
"Nduk kamu kok ibu lihat dari tadi ngelamun terus!"Ibu mengelus rambutku yang masih setengah basah karena baru saja aku mandi.
"Ibu!Ndak kok buk... ngerasain seger habis mandi!"Aku berusaha untuk tidak menceritakan pada ibu.
"Gimana kondisi Restu?"Ibu duduk disampingku dan menyisir rambutku.
"Alhamdulillah lebih baik buk! katanya besok sudah boleh pulang!"Aku sangat tidak bersemangat membahas apapun sebenarnya.
"Alhamdulillah!Lalu Mama Sari, gimana kabarnya?"
"Hari ini Mama Sari dioperasi buk,tapi Adel belum tahu bagaimana kondisinya sekarang!"
"Ya besok kita jenguk kerumah sakit, sekalian ibu mau ambil obat!"
"Buk...mulai sekarang ibu cek up nya kalau Adel sudah kerja gimana? Soalnya mulai sekarang Mas Adam sudah ga bantu kita lagi!"Aku bingung cara menjelaskan ibu dari mana,karena aku tahu kami sangat terbantu dengan semua yang Mas Adam berikan.
"Ada apa nduk?cerita sama Ibu,kenapa kamu jadi berpikir seperti itu?Kamu ada masalah dengan Adam?"Sepertinya ibu mulai mengerti dengan berbedanya cara pikirku.
"Gini buk! Mulai sekarang kita harus mandiri, Adel ga mau bergantung terus pada Mas Adam!Tidak enak rasanya buk! Mulai besok Adel akan cari tambahan untuk kehidupan keluarga kita."Aku sangat berhati-hati membahasnya aku tak ingin ibu sakit karena memikirkan ini.
"Iya...ibu juga berpikir seperti itu nduk!Kamu harus sekolah,ibu ga mau kamu putus sekolah! Almarhum bapak berjuang keras agar kamu bisa sekolah!"Ibu berkaca-kaca.
"Ibu... sekolah Adel kan sudah lunas sampai nanti lulus!ibu jangan khawatir,Adel akan bekerja setelah pulang sekolah!Ibu tenang aja !"Aku memeluk ibu.
Aku berusaha untuk memberikan pengertian kepada ibu sehalus mungkin.
"Kalau begitu nanti ibu bantu ya,dulu ibu pernah jualan mungkin ibu bisa jualan lagi!"Ibu memberi masukan.
"Ga usah buk...ibu harus tetap sehat,Adel ga mau ibu kecapekan!Bantu Adel dengan doa, kalau ga salah Rifi punya loundry kecil-kecilan mungkin dia butuh bantuan!"pikirku.
"Ya wes...terserah kamu tapi kamu harus tetap sekolah jangan terlalu capek juga!"mengelus rambut ku.
Aku harus siap dengan segala kemungkinan.Aku tidak ingin bergantung dari Mas Adam.Dia sudah cukup baik!Satu tahun lebih aku mengenal nya banyak yang sudah dia berikan padaku dan keluargaku.
Ponselku bergetar satu pesan dari Kak Restu.
Del besok Kak Restu sudah boleh pulang, dirumah juga mau diadakan pengajian,kamu datang ya!!
Isi pesan dari Kak Restu.
Alhamdulillah dia sudah bisa pulang, ikut lega rasanya.
Aku berpikir ingin kerja apa? sedangkan kadang sekolah aku sampai sore,apalagi kalau harus ekskul.Latihan untuk pertandingan terakhir pasti sudah tidak ada waktu.
"Ya Allah aku harus gimana ?"Aku merebahkan tubuhku di atas kasur.
Ponselku bergetar satu panggilan dari Mas Adam.
Aku membiarkannya begitu saja.Aku sedang tidak ingin apapun yang menyangkut dia.
Hingga beberapa kali aku tidak menghiraukan telponnya.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Suara jendela kamar ku diketuk.
Astaghfirullah aku melihat jam diponsel ku menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
Aku terdiam.
Tok...tok...tok...
Kembali jendela kamarku diketuk.
Jujur takut karena ini sudah malam.Apalagi dirumah hanya ada aku dan ibu.
Lah kan bisa silat? Manusiawi kalau takut,logika aja iya kalau satu orang kalau ada beberapa orang kan ya bunuh diri.
Ya Allah aku harus gimana ?
Ponselku bergetar kembali panggilan dari Mas Adam.
Kali ini aku mengangkatnya karena jujur kali ini aku benar-benar takut.
"Hallo assalamualaikum !"aku.
"Wallaikumsalam,kamu lagi apa dari tadi kok ga dijawab telpon dari Mas?"Cerocos Mas Adam.
"Mas... tolongin Adel Mas,Adel takut!"Aku tapa basa-basi,membuang rasa marahku.
"Kamu kenapa Del? takut kenapa?"Mas Adam khawatir.
"Ada yang ketuk-ketuk jendela kamarku Mas!aku takut!"Suaraku mengisyaratkan aku benar-benar ketakutan.
"Gapapa Mas!"Aku gugup.
"Ya udah sekarang kamu keluar!Mas pastiin semuanya aman!"Dia memintaku untuk keluar.
"Ya kali Mas,aku takut tahu ga!"
"Mas Adam sudah ada diluar!Mas jamin semuanya aman diluar ga ada orang!"Dia meyakinkan ku.
"Beneran ?"Aku masih belum percaya.
"Beneran!Ini Mas Adam ada di teras rumah kamu sekarang!"Dia meyakinkan ku lagi.
Aku bergegas membuka pintu rumah.Melihat seorang laki-laki duduk santai di teras rumah.Dengan pencahayaan lampu rumah yang temaram,Mas Adam melihat kearah ku.
"Adel!"Dia berdiri dan berjalan kearah ku.
"Gapapa!Mas Adam udah cek di jendela kamar aku?tadi ada yang ketuk-ketuk jendela Mas!"Aku seperti anak kecil yang mengadu pada kakaknya.
"Udah!tadi udah mas cek semuanya aman!"Senyum nya tipis tapi tetap manis.
"Alhamdulillah!tapi aku takut kalau ada yang ketuk-ketuk jendela lagi!"Aku terduduk dikursi panjang yang terbuat dari bambu disampingnya berdiri.
"Perlu ada yang jaga disini ?"Mas Adam duduk disebelah ku.
__ADS_1
"Ga...ga usah! Semoga habis ini aman!"Sejujurnya aku masih khawatir dan takut.
"Ya udah,besok sekolah masuk gih,tidur sama ibu aja kalau takut!"Memandangiku.
"Kenapa ngelihat aku kaya gitu!"Aku salah tingkah.
Tatapan matanya yang tajam selalu membuatku tak berani menatapnya balik.Dan selemah itu aku di depan Mas Adam.
"Kamu ngadepin Desti aja tangguh banget! giliran jendelanya diketuk orang marahnya hilang!"Dia terkekeh.
"Siapa yang marah?Melengos.
"Makanya jangan suka nemuin cowok lain dibelakang Mas!Iya kalau yang ketuk jendela kamar kamu tadi orang! kalau setan, gimana ?"Dia tambah menakut-nakuti ku.
Aku melotot dan mencubit pinggangnya.
"Aduhhhh!Itu luka masih belum kering Del!"Dia meringis kesakitan.
"Yang luka itu sebelah kanan bukan kiri!"Membela diri.
"Oh iya lupa!"Dia terkekeh.
"Udah pulang sana!Unfaedah disini!"Aku mendorong-dorong tubuhnya.
"Tadi aja diminta tolong sekarang ngusir, lama-lama tak lamar juga kamu!"Meraih tangan ku dan menatap ku lagi.
"Pulang ga? kalau ga pulang aku teriak!"Aku mencoba mengancamnya.
"Coba aja teriak! paling ntar kita dinikahin, orang pak RT mu itu udah kenal sama aku!"Dan tidak mempan ancaman ku.
"Ga percaya!"Dan seperti biasa perdebatan yang sebenarnya tidak ada gunanya.
"Tetangga-tetangga kamu itu,malah kepingin Mas itu jadi menantu mereka!"Dia semakin sombong.
Dan sebenarnya yang Mas Adam bilang itu benar.Aku pernah mendengar sendiri para tetangga memuji Mas Adam.
Mas Adam yang ganteng, seorang tentara,mapan dan yang pastinya mereka sering membicarakan Mas Adam yang sholih.
Astaga bisa besar kepala ini orang kalau mendengar.
"Kenapa ngelamun berubah pikiran?"Menggodaku lagi,dengan senyuman yang sebenarnya aku rindukan akhir-akhir ini.
Aku menarik tanganku dan berlari masuk kedalam rumah,dan mengunci pintu.
Aku tak ingin berlama-lama bersama Mas Adam, karena aku tahu aku pasti berubah pikiran jika terlalu sering bersamanya.
"Del...Mas Adam pulang ya, besok pulang sekolah Mas jemput!Ada yang ingin Mas Adam jelaskan! Assalamualaikum."Suara Mas Adam sangat jelas dibalik pintu.
"Wallaikumsalam!"Aku menjawabnya dengan lirih.
Mungkin jika kamu jujur dari awal hubungan kita,aku tidak akan se-kecewa ini Mas.
Tapi pernahkah kamu berpikir ?Aku sangat menyayangi mu,aku akan menerima baik burukmu.Kamu selalu ada untuk ku,tapi aku tak bisa menggenggam tanganmu ketika kamu butuh aku.Kamu menyembunyikan itu semua.
__ADS_1
Aku tidak ingin banyak bermimpi,kalau Erli seorang yang sempurna saja bisa kamu tinggalkan, apalagi aku?
Menurut mu mungkin ini hal yang tidak penting.Tapi aku juga merasa bahwa aku juga tidak penting untuk mu, karena hal-hal yang besar dalam hidupmu tak pernah kau bagi dengan ku.