
Disini saja,ketika melihat aku bersama Mas Adam aku dianggap keluarga tapi kemarin dia dan istrinya menghina ku sesuka hatinya.
"Maaf pak!"Dia menunduk dan meminta maaf.
Mas Adam menarik ku dan meninggalkan pa lek Darno.
"Mas!jangan jahat-jahat...!"Dalam hati kecil ku aku kasihan pada pak lek karena bapak tidak pernah mengajariku untuk dendam pada seseorang.
"Aku tidak suka seseorang seenaknya pada calon istri ku!"Mas Adam tidak melihatku masih berjalan dengan tegas.
"Tapi dia masih saudaraku!"Aku berjalan mengikutinya.
Tiba-tiba dia berhenti."Siapapun dia akan berurusan dengan Adam Mahesa jika menyakiti kamu!"Menatap ku tajam.
Aku selalu kalah jika dia sudah menatapku seperti itu.
Dia paling tidak suka disela jika sudah menyangkut aku.
"Del...!"Mas Adam memanggilku dan aku masih terdiam ketika sudah didalam mobil,takut dia masih marah.
Aku hanya menatapnya sekilas dan kembali menunduk.
"Siapapun yang memperlakukan kamu dan ibu tidak baik, berarti dia akan berurusan dengan ku!"Mata Mas Adam berapi.
"Mas!"Aku menarik nafas dalam-dalam."Aku dan ibu tidak pernah mengambil hati apa yang mereka lakukan, karena aku dan ibu tahu diri!"Aku mencoba untuk meredam emosinya.
"Entahlah hati kamu dan ibu itu terbuat dari apa hingga sakit hati tidak bisa menembusnya!Aku belajar banyak dari kamu!"Dia tersenyum menatapku.
"Tidak semua perbuatan yang jahat harus dibalas dengan kejahatan,dibalas dengan keikhlasan itu menjauhkan kita dari sakit hati!"Aku membalas senyumannya.
"Kita latihan hari ini!"
"Latihan?"aku bertanya bingung.
"Katanya terakhir latihan hari ini!Ya kita latihan!"Dengan santainya.
"Aku!"Meyakinkan.
"Iya....!"Dia kembali melanjutkan perjalanan.
Sampai disebuah studio olahraga Mas Adam mengajak ku turun dan masuk kedalam.
"Selamat pagi ada yang bisa saya bantu?"Seorang resepsionis menyapa kami.
__ADS_1
"Saya sudah janji dengan Sahila Firlana!"Jelas Mas Adam.
"Kalau begitu ini ada titipan dari mbak Sahila untuk Anda!Dan Anda sudah ditunggu di lantai dua!"Resepsionis itu menyerahkan sebuah paper bag.
"Sahila Firlana?siapa dia?"Aku bertanya dalam hati.
"Terimakasih!"Mas Adam menarik ku masuk kesebuah ruangan di lantai dua studio olahraga itu.
Dilantai bawah ada sebuah studio gym yang menurutku sangat lengkap,disana ada beberapa laki-laki berotot sedang sibuk dengan peralatan gym nya.
"Bisa ga usah melirik yang lebih ganteng, sedang disampingnya sudah ada yang paling ganteng?"Mas Adam menutupi mata ku dengan sebelah tangannya.
"Ya setidaknya lumayan cuci mata!"Aku meringis.
Dia melirik ku tajam.
"Hay Sa...!"Mas Adam menyapa seseorang yang sedang asik menghakimi samsak.
"Hey Dam!"Seorang cewek cantik menjawab mas Adam.
Kulihat sabuk yang dipakainya berwarna hitam.Dalam hati ada rasa cemburu saat Mas Adam mendekatinya.
"Apa kabar Dam?"Mereka bersalaman.
"Alhamdulillah baik!kamu sendiri ga pernah ke padepokan?"Mereka mulai asik ngobrol.
Mereka terlihat sangat akrab,apalagi cewek ini berparas ayu,dengan rambut pendek yang diikat rapi,kulit putih dan tinggi semampai.Tatapan nya tegas terlihat dari sudut pandangan matanya.Serta lesung pipi yang menawan di kedua pipinya.
"Digandeng terus!takut ilang ?"Canda cewek itu yang melihat Mas Adam masih menggenggam tanganku erat.
"Ini kalau ga dipegang lari Sa!"Sambung Mas Adam."Kenalkan ini Adel,murid baru kamu minggu depan dia masuk PON dan aku harap kamu bisa kasih dia masukan gimana caranya menjadi seorang petarung yang hebat!"Memperkenalkan aku pada Sahila.
"Hay aku Sahila!"Mengulurkan tangan.
"Aku Adel!"Aku mengembangkan senyuman.
"Del kamu latihan sama Sahila dulu!nanti aku jemput kesini lagi!"Mengelus kepalaku.
Aku hanya mengangguk karena aku tahu Mas Adam pasti memilih orang yang kredibel untuk ku.Toh dia juga paling tidak bisa dibantah lebih baik aku menurutinya saja.
"Tenang aja aku jagain princes kamu!"Sahila mengerdip nakal.
"Ganti baju dulu Del!habis itu nanti kita latihan ringan aja!"Sahila tersenyum manis.
__ADS_1
Aku mengangguk dan berjalan ke ruang ganti.
Sekitar dua jam aku hanya berlatih ringan dengan Sahila.
Sahila mengajarkan ku beberapa trik dan tips dalam bertarung dilapangan.Ternyata dia orang yang sangat menyenangkan.Ternyata dia juga dulunya seorang tentara juga.
"Ehemh!"Suara Mas Adam memecah keasyikan obrolan kami berdua.
"Nampak nya ada yang punya teman baru!"Mas Adam duduk diantara aku dan Sahila.
"Lumayan lah Dam,princes kamu ini asik juga kalau ngalor-ngidul!"Sahila tertawa kecil."Princes kamu ini udah hebat Dam,dari yang aku lihat dia mirip dengan kamu,apalagi wiralaganya sepertinya sudah mengalir seperti kamu !Atau emang sudah kamu racuni?"Melirik geli Mas Adam.
"Ya mungkin sudah jodoh ya Sa!" Mas Adam tersenyum-senyum genit.
"Ya Tuhan Dam!Selama aku kenal kamu ga pernah kamu sebucin ini sama cewek!Atau kamu terlalu lama sama Erda jadi sekarang udah normal?"Sahila terkekeh.
Ternyata Mas Adam dan Sahila sudah berteman sudah lama hingga dia tahu bagaimana Mas Adam.Seorang introvert seperti Mas Adam ternyata bisa memiliki teman wanita walau dulu mereka satu angkatan dalam pendidikan militernya.
"Kamu ga mau balik ke arena lagi Sa?"Mas Adam memandang wajah ayu Sahila.
Tawa Sahila seketika terhenti.Dan menunduk.
"Tidak Dam!Aku sudah nyaman dengan dunia ku sekarang.Aku bukan Sahila yang dulu,yang ku jalani sekarang hanya karena Ayah menyukainya dan dulu disinilah aku bisa melepaskan rinduku pada Ayah!"tertawa getir.
"Ayah mu orang hebat Sa!"Menepuk pundak Sahila.
Sahila hanya melempar senyum.
"Sory nih Sa aku ga bisa lama-lama jam delapan nanti aku balik tugas!Kapan-kapan aku traktir mie ayam kesukaan kamu!"Pamit Mas Adam.
"Sehat-sehat Lo disana,salam buat Erda!"Sahila.
"Makasih udah mau Gue repotin hari ini!"Mas Adam pada Sahila.
"Lo tahu kan gimana Gue!"Mereka memang sedekat itu.
"Salam buat Bunda mu!Gue pamit ya!"Mas Adam.
"Makasih ya Kak buat semua pembelajaran hari ini!"Aku meraih tangan Kak Sahila dan menggenggam nya.
"Ya sama- sama Del,sabar-sabar sama Adam si keras kepala dan ambisius ini butuh perempuan lembut tapi tegas seperti kamu!"Kak Sahila memeluk ku.
"Ya udah kita pamit Sa!"Aku dan Mas Adam berlalu keluar dari studio olah raga milik Kak Sahila.
__ADS_1
Seperti biasa Mas Adam selalu membukakan pintu mobil untuk ku.Dia masih Mas Adam yang ku kenal.
Setelah beberapa menit kami saling terdiam dan fokus pada pandangan kami masing-masing Mas Adam membuka percakapan,"Nanti jam enam kamu dijemput mobil travel yang Mas sudah siapkan!"Tatapan nya fokus menyetir.