Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 10


__ADS_3

“Aku tidak pernah menerima barang gratisan!, Uang dan rumah dari kakek kamu itu aku menjual prestasiku, dan itu tentu bukan murahan, apalagi gratisan” Ujar Wira. Sambil membuka kotak bubur ayam miliknya.


“Itu, yang kamu makan sekarang itu gratisan!” Seru Alin menunjuk bubur ayam yang sedang di makan Wira.


“Ini ganti bensin mobilku!” Wira masih terus mengunyah.


“Cih..!”


“Sudahlah, kalian jangan bertengkar lagi, Bibi sudah lapar. Mana bubur Bibi?” Cegah Bibi Fatma, sebelum Alin dan Wira mulai berdebat lagi. Lebih baik segera ia lerai. Sebab, jika yang beradu argumen Alin ada di salah satu kubu maka tidak akan ada ujung dari perdebatan itu.


“Mengapa Nona tidak jadi makan di luar?” Tanya Bibi Fatma. Tadi kata Alin dia mau makan seblak, sekarang malah makan bubur ayam di ruangannya.


“Di luar panas Bibi, jadi tidak enak kalau makan yang pedas-pedas” Jawab Alin dengan mulut yang penuh.


“Ckckck.” Decak Bibi Fatma sambil menyeka mulut Alin dengan tisu “Sudah bersuami tapi masih seperti ini” Oceh Bibi. Alin hanya menyengir kembali melanjutkan makannya.


“Dokter Wira dapat sif pagi lagi?” Tanya Bibi Fatma.


“Iya Bi” Jawab Wira.


“Besok lusa dia libur Bibi, jadi dia bisa menjadi sopir pribadi kita besok lusa!” Seru Alin “Bibi mau jalan-jalan kemana?. Mumpung di sopirin sama dokter muda dan pelit ini” Tanya Alin.


“Oh ya! Bibi sudah tidak sabar ingin keluar dari sini. Bibi juga penasaran dengan suami Nona” Seru Bibi Fatma.


“Untuk apa Bibi penasaran dengannya. Yang pasti dia lebih tampan dari Wira” Ujar Alin, meletakan telapak tangannya di bawah dagu Wira yang sedang menengadah minum.


Wira menepis tangan Alin “Aku sudah selesai, saya permisi dulu mau kembali ke ruangan saya Bibi” Wira berdiri memasukkan sampah bekas buburnya ke dalam kantong plastik.


“Iya dokter Wira Terimakasih” Jawab Bibi.


“Apa Nona sudah lama berteman dengan dokter wira?” Tanya Bibi saat Wira telah pergi.


“Baru dua minggu ini Bi”


“Dua minggu! Kok sudah seperti temenan sejak lima belas hari yang lalu saja” Ujar Bibi Fatma terkekeh.

__ADS_1


Alin yang sedang membereskan sampah bekas makanan menghentikan kegiatannya “Bibi sangat tidak lucu!, receh” Sungut Alin. Bibi Fatma kembali terkekeh.


“Bagaimana Nona bisa berteman dengannya?”


“Karna kami satu fakultas”


“Terus!”


“Terus?” Alin mengulang kata Bibi Fatma, bingung.


“Apa hanya Nona dan dokter Wira saja di fakultas itu? Mengapa Nona hanya berteman dengannya”


“Oh iya, Bibi pasti belum tahu!” Alin berseru dengan senyuman yang merekah, mendekat pada Bibi Fatma, duduk bersila di atas kasur “Saat aku kuliah, aku kembali satu kelas dengan cecunguk busuk itu (gelar untuk David) dan kami juga lulus di tahun yang sama. Bibi tahu!” Alin mendesak Bibi Fatma, dia sangat bersemangat menceritakan kisahnya saat ini. Bibi Fatma hanya mengulum senyum dan menggeleng merespons seruan Alin “Aku menjadi lulusan terbaik pertama Bibi!!. Bibi tahu Si CB peringkat ke berapa?” Tanya Alin lagi, Bibi Fatma kembali menggeleng kini matanya sudah mulai berkaca-kaca “Nomer tiga Bibi, itu pun dengan bantuan Tante Amel menyuap dosen-dosen yang lapar” Bibi Fatma menghambur memeluk Alin dia sudah tidak kuasa lagi menahan tangisannya.


“Nona memang tidak pernah terkalahkan” Kata Bibi Fatma saat Alin membantu mengusap air matanya.


“Apa aku sudah bisa membuat Mama bangga?”


Bibi Fatma mengangguk cepat, air matanya yang baru di seka oleh Alin kembali mengucur deras mendengar pertanyaan Alin barusan “Nona tidak pernah mengecewakannya, Nona selalu membuat Nona Diana bangga” Ujar Bibi Fatma mengusap punggung tangan Alin.


Sudah menjadi kebiasaan Alin, dia selalu tidur di kasur Bibi Fatma. Karna tidak mau mengganggu tidur Nonanya Bibi Fatma lebih memilih duduk di sofa sambil menonton televisi. Ponsel Alin yang terletak di atas meja bergetar tanda ada sebuah panggilan masuk.


“Sekretaris HZ!?” Bibi mengerutkan keningnya. Karna takut kalau-kalau itu panggilan penting Bibi Fatma pun mengangkatnya “Halo”


“Bukankah ini ponsel Nona Alin?” Terdengar suara di seberang ponsel.


“Iya, saya Bibi pengasuhnya. Nona Alin sekarang sedang tidur, apa perlu saya bangunkan?” Tanya Bibi Fatma.


“Sebentar Bibi!”


“Nona Alin sedang tidur Tuan, apa perlu di bangunkan sekarang? Lama tidak terdengar sahutan dari seberang ponsel.


“Sudah berapa lama dia tidur?” Tanya Hazar.


Karna Bibi Fatma dapat mendengar obrolan orang di seberang telepon. Tanpa di tanya lagi Bibi Fatma langsung menjawab “Belum sampai satu jam ini Nona tertidur”

__ADS_1


“Tidak usah di bangunkan, kita tunggu saja dia bangun” Ujar Hazar saat mendengar jawaban dari Bibi yang di sampaikan kembali oleh sekretarisnya.


Sudah hampir satu jam lamanya Hazar menunggu Alin di dalam mobil. Namun yang di tunggu tidak muncul juga, akhirnya Hazar memutuskan untuk menyusul Alin ke atas.


“Biar saya saja yang menjemput Nona Tuan” Ujar Karin sekretaris Hazar.


“Tidak usah” Hazar sudah keluar dari mobil. Baru lima langkah kakinya menapaki lantai parkiran, ia melihat sosok Alin yang sedang berlari ke arahnya.


“Mengapa tidak membangunkan aku saja” Alin mencoba mengatur napasnya. Matanya tampak merah khas orang baru bangun tidur.


“Masuklah cepat!” Hazar membuka pintu mobil untuk Alin. Mukanya hanya datar tanpa ekspresi. Kemudian mengitari mobil, Pak Sukri sudah membukakan pintu untuknya.


Alin merasa sedikit canggung, sebab semua orang di dalam mobil tak ada yang bersuara “Ehemm... ehemm” Alin berdehem, mencoba mengusir canggung “Apa kakak lama menungguku?” Tanya Alin.


“Ya” Jawab Hazar singkat. Tanpa menoleh ke arah Alin, tetap sibuk membaca dokumen dengan tabnya.


“Mengapa tidak menyuruh Bibi Fatma untuk membangunkanku?”


“Diamlah! Setelah membuatku lama menunggu, sekarang kau malah mengganggu pekerjaanku” seru Hazar. Sekarang ia menoleh, menatap dingin pada Alin.


Alin menghela napas. Ia tak bersuara lagi, lebih memilih menyandarkan punggungnya, dan memejamkan matanya. Karna suasana di dalam mobil yang tenang dan sejuk membuat Alin kembali tertidur.


Hazar yang sedang fokus membaca tabnya merasa terganggu, oleh suara yang di timbul dari kepala Alin yang berbenturan dengan kaca jendela. Hazar membenahi posisi Alin, menyandarkan kepala Alin dengan nyaman pada sandaran jok. Karin yang melihat perbuatan Tuanya dari kaca spion pun bersuara “Apa Anda membutuhkan bantal tuan?”


“Tidak perlu”


Alin ter sentak saat mobil yang di tumpanginya berhenti “Apa kita sudah sampai” Gumamnya. Kemudian keluar dari mobil, menyusul Hazar yang sudah melangkah lebih dulu.


Saat memasuki rumah besar nan mewah itu, mereka di sambut oleh banyak orang.


“Selamat datang Tuan, Nona” Sapa seorang wanita paruh baya. Sepertinya dia adalah kepala kelompok. Sebab tampilannya lebih mencolok dari yang lainnya.


Alin membalas sapaan itu dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sedangkan Hazar hanya diam tak bergeming sedikit pun. Meneruskan langkahnya, dan duduk di sofa ruang tengah. Alin pun mengikuti Hazar.


“Duduk” Perintah Hazar. Alin pun duduk di sampingnya. Saat itu Karin selaku sekretaris Hazar pun, mulai membuka acara perkenalan.

__ADS_1


__ADS_2