AKU YANG TERPILIH

AKU YANG TERPILIH
Datang dan pergi


__ADS_3

Ponselku bergetar telepon dari nomor yang tak ku kenal.Dari yang terlihat nomor telepon rumah atau kantor.


"Hallo, assalamualaikum!"Angkat ku.


"Wallaikumsalam,benar ini dengan keluarga bapak Fatah?"Suara perempuan disebrang sana.


"Iya,benar saya anaknya!ini siapa ya?"Jawabku penasaran.


"Ini dari rumah sakit Bina Medika!bapak Fatah mengalami kecelakaan tabrak lari dan sekarang sedang ditangani di IGD,saya harap mbak segera ke rumah sakit sekarang!"


Rasanya seperti disambar petir disiang bolong, mendapat kabar bahwa bapak kecelakaan.


Tubuh ini lemas tak berdaya.Air mata pun tak dapat ku bendung.


Aku dan ibu langsung menuju ke rumah sakit.Sampai disana,bapak masih dalam penanganan dokter.


Aku hanya bisa memeluk ibu,dengan itu aku masih memiliki sedikit tenaga untuk menghadapi kenyataan.


Tiba-tiba Erda datang dengan beberapa orang laki-laki berbadan besar.


"Del...!"panggil nya dengan nada khawatir.


"Erda...kamu kok bisa disini?"Aku terkejut ketika melihat Erda datang.


"Aku tadi kerumah mu tapi tetangga kamu bilang katanya kamu kerumah sakit bapak kamu kecelakaan!"Jelasnya.


Tiba-tiba badan ibu melemah dan pingsan.


Aku yang masih memeluknya tak kuasa menahan tubuh ibu.


"Ibu...ibu...!"Refleks aku masih memeluknya.


"Tante!"Erda juga menolong ku untuk mengangkat ibu.


Sekarang ibu juga ada didalam IGD.


Aku hanya sanggup terduduk lesu menghadapi kedua orang tuaku sekarang bersamaan diruang IGD.


Erda juga duduk disebelah ku.


Sabar ya bapak dan ibu kamu pasti baik-baik saja.


Aku masih tidak percaya dengan yang ku hadapi,hanya ada perasaan takut.Takut kehilangan bapak dan ibu.

__ADS_1


Aku menenggelamkan wajahku pada lipatan tanganku.


Haruskah seperti ini takdir yang harus jalani? Setelah kehilangan Mas Adam, sekarang bapak kritis didalam sana.Dan penyakit ibu juga kambuh.


Dulu ketika dalam keadaan seperti ini ada Mas Adam yang menguatkanku.Tapi sekarang aku harus menghadapi nya sendirian.


Ada tangan yang mengelus-elus kepalaku.


"Kamu jangan kurang ajar!"Ku tangkis tangan yang menyentuh kepala ku.


Ketika aku mendongak dan meluapkan emosi ku pikir itu kelakuan Erda tapi ternyata ada seseorang yang selalu kurindukan.Tersenyum padaku,dan langsung memelukku erat.


Tak dapat aku berkata-kata,hanya tangis yang bisa ku lakukan.Dia masih memelukku erat, menenangkanku.Aku tak perduli akan seberapa lama aku dipelukannya,hanya detak jantungnya yang kudengar.


Hingga seorang suster melepaskan pelukan kami.


"Keluarga bapak Fatah!"Suster memanggil kami.


"Iya saya sus!"Aku mendekatinya.


"Maaf kami sudah melakukan yang terbaik tapi Tuhan berkehendak lain, benturan keras di kepala yang dialami pak Fatah tidak dapat dihentikan hingga menyebabkan beliau kehilangan banyak darah!Maaf kami sudah berusaha!"Seorang dokter yang menangani bapak memberikan penjelasan, dengan kepala tertunduk dokter itu kembali kedalam IGD.


"Ga...ga ini ga bener kan!Ga ini hanya mimpi!"Aku masih tidak percaya kalau bapak telah meninggal.


Dia yang tadi memeluk ku erat kembali meraih tubuhku yang sudah lemas terkulai.


"Er...tolong urus semuanya, hubungi Deni untuk mengurus ini semua!"Dan tanpa sepatah kata sambutan kebahagiaan karena seseorang yang hampir enam bulan ini aku rindukan,dan dinyatakan hilang dalam operasi militer,dia telah kembali.


Dia kembali disaat aku benar-benar membutuhkannya,Mas Adam mungkin memang seseorang yang dipilih Allah untukku.


"Adel...denger Mas!Adel harus kuat,kita lalui ini sama-sama!"Mas Adam merengkuhku dalam pelukannya lagi.


Hanya tatapan kosong yang ada sekarang.Seperti tak ingin percaya,tapi apalah daya.Harusnya sekarang aku bahagia karena Mas Adam telah kembali,tapi kenapa saat Mas Adam engkau kembali kan Bapak engkau ambil ya Allah.


Tak berapa lama seorang dokter yang menangani ibu juga keluar,memberi tahu bahwa keadaan ibu membaik tapi masih belum sadarkan diri.


"Adel...!"Tangan Mas Adam membingkai wajah ku yang sudah tak berdaya.


"Adel lihat Mas Adam sekarang!Adel Mas janji akan selalu ada untuk kamu,Mas juga akan menjaga kamu!Demi ibu,Mas minta kamu harus kuat!"Menatapku lekat,memberiku semangat.


"Pak...semua sudah saya urus,dan sudah beres!"Deni datang setelah mengurus semua untuk admistrasi bapak.


"Telpon Rifi,minta tolong dia untuk kesini sekarang!Dan bilang ke Erda untuk mengurus ini semua sampai ke akarnya,aku tidak mau ada yang mis sekecil apapun!"Perintah Mas Adam pada Deni.

__ADS_1


"Adel...temui Ibu sekarang ya! kasihan ibu,kalau kamu saja rapuh lalu ibu harus bertumpu kepada siapa?"Mas Adam kembali menguatkanku.


"Adel ga tahu lagi harus gimana Mas?Tanpa bapak,Adel bisa apa?Aku juga ga tahu apa yang harus aku katakan pada ibu,aku takut ibu kambuh Mas!"Air mata kembali mengalir.


"Kita pasti bisa lewati ini,Mas akan selalu bersama mu!"


Hari ini ku lewati dengan berat.Tapi Mas Adam selalu disampingku, menguatkan aku, menggenggam erat tangan ku.


Setelah ibu tersadar,aku berusaha memberi ibu pengertian.Kondisi Ibu sempat drop tapi aku selalu menguatkan nya,walau aku sendiri remuk.


Mas Adam juga meminta Rifi untuk menemaniku.Mas Adam selalu mengerti apa yang ku butuhkan.


Setelah pemakaman Bapak selesai,kami kembali kerumah.


Aku melihat Mas Adam sedang bicara dengan seseorang yang ku kenal,ya itu Mama Sari.


Terlihat Mama Sari menangis,tapi Mas Adam seperti menjaga jarak,dan pergi meninggalkan Mama Sari sendiri.


Semua mata tertuju pada Mas Adam,begitu juga dengan Kak Restu dan Kak Gibran.


Kak Restu tak berkesudahan melihatku selalu didampingi Mas Adam.


Sebenarnya aku juga masih tak percaya kalau Mas Adam kembali dengan selamat.Tapi pikiran ku tertuju pada meninggal nya Bapak,hingga aku tak memperdulikan itu semua.Yang ku tahu Mas Adam lah yang ada disaat aku lemah.


"Del...aku pulang dulu ya!"Pamit Rifi yang sejak kemarin juga menemaniku.


Aku mengangguk,dan Rifi memelukku.


"Terimakasih ya Rifi!"Ibu pada Rifi.


Mungkin keadaan nya terbalik,ibu lebih kuat,lebih bisa menerima kenyataan bahwa bapak sudah meninggal dibanding aku.


"Adel...ibu makan dulu ya,dari kemarin ibu dan Adel belum makan!"Mas Adam membawakan dua piring makanan untuk aku dan ibu.


"Mbak...mari saya bantu!"Mama Sari mengajak ibu untuk makan bersama nya.


"Adam,bujuk Adel ya biar mau makan!"Ibu meminta pada Mas Adam.


"Iya Bu...biar Adel sama Adam!"


"Adel...kamu makan ya...Mama sama ibu dulu,kamu harus makan! Kasihan bapak jika melihat kamu terus seperti ini."Mama Sari membujukku.


Harusnya aku bersyukur,dibalik ini semua Allah telah mengirimkan ku banyak orang-orang baik.Harusnya aku juga harus bersyukur karena seseorang yang aku cintai telah kembali berada disampingku lagi.

__ADS_1


__ADS_2