
Aku langsung menekan tombol yang terhubung dengan ruang perawat.Tak berapa lama dua perawat dan satu dokter datang.Aku diminta keluar karena ini SOP rumah sakit
Rasa syukur juga khawatir campur aduk menjadi satu.
Aku mondar-mandir di depan ruangan Adel.Tak begitu lama suster membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk.
Ku lihat mata Adel terbuka,aku langsung mendekatinya menatap wajah nya yang lemah.
"Adel...!Alhamdulillah!"aku sangat bersyukur juga bahagia.
Dia membalas ku dengan senyuman.Rasanya badai itu kini telah berlalu.
"Adel...belum sepenuhnya sadar...dia sedang berusaha melawan sakitnya,insyallah dengan berjalan nya waktu dia bisa pulih karena menurut pemeriksaan tidak ada yang fatal saat peluru menembus punggung nya!"jelas dokter yang menangani Adel.
Aku hanya mengangguk!
Mungkin aku yang sudah terlalu terbiasa dengan persenjataan bukan hal baru mendengar penjelasan dokter.
"Buat dia relaks agar tubuhnya kembali pulih!"saran dokter.
"Baik terima kasih dok!"
Aku menggenggam tangan nya,telapak tangan Adel biasanya dingin tapi hari ini sudah berangsur hangat.
"Bapak!"kata pertama yang terucap saat dia baru saja terbangun dari koma nya.
"Bapak pasti seneng kamu sudah sadar Del!"aku tak bisa menyembunyikan bahagia ku rasanya ingin ku peluk wanita yang masih lemah ini.
Ingin ku sampaikan bahwa aku sangat mencintainya.
Dia hanya tersenyum melihat ku berkaca-kaca.Tangan lemahnya menjangkau sudut mataku.
"Terimakasih!"ucapnya lemah.
"Aku yang harusnya berterimakasih!kita tidak usah bahas ini ya,aku kabari ibu dulu beliau pasti bahagia jika tahu sekarang kamu sudah siuman!"aku mengelus kepalanya.
Dia mengangguk pelan.
Aku mengabari Mama,Ibu Adel dan juga Erda yang sudah mulai kembali bertugas.
Ibu Adel datang bersama Deni.Haru,dimana seorang ibu yang tahu jika anak perempuannya kembali setelah tidur panjangnya.
Aku memutuskan untuk memindahkan rumah sakit Adel.Kerumah sakit yang lebih lengkap dan juga lebih bagus untuk pemulihan Adel.Ibu Adel pun setuju.
Aku membawa Adel ke rumah sakit terbaik di Semarang.Agar ditangani oleh dokter terbaik menurut ku.
...****************...
Setelah mengurus semuanya hari ini Adel dipindahkan ke rumah sakit yang berada di Semarang.
Aku meminta penjagaan ekstra untuk Adel.Hingga aku meminta Erda untuk menjaga kamar Adel dua puluh empat jam.
"Gimana sekarang sudah lebih baik?"setelah Adel menempati kamar yang ku pesan khusus untuk pemulihannya.
__ADS_1
Dia mengangguk,"Sebenarnya aku ingin pulang!kangen pengen tidur dikamar ku."ungkapnya.
"Nanti kalau dokter sudah mengijinkan kamu pulang Mas pasti antar kamu ke kamar yang kamu kangenin itu!"godaku.
Dia tersenyum tipis.
"Del...besok pagi Mas sudah harus kembali bertugas jadi kamu nanti akan ditemani Mama atau Ibu ya disini!"pamitku.
Dia menatapku dan meraih tanganku.
"Aku takut Mas!"matanya mulai mengungkapkan rasa ketakutan.
"Ga usah takut Desti dan suaminya sudah di dalam penjara!Mas akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungi kamu!"aku menenangkan nya.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ku genggam kedua tangannya dan ku letakan didadaku.
"Mas akan lakukan apapun untuk melindungi kamu!Mas janji!kamu percaya kan sama Mas Adam?"meyakinkannya.
Seperti nya dia mulai merasa yakin.
"Aku juga minta Rifi untuk bawa Mahes kesini,mungkin sebentar lagi!"aku menghibur nya.
Tak berapa lama ada yang mengetuk pintu.
tok...tok...tokk......!!!
"Masuk!"
"Adel!"Rifi yang melihat Adel langsung memeluk sahabatnya itu.
Aku membiarkan mereka temu kangen.
Diam-diam aku keluar kamar Adel karena Deni telah menunggu ku.
"Pak !"Deni ketika melihatku keluar dari kamar Adel.
"Kita bicara di cofe shop bawah!"aku memberinya isyarat.
Aku berjalan di depan Deni yang mengekoriku.Sampai di cofe shop Deni menyerahkan beberapa berkas kepada ku.
"Ini semua berkas kasus Desti,Devan dan Ayah Desti!"menyodorkan nya kepadaku.
Kubuka berkas itu satu persatu dan kuteliti.Saat ku menemukan salah satu isi berkas itu mengenai kecelakaan bapak Adel aku terhenti.
"Jadi benar bapak Adel meninggal karena suruhan Ayah Desti?"aku bertanya pada Deni masalah ini.
"Iya benar Pak,itu semua direncanakan!"jelas Deni.
"Astaghfirullah!apa alasan mereka hingga melakukan ini semua pada keluarga Adel?"aku terheran-heran.
"Sebenarnya karena bisa dibilang bapak mbak Adel bisa menjadi saksi kunci kasus Handoyo jika masih hidup!"Deni.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan kecelakaan Restu?aku masih belum bisa mengerti!"
"Kecelakaan Restu itu karena Desti,di sana ada unsur cemburu pada mbak Adel! karena Restu yang tadinya mendekati mbak Adel hanya untuk menutupi hubungan nya dengan Desti malah Restu benar-benar jatuh cinta pada mbak Adel!"Deni menunduk seakan tidak enak hati menjelaskan itu padaku.
"Oke...urus semua sampai clear... pastikan mereka mendapatkan hukuman yang setimpal!"aku sedikit menuruti emosi.
"Baik pak !"Deni membereskan berkas."Saya permisi pak!"pamit Deni.
Aku mengangguk.
Huh... harusnya aku bahagia karena Adel sudah sadar tapi esok aku harus tugas keluar pulau.
"Dam!"Gibran yang tiba-tiba muncul dan duduk di depanku.
"Hey...gimana kabar Lo Gi?"aku yang sedikit kaget dengan kehadirannya.
"Alhamdulillah Dam!Lo sendiri gimana?"
"Alhamdulillah!"jawabku singkat karena pikiran ku sedang tidak karuan.
"Sepertinya lagi banyak pikiran?"Gibran menerka ku.
Aku tersenyum tipis,"Ga...hanya sedang mensyukuri nikmat Allah aja!"aku mencoba menutupi apa yang ada di otak ku.
"Restu berangkat ke Ausi kemarin!dia nitip Adel sama kamu,Adel benar-benar merubah Restu yang batu menjadi seorang yang lebih baik sekarang!"Gibran sepertinya sedang terheran-heran, terlihat dari senyumannya.
"Adel memang berbeda!"Aku membayangkan wajah polos gadisku.
"Kamu beruntung bisa mendapatkan hatinya!"Goda Gibran.
"Dia yang selalu ku sebut dalam doaku,sejak pertama kali kami bertemu!"aku membayangkan pertama kali bertemu Adel disebuah toko buku.
Flashback on
Brrruuukkk
Aku yang terjatuh karena tidak sengaja tersandung oleh kaki nya.
“Maaf!”ucapnya,dan mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.
Aku berdiri tanpa bantuannya.
“Gapapa!aku yang harusnya minta maaf baca buku sambil jalan jadi ga liat kamu!”tuturnya dengan tersenyum tipis.Ketika aku membalikan badan kulihat seorang perempuan polos tanpa riasan apapun namun wajahnya begitu ayu.
Flashback off
"Sejak saat itu aku mencarinya,dan mengejarnya!"aku tersenyum tanpa tahu malu.Karena Gibran sudah tahu bagaimana aku karena kami memang bersahabat dulu.
"Sebenarnya aku ga heran dengan sifat kamu yang ambisius tapi ini agak sedikit berbeda sejak kapan kamu ambisius dengan perempuan?Erli saja kamu cuekin ini cewek kemarin sore kamu kejar!"Gibran menggelengkan kepalanya merasa heran dengan kelakuan ku.
"Dan sebenarnya Adel juga belum tahu jika awal pertemuan ku dengannya itu sebenarnya di toko buku,dan berlanjut aku cari info tentang nya hampir saja dulu aku kalah sama Restu karena Adel pernah naksir Restu!"Aku mengusap wajah ku ketika membayangkan yang kulakukan dulu.
"Gila Lo Dam, seorang cowok yang Gue kenal dingin sama cewek sekarang bertekuk lutut dengan cewek SMA!"Gibran menertawakan ku.
__ADS_1
"Huh...dunia ga ada yang tahu!"aku menghela nafas, obrolan ku dengan Gibran ini seperti sedikit meringankan pikiran ku,walau aku juga masih berat jika mengingat esok harus meninggalkan gadis ku kembali untuk bertugas.
Harusnya aku sudah terbiasa tapi kali ini terasa berat karena aku meninggalkan nya disaat dia masih sakit dan trauma.