AKU YANG TERPILIH

AKU YANG TERPILIH
ADAM POV(mencari Adel)


__ADS_3

"Mas beliin kamu roti dan cemilan!"kata-kata ku terhenti saat melihat Adel tidak ada di dalam mobil.


Aku melongok ke jok belakang aku tidak menemukannya.Aku memanggil-manggilnya"Del...Adel...!"


Hingga aku keluar lagi dari mobil melihat ke segala arah namun tetap tak menemukan sosok yang kucari.


"Semua barang-barangnya masih di dalam mobil,jika pergi tidak mungkin!"pikirku.


Ponselnya ku hubungi berulang kali namun tak dijawab.Ketika aku kembali masuk kedalam mobil untuk menghubungi ponselnya kembali,ku temukan ponsel Adel ada dibawah jok mobil.


"Ponselnya ada disini,terjatuh dan sendal yang Adel pakai pun tertinggal sebelah!Ada yang ga beres ini!"aku mulai merasakan hilangnya Adel.


Aku langsung menghubungi Erda.


"Hallo...Er!Adel hilang,tadi aku tinggalkan dia di dalam mobil di depan minimarket,waktu aku balik dia sudah menghilang!"singkat ku pada Erda.


Ku hubungi Erda untuk melacak semua tentang Desti.Otak ku langsung tertuju pada Desti dan aku yakin ini semua perbuatannya.


Aku juga mencari rekaman cctv yang ada di mini market itu.


Tidak banyak kesulitan untuk mendapatkan rekaman cctv.


Disana terlihat seseorang membungkam mulut Adel dan memaksanya untuk mengikutinya.


Seperti ada yang meledak di otak ku.


"Brengs*k!!!!"ku gebrak meja di depanku hingga karyawan mini market itu kaget.


Sebenarnya hal ini sudah pernah terbesit di pikiran ku dan ini semua kelalaian ku.


Setelah mendapatkan rekaman cctv,aku mendapat sebuah pesan singkat.


sebentar lagi Lo akan merasakan apa yang Gue rasakan!


Jam menunjukkan pukul delapan malam, sebentar lagi pesawat ku segera terbang.Akh situasi apa ini? Untuk pertama kalinya aku tak bisa berpikir tenang.


Aku harus memilih antara menyelamatkan orang yang aku cintai atau tugas dan kewajiban ku juga impian ku.


Kubuka ponsel Adel ber-wallpaper foto kami berdua saat pernikahan Rifi dan Alfian.


Dan membuka pesan yang ku kirim padanya.Semua pesan yang ku kirim dari awal aku kenal hingga saat ini tidak pernah dia hapus.


"Dasar cewek konyol!kamu masih menyimpan semua pesan-pesan yang kirim!"air mata ku tak terasa menetes.


Di dalam pesan-pesan itu aku selalu mengingatkan nya untuk shalat.Seketika aku teringat jika aku belum shalat isya.

__ADS_1


Aku langsung mencari masjid terdekat dan shalat isya.


Ku hubungi Erda aku akan sudah kuputuskan mencari Adel walau aku tahu resiko yang akan aku dapat dari pekerjaan ku sebagai prajurit negara.


Aku kembali ke hotel dan mengganti pakaian ku.Setelah ku kemas semua yg mungkin ku perlukan untuk pencarian Adel ke dalam tas aku keluar dari hotel.


gue tunggu dibawah bos!


pesan dari Erda.


Tak menunggu lama aku langsung menemuinya.


Mobil Erda yang sudah siap di lobby hotel sepertinya dia juga siap!"


"Bukan nya Lo masih harus tugas?sejak kapan Lo di Solo?"Aku yang sedikit bingung dengan keberadaan Erda di Solo.


"Sebenernya Gue cuti,ada kepentingan sama papa dan mama!"Erda cengar-cengir.


"Ga percaya Gue sama muka Lo yang ga meyakinkan itu!"Aku sangat mengenal Erda.


"Gue tadi udah lacak nomor yang hubungi Lo!dan Gue udah dapatkan titik nya.


"Ok kita ke sana!"Erda mulai melajukan mobilnya.


"Harusnya Gue terbang jam delapan tadi,dan Gue udah kirim kabar ke kantor kalau Gue akan menerima apapun konsekuensi nya atas akan keputusan Gue Ini !"nada suaraku berat.


"Gue ngerti!"menepuk pundak ku,"Lo pasti sudah memikirkan semuanya!"


"Suami Desti udah ada kabar?"


"Orang-orang Gue kemarin udah hampir bawa dia tapi lolos lagi,dan barusan mereka bilang suami Desti ada di kota ini !"jelas Erda.


"Gue ga perduli dengan itu manusia sebenarnya sekarang,tapi Gue khawatir saat Lo bilang dia ada di kota ini sekarang!"Aku benar-benar khawatir.


Ponsel ku berdering nama Gibran disana.


"Hallo?"ucapku pertama kali.


"Desti menculik Adel,benar Dam?"Gibran tanpa basa-basi.


"Dari mana Lo tahu?"jawabku dingin.


"Orang kepercayaan ku yang ngasih info!Dan Gue tahu sekarang Adel disekap dimana!"Gibran menyebutkan alamat dan keadaan tempat itu.


"Ok...makasih Gi!"

__ADS_1


"Kenapa?" Erda terlihat sangat ingin tahu.


"Orang Gibran tahu dimana dan bagaimana keadaan tempat Adel disekap!kita ke sana,di sana juga ada orang-orang Gibran!"terang ku singkat.


Erda mengangguk mengerti apa yang harus dia lakukan.


Setelah sampai disebuah rumah yang cukup sepi di perbatasan Solo.Rumah yang cukup mewah ditepi jalan,disekitar rumah itu sudah hutan.


"Titik yang diberikan Feri juga disini Bos!"melihat sekitaran dari jarak yang cukup jauh karena kita tidak ingin gegabah melakukan hal yang bisa saja membahayakan Adel.


"Kita pelajari dulu sekitaran!"masih mengawasi.


Ponselku bergetar pesan dari Gibran


kamu bisa masuk dari pagar pojok sebelah kiri belakang di sana tidak ada cctv.Adel disekap di gudang lantai dua!


Aku menunjukkan pesan Gibran pada Erda.


"Weh ngerti banget ni orang!jangan-jangan dia juga termasuk pelaku!atau berperan ganda?"celoteh Erda.


"Aku tahu betul Gibran dia lebih tahu Desti,aku percaya padanya!"kataku mantap.


"Oke...kita ikuti petunjuk Gibran!"kami berdua turun dari mobil yang kita parkir kan cukup jauh dari rumah itu.


Seperti operasi yang sering kami lakukan dalam pekerjaan kami.Sebersih seperti operasi-operasi militer.Berjalan mengendap-endap,memastikan kami tanpa suara dan jejak.


Setelah berhasil memasuki kawasan rumah.


Dibelakang sebuah pohon yang cukup rimbun kami bersembunyi untuk mempelajari sekitaran.


"Bos!kalau kita mau kelantai dua kita harus dobrak pintu utama!"Erda mencoba memecah masalah.


"Kita harus tahu dimana saja letak cctv nya!"aku melihat sekeliling."Kita harus cari jalan yang tidak tertangkap kamera!"


"Kenapa ga kita pecah konsentrasi saja sih Bos!Gue masuk untuk menerobos,Lo cari dimana Adel!gimana?"strategi Erda.


"Jangan!Gue ga mau Lo kenapa-kenapa kita kesini tangan kosong Er!jangan gegabah,kita lewat pintu sebelah sana!"menunjuk sebuah pintu berteralis besi diujung rumah."Cctv yang ku perhatikan hanya ada dua di ujung sana dan sana!"menunjuk kedua kamera cctv.


"Oke!dalam hal strategi Lo emang jago Bos!"puji Erda.


Kami mulai mengendap-endap menghindari sorotan kamera cctv,kami yang sudah terbiasa dengan mudah menjangkau pintu tadi.


Erda yang sudah terbiasa membuka pintu yang nampaknya sudah karatan itu.Tidak perlu waktu lama Erda membobolnya.


Kami sudah berada dipekarangan rumah samping yang ternyata pintu tersebut langsung menuju ke sebuah kamar.

__ADS_1


__ADS_2