AKU YANG TERPILIH

AKU YANG TERPILIH
Tenangkanku


__ADS_3

Hari ini Mama Sari pagi-pagi sekali datang ke rumah membawakan aku dan ibu makanan untuk sarapan.


"Ya Allah Ma...jadi ngrepotin mama seperti ini!"Aku tidak enak hati dengan semua yang Mama Sari berikan.


"Gapapa sayang! Tadinya Mama mau sarapan tapi kok sendirian,ga asik!Jadi Mama kesini aja!"Mama Sari memeluk ku diiringi dengan senyuman.


"Tapi kan jadi ngrepotin mama!biar Adel aja besok kalau mau makan bareng disini!"Aku tidak mau merepotkan nya.


"Iya kapan-kapan Mama mau ngicipi masakan kamu!"Mama Sari memang sangat keibuan.


Setelah sarapan kami ngobrol ringan.


"Cowok yang kemarin temenin kamu dari kemarin itu siapa Del?"Mama penasaran.


"Yang mana Mah?"Aku pura-pura lupa.


"Yang sabar di senderin seharian kemarin!"Mama Sari mengode memainkan bola matanya.


Aku senyum-senyum malu.


"Itu yang kemarin hilang,yang tugas diluar negeri Mah!"Ibu nimbrung membawakan teh hangat untuk mama Sari.


"Oh...yang sampai sakit kemarin?"Mama semakin semangat menggodaku.


"Iya Mah!"Ibu dan Mama kompak.


Wajahku merona, untung Ibu dan Mama itu bukan orang tua yang kolot.Ya walau bapak kolot dan keras sifatnya tapi bapak tetap laki-laki terbaik sepanjang hidup aku.


Aku masih mencoba mengikhlaskan kepergian Bapak.Mas Adam mungkin yang terpilih menggantikan posisi bapak di hati ini,namun cinta pertama seorang anak perempuan hanya seorang ayah.


"Sejak kapan kamu pacaran sama Adam?"Mama Sari mulai menginterogasi ku,ya seperti biasa emak-emak yang selalu kepo.


"Aku sama Mas Adam itu belum pacaran Mah,kami cuma saling sayang aja!"Aku membuat Mama Sari gemas dengan jawaban yang ku gantung.


"Oke...Adam, seorang laki-laki yang baik sabar dan ganteng!"Aku dan Mama saling tatapan,hingga tersenyum bersamaan.


"Udah Mah!jangan diomongin terus nanti orangnya besar kepala!"Candaku.


"Eheem... siapa yang besar kepala?"Tiba-tiba Mas Adam sudah berdiri di pintu.


Aku , Mama dan ibu yang sedang asik ngobrol diruang tamu seketika kaget dengan kedatangannya.


"Astaghfirullah! mohon maaf Mas, kalau bertamu mohon ucap salam dulu!"Aku mengalihkan pembicaraan.


"Assalamualaikum!"Mas Adam mengucap salam.


"Wallaikumsalam!"Kami menjawab bersamaan.


"Masuk Adam,sini duduk ngobrol sama ibu-ibu!"Ibu menyuruh Mas Adam.


"Iya buk!"Mas Adam terduduk di samping ibu,dan masih Mas Adam yang ku kenal selalu mencium punggung tangan orangtuaku.


"Mas kenalin ini Mama Sari, mama angkat aku!"Aku memperkenalkan Mama.


"Tante Sari!"Mama Mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Adam!"Mas Adam mencium punggung tangan Mama.


Aku melihat Mama berkaca-kaca, entah apa yang beliau rasakan hingga berjabat tangan dengan Mas Adam mampu membuatnya hampir menangis.


"Maaf buk...mau pinjam Adel sebentar!mau ada yang dibicarakan,boleh!"Ijin Mas Adam.


"Boleh!"Ibu mengijinkan.


Mas Adam mengode, memainkan alisnya naik turun.Memintaku untuk mengikutinya.


Aku meminta ijin pada ibu dan Mama.Dan mengikuti langkah Mas Adam keluar rumah.


"Mau kemana sih kang siomay?"Aku mengejeknya dengan memanggilnya dengan sebutan itu.


"Ya elah kang bawel, tanya mulu!ayo naik nanti kamu tahu!"Membukakan pintu mobil.


Dan dengan senang hati aku masuk kedalam mobil.


Diperjalanan Mas Adam malah terdiam, entah apa yang dipikirkannya.Mungkin dia fokus nyetir tapi tatapan matanya seakan ada yang dipikirkan.


"Mas, didepan kiri ya!"Aku mencoba mengajaknya bercanda.


Tapi sama sekali dia tidak merespon.Masih sibuk dengan lamunannya.


"Mas... Mas Adam!"Aku memanggilnya dengan menyenggol lenganya,tapi entah dia begitu terkejut.


"Ada apa Adel?"Dia menahan suaranya.


"Dari tadi nyetir sambil ngelamun! Nabrak aku belum nikah tau!"Aku manyun.


"Calon mah adalah, cuma belum fix aja kapan nya!"Lanjutku.


"Restu?Atau Adam ?"Timpal nya.


"Sebenarnya sih maunya yang masih muda,tapi nanti yang tua bunuh diri!"Aku terkikik.


"Yang bunuh diri itu Fadela Hanifa, ditinggal hilang dua bulan aja udah habis baterai nya!"Tambahnya,dia juga terkikik.


"Siapa bilang?"Aku mulai malu, hingga aku pura-pura marah.


"Satu bulan ga sekolah,dapet cowok tapi ga pinter kaya Adam Mahesa!"dia membanggakan dirinya sendiri.


"Dua bulan ngilang cuma mau cari tahu aku pacaran sama siapa aja?"Aku menyelidik.


"Mas Adam itu cuma jalan-jalan bentar aja nikmatin liburan!"Dia ga mau jujur menjawab.


"Mas!kita mau kemana sih?ini jalan keluar Semarang loh!"Aku memperhatikan jalan yang kami lalui itu jalan menuju keluar kota Semarang.


"Kita mau kerumah Papa aku!"Jawab nya dengan senyuman.


"Papa?"Aku bingung, bukan nya menurut cerita Kak Sela Papa Mas Adam sudah meninggal.


"Jauh?"Aku pura-pura tidak mengerti.


"Ga...! sepuluh menit lagi sampai!"

__ADS_1


Seperti biasa Mas Adam menyetir dengan laju mobilnya santai.


Tiba-tiba dua buah motor, mengikuti mobil Mas Adam.


"Eh... turun...turun!"Mereka berteriak...teriak, berusaha mengetuk ketuk kaca mobil.


Mas Adam ga bergeming,masih santai memacu mobilnya, seperti tidak terjadi apapun.


"Mas! mereka siapa?"Aku mulai panik,melihat orang-orang itu.


"Udahlah biarin aja,ga usah pedulikan! anggap aja mereka ga ada!"Jawab Mas Adam santai,masih dengan adegan nyetir mobil.


"Tapi mereka kok kayak mau ngroyok kita,emang kita punya masalah sama mereka?"Aku yang sudah mulai memegang lengan tangan Mas Adam,tanganku mulai dingin.


"Ga usah panik, tenang aja!kamu duduk tenang,tutup mata jangan buka mata sebelum Mas minta oke!"Mas Adam memintaku untuk tetap tenang, dan menutup mataku.


"Tapi Mas!"Aku benar-benar hampir menangis, gemetar dan berkeringat dingin.


"Ikuti apa kata Mas Adam,merem jangan melek sebelum Mas Adam minta! pakai earphone ini dengerin musiknya."Menggenggam tanganku,dia selalu berhasil memenangkan ku.


Aku menutup mata dan memakai earphone seperti yang dia minta, berusaha duduk relaks.


Yang kurasakan hanya laju mobil semakin kencang,tak kudengar apapun kecuali suara musik ditelinga.


Entah beberapa menit mobil sempat berhenti tapi beberapa menit kemudian aku merasakan ada yang membuka pintu mobil.


Lalu mobil kembali berjalan.


Mas Adam memegang tanganku.


Aku berjingkat kaget, karena rasa takutku.


"Udah!ga usah teriak,ini Mas Adam!"Mencabut ear dari telingaku.


"Mas! beneran udah?"Aku masih menutup mata.


"Udah,melek aja! Mereka udah pergi."Dia memintaku untuk membuka mata.


"Ah ga...ga usah bohong! beneran ini aku takut lho Mas!"Aku masih tidak membuka mata.


"Udah mereka udah pergi!"Mas Adam terkekeh, melihat tingkah ku ketika ketakutan.


"Beneran!"Aku masih tidak percaya.


"Beneran!percaya sama aku, percayakan hati mu padaku kelak aku aku akan memberimu hatiku padamu!"Dia menjahiliku dengan menggombal.


Aku mencubit pinggangnya ketika aku membuka mataku.


"Aduhhhh!"Dia meringis sambil memegangi pinggang nya yang ku cubit.


"Bisa-bisanya keadaan genting malah nge-gombal!"Aku mengerucut.


Dia hanya tertawa melihat tingkah ku ketika aku ketakutan.Entah dibuat dari apa mentalnya, hingga bisa sesantai itu menghadapi masalah.


Aku bersyukur bisa mengenalnya, dekat dengannya.Dia selalu bisa membuat ku tenang, menghadapi apapun.Seperti hari ini,dia membuat caranya sendiri agar aku tetap tenang.

__ADS_1


Terimakasih Adam,jangan pernah pergi seperti kemarin.Aku takut menghadapi ujian Allah tanpa kamu.


__ADS_2