
"Deni...kirim orang untuk mengurus semua kebutuhan Mama dirumah sakit!"Kali ini aku tidak punya pilihan lain selain memperbaiki hubungan ku dan Mama.
"Maksud Pak Adam?"Deni sepertinya tidak menangkap maksudku.
"Cari orang untuk mengurus Mama selama dirumah sakit!"Aku kembali menegaskan kata-kata ku sebenarnya aku juga tidak mau membahas ini,tapi ini semua demi Adel.Aku tak mau dia selalu bersedih.
"Baik pak!Ada lagi yang harus saya lakukan?"
"Urus semua bisnis keluarga Desti...kalau perlu putus semua kerjasama yang berhubungan dengan keluarga Desti!"Aku sudah hilang kesabaran karena peringatan ku tak dihiraukan oleh Desti.
"Baik Pak!"
"Hubungi Erda, sampai mana dia meng-handle suami Desti?nanti biar aku yang urus sendiri!setelah aku cek up nanti...aku ingin tahu perkembangan perusahaan Papa...dan beberapa sekolah gratis yang sudah berdiri! Berikan informasi semuanya hari ini!Paham!"Tegaskan pada Deni.
"Maaf Pak!dari kemarin saya sudah melihat dan mendengar bahwa sekolah atas nama Mbak Adel sedang dalam isu ada pungli pak!Dan saya sudah meminta orang untuk menyelidikinya!"Deni menginformasikan.
"Pungli?"Aku sedikit heran karena mereka yang mengurus semua disekolah itu aku gaji melebihi gaji yang biasa dibayarkan negara.
"Iya pak!Dan entah mengapa kabar ini sudah di post disalah satu media online!Dan sekolah itu sedang diperiksa ulang perijinannya!"
"Apa? sudah sejauh itu kamu baru bilang sama aku sekarang?Salah satu pabrik tekstil Papa yang di Solo juga tiba-tiba diaudit oleh customer! Kenapa semuanya tiba-tiba?"Kali ini aku benar-benar seperti ditembak di jantung karena kedua nya adalah proyek baruku yang sedang ku kembangkan.
Sebenarnya tidak terlalu berpengaruh besar terhadap bisnisku.Tapi aku selalu tak mau apapun yang aku kerjakan itu gagal.Apalagi itu proyek baru.
"Maaf pak,saya akui saya lalai!"Deni menunduk merasa bersalah.
"Sudah...kamu urus semua bisnis Papa!Dan aku akan handle sekolah Adel!"Aku membagi tugas karena jujur aku sangat tidak mengerti tentang semua bisnis Papa.
Aku seorang anak yang dari kecil suka akan hal tentang sosial masyarakat.Berbagi dan mimpiku mendirikan sebuah yayasan sosial.Dan itu semua sudah ku wujudkan dengan mendirikan AM PRADIPTA FOUNDATION dengan kerjasama beberapa pihak, ditambah aku seorang prajurit TNI jadi sedikit mudah untuk mendapatkan pendonor amal.
Setelah cek up ke rumah sakit,aku mendapat kabar Mama sedikit membaik kondisi nya.Aku lega, setidaknya aku tidak mau dibilang anak durhaka oleh Adel.
"Aku harus ke kantor hari ini,ngurus laporan-laporan yang tertunda!"Aku memutuskan untuk ke Markas Komando menyelesaikan laporan sebagai TNI.
__ADS_1
Hampir jam makan siang,aku ijin untuk makan siang diluar sekaligus membelikan kado untuk Rifi dan bayinya.
"Selamat siang pak ada yang bisa saya bantu?"seorang pramuniaga perlengkapan bayi.
"Mbak bantu saya cari kado buat bayi baru lahir!"Dengan percaya diri aku meminta bantuannya.
"Baik, silahkan pak saya tunjukkan!"
Setelah beberapa menit berkeliling disana,kupikir cukuplah untuk kado yang ku pilih.
Dibantu oleh pramuniaga toko memasukan kado-kado kedalam mobil ternyata lumayan banyak.
Aku lanjut menjemput Adel yang ternyata masih dirumah sakit,menjenguk Restu.
Sebenarnya aku ingin masuk ke kamar Restu saat melihat pintu kamar nya sedikit terbuka.Kulihat gadisku sedang menyuapinya.Rasanya seperti ditampar oleh kenyataan bahwa gadisku masih bisa di tikung laki-laki lain.
Salahku sendiri... menyukai anak dibawah umur!apalagi dia anak semata wayang orang tuanya!Adam...Adam Lo tuh buat hidup Lo sendiri ribet.Erli ngejar-ngejar Lo tapi Lo sendiri ngejar-ngejar anak kecil!
Kulihat gadisku pamit pulang, aku langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah bertemu Adel aku mengajaknya menjenguk anak Rifi yang baru lahir,yang ternyata diberi nama Mahesa seperti namaku.
Namun aku mendapat telpon dari Deni,kalau salah satu staf pengajar di sekolah yang aku dirikan terbukti melakukan pungutan liar.Dengan hal ini,sekolah atas nama Adel itu dibekukan oleh pemerintahan terkait.
Aku juga mendapat kabar pabrik tekstil ku juga kehilangan beberapa customer penting.
Aku harus turun tangan sendiri.Ini yang menggema di otakku.
Adel mengikuti ku ke sekolah ku.
Disana aku sangat ingin meluapkan amarahku karena bisa terjadi kasus pungli.Amarahku meluap saat melihat semua staf pengajar dan kepala sekolah yang aku gaji dengan uang dari yayasan yang kudirikan.
Namun Adel berhasil meredam emosi ku.
__ADS_1
"Kalian saya gaji dengan uang pribadi saya,kalian orang-orang yang berpendidikan tinggi,kalian terpilih dari ribuan orang yang ingin diposisi kalian sekarang!Gaji kalian lebih tinggi dari semua yang berprofesi di bidang kalian sekarang yang digaji negara!Karena apa? Karena saya menghargai kalian yang mau membantu saya dalam mengelola sekolah ini.Sekarang diluar sana sudah ramai diangkat di sosial media menjadi bahan pemberitaan!Dan siapa yang akan mempertanggungjawabkan ini?Saya tidak perduli dengan image karena saya buka sosialita!Tapi visi dan misi yang harus saya dipertanggungjawabkan kepada masyarakat!Mengerti!"Aku berusaha menahan diri,karena Adel menggenggam tanganku erat.
"Kalian semua harus bertanggung jawab atas kesalahan teman kalian!Aku tidak perduli,jika kalian masih tetap ingin bekerja disini buat sekolah ini kembali berjalan!"Aku menarik tangan Adel dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.
Namun Adel menarik tanganku secara tidak langsung membuat ku berhenti.
"Bukan Mas Adam yang Adel kenal!"Dia mengucapkan itu padaku.
Aku menatapnya lekat.Jantungku masih memburu amarah yang masih belum semuanya meluap.Masih ada satu masalah lagi yang harus aku selesaikan.
"Udah mau magrib... shalat dulu!"Dia menatapku dengan tatapan mata yang teduh dan tenang.
Dia menggandeng tanganku menuju kesebuah masjid di sekolah.
"Jangan biasakan emosi mempengaruhi hidup kita! Pasrahkan semua pada Allah,Dia yang Maha Segalanya...kita hanya bisa berusaha sisanya Dia yang akan menentukan yang paling baik untuk semua hambaNya."Dia mengelus lembut lenganku.
Memintaku untuk shalat,agar aku bisa meredam emosi ku.
Adel benar...aku terlalu mengedepankan emosi! Harusnya aku dapat berpikir jernih agar aku tahu akar masalahnya jadi aku bisa mencari jalan keluar nya.
"Mas antar pulang!"Aku duduk disampingnya yang sedang sibuk memakai sepatu.
"Ibu hari ini nemenin Mama Sari dirumah sakit!besok libur juga aku mau kerumah sakit aja!"
"Mas sudah suruh orang untuk ngerawat Mama,Ibu suruh pulang aja...aku ga mau malah ibu nanti juga sakit!"Nada suaraku yang tiba-tiba meninggi.
Adel menatapku kemudian matanya mulai berkaca-kaca.Astagfirrullah aku membentak nya.Aku membuatnya menangis.
"Walaupun Mama Sari bukan ibu kandungku tapi aku sudah mengganggap beliau seperti ibuku sendiri!Dalam sebuah keluarga tidak ada kata aku atau kamu dalam keluarga hanya ada kata kita,yang berarti harus menerima baik buruknya,keadaan salah atau tidaknya! Karena sebuah keluarga adalah tempat kita pulang mendapatkan kehangatan pengusir kata lelah,jadi aku kesana bukan hanya karena simpati tapi karena aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi ibuku sendiri."Suaranya gemetar karena air matanya mengalir.
Adel andai kamu tahu bahwa seseorang yang kamu anggap seperti ibumu sendiri yang kamu sayangi seperti ibu kandungmu itu adalah Mamaku yang sudah meninggalkan ku yang membuat Papa dan Aisyah meninggal.
Apakah jika kamu sudah mengetahui nya kamu akan tetap menyayanginya?atau malah meninggalkan ku karena menganggap ku anak durhaka?
__ADS_1