AKU YANG TERPILIH

AKU YANG TERPILIH
Konflik 2(ADAM POV)


__ADS_3

Aku merebahkan tubuh ku diatas kasur.


Ku hembuskan nafas panjang.


"Huuuuuiiuuuuuhfttt."


Aku harus menjelaskan dimulai dari mana tentang Mama pada Adel.


Sedang dia sudah menganggap Mama seperti orang tuanya sendiri.Terlihat Adel juga bisa menerima baik Mama.


Ya Allah apakah ini semua memang sudah menjadi jalan cerita ku.Apa ini akhirnya aku harus memaafkan Mama,mengubur dalam-dalam masa lalu keluarga yang tidak bisa ku lupakan.Penghianatan Mama ke Papa,dan Mama yang juga tega meninggalkan aku dan Aisyah.Hingga Aisyah meninggal.


Bayangan ditinggalkan Papa saat aku benar-benar membutuhkannya.Saat aku butuh dukungannya melalui semua pendidikan di TNI.Hingga aku harus survive sendiri demi semua impianku.


Kemana Mama selama itu?Kemana Mama saat ku butuhkan?


Hingga tanpa kusadari aku terlelap dengan semua bayangan masa lalu keluarga yang tak sempurna.


Adzan subuh membangunkan ku, Rasanya berat membuka mata tapi aku harus shalat.Kepalaku rasanya berat,dan dingin menyergap ku,ada apa dengan tubuhku? semakin lama aku semakin menggigil.


"Pak Odi!Pak...Pak Odi.....!"Aku berteriak memanggil Pak Odi.


Kutahu dia pasti sudah bangun, karena dia adalah pengganti Papa setiap subuh yang membangunkan ku.


"Ya Mas!"Suara sayup terdengar dari luar.


Terdengar suara kaki kemudian mengetuk pintu kamarku.


"Mas Adam!"Dia terus mengetuk pintu kamarku.


"Masuk Pak!"Aku menyuruhnya untuk langsung masuk, karena aku sudah tak tahan dengan kedinginan.


"Ya Mas,ada yang bisa saya bantu?"Ketika Pak Odi masuk dan melihatku bergulung selimut.


"Tolong buatkan teh hangat untuk ku!"Aku berpikir mungkin ini hanya aku kelelahan dan jahitan diperut ku karena luka tembak saat bertugas di Lebanon kemarin.Untung kemarin waktu dicubit Adel tidak pada luka ini,jika luka ini yang dicubit aku takut dia pasti khawatir karena aku pasti sudah kesakitan.


Pak Odi bergegas membuatkan ku teh hangat.Tak berapa lama dia sudah membawa secangkir teh hangat.


"Ada lagi Mas?"Sepertinya dia tahu aku sedang tidak enak badan.


"Ambilkan obat di dalam lemari nakas itu."Aku menunjuk sebuah lemari nakas yang berada dikamar.


Pak Odi langsung mencarinya,dan menemukan obat pereda nyeri yang sekarang sering ku minum karena sepertinya luka tembak ku ini.


"Ini Mas!"Memberikan obat itu padaku.


Aku terus berusaha untuk meminumnya walaupun tubuh ini seperti berada di gunung es.

__ADS_1


"Saya buatkan sarapan Mas!"Pak Odi tanpa pikir panjang, bahkan tanpa menunggu jawaban ku dia keluar dan membuatkan ku sarapan.


Rasanya berangsur membaik walau masih terasa dingin.Aku kembali tertidur.


"Mas...!bangun, badan kamu panas banget!"Suara yang sangat ku kenal.


Aku selalu bermimpi suara ini suatu saat akan menghiasi setiap pagi ku saat aku membuka mata.


Perlahan ku buka mataku,kulihat seseorang yang membangunkan ku dengan mengelus-elus tanganku.


"Adel...!"Aku terkejut Adel sudah berada di kamar ku.


"Alhamdulillah!kamu bangun juga Mas!aku takut kamu demam tinggi dari tadi ga turun- turun,aku bangunin ku ga bangun-bangun!"Dia mengomel tapi terlihat sangat khawatir.


"Kamu kok bisa disini?"Aku masih terheran dia bisa tahu dimana rumah ku.


"Ya biasalah,aku itu parah normal tahu!"Dia terkekeh dengan celotehan nya sendiri.


"Paracetamol kali!"Aku menimpalinya.


"Paranormal pak!Anda itu ga pernah masuk kelas bahasa ya!"Dia menghiburku.


"Garing tahu!"Aku menggodanya.


"Kamu kok bisa panas kaya lihat tetangga baru beli gelang kalung baru aja!"Dia masih melanjutkan kekonyolannya.


"Dia itu ga ngerayu Mas tapi ngasih DP!"


"DP?"


"Iya DP untuk mencintaiku!"Dia terkekeh geli.


"Kalau dia cuma ngasih kamu DP,Mas akan bayar lunas,gimana?"Aku menggodanya dengan senyuman jahil.


"Apaan,udah ya Mas ga lucu!"Sepertinya dia takut karena sekarang dia berada di kamarku dan hanya berdua denganku.


Dia beranjak berdiri yang tadinya dia duduk disampingku.


Ku raih tangannya,


"Mas Adam,ga usah bercanda ya!"Dia berusaha melepaskan genggaman ku.


"Haha hahaaaa!"Aku tertawa puas, karena berhasil membuat Adel takut.


"Kenapa?"Wajahnya mulai menampakkan kemarahan.


"Oke...oke...maaf...maaf...!kamu mau kemana?"Aku berusaha mencegahnya.

__ADS_1


"Aku ga suka kamu bercandanya kelewatan!"Manyun.


"Iya maaf!Mas bercanda!Mas laper,boleh minta tolong ambilkan makanan?"Aku benar-benar lapar,kulihat ini sudah jam sepuluh siang.


"Mau makan sama apa?aku buatin!"Dia memang wanita yang tulus.


"Ga usah!Tolong ambilkan ponsel Mas,di ruang tamu sepertinya!"


"Katanya mau makan!kok malah cari ponsel?!"Dia mulai mengomel yang selalu bikin aku gemes.


"Aku mau telpon Deni buat cariin jodoh!eh makan buat kita berdua!"Jelas ku.


Tanpa sepatah kata pun dia mencari ponselku.Dan kembali membawa ponselku.


Aku menghubungi Deni untuk memesankan makan siang untuk aku dan Adel.


Jujur aku tidak mau terlihat lemah di depan Adel.Karena aku tahu dia lah yang butuh sandaran,jika aku sakit siapa yang akan melindunginya.


Aku ijin untuk mandi dan berganti pakaian.Walau badan ini rasanya masih dingin,dan kepala berat.Tapi aku harus tetap terlihat sudah lebih baik.Agar Adel juga tidak khawatir.


Setelah mandi dan berganti pakaian,aku menyusul Adel yang ternyata sedang berada di taman belakang rumah.


"Disini!"Aku melihatnya memandangi kolam ikan koi yang sedang berebut makanan yang dia lempar kedalam kolam.


"Sudah!"Dia melihatku yang sudah rapi.


"Makanan sudah disiapkan Pak Odi,ayo kita makan!Mas juga sudah lapar!"Aku mengajaknya untuk makan.


Tiba-tiba perutku kram,dan tak kuasa aku menahan sakitnya,hingga akhirnya aku terduduk dikursi taman.


"Kamu kenapa Mas?"Adel sangat khawatir melihat ku kesakitan.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya karena rasa sakit yang kurasakan.


Dia merogoh kantongnya,dan menekan tombol ponselnya.Dia menghubungi Deni.


Tak lama Deni datang bersama Erda.Membawa dokter keluarga ku.


Sekitar setengah jam aku ditangani oleh dokter keluarga ku.


Adel pasti panik dan khawatir Melihatku kesakitan.Sebenarnya aku tidak ingin dia tahu akan hal ini.Karena untuk seorang prajurit negara ini adalah hal yang sudah biasa.Tapi ini adalah hal pertama yang Adel rasakan ketika melihat seorang pria yang disayanginya merasakan sakit karena tugasnya.


"Tenang Del....dokter Haris pasti bisa menangani ini,sebagai seorang tentara ini hal yang biasa!"Erda berusaha menenangkan Adel.


"Maksudnya?"Adel bingung mendengar kata-kata Erda.


"Sebagai seorang tentara kami sudah terbiasa dengan luka tembak.Walau nyawa ada diujung peluru itu tidak seberapa dibandingkan dengan gagalnya kami menjaga perdamaian."Erda

__ADS_1


Ya itulah kami,tugas kami menjaga perdamaian negara, dunia juga dunia kami yaitu keluarga.


__ADS_2