Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 74


__ADS_3

Hampir dua bulan telah berlalu sejak kepulangan Hazar dari rumah sakit. Hubungannya dengan Alin pun makin terasa manis dan harmonis. Alin benar-benar menjadi istri yang penurut sejak misi mendiami itu berhasil. Pernikahan mereka makin terlihat normal seperti pernikahan pada umumnya.


Kebahagiaan selalu menyelimuti hari-hari Hazar. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.


Kesehatan Kakek Tomi pun kian hari makin membaik. Kakek Tomi bahkan sudah bisa berjalan sendiri, dia sudah tidak menggunakan kursi roda lagi. Meski harus sering check up ke rumah sakit, itu tidak mengapa bagi Kakek dan keluarga. Malahan Kakek Tomi terlihat sangat senang saat jadwal check upnya telah tiba. Alin, si cucu menantu selalu setia merawat dan mengurus segala hal berhubungan dengan kesehatannya. Perihal kemandulan Alin pun sudah tak menjadi masalah baginya. Kakek Tomi bahkan tak menghiraukan ucapan Mama Rosa setiap kali anaknya itu mengatakan kalau Alin akan segera memberinya cicit. Kakek Tomi sudah malas berharap, ia sudah bersyukur dengan keadaan keluarganya yang sekarang.


*


Alin masih tidak tahu kalau kebohongannya tentang kemandulan telah diketahui oleh Hazar dan keluarganya. Sampai saat ini ia masih mengonsumsi pil kb. Akan tidak lucu jika tiba-tiba saja ia hamil. Ia selalu menelan pil itu setiap pagi dengan penuh rasa bersalah dan penyesalan. Ia juga takut jika saja sewaktu-waktu kebohongannya itu terbongkar. Pasti tidak akan mudah dimaafkan oleh Hazar dan keluarganya. Orang-orang pasti akan marah dan kecewa padanya. Akankah pada akhirnya ia juga akan terbuang seperti mamanya? Air mata Alin kembali menetes setelah menyembunyikan pil kb ke dalam lemari miliknya.


Alin dengan cepat mengusap air matanya. Ia membuka lemari pakaian Hazar untuk menyiapkan pakai kerja suaminya.


Alin sudah tak terkejut lagi saat tiba-tiba ada sebuah lengan melingkari perutnya. Adegan ini hampir setiap hari terulang. Alin tidak merasa terganggu dengan keberadaan Hazar yang menempel di belakangnya, dan terus mengekorinya kemana-kemana. Alin berpindah pada lemari lain tempat penyimpanan dasi Hazar. Alin meneliti setip corak dasi dari balik kaca, kemudian menarik laci dan mengeluarkan dasi yang telah menjadi pilihannya tadi.


“Sudah siap, pakailah kemeja, Kakak!” Alin berbalik badan dan telah bersiap menerima kecupan sebai tanda terimakasih dari suaminya, karna dia telah menjalankan tugasnya sebagai istri dengan baik.


Cup! “Terimakasih,” Hazar mengacak-acak rambut Alin.


“Aku akan menunggu, Kakak, di bawah.” Ujar Alin, kemudian keluar dari ruang ganti.


Hazar memang harus bersiap sendirian, karna Alin harus ke kamar Kakek setiap pagi, untuk melakukan pemeriksaan rutin dan memastikan Kakek meminum obatnya dengan benar.


***


Alin dan Mama Rosa membimbing Kakek Tomi menuju ruang makan. Kedua wanita itu selalu tidak mau mendengarkan penolakan Kakek Tomi, “Aku sudah bisa berjalan sendirian. Mengapa kalian masih membimbingku!” Kakek Tomi berusaha melepaskan tangan Alin dan Mama Rosa. Perhatian kedua wanita itu sebenarnya adalah obat penyembuhnya setiap hari, tapi ia tidak mau diperlakukan terlalu berlebihan seperti ini.


“Aku hanya tidak percaya, kalu Papa benar-benar sembuh seperti ini.” Mama Rosa menyeringai kemudian melepaskan tangan Kakek Tomi.


“Kau, mendoakanku untuk sakit lagi?” geram Kakek Tomi.


“Tidak,”


Alin pun ikut menyeringai saat Kakek Tomi melotot ke arahnya. Ia pun juga ikut melepaskan tangan Kakek Tomi.


Saat mereka sampai di ruang makan, kepala koki yang baru, pengganti Angel tengah menyiapkan piring ke atas meja. Ya, Hazar telah memecat Angel dari sana. Ia sangat tidak sudi membiarkan istrinya hidup berdampingan dengan orang yang pernah berniat mencelakai istrinya itu. Mama Rosa sempat protes tidak mengizinkan pemecatan Angel, karna balas dendamnya akan semakin mudah jika mereka sering bertemu. Tapi tidak ada yang bisa menghentikan Hazar jika sudah menetapkan sesuatu.


“Selamat pagi, Tuan, Nyonya, Nona!” sapa Bibi Yona menyambut kedatangan mereka.


“Pagi, Bibi.” Mama Rosa dan Alin serentak membalas sapaan Bibi Yona.


Saat Alin hendak duduk, bertepatan dengan kepala koki meletakan piring di atas meja di depannya. Alin tersenyum senang.


“Terimakasih, Bibi!” ujarnya.


“Sama-sama, Nona.”


“Fatma, kau, duduklah. Bergabunglah sarapan dengan kami.” Ujar Kakek Tomi tiba-tiba.

__ADS_1


Fatma! Ya, Bibi Fatma lah yang sekarang menjadi kepala koki di rumah utama, menggantikan Angel.


“Terimakasih, Tuan. Saya sarapan di belakang saja bersama yang lainya.”


“Jika, Papa, ingin berterimakasih pada Fatma. Ajak makan di luar, bukan di sini. Ini tidak akan berarti bagi Fatma, karna ini semua dia yang masak, dan dia pula yang harus memakannya.” Mama Rosa yang bersuara. “Fatma, Papaku sangat berterimakasih padamu, katanya masakanmu yang menyehatkannya.


Bagaimana kalau malam nanti kita makan malam di luar! Aku juga harus berterimakasih padamu.”


“Anda, tidak perlu repot, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas saya.”


“Hemmm, hemmm...” Mama Rosa cepat menggeleng. “Kamu harus mau.” Lanjut Mama Rosa. “Alin, juga bisa ikut kan, sayang?” Mama Rosa beralih menatap Alin.


“Iya, Ma. Aku bisa.” Alin mengangguk.


“Ok, malam nanti. Jangan lupa bersiap, Fatma!”


Bibi Fatma terlihat bingung ingin menjawab apa. Ia mengalihkan matanya menatap Alin, guna meminta pendapat.


Alin mengangguk meyakin Bibi Fatma untuk ikut bersama mereka.


“Baik, Nyonya.”


Mereka pun memulai sarapan saat Hazar dan Papa Adi bergabung di sana.


***


David tetap menjadi pewaris utama Yayasan, dan dia juga akan dipulangkan kembali minggu besok. Itu pun juga menjadi syarat dari Amel untuk menyetujui perceraian. Haris menyanggupi semua itu, ia juga tidak membutuhkan itu semua. Karna putri kesayangannya telah terjamin bersama Hazar.


Meskipun hubungannya dengan Alin tak kunjung membaik, Papa Haris tetap merasa bersyukur. Setidaknya putrinya telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Dan lagi ada Hazar dan Rosa, orang-orang yang sangat berambisi dalam melindungi putrinya itu.


Belakangan ini Papa Haris sering dihubungi oleh Karin, Sekretaris Hazar. Namun tujuan Karin menghubunginya bukan sebagai utusan dari Hazar, melainkan sebagai utusan dari Mama Rosa. Ternya besannya itu memang tidak-tidak main-main dalam urusan balas dendam mereka.


“Jika tiga bisa membuat rahim membusuk, kita berikan empat saja untuk mereka. Siapa tahu selain busuk rahim mereka juga bisa digerogoti oleh ulat!” Ujar Mama Rosa saat meminta Papa Haris untuk menyiapkan obat yang sama dengan yang diberikan Angel untuk Alin.


Papa Haris menyanggupi, ia samasekali tak keberatan dengan rencana besannya itu. Tidak akan sulit baginya untuk mendapati obat-obat keras seperti itu.


***


“Kamu tidak pergi kerja, sayang?” tanya Mama Rosa saat Alin baru saja masuk ke dalam rumah setelah mengantar kepergian Hazar.


“Tidak, Ma. Aku sedang libur hari ini.”


“Oww... bagus sekali!” seru Mama Rosa riang.


“Ayo kita jalan-jalan saja hari ini. Sudah lama rasanya Mama tidak berbelanja!”


“Baik, Ma. Aku telepon Kak Hazar dulu.” Alin sudah terbiasa untuk meminta izin pada Hazar setiap kali ia akan bepergian ke luar rumah. Dan ia pun juga menurut jika Hazar tidak memberi izin padanya. Kini hidupnya benar-benar telah dikendalikan oleh Hazar.

__ADS_1


“Baiklah, Mama tunggu di sini.” Ujar Mama Rosa.


Alin melangkah pergi ke kamarnya, untuk mengambil ponsel. Alin menghela napas panjang saat ia tidak bisa menghubungi nomer suaminya. Nomer Hazar selalu sibuk di saat jam kerja seperti ini. Alin menjatuhkan dirinya ke atas kasur, kemudian mengirim pesan singkat pada Hazar.


Satu menit kemudian ponsel yang diletakan Alin di atas nakas pun berdering. Alin yang saat itu sedang berada di ruang ganti pun langsung berhambur keluar. Alin tersenyum senang, saat mengetahui kalau Hazar lah yang menghubunginya.


“Halo, Kakak!”


“Pergilah, tapi jangan terlalu kecapean. Istirahat jika kau merasa lelah. Jangan ikuti semua kemauan Mama, dia sering lupa diri jika sudah berbelanja.”


“Iya,” Alin tersenyum senang. Mungkin Mama Rosa yang akan kewalahan menuruti kemauannya.


“Nanti aku telepon lagi.”


“Iya.” Jawab Alin.


Alin kembali masuk ke ruang ganti, ia memilih pakaian yang sekiranya cocok untuk digunakan saat jalan-jalan di mol, ia pun segera bersiap.


*


Benar saja apa yang dikatakan Hazar tadi pagi. Mamanya memang benar-benar lupa diri saat berbelanja. Namun itu sama sekali tak mengganggu bagi Alin. Karna ia juga sama seperti Mama Rosa. Barang belanjaan mereka Hampir sama banyak. Alin dan Mama Rosa sontak tergelak melihat belanjaan mereka yang sudah menumpuk, sedang dibawakan oleh Bobi dan seorang rekannya. Waktu memang berlalu dengan cepat saat mereka berbelanja. Alin mengusap perutnya yang lapar.


“Ma, kita makan dulu, ya.”


“Kamu lapar, sayang! Ayo, makan apa kita hari ini?”


Alin tiba-tiba saja merasa mual saat mencium aroma makanan di dalam restoran. Tapi ia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Mama Rosa. Restoran yang mereka masuki saat ini adalah pilihan Mama Rosa. Mama Rosa beruang kali memuji makanan di restoran itu. Jadilah, Alin enggan untuk mengeluh akan rasa mualnya.


“Ma, kita pulang saja, ya, setelah ini.” Pinta Alin pada Mama Rosa saat mereka keluar dari restoran.


Mama Rosa memerhatikan wajah Alin dengan saksama. “Kamu sakit, sayang? Mengapa kamu pucat seperti ini?” Mama Rosa langsung menempelkan tangannya pada kening Alin.


“Aku baik-baik saja, Ma. Aku hanya kecapean saja.”


Mama Rosa mengangguk, ia sedikit lega sebab tubuh Alin juga tidak terlalu panas. “Tapi, mengapa makan kamu sedikit saja tadi? Katanya, kamu, lapar! Apa kita cari restoran lain untuk kamu?” tanya Mama Rosa. Ia tetap khawatir melihat Alin yang hanya makan sedikit tadi.


“Aku hanya terlalu kecapean saja, Ma. Nanti aku bisa makan di rumah saja.”


“Ya, sudah. Ayo, kita pulang.”


*


Alin langsung tertidur sesaat setelah merebahkan badannya di atas ranjang. Ia masih berpakaian lengkap seperti tadi, sepatunya bahkan masih terpasang dengan baik di kakinya. Entah mengapa belakangan ini ia jadi sering merasa pusing dan lelah, meskipun saat ia tidak melakukan kegiatan apa pun.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2