AKU YANG TERPILIH

AKU YANG TERPILIH
Dilamar(2)


__ADS_3

Aku membuka paper bag pemberian Mas Adam yang tidak sempat ku buka dirumah kemarin.


Sebuah kebaya muslim, dengan warna senada.


Hey tuan putri ini buat dipakai besok untuk acara saudara tuan putri.


Sebuah surat diselipkan di dalam nya.


"Kamu tuh prepare banget sih Mas!"Aku selalu dibuat takjub oleh kelakuan Mas Adam.


...******...


Hari ini acara dimulai jam delapan pagi,aku dibikin kaget juga karena ibu menggunakan kebaya dengan warna senada dengan ku.


"Ya Allah cantiknya ibu aku!"Melihat ibu selesai berdandan.


"Masa to nduk?"melihat dirinya sendiri di cermin,"Ini yang kasih nak Adam!"tersenyum.


Oke Adam Mahesa Pradipta kamu benar-benar laki-laki idamanku.


"Ayo buk sudah hampir jam delapan ga enak sama Bu Dhe sudah ditunggu!"Aku juga yang sudah siap.


Kami berangkat ketempat acara yang diadakan di sebuah hotel di Solo.


"Bagus ya buk tempatnya!"Aku yang takjub memandangi sekeliling.


"Iya nduk!Ya karena Pak Dhe kan juga seorang karyawan penting disebuah perusahaan nduk katanya jadi ya kalau acara pernikahan Bagus sebegini mewahnya ya ga kaget!"


"Oh...wajar ya buk mereka orang berada!"Aku tersenyum karena memang kakak dari bapak ini adalah salah satu yang paling sukses.


"Wah... sesuatu murahan yang dibungkus sebaik dan semenarik apapun akan tetap murah!"Bu lek Tini kembali mencela ketika melihatku dan ibu.


Ibu menggenggam tanganku erat memberi isyarat agar aku tak meladeni.


Ibu hanya tersenyum dan memilih menghindari Bu lek Tini.


"Ibu kenapa Bu lek Tini ga suka sama kita sih buk?Apa salah kita sama dia?"Aku masih belum terima dengan perlakuan adik dari bapak itu.


"Sudah!Jangan dibahas lagi,biarkan saja.Kita disini bertamu!"Ibu Memintaku untuk mengalah.


Acara ijab kabul sudah dilaksanakan dan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan.


Aku yang sedang asik tersenyum dan entah kenapa tiba-tiba keluar air mata memandangi kedua mempelai pengantin yang sedang mengambil sesi foto keluarga.Aku yang tiba-tiba membayangkan saat aku menikah nanti tanpa sosok seorang ayah.


"Sejak kapan tuan putri ku jadi cengeng?"Tiba-tiba suara yang sangat aku kenal terdengar ditelinga ku.

__ADS_1


Aku menoleh dan ya dia seperti jaelangkung yang selalu tiba-tiba ada dimana saja.


Meraih tanganku dan menggenggamnya erat, menatapku dengan senyuman.


"Udah cantik!calon istri Adam Mahesa ga boleh cengeng!"Mengusap air mata ku dengan lembut.


"Kok bisa disini?"Aku yang sampai saat ini masih tidak tahu bagaimana laki-laki yang bersamaku ini selalu bisa ada dimana saja.


"Hemh...katanya jaelangkung ya datang ga diundang pulang ga diantar dong!"Dia tersenyum simpul.


"Ninggalin tugas?"Aku yang masih memandangi wajahnya yang teduh.


"Jangan ngomongin tugas disini,ga asik!Kamu mau foto sama pengantinnya ga? siapa tahu habis ini kita!"Dia menatapku jahil.


"Dilamar aja belom udah mau nikah aja!"Aku melirih.


"Aku ga akan melamar,aku akan langsung ke pelaminan!"Melirik ku.


"Idih...!"Dia selalu bisa membuat ku tersenyum.


"Wah... lumayan juga pacar kamu!"Bu lek Yuni menatapku tidak suka."Kerjanya apa?Masih kecil udah berani ngajak pacar ketemu saudara-saudaranya,mau jadi apa kamu nanti?"


"Perkenalkan saya Adam, calon suami Adel!"Mas Adam mengulurkan tangannya.


Tapi Bu lek Yuni tidak mengindahkan uluran tangan Mas Adam.Dan pergi meninggalkan kami.


"Itu adik bapak namanya Bu lek Yuni!Maaf ya Mas orangnya memang begitu!"Aku meminta untuk memaklumi sifat keluarga bapak.


"Gapapa!Kamu nginep di mana?"


"Dirumah Mbah Kakung!Tapi nanti sore udah pulang,ga enak kelamaan disini Mas ngrepotin saudara-saudara disini!"Aku kembali terduduk.


Tiba-tiba dia menarik ku keatas panggung live musik yang sedang menghibur tamu undangan.


"Mohon perhatiannya!"Dia meminta perhatian pada semua tamu undangan.


Sayup-sayup kudengar ada yang mengenali Mas Adam.


"Sebelumnya saya minta maaf karena saya tamu tak diundang!tapi selamat menempuh hidup baru untuk kedua mempelai semoga sakinah mawadah warahmah,dan yang kedua saya ingin Anda yang berada disini semua menjadi saksi untuk perempuan yang sangat saya sayangi!"Tiba-tiba dia bersimpuh dihadapan ku dan mengeluarkan kotak beludru berwarna merah dan membukanya, didalamnya berisi sebuah cincin yang sangat cantik berhiaskan permata sederhana tapi elegan.


"Fadela Hanifa maukah kamu menjadi jodohku?"Dengan tegas Mas Adam bertanya padaku yang rasanya malu campur bingung.


Beberapa detik aku masih terdiam karena bingung ingin menjawab apa.Walaupun aku sudah mempunyai jawabannya.


Mas Bagus mempelai pria yang juga sepupu ku berteriak dari kejauhan,"terima Del!terima!"

__ADS_1


Kemudian beberapa orang menirukan Mas Bagus berteriak"Terima...terima!"


Aku yang masih terdiam melihat sosok ibu dari kejauhan menganggukan kepala dan tersenyum.


Kemudian aku menatap Mas Adam yang masih bersimpuh dan mengangguk.


Disambut tepuk tangan dari para undangan yang aku pun tak kenal dengan mereka.Mas Adam memakaikan ku cincin.


"Ibu Winarti maaf saya melamar putri ibu dinikahan orang!"Tersenyum jahil pada ibu yang terlihat dari kejauhan.


Aku yang malu campuran bahagia,mencubit pinggang Mas Adam ketika kami turun dari panggung.


"Kamu tuh ya Mas suka banget bikin kegaduhan!"Aku melotot.


"Tapi suka kan! cowok tuh harus berani kalau ditantang!"


"Jadi...sudah resmi sekarang jadi tunangan?"Ibu datang mendekati kami.


"Ibuk!"Aku langsung memeluk ibu.


"Maaf ya buk, bukannya Adam ga tahu cara melamar putri ibu tapi Adam ditantang jadi ya disini dulu!tapi nanti insyaallah Adam akan datang kerumah sama mama dan keluarga Adam!"Mas Adam yang seorang tentara memang sangat berwibawa dan sopan.


"Iya...!Untuk ibu yang terpenting kamu benar-benar menyayangi anak ibu!"Ibu mengelus pipiku yang merona.


"Iya buk!"Mas Adam mengangguk.


"Kapan pulang dari tugas?"


"Ini belum pulang buk!Tapi nanti malam ada meeting penting disini jadi ya mampir sekalian menemui putri ibu yang cengeng ini!"menatapku.


"Apa?"


"Ibu dan Adel pulang besok ya!Nanti biar Adam atur soalnya Adel akan Adam kenalkan pada karyawan Adam disini!"Mas Adam meminta ijin ibu.


"Ya kalau ibu terserah,manut aja kalau ibu!"


Setelah pulang dari acara resepsi pernikahan Mas Bagus,aku dan ibu diantar pulang kerumah Mbah Kakung.


"Ini rumah Mbah Kakung?"Ketika Mobil mas Adam berhenti didepan rumah Mbah Kakung.


"Iya!"Aku.


"Wah masih bagus ya padahal bangunan kuno!"Melihat rumah Mbah Kakung yang masih kental dengan bangunan kayu khas pedesaan.


"Iya...karena wasiat mbak kung dulu rumah ini tidak boleh direnovasi ke bangunan baru,katanya biar nanti kalau anak cucunya kumpul disini tetap merasakan ada Mbah Kakung dan Mbah Uti!"Ibu menceritakan.

__ADS_1


"Mbah Kakung pasti orang hebat karena beliau masih memikirkan anak cucunya!"Memuji cara berpikir Mbah Kakung.


Dan sore itu aku dan ibu diminta Mas Adam untuk pindah menginap di sebuah hotel.Alasannya karena dia ingin ibu dan aku lebih nyaman.


__ADS_2