
"Jahitannya merembes,jadi saya bedah lagi untuk dibersihkan!tolong Pak Adam lebih menjaga kebersihan lagi juga jangan terlalu banyak aktifitas yang berat hingga luka itu kering sempurna!"dokter Haris mengingatkan.
"Baik dok! terimakasih!"Ya aku mengakui aku tidak perduli dengan luka ku sendiri, hingga aku lupa untuk mengganti perbannya.
"Besok harus diganti!"dokter Haris kembali menegaskan.
Aku mengangguk,dan dokter Haris pamit.
"Kenapa ga bilang kalau punya luka?"Adel sangat marah, karena dia memang tidak mengetahui keadaan ku sepulang dari tugas.
"Maaf!"Aku menunduk mengakui kesalahan ku.
"Kalau memang aku ga penting buat kamu, banyak rahasia kamu yang ga pernah kamu ceritakan! berarti aku terlalu egois Mas,kamu selalu ada selalu ngerti tapi sedikitpun aku tidak mengerti kamu!"Adel dengan amarah nya.
Ini yang sebenarnya aku takutkan,ini awal dari semua yang aku tutupi.Adel pasti akan menayakan ini.Dan ini salah ku.Aku yang ga pernah terbuka tentang siapa aku.
Aku mencoba untuk duduk tapi tidak kuasa karena rasa sakit.
Adel mendekatiku,mencegahku,dan menahan ku agar tetap berbaring.
"Mau apa?"Dia yang sudah tak kuasa menahan air mata hingga suaranya cepat parau.
"Maaf!Mas cuma bisa buat kamu nangis!"Aku menatap wajahnya yang telah dialiri air mata.
"Adel ga pernah minta apapun dari Mas Adam,jika memang Mas Adam sayang sama Adel tolong jangan pendam semuanya sendiri!berbagi dengan Adel!"
Ya Allah tak kuasa aku melihatnya menangis.Sejak aku mengenalnya dia berulang kali menangis hingga aku janji pada diriku sendiri untuk membahagiakannya,tapi hari ini aku melihatnya menangis karena ku.
"Mas ga mau kamu khawatir!Ini hal yang biasa dialami oleh setiap tentara!Mas Adam gapapa,jangan nangis lagi oke!"Aku berusaha menenangkan pikiran nya yang terlalu khawatir padaku.
Aku berusaha membersihkan air mata di pipinya.
"Makan!jadi makam ga?"Mood anak-anak ini yang kadang aku bingung,Adel menawariku makan.
"Iya,tapi suapi ya!"Kali ini aku manja,agar Adel tidak merasa diabaikan.
Dia pergi keluar dan kembali lagi membawa sepiring makanan.
Dia menyuapiku,jujur sebahagia ini aku hari ini.Merasa diperhatikan,walau masih ada rasa bersalah karena aku belum jujur pada Adel.
"Jangan buat aku takut lagi Mas,cukup ya dua kali kamu buat aku takut!"Dan kembali mengomel.
__ADS_1
Tapi aku bahagia setiap kali dia mengomel karena rasa perhatiannya padaku,aku tahu dia sangat takut kehilanganku.Mungkin aku sedikit lebay tapi aku melihat rasa sayang di sudut mata Adel.
"Iya maaf!Mas janji ga akan buat kami takut lagi!"Aku menunjukkan jari kelingking ku.Dan dia menautkan jari kelingking nya.
"Kamu ga sekolah hari ini?"Aku lupa menayakan ini sejak dia datang tadi.
"Ga...tadi pagi nganterin ibu cek up ke rumah sakit sebentar!kata Mas Deni kamu sakit,ya udah aku minta antar kesini!"
"Oh...!kamu ga jenguk Restu?"Aku selalu penasaran dengan perasaan Adel pada Restu walau aku tahu tapi aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri.
"Tadinya iya,mau ajak Mas jenguk sekalian tapi sekarang malah kaya gini ya besok aja!"
"Kamu udah makan?"
"Belum,ntar aja dirumah!"
"Makasih ya sudah temenin Mas hari ini,maaf Mas udah buat kamu nangis!"Aku masih menyesal.
"Iya! lain kali cerita sama Adel, kata nya sayang tapi kok ga mau berbagi cerita!Aku kepo kali Mas!"Dia mulai bercanda lagi.
"Besok kita jenguk Restu,sekalian jenguk anaknya Rifi ya!Mas jemput pulang sekolah!"
"Bilang sama Rifi boleh,nanti anaknya suruh panggil aku Papa Adam!"Aku mengiyakan.
"Beneran?ntar dikira kamu ikut bikin hlo Mas!"Dia menggodaku.
"Aku yang udah buat Mama dan Papa nya menikah jadi ya boleh dong aku jadi papa angkatnya!"aku tidak mau kalah.
"Mas! ngomong-ngomong soal orang tua angkat,Mama Sari belum mau dioperasi transplantasi ginjalnya!"Seketika wajah Adel berubah.
"Kenapa?"Aku pura-pura tidak tahu.
"Karena anaknya belum pulang dari tugas katanya!padahal kondisi ginjal Mama udah semakin parah!"lanjut nya.
"Ya mungkin anaknya memang sibuk!kita positif thinking aja!"Aku berusaha mengakhiri tema tentang Mama,karena jujur aku sedang tak ingin membahas ini.
"Ya tapi ini demi Mama nya masa iya ga bisa pulang!"Adel terlihat sebal.
"Deni udah pulang?"Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Belum kelihatannya, katanya tadi mau ke ruang kerja kamu mau menyelesaikan pekerjaannya!"Adel semoga tidak curiga dengan tujuanku mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Erda!dia kemana?"
"Erda pergi katanya mau ketemu seseorang untuk urusan pekerjaan!"
"Oh...Del,kamu masih sering dihubungi Desti?"Aku ingin tahu apakah Desti masih sering mengintimidasi Adel.
"Ga usah bicarakan itu,aku sudah tidak ada urusannya lagi dengan dia!"Dia sepertinya tidak mau membahas Desti tapi aku ingin tahu perkembangan Desti setelah bertemu dengan ku kemarin.
Tak lama ponsel Adel berdering,ternyata Tante Nugraha yang menghubunginya.
Selama telpon Adel tidak menjauh dariku,aku juga dapat mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.
Tante Nugraha meminta Adel untuk datang ke rumah sakit, karena Restu sudah sadar.Dan memanggil-manggil nama Adel sejak sadar.
"Mas!"Adel pasti akan mengatakan ingin pergi kerumah sakit.
"Iya,pergi aja gapapa!Mas ada Deni juga Pak Odi,temui Restu kasihan dia!"Sebenarnya berat mengucapkan ini,tapi aku harus bisa saling mengerti.
"Maafin Adel ya Mas!jadiin hubungan kita serumit ini,ga ada kepastian dari aku!"Kesedihan nampak dalam wajah polosnya.
"Yang harusnya minta maaf itu Mas Adam!Menggantung hubungan kita!"Aku pun sebenarnya menyesal tidak ada ikatan apapun diantara kita hanya rasa sayang yang mengikatnya.
"Adel kerumah sakit dulu ya Mas,besok Adel kesini lagi!Jangan capek-capek jangan ngeluyur ga jelas!"Ya seperti biasa dia selalu mberi wejangan.
"Mas boleh nitip sesuatu?"
"Apa?"Dia terlihat ingin tahu.
"Nitip jaga hatimu hanya untukku!"Aku menggombalinya sereceh itu.
Adel hanya tertawa geli melihatku.
"Baru tahu aku,ada seorang laki-laki yang gagah seorang tentara pula nge-gombal sereceh itu!"Dia berlalu.
"Suruh anterin Deni!"Teriakku melihat Adel melenggang pergi.
Dia hanya mengacungkan jempol padaku.
Sampai kapan aku kaya gini berbagi hati.Cerita yang ga lucu,masa iya cinta segitiga tanpa jadian dari kita bertiga.Kaya judul novel remaja jadinya.
Aku tertawa melihat nasibku sendiri.
__ADS_1