
Setelah selesai shalat aku diajaknya kesebuah food court rumah sakit.
"Tadi aku pengen banget makan nasi gandul,Mas inget deh deket sini ada yang jual!"Penjelasannya karena dari tadi kupandangi wajahnya yang salah tingkah.
"Terus!"Aku masih memandanginya.
"Kenapa sih?lihat aku sampe gitu banget?ada yang salah?"Dia melihat badannya sendiri.
"Ga...ga ada yang salah!"Aku tersenyum dan terus memandangi wajahnya.
"Ini...bikin takut!"Dia menutupi wajahnya.
"Takut napa?"Sekarang aku yang bingung.
"Takut kalau kamu nanti malam ga bisa tidur gara-gara terbayang-bayang wajah aku!"Dia terkekeh dengan gombalan dia sendiri.
"Mas!"Ekspresi wajah ku yang berubah menjadi serius.
"Makan dulu,Mas ga mau kamu sakit!habis makan kamu temui Restu dia pasti sudah menunggumu!"Kini raut wajahnya yang seketika berubah dingin dan serius.
Dia menyendok makanan yang dibawanya, menyuapiku.Dan seperti biasa aku selalu nurut kepadanya.
Hingga seporsi nasi gandul habis ku makan.
"Jangan pernah berpikir atau bertanya apapun yang membuat Mas Adam ga mau jawab!Jadi lakukan apa saja yang terbaik bagimu,aku bukan laki-laki yang bersifat berpikir berulang-ulang!Satu kali dan semua yang akan terjadi dan resikonya itu aku harus sudah siap!"Menatapku tajam.
Sejujurnya memahami seorang Adam Mahesa itu sulit bahkan sangat sulit.Bagaimana aku bisa memahami laki-laki yang tidak pernah mengungkapkan kekecewaannya terhadap seseorang yang dicintainya? Bagaimana aku bisa mengerti apakah dia terluka melihatku bersama laki-laki lain? Bagaimana bisa dia memintaku untuk selalu ada untuk laki-laki lain?
Sedangkan dia tidak pernah memintaku untuk selalu ada disampingnya.Dia selalu mementingkan perasaanku dibanding hatinya.
Dia hanya selalu meyakinkan ku bahwa hanya aku yang disayanginya.Satu-satunya wanita yang berada dihatinya.
"Mas...aku ga tahu harus bilang apa?Harus bagaimana?Aku berharap perasaan ini bukan hanya sementara dan berakhir secepatnya.Doaku selalu mengalunkan nama mu,ku ingin Dia memilihkan kamu untuk ku kelak!Maaf...aku belum bisa memberikan kepastian pada hubungan kita!"Aku meninggalkan dia yang tertegun mendengar kata-kata ku.
Aku berjalan goyah menuju kamar Kak Restu.Memikirkan yang telah terjadi, memikirkan yang juga belum terjadi,hingga ketakutan ku sendiri.
Sampai di lorong arah kamar Kak Restu,Kak Gibran memanggilku.
"Restu sudah sadar tapi belum bisa diajak ngobrol banyak, akibat pasca operasi yang kemarin.Kamu dari mana?"Kak Gibran menanyaiku.
"Dari food court makan Kak,tadi belum sempat makan!"Jawabku menyembunyikan Mas Adam.
"Ya udah,masuk gih!kamu ditunggu Mama dari tadi.Kalau Restu tidur."Terangnya.
__ADS_1
"Iya Kak!"Aku mengangguk ngerti.
"Del!"Dia memanggil ku lagi ketika aku akan masuk kedalam kamar perawatan Kak Restu.
Aku menghentikan langkahku dan kembali memperhatikannya.
"Aku tahu,ga seharusnya kamu disini untuk Restu!Dan harusnya kamu berada bersama Adam!Hanya aku ga ingin kehilangan Restu,jadi tolong maafin semua yang terjadi diluar kendali keluarga kami!"Dia menatapku dengan tatapan sayu.
"Apa yang aku lakukan sekarang adalah jalan yang memang harus kulakukan! semuanya sudah tertulis jadi, aku harus melaluinya bagaimanapun kondisinya!"Aku pergi meninggalkan Kak Gibran dengan semua pemikirannya.
"Adel!"Mama Kak Restu ketika melihat ku masuk kedalam kamar perawatan Kak Restu.
"Bagaimana keadaan Kak Restu tante?"Aku mendekati Kak Restu yang sedang tertidur pulas.
"Kata dokter sudah lebih baik hanya memang kita harus sabar!"Kulihat wajah lega pada Mama Kak Restu.
"Alhamdulillah!Kalau begitu tante!semoga masa kritisnya segeralah berlalu dan segera pulih!"Aku memandangi wajah Kak Restu,nampak wajah hilang arah dan lelah.
"Sudah mau magrib tante!Adel ga bisa lama-lama, kasihan ibu dirumah sendiri."Aku pamit.
"Iya...makasih ya Del sudah mau kesini!mungkin tanpa kamu sampai sekarang Restu masih belum sadar!"Mama Kak Restu yang tadi duduk di samping bed Kak Restu kini berdiri dan memeluk ku lagi.
Aku hanya tersenyum,sudah tidak ada kata-kata yang sanggup aku ucapkan.Pikiranku melayang entah tak tahu arah dan tujuan.
Aku kembali pamit pada Mama kak Restu.Diluar aku juga pamit pada Kak Gibran.
Tiba-tiba ada seseorang yang berjalan disampingku, mensejajarkan langkahnya denganku.
Menggenggam tanganku erat.Ku lihat wajahnya,ya dia adalah Adam Mahesa laki-laki yang tidak pernah meninggalkan ku saat aku butuh sandaran.
Menuntun ku ke mobilnya,dan dia masih menungguku sejak tadi.
Dia pun terdiam, disepanjang perjalanan kami masih terdiam hingga tiba di rumah.
Membukakan pintu mobil untukku.
Ponselku bergetar.
Satu panggilan dari assisten Mama Sari.
"Assalamualaikum!"
"Wallaikumsalam!Mbak Adel ibu masuk rumah sakit dan keadaannya kritis Mbak,kamu bisa kerumah sakit sekarang?"Terdengar suara khawatir disana.
__ADS_1
"Rumah sakit mana Mbak?"Aku juga khawatir pada keadaan Mama Sari terakhir yang kutahu beliau sedang cek up karena kembali drop.
"Dirumah sakit Bina Medika Mbak!"
"Iya aku kesana sekarang!"Aku menutup telepon.
Tanpa pikir panjang aku meminta Mas Adam mengantarku.
"Semoga Mama baik-baik saja!"Doaku.
Biasanya Mas Adam sangat perduli jika orang yang dikenalnya mengalami musibah tapi kenapa kali ini tentang Mama Sari dia diam saja.
Dia sangat fokus menyetir.Sesekali aku memandanginya raut wajahnya sangat dingin.
"Mas!"Aku memberanikan diri untuk mengajaknya bicara.
"Kamu ga usah khawatir Mama akan baik-baik saja."Tiba-tiba dia mengucapkan seperti itu.
"Mas!"Aku kembali memanggilnya agar menengok kearah ku tapi dia tak juga bergeming.
Sampai dirumah sakit,kami turun dan aku langsung menuju ke informasi untuk menanyakan dimana mama dirawat.
"Kamu masuk duluan,nanti Mas nyusul!Ada pekerjaan yang harus Mas tangani!"Dia menyuruhku untuk masuk terlebih dahulu.
Setelah menemukan kamar Mama aku langsung masuk.
Disana aku melihat seorang wanita terbaring lemah dengan oksigen dihidungnya.Kembang kempis nafasnya.
"Mama!"Beliau yang menutup mata terbangun mendengar panggilan dari ku.
"Adel!"Lemah suaranya.
"Mah,ya Allah Mama kok bisa sampai drop gini?"Sedih melihat kondisi Mama yang sangat lemah.
"Harusnya ibu sudah dioperasi untuk transplantasi ginjal kemarin Mbak!tapi ibu menolak dan mengundur jadwalnya kembali!"Terang assisten Mama.
"Ya Allah mah!Ayo dong Mah ini semua demi Mama sendiri, mama jangan siksa diri Mama sendiri!"Aku berusaha membujuknya agar mau segera melakukan tindakan transplantasi ginjalnya.
"Adel... Mama gapapa,mama masih kuat!"Ucapnya lirih karena lemah.
"Mah!"Air mataku tiba-tiba menetes.
"Mama gapapa sayang! Mungkin ini yang memang harus Mama terima,dulu Mama meninggalkan keluarga mama demi orang lain saat anak-anak mama butuh mama, sekarang Mama butuh mereka ya sudah sepantasnya mereka meninggalkan mama!"Suara mama yang tersengal karena susah bernafas dan lemah.
__ADS_1
Ya Allah apa lagi ini? cerita apalagi yang sedang aku hadapi!
"Iya tapi tidak begini juga mama menyikapinya.Mah semua yang kita lakukan pasti ada balasannya tapi bukan berarti kita harus membayarnya sekarang!Allah punya pengadilan tersendiri!kalau seperti ini namanya bukan mereka yang memang tidak peduli tapi mama!Mama harus sembuh demi mereka, anak-anak mama butuh mama nantinya.Tebus kesalahan mama dimasa lalu dengan kesehatan mama!"Aku terlalu berapi-api menyemangatinya.