
Kak Restu yang tadinya menatapku dengan senyuman kini berubah sedikit bingung karena melihatku tiba-tiba menangis.
"Kamu kenapa Del?"Menatapku serius yang berdiri menggendong Gilsa di depannya.
"Gapapa Kak!Huuhh jadi melow setiap kali ingat bapak!"Aku membersihkan sisa air mataku.
"Yang sabar Del... Allah lebih sayang sama Bapak! Kalau Kak Restu sayang sama kamu!"Dia tersenyum.
"Loh loh Restu Adel kamu apain? sampai nangis gini?"Mama Kak Restu yang datang dan melihatku sedang mengusap air mata.
"Ga Mah!Restu ga ngapa-ngapain !"Membela diri.
"Ga kok Tante Adel gapapa,Adel cuma lagi sering melow sekarang,kangen sama bapak malah sering nangis ga jelas !"Menceritakan yang aku rasakan.
"Sabar ya sayang,Tante tahu bagaimana perasaan kamu,kamu masih punya Tante om punya Restu,kami semua keluarga kamu!"Mama Kak Restu memang sangat ramah dan hangat beliau memelukku seperti memeluk anaknya sendiri.
"Iya makasih tante,disini Adel diterima dengan baik!"tersenyum.
"Ya udah jangan sedih lagi,Tante dan keluarga apalagi Restu selalu ada buat kamu! Acaranya sudah mau mulai,sini Gilsa biar Tante yang gendong kalian ke depan dulu."Kuberikan Gilsa pada Mama kak Restu.
Aku mendorong kursi roda kak Restu keruang tamu.Disana sudah ada ibu-ibu pengajian dan seorang ustadz.
Ada beberapa ibu-ibu yang ku kenal karena mereka tetanggaku.Maklumlah kami hanya beda kampung.Bedanya aku tinggal di kampung dan Kak Restu disebuah perumahan elit di tengah perkampungan.
Mereka melihatku dengan tatapan yang aneh.Ya aku tahu mereka pasti akan membicarakan aku, karena aku berada disini sekarang.
Aku sudah tidak peduli dengan semua yang orang bicarakan.Mereka tidak pernah ada diposisi ku,mereka hanya komentator untuk kehidupan orang lain.
Acara dimulai, Seorang ustadz memimpin membacakan ayat-ayat Al Qur'an.Aku melihat Kak Restu berulang kali memijat tengkuk lehernya.Aku rasa dia merasakan sesuatu yang tidak nyaman.
"Kak Restu butuh sesuatu ?"Aku berbisik padanya,karena posisi duduk ku yang berada disampingnya.
"Iya aku pusing Del!tolong panggil Kak Gibran aku mau istirahat dikamar!"Dia memintaku untuk dipanggilkan Kak Gibran.
"Baik Kak!"Aku bergegas mencari kak Gibran,yang ternyata sedang menggendong Gilsa di ruang keluarga.
"Kak Gibran!Kak Restu minta diantar kembali ke kamar katanya pusing mau istirahat!"Aku memberitahunya.
"Ya sebentar Kak Gibran tidurin Gilsa dulu dikamar!"
__ADS_1
"Sini Kak biar Adel aja yang gendong Gilsa!"Aku meminta Gilsa dari pelukan Kak Gibran.
"Ya udah!"Memberikan Gilsa padaku.
Setelah Kak Gibran mengantar Kak Restu kedalam kamar,dan membantu Kak Restu berbaring.
"Beneran ga mau kakak panggilkan dokter Erlita ?"Kak Gibran khawatir akan kondisi adiknya.
"Ga usah Kak! ambilkan obat saja diatas nakas,kata dokter Erlita ini normal kok!Nanti kalau sudah meminum obat mendingan."Kak Restu menenangkan kakaknya.
"Ya udah,minum obat lalu nanti istirahat!"Memberikan obat dan membantunya.
"Kak!nanti tolong antar Adel pulang ya, kasihan kalau pulang sendirian."Kak Restu meminta pada Kak Gibran.
"Iya...habis ini kakak antar pulang!tenang aja aman sama kakak!"menepuk pundak Kak Restu.
Dan meninggalkan Kak Restu agar bisa beristirahat.
"Kak Restu sudah baikan kak?"Aku melihat Kak Gibran keluar dari kamar kak Restu.
"Dia baru minum obat! sepertinya dia kecapekan dari pulang dari rumah sakit tadi pagi dia belum istirahat,nunggu kamu kesini!"Kak Gibran.
"Tadi Gilsa sama kak Nisa!Aku bantu Tante dulu di depan Kak !"Pergi meninggalkan Kak Gibran.
"Bisa Kak!"Aku sedikit ragu dengan jawaban ku.
"Kita ngobrol di taman belakang!"Menunjuk taman belakang rumahnya.
Aku mengangguk, berjalan mengekori Kak Gibran.
Kami duduk disebuah kursi berhadapan.Mungkin setiap hari taman ini untuk Om dan Tante Nugraha ngobrol-ngobrol ringan karena suasananya yang nyaman.Bunga-bunga yang ditanam Tante Nugraha kelihatan terawat.Ada sebuah kolam ikan kecil dengan gemericik air.
"Del...maaf ganggu waktu kamu!"Kak Gibran memulai percakapan kami.
"Iya gapapa Kak!"tersenyum ragu.
"Sebenarnya Kak Gibran tidak ingin mencampuri urusan pribadi kamu Restu atau Adam!"Kak Gibran mengawali tema obrolan kami.
"Maksudnya ?"Aku pura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Jujur sama aku, hubungan antara kamu dan Adam gimana?"Kak Gibran sepertinya meminta jawaban pasti dariku.
"Aku sama Mas Adam ya biasa aja Kak!Emang kenapa ?"Jawab ku menggantung.
"Kamu masih pacaran kan sama Adam?"Untuk pertanyaan ini ditekan.
"Aku sama Mas Adam berteman dari awal Kak! Hingga hari ini belum ada ikatan diantara kami.Jadi apa yang ingin dibahas dalam tema kami bertiga?Ga ada yang perlu dibahas kan?Aku belum mau membicarakan soal ikatan apapun dengan siapapun Kak !Aku berteman baik dengan siapapun,aku lebih suka berteman karena aku tidak suka jika dalam suatu ikatan itu harus membatasi dari sebuah pertemanan.Dan aku nyaman dengan pertemanan kami bertiga!"Jelas ku,yang sebenarnya aku tidak ingin membahas ini.
"Ya Kak Gibran mengerti apa yang kamu maksud! Hanya Kak Gibran tadinya berpikir kalau kamu dan Adam pacaran karena kedekatan kalian.Dan aku tidak ingin Restu ada diantara kalian!Aku tahu bagaimana Adam,aku kenal betul dia!"Kak Gibran menatapku.
"Gini deh Kak!pada intinya aku sekarang nyaman berteman dan jangan membahas apapun tentang sebuah hubunganku dengan semua orang yang dekat dengan ku!"Aku berusaha tegas agar obrolan ini tidak ada kelanjutannya.
"Maaf ya Del! sekarang Kak Gibran sudah mengerti!"Dia sepertinya kecewa dengan obrolan kami.
"Ya udah kak sudah malam,aku pamit dulu!tolong pamitku pada Kak Restu!"Aku bergegas meninggalkan Kak Gibran.
"Iya...Del, sebentar!Tadi Restu meminta kak Gibran untuk mengantar kamu pulang!"Aku berhenti sejenak.
"Iya Kak!Aku pamit dulu dengan Om dan Tante!"melanjutkan langkah ku.
Setelah pamit pada keluarga Kak Restu aku pun pulang diantar oleh Kak Gibran.Disepanjang perjalanan aku dan Kak Gibran hanya terdiam.Aku yang enggan berbasa-basi dan mungkin Kak Gibran juga merasa segan sejak obrolan kami tadi.
Sampai dirumah sudah ada ibu dan Mas Adam sedang ngobrol di teras depan rumah.
Jujur memang hanya Mas Adam yang bisa mengambil simpati Ibu dan bapak.Sifatnya yang ramah dan sopan pada ibu dan bapak.Dia juga tipe orang yang tidak kaku bisa membaur dengan semua orang.Dan kerendahan hatinya yang membuat semua orang yang mengenalnya akan terpesona dengannya.
"Makasih ya Kak !"Aku sebelum turun dari mobil Kak Gibran.
"Iya, sama-sama!"senyum Kak Gibran.
Aku berjalan mendekati ibu dan Mas Adam Dengan malas.Tapi aku tidak ingin ibu curiga dengan apa yang sebenarnya terjadi padaku dan Mas Adam.
"Assalamualaikum !"Mencium tangan ibu.
"Wallaikumsalam, sudah selesai nduk acaranya ?"Ibu.
"Sudah Bu!Ibu kok diluar,ga baik untuk kesehatan ibu!"Mengusap-usap lengan tangan ibu.
"Iya tadi didalam gerah jadi ibu keluar sebentar,Adam juga nyuruh ibu masuk,juga minum obat.Adam juga kesini mengantar obat ibu yang harusnya hari ini ibu ambil!Ya udah,ibu masuk dulu ya,ini Adel nya juga sudah pulang.Adel temani Adam, ngobrol ya!"Ibu memintaku.
__ADS_1
Bukannya harusnya dia ada di Solo sekarang?Kok tiba-tiba dia tahu kalau ibu belum mengambil obatnya dari rumah sakit!Ah ya aku lupa apa yang tidak diketahui oleh seorang Adam.
"Tidur gih...sudah jam delapan!Kamu pasti capek juga, besok-besok lagi jangan mangkir dari latihan, bentar lagi kamu harus lolos seleksi tingkat provinsi yang!Dan ingat obat ibu jangan sampai telat kasihan ibu kalau harus mengulang lagi!Oh ya kalau berangkat sekolah jangan lupa sarapan.Uang jajan kamu hanya cukup untuk naik angkot kan! makannya Mas minta Deni untuk selalu antar jemput kamu!Mas Adam sudah janji sama Bapak untuk jaga kamu dan Ibu,jadi kalau kamu kecewa,marah sama Mas itu tidak akan mengubah pikiran Mas Adam untuk janji Mas! Hingga nanti kamu benar-benar ada yang menjaga kamu,dia jodoh kamu!"Mas Adam meninggalkan ku.