereka juga?"Bu lek Yuni adik perempuan bapak ketika melihat kami.
"Iya Yun...walau dek Fatah sudah meninggal kita harus tetap nyambung silaturahmi!"Bu Dhe Wati memang wanita yang sangat kalem dan ramah.
"Alah...mbak yu paling mereka kesini juga mau melihat warisan peninggalan bapak! Bilang sama mereka,mereka itu sudah tidak punya hak disini!"Bu lek Tini menimpali.
"Maaf Bu lek kami kesini untuk menghadiri pernikahan Mas Bagus ga lebih!"Aku yang berusaha sabar tapi tidak bisa karena adik-adik bapak selalu menganggap aku dan ibu hanya menginginkan warisan Mbah Kakung saja.
Didalam surat wasiat Mbah Kakung memang tertulis bahwa rumah Mbah Kakung diwariskan kepada bapak namun adik-adik bapak tidak pernah setuju.
Dan bapak pun lebih memilih meninggalkan tanah kelahirannya dan tinggal di Semarang tanah kelahiran ibu.
"Alah...kamu anak kecil ngerti apa?"Bu lek Yuni yang tadinya duduk lalu berdiri dan menatap kami tajam.
"Sudahlah aku yang mengundang kalian kesini untuk acara Bagus kenapa jadi bahas yang ga perlu!Ayo dek kita kerumah bapak sudah aku siapkan kamar untuk kalian!"Mengajak ku dan ibu kerumah Mbah Kakung.
Sejujurnya aku tidak ingin kesini lagi,ya salah satunya adalah ini.Aku dan ibu pasti akan di olok-olok oleh adik-adik bapak yang dari dulu tidak pernah menyukai kami karena kami berbeda dengan mereka yang berada.
__ADS_1