
Ada perasaan bersalah meninggalkan Mas Adam dalam keadaan seperti tadi.
Tapi apa boleh buat,aku juga tidak bisa menolak Mama kak Restu.
Aku hanya berdoa semoga Kak Restu cepat sembuh,dan aku bisa bersama Mas Adam seterusnya seperti hari ini.
Hari ini aku bahagia walau dibuat shock jantung sama Mas Adam dengan kejadian tadi,tapi aku menjadi bahagia karena dapat menemaninya dalam keadaan sakit,aku tahu dimana rumahnya.Setidaknya aku mulai tahu latar belakangnya.
"Mas Deni,nanti ga usah ditungguin,nanti pulangnya aku naik angkot aja gapapa!"Pintaku pada Deni yang mengantarku kerumah sakit.
"Maaf mbak,tapi pak Adam meminta saya untuk mengantar Mbak Adel juga mengantar pulang!"Deni yang selalu patuh pada perintah Mas Adam.
"Ya Allah,sakit aja masih mikirin orang lain!Dasar keras kepala!"Aku mengomel sendiri.
Deni terlihat menahan tawa mendengar ku mengomel.
Sesampainya di rumah sakit,aku langsung menuju ruangan Kak Restu.
Didepan ruangan aku melihat Kak Gibran bersama kak Nisa istrinya.
"Assalamualaikum kak!"Aku menyapa keduanya.
"Wallaikumsalam!"Jawab mereka bersamaan.
"Adel... Alhamdulillah kamu datang,masuk!Dari tadi Restu memanggil-manggil namamu!"Nisa seperti tidak sabar.
"Masuklah Del!Restu menunggumu."Kak Gibran juga memintaku.
Aku mengangguk,dan masuk kedalam kamar Kak Restu.
Kulihat Tante Nugraha menangis di samping bed Kak Restu.Dan Kak Restu masih terbaring lemah dengan sesekali menyebut namaku.
Aku mendekatinya,Tante Nugraha sepertinya kaget aku sudah datang beliau langsung memelukku.Dengan derai air mata yang semakin deras.
"Adel Alhamdulillah kamu datang!Restu dari tadi manggil nama kamu terus!"Dengan sesegukan.
"Ya Tante!"Aku tak bisa berkata-kata.
Melihat keadaan Kak Restu yang hanya terbaring lemah matanya sudah terbuka dan sudah dapat bicara,namun yang ku dengar dari tadi hanyalah namaku yang disebutnya.
Kami melepaskan pelukan,dan aku mendekati Kak Restu.Tatapan matanya hanya fokus ke langit-langit kamar.Dan bibirnya mengucap namaku.
"Kak ini Adel Kak!Kak Restu sudah sadar?"Aku mengajaknya bicara.
Dia masih belum merespon ucapan ku.Hingga beberapa kali aku memanggil namanya dan mengusap-usap tangannya,dia masih belum merespon.Matanya terbuka,bibirnya mengucap namaku namun kenapa dia tak merespon ucapan ku?
"Kak...Adel ada disini untuk kakak! Ayolah Kak,demi Adel lawan penyakit kakak!"Tak sengaja air mata ku menetes di lengannya.Aku tak kuasa melihatnya seperti ini.
__ADS_1
Apalagi melihat Ma Kak Restu yang sejak tadi menangis melihat putra nya dengan keadaan seperti ini.
"Ya beginilah Restu dari tadi Del,dia sama sekali tidak merespon ucapan tante!Dan dokter mengatakan mungkin Restu memang belum sadar seutuhnya,dia masih berada di pikiran bawah sadarnya.Dan yang sedang dia pikirkan itu kamu!"Mama Kak Restu menjelaskan.
Sebegitu pentingnya aku di hidupmu Kak?Hingga dalam bawah sadar mu aku yang kau ingat.
Aku melihat air mata dari sudut mata kak Restu menetes.Seketika aku kaget melihatnya.
"Kak... kak Restu ini Adel! kakak bisa dengar Adel kan!Adel sayang sama kakak,ayo Kak lawan penyakit kakak,Adel disini bersama kak Restu!"Aku berharap dia akan merespon ucapan ku kali ini.
Detak jantungnya semakin cepat,terlihat dari alat pendeteksi detak jantung yang terpasang dari dadanya.
"Tante, tolong panggil dokter! sepertinya Kak Restu merespon ucapan ku!"Aku sedikit panik dengan keadaan ini.
"Iya...!"Mama Kak Restu langsung menekan tombol yang berada di samping bed kak Restu untuk menghubungi suster.
Tak berapa lama suster datang.
"Ada apa Bu?"Ketika seorang suster masuk ke kamar Kak Restu.
"Sus sepertinya Kak Restu merespon ucapan ku!tolong panggilkan dokter!"Aku sangat berharap Kak Restu benar-benar merespon dan sadar seutuhnya.
Seorang dokter masuk,dan meminta aku dan Mama Kak Restu untuk menunggu di luar kamar.
"Ada apa Mah?"Kak Gibran yang berada diluar kamar bingung dengan kejadian itu.
Aku hanya terdiam melihat keluarga Kak Restu.Aku hanya berpikir jika benar Kak Restu siuman karena aku, sebesar itukah rasa sayang nya padaku?
Dulu dia memang impian untuk ku.Tapi pernahkah dia mengerti bahwa secara tidak langsung dia menyakiti perasaanku.
flashback on
"Sekarang mau kakak apa?"suaraku sedikit gemetar karena menahan air mata.
"Aku hanya ingin bertemu Desti!"suaranya tegas.
"Lalu?"aku memandang laki-laki yang sedang rapuh itu.
"Aku ingin tahu apa maunya?kenapa dia menghilang?"mengusap wajah dengan kasar.
"Kenapa kakak tidak mencoba ke sana menanyakan pada keluarganya?"aku menunjuk rumah Kak Desti.
"Aku masih memegang janjiku pada Desti tentang hubunganku dengannya."lirihnya.
Kenapa hati ini sakit akan kenyataan yang sudah aku tahu.
Harusnya aku sadar akan hal ini,tapi kenapa aku selalu ingin bisa didekat Kak Restu!aku tidak bisa menjauhinya,semakin aku berniat menghapus namanya dia selalu datang lagi untuk menggoyahkan.
__ADS_1
"Kalau kakak sayang perjuangkan!"aku menepuk pundaknya,berlalu meninggalkan Kak Restu yang sedang pilu.
Tatapannya kosong,wajahnya bingung.
Tak terasa air mata ini menetes,aku berusaha untuk menahanya tapi terus menetes.
Flashback off
Semenjak itu aku sadar bahwa aku tak pernah ada di dunianya,aku hanya pemain figuran dicerita cintanya.
Tapi dunia itu kini terbalik,ketika aku telah jatuh cinta pada seseorang yang tulus selalu ada untukku.Dia mencintaiku dengan caranya, menjadikan aku wanita yang bersyukur bisa mengenalnya.
"Adel!"Mama Kak Restu memanggilku lirih.
"Iya tante!"Aku terkejut.
"Kenapa melamun?"Mama Kak Restu melihatku melamun.
"Gapapa tante!Udah mau ashar Adel permisi shalat dulu tante!"Aku pamit untuk shalat.
Aku berjalan menuju mushola rumah sakit.Pikiranku kacau, tiba-tiba ada yang menarik tanganku.
"Awww!"Aku menjerit kaget.
Dan ternyata Mas Adam yang melakukan itu,dia menutup mulutku,agar aku tidak menjerit lebih keras.
"Ngapain menjerit?"Bisik nya, dia yang sedang memeluk ku dari belakang dan menutup mulutku.Adegan apa ini?seperti aku mau diculik saja.
Setelah aku tenang,dia melepaskan tangannya dari mulutku.
"Apaan sih! kaget tahu...takut kirain siapa?"Aku manyun.
"Maaf!"Dia terkekeh.
"Ngapain disini! Disuruh istirahat malah disini, susah banget dibilangin!"Aku mulai kesal,karena dia tidak care dengan kesehatan dia sendiri.
"Aku kepikiran kamu belum makan dari tadi,aku bawain kamu makanan!"Menunjukkan bungkusan yang dipegangi.
Aku tersenyum,dasar cowok aneh!ada aja alasannya.
"Mau makan dulu atau shalat dulu?"Tanyanya.
"Shalat dulu!"Jawabku tersenyum.
Dia kembali menarik tanganku,menuju Mushola.Aku yang berjalan digandengnya,namun langkahku selalu tertinggal.
Aku melihat seorang laki-laki ini, apakah benar aku akan dijodohkan Allah dengannya atau ada laki-laki lain?Aku sudah meletakkan namanya disetiap doa-doa ku.
__ADS_1
Rasa ini sudah terlalu nyaman berada disampingnya,yang selalu ada.