AKU YANG TERPILIH

AKU YANG TERPILIH
CEO BARU


__ADS_3

"Besok pagi aku tunggu di loby hotel jam tujuh tepat! pakai pakaian yang rapi kita jalan-jalan!"Mas Adam sebelum pergi meninggalkan aku dan ibu yang menginap di sebuah hotel pilihannya.


"Kemana?besok terakhir latihan,minggu depan aku sudah pertandingan!"Aku sebal karena dia selalu punya planning yang mendadak.


"Udah nurut aja!"Berlalu meninggalkan ku di loby hotel.


"Ihhh ngeselin!"aku cemberut.


Ponselku bergetar satu panggilan dari Kak Restu.


"Hallo assalamualaikum?"sapaku.


"Wallaikumsalam!udah pulang ?"suaranya lembut.


"Belum Kak masih disini soalnya besok masih ada acara mungkin sore baru pulang!"Aku ga enak karena aku sudah mundur dari hari kepulangan ku.


"Oh... atau perlu Kak Restu jemput?"


"Ga...ga usah Kak!aku naik travel kok!"


"Ya udah! hati-hati ya!"Tutupnya.


Pagi ini aku bersiap setelah mandi dan berpakaian rapi.


Aku hanya bisa dandan seadanya, karena memang tidak bisa berdandan.


Aku melihat Mas Adam sudah siap di loby hotel, mengenakan kemeja abu-abu dengan setelan jas hitam dia sangat kelihatan berwibawa.


Sesekali dia melihat jam ditangannya.


"Mas!"Ketika aku sudah mendekatinya.


Dia mendongak dan menatapku dari kaki hingga kepala.


Aku yang mengenakan kemeja putih dan celana jeans hitam tanpa tas dan atribut apapun.


"Pakai ini!"Mas Adam melepaskan jas nya,dan memakaikannya padaku.


Aku cemberut memandangi wajah tegasnya.


"Lebih baik!Calon ibu CEO PT.PRADIPTA GRUP!"Memandangi penampilanku setelah memakai jas nya.


"Harus?"Aku menatapnya.


"Ya ga,tapi kalau bisa kelihatan lebih baik kenapa ga mau?"Menatapku penuh kesabaran.


"Lah kamu ga pakai jas dong!"


"Ada dimobil gampang nanti aku tinggal minta Deni untuk ambil !"tersenyum.


"Emang kita mau kemana sih Mas?"


"Ketemu calon karyawan kamu!"Menggandeng ku berjalan menuju mobil.


"Haaaa!"Aku melongo bingung.


Sekitar setengah jam perjalanan kami sampai disebuah pabrik yang besar.

__ADS_1


Aku baru kali ini melihat langsung sebuah pabrik yang halaman nya sebesar lapangan bola.


Mobil Mas Adam berhenti didepan kantor dari pabrik tersebut.


Terlihat Deni menyambut kami,saat kami turun dari mobil.


"Selamat pagi mbak Adel!"Sapa Deni saat Deni membukakan pintu mobil untuk ku.


"Pagi Mas Deni!"


"Selamat pagi pak Adam!"memberikan sebuah jas berwarna senada dengan yang ku pakai.


"Pagi Den...gimana sudah siap semua?"Mas Adam pada Deni.


"Sudah pak! Silahkan!"Mengarahkan aku dan Mas Adam untuk masuk kedalam kantor.


Mas Adam kembali menggandeng ku dengan pasti,langkahnya tegas.Aku sedikit kesulitan mensejajarkan dengan langkahnya.


Kami memasuki sebuah ruangan yang cukup besar, disana ada sebuah tulisan besar PT.PRADIPTA TEKSTIL INDONESIA sangat jelas terpampang.


Mas Adam masih santai melangkah.Aku yang sibuk memperhatikan semua yang ku lalui.


Setiap orang yang berpapasan dengan kami pasti menyapa dan menunduk.


Sampai di suatu ruangan yang mungkin ini ruang rapat,karena ada banyak kursi yang berjajar berhadapan.Dan kami sudah ditunggu beberapa orang disana.Mereka langsung berdiri ketika Aku Deni dan Mas Adam masuk ke dalam ruangan tersebut.


Mas Adam memintaku untuk duduk di kursi paling utama.Dan dia berdiri di belakang ku.


"Silahkan duduk!"Deni mempersilakan semua yang menunggu kami untuk duduk,"Pak Adam saya akan meminta satu kursi lagi!"Deni pada Mas Adam yang berdiri di belakang ku.


Deni mengangguk dan memulai meeting"Selamat pagi!"


"Selamat pagi!"Serentak jawaban semua yang mengikuti meeting.


"Baik, kenapa saya mengumpulkan kalian mendadak pagi ini, karena pak Adam selaku CEO dari PT.PRADIPTA TEKSTIL INDONESIA hari ini datang dan ingin mengumumkan sebuah hal penting! Silahkan pak!"Deni mempersilakan Mas Adam memimpin meeting


Aku yang bingung dan takut karena tidak pernah bertemu dengan orang-orang penting aku meraih tangan Mas Adam,tanganku rasanya dingin sekali.


Mas Adam membalas tanganku dengan genggaman erat.


"Selamat pagi semua nya!"Sapa Mas Adam,"Hari ini saya akan memperkenalkan tunangan saya Fadela Hanifa sebagai CEO PT.PRADIPTA TEKSTIL INDONESIA selama saya sedang bertugas di TNI!"Mas Adam dengan tegas.


Aku yang tidak tahu sebelumnya kaget dengan pernyataan Mas Adam.


Aku menarik lengannya seketika dia menatapku dan tersenyum.


"Jadi selama saya bertugas yang menggantikan posisi saya Adel semua keputusan ada ditangan Adel!"


"Maaf Pak,apa tidak lebih baik pak Deni saja yang sudah terbiasa memegang selama bapak bertugas?"Salah satu karyawan mengungkapkan saran.


"Deni akan tetap memegang peranan penting second layer selagi saya bertugas,tapi Adel yang akan memutuskan semua!Ada yang keberatan?"Tegas Mas Adam.


Semua tertunduk tidak ada yang berani melihat Mas Adam.


Aku baru tahu seperti ini Mas Adam jika di depan karyawan-karyawannya.Tegas kharismatik hingga tidak berani menatap wajah gantengnya.


Benar kata Erda jika Mas Adam memang seseorang yang tidak mau diganggu gugat semua keputusannya.

__ADS_1


Tapi sepertinya tidak berlaku kepada ku, dia tidak pernah berkata tidak pada semua yang kulakukan walau kadang dia juga suka memaksakan kehendaknya tapi tetap dengan kelembutan.


"Sekian meeting hari ini, silahkan kembali bekerja!"


Setelah semua karyawan keluar dari ruang meeting Mas Adam kembali menggandeng ku.


"Maaf Pak mau keruang kerja pak Adam dulu atau mau ke tempat produksi sekarang?"Deni menanyakan keinginan Mas Adam.


"Kita ketempat produksi sekarang!"Mas Adam berlalu dengan masih menggandeng ku.


"Mas!"Aku berusaha untuk bicara padanya tapi sepertinya dia sedang tidak ingin mendengarkan ku.


Dia berjalan seakan sudah mempunyai tujuan pasti,tapi entah apa?


Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak ingin posisi sebagai CEO karena aku tidak mudeng dengan pekerjaan seorang CEO dan rasanya aku tidak pantas menyandang status sebagai CEO.


Memasuki tempat produksi ada banyak pasang mata yang memperhatikan ku,apalagi aku yang dari tadi tidak lepas dari gandengan tangan Mas Adam.


Seseorang menghampiri kami,dilihat dari id card nya dia seorang supervisor di departemen proses awal pembuatan kain.


"Selamat pagi pak Adam,pak Deni ibu!"menyapa kami dengar senyuman.


Mas Adam hanya mengangguk.


"Mana manager departemen mu?"Mas Adam terlihat garang.


"Ada Pak, sebentar saya panggilkan!"Supervisor itu berlari kesebuah ruangan kecil yang tak jauh dari tempat kami berdiri.


Tak berapa lama supervisor itu keluar dari ruangan itu bersama seseorang yang lain.


Dari kejauhan aku seperti mengenalnya,tidak asing untuk ku tapi siapa?Aku mencoba mengingat-ingat.


"Pagi Pak!maaf pak Adam memanggil saya?"Seseorang laki-laki paruh baya yang sudah tak asing lagi untuk ku dia adalah suami Bu lek Yuni.


Aku sedikit terkejut melihatnya,tapi sepertinya dia lebih terkejut melihatku bersama Mas Adam.


"Pagi!Kumpulkan semua staf produksi sekarang!"Mas Adam terlihat mengerikan jika di depan semua karyawannya.


Supervisor tadi langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi semua staf produksi.Tapi suami Bu lek Yuni masih tertegun melihat ku,seakan tak percaya jika aku berada disamping Mas Adam.


"Kenapa kamu masih diam disitu?aku perintah apa?"Suara Mas Adam meninggi melihat suami Bu lek Yuni yang bernama pak lek Darno malah melamun menatapku.


Pak lek Darno terkejut langsung berlari ke ruangannya dan tiba-tiba terdengar suara nya memanggil semua staf produksi lewat pengeras suara yang ada di dalam tempat produksi.


Sekitar sepuluh menit hampir semua staf produksi berkumpul.Dan baru aku tahu ternyata suami Bu lek Tini juga bekerja disini sebagai supervisor.


Setelah semua berkumpul Mas Adam mengenalkan aku sebagai CEO pengganti nya ketika dia bertugas di luar kota.


"Oalah Del kamu tunangan Pak Adam?!"Pak lek Darno menghampiri ku setelah briefing singkat bersama Mas Adam tadi.


"Kenapa?kamu kenal dengan tunangan saya?"Tanya Mas Adam ketus.


"Iya Pak Adel ini ponakan istri saya,anak kakak ipar saya Mas Fatah!"Dia berusaha menjelaskan.


"Dia atasan kamu disini,disini dia pemegang utuh perusahaan jadi tidak ada silsilah keluarga disini yang ada hanya profesionalitas kerja!"Jawab Mas Adam tegas dan terlihat tidak ingin tahu.


Disini saja,ketika melihat aku bersama Mas Adam aku dianggap keluarga tapi kemarin dia dan istrinya menghina ku sesuka hatinya.

__ADS_1


__ADS_2