
“Mama!” Saat Alin masuk ke ruang makan, ia berpapasan dengan Mama Rosa yang juga masuk dari pintu dapur. Wajah Alin berubah murung, ia masih punya banyak salah pada mertuanya itu.
Mama Rosa yang kala itu sedang membawa sebuah mangkuk berukuran sedang di tangannya, pun mengacuhkan Alin. Ia meneruskan langkahnya menuju meja makan, menata mangkuk yang tadi dibawanya.
Alin tertegun, ini adalah kali pertama ia diacuhkan oleh Mama Rosa. Ia merasa sedih dan berkecil hati. “Mama, maafkan aku,” Dengan berderai air mata, Alin duduk berlutut di lantai.
Hazar yang saat itu berdiri dua langkah di depan Alin pun tidak menyadari kalau Alin akan memohon sampai berlutut.
“Alin!” pekik Mama Rosa.
PRENKK!!! Mama Rosa melempar mangkuk yang dipegangnya dengan sembarang, ia berlari ke arah Alin.
“Alin!” Hazar pun ikut terkejut. Ia baru menyadari kalau Alin sudah terduduk di lantai.
“Berdirilah,” Mama Rosa ikut berjongkok meminta Alin untuk cepat berdiri. Namun Alin seperti tidak mendengarkannya. “Mama sudah memaafkanmu. Kamu tidak bersalah. Maafkan Mama, tadi Mama hanya ingin mengisengimu.” Mama Rosa tampak menyesal karna telah mengisengi menantunya.
Alin masih tertunduk menangis.
Mama Rosa ikut terduduk di lantai, menarik Alin ke dalam dekapannya. Suara tangisan Alin yang memilukan membuat air matanya ikut berderai. “Maafkan Mama,” Mama Rosa mengusap-usap punggung Alin.
Hazar menghela napas panjang, dalam seketika ruang makan telah dipenuhi oleh suara tangisan Mama Rosa, Alin, dan Bibi Fatma yang sekarang sedang terisak duduk bersembunyi di balik pintu dapur.
***
Alin duduk termenung di sisi ranjang, entah apa yang sedang ia pikirkan. Kakek Tomi, Papa Adi, dan Mama Rosa telah memaafkannya. Mereka bahkan sudah makan malam bersama dengan penuh kehangatan. Tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan sekarang. Namun masih ada satu hal yang mengganjal di hatinya.
Alin terlonjak kaget, saat merasakan sentuhan Hazar di kepalanya. Entah sejak kapan Hazar berdiri di sana. Karena sedang melamun ia bahkan tidak menyadari Hazar telah selesai mandi dan berganti pakaian.
“Apa yang kau pikirkan?” Hazar ikut duduk di samping Alin.
“Hmmm...” Alin menggeleng. “Tidak ada,” jawabnya berbohong.
“Ada apa?” Hazar masih kekeh bertanya.
Alin menatap wajah Hazar, ia tampak ragu untuk bicara.
“Katakanlah,”
“Boleh, aku tidur di kamar Bibi Fatma?”
Hazar terdiam sejenak. Ternyata Bibi Fatma lah orang yang sedang di pikirkan istrinya. Sudah sepantasnya Alin merindukan Bibi pengasuhnya itu. Mereka sudah cukup lama terpisah, ditambah lagi, tadi Alin tidak sempat menyapa Bibi Fatma, karena Mama Rosa terlalu sibuk menyita waktu dan perhatian Alin.
“Pergilah,” ujar Hazar akhirnya.
Alin menatap dalam kedua bola mata Hazar. Ia seperti ingin memastikan sesuatu. “Kakak, tidak marah?”
Hazar menarik kepala Alin, menyandarkan kepala Alin ke pundaknya. “Tidak. Kau pasti sangat merindukannya.” Hazar memberi kecupan di kepala Alin. “Mau aku antar?”
“Tidak, aku akan pergi sendiri.” Alin berdiri. “Terimakasih, Kakak.” Alin meninggalkan sebuah kecupan di bibir Hazar, sebelum kemudian ia melangkah ke luar kamar.
***
“Bibi, belum tidur?” tanya Alin dengan suara pelan di depan pintu kamar Bibi Fatma.
“Nona!” Bibi Fatma yang kala itu sedang duduk di sisi ranjang pun cepat berlari ke arah pintu. Memutar kunci, dan menarik gagang pintu dalam detik yang sama.
“Bibi!” Alin langsung menghambur memeluk Bibi Fatma. Tangisan kerinduannya kembali pecah.
Bibi Fatma membalas pelukan Alin. Ia pun juga kembali menangis.
“Bibi, baik-baik saja? Apa Bibi sakit? Mengapa Bibi bisa kurusan seperti ini,” Mata merah Alin meneliti tubuh Bibi Fatma dari ujung kaki hingga kepala.
__ADS_1
“Saya baik-baik saja, Nona.” Bibi Fatma meraih tangan Alin. “Nona, bagaimana kabarnya? Nona, juga kurusan. Apa Nona masih sering muntah-muntah? Tuan kecil ini tidak nakal, bukan?” Bibi Fatma membelai perut Alin.
“Tuan kecil? Bibi sudah tahu jenis kelaminnya?”
Bibi Fatma tersenyum, “Saya hanya menebak, Nona.”
Alin manyun, melangkah masuk ke dalam kamar. Meninggalkan Bibi Fatma.
“Apa Bibi, juga berharap kalau anak ini laki-laki?” Raut wajah Alin tampak sedih.
“Bukan begitu, Nona.” Bibi Fatma ikut menyusul duduk di sisi ranjang. Wajahnya berubah pias. Ah... mengapa ia harus salah omong segala. “Tidak ada yang mempermasalahkan jenis kelaminnya. Tidak seperti Tuan Setyo, keluarga Tuan Hazar tidak pernah mempermasalahkan jenis kelamin penerusnya. ” Bibi Fatma tampak cemas, sebab telah membuat Alin bersedih. “Apa... Tuan Hazar pernah menuntut anak laki-laki dari, Nona?” Bibi Fatma bertanya ragu, sebab wajah Alin kian murung.
Alin menggeleng.
“Maafkan saya, Nona. Tadi... saya hanya tidak tahu harus memanggilnya apa?” Bibi Fatma semakin merasa bersalah.
“Tidak, Bibi. Aku tidak menyalahkan, Bibi.” Alin tersenyum, meraih tangan Bibi Fatma. “Mulai sekarang Bibi boleh memanggilnya Tuna.”
“Tuna?” Bibi Fatma berkerut, bingung.
“Iya, Tuna. Tuan dan Nona. Hehehe...”
Bibi Fatma tertawa, ternyata nonanya masih bisa melucu malam-malam begini.
“Apa Tuan Hazar tidak marah?” Setelah puas menangis dan tertawa, akhirnya mereka berdua berbaring bersama, bersiap hendak tidur.
Alin menggeleng, “Kak Hazar tidak akan marah. Karna aku sudah minta izin untuk tidur di sini.”
Alin menatap Bibi Fatma penuh keyakinan.
Bibi Fatma tersenyum. “Baiklah. Saya sudah percaya, Nona.”
Hingga hampir jam sebelas malam, Alin dan Bibi Fatma baru menyelesaikan obrolan mereka.
Hingga pukul dua dini hari, Alin masih terjaga. Ia menjadi susah tidur, mungkin karena ia sudah puas tidur seharian siang tadi. Akhirnya ia bangkit, ke luar dari kamar Bibi Fatma dengan gerakan pelan-pelan.
Bibir Alin tersenyum saat melihat lantai dua. Lilin-lilin tadi sudah di bersihkan, dan tak tampak lagi jejaknya. Namun, kenangan manis nan romantis tadi akan selalu terkenang di hatinya. Ini adalah hari paling bersejarah baginya. Hari terindah dalam hidupnya, dan hari yang paling membahagiakan.
Alin masuk ke dalam kamarnya dengan gerakan pelan. Ia takut gerakannya akan membangunkan Hazar yang terlihat sudah lelap. Lampu kamar masih hidup dengan terang, mungkin Hazar terlalu kecapean hingga lupa mematikan lampu.
Alin mematikan lampu, kemudian ikut berbaring di samping Hazar.
“Kakak!” pekik Alin terkejut, karna belum sempat ia berbaring dengan sempurna, Hazar telah menarik pinggangnya. “Kakak belum tidur?”
“Tadinya sudah tidur, tapi sekarang sudah bangun.”
“Apa aku mengganggu?” Alin tampak merasa bersalah.
“Tidak. Mengapa kau kembali? Apa kau tidak bisa tidur?”
Alin mengaguk. “Aku rasa... aku terlalu lama tidur tadi siang. Aku jadi tidak mengantuk lagi, sekarang.”
“Kau tidak capek, lagi?” Wajah Hazar berubah semringah.
Alin menggeleng, ia menatap heran pada Hazar.
“Kalau begitu, kita lanjutkan yang tadi pagi.” Hazar menendang selimut, dalam satu kali sentakan kain tebal itu sudah teronggok di lantai.
***
Hazar kembali memakaikan pakaian Alin, setelah ia menyelesaikan petualangannya. “Kau tidak boleh sampai masuk angin,” ujar Hazar mengancingkan kait terakhir piama Alin.
__ADS_1
Alin hanya tersenyum simpul, memerhatikan jemari Hazar yang sedang bekerja di kancing bajunya.
“Sekarang, sudah ngantuk? Mau tidur lagi?”
Alin menggeleng, “Belum,” jawabnya.
“Kata Dokter kau juga tidak boleh kelelahan.” Hazar mengusap kepala Alin dengan sayang. “Mau aku ambilkan minum?”
“Aku lapar,”
*
“Kakak, yakin? Kita terlihat seperti pencuri jika begini.” Alin berdiri di belakang Hazar, yang sedang memeriksa lemari makanan milik pelayan.
“Tidak apa-apa. Aku akan menggantinya besok dengan berkali lipat. Ah... ini dia.” Hazar berbalik badan dengan senangnya, mengacungkan sebungkus mi instan kepada Alin.
“Buahahaha....” Alin tidak tahan menahan tawa, sebab ekspresi wajah Hazar sangat menggemaskan sekarang.
“Mengapa kau, tertawa?”
“Ah, tidak.” Alin cepat menggeleng, menggaet tangan Hazar. Menyudahi tawanya. “Ayo kita masak. Aku mau dua bungkus. Aku sangat lapar sekarang.”
Ini menjadi kali pertama bagi Hazar. Berkutat di dapur, di saat semua orang sedang terlelap.
Dengan telaten ia memanaskan air, merebus mi, dan menyiapkan bumbu pada sebuah mangkuk. Sementara istri tercintanya sedang duduk manis di ruang makan menanti hidangan sepesial darinya.
“Kakak!” Alin muncul dari bingkai pintu.
Oh! Ternyata istri laparnya tidak bisa menantinya sambil duduk manis.
“Apa masih lama?” Alin sudah bersiap dengan sendok dan garpu di tangannya. Ia benar-benar tidak sabar menunggu Hazar.
“Iya, sebentar. Ini sudah hampir siap.” Hazar menuangkan mi ke dalam mangkok.
Alin menelan ludah saat melihat mangkok yang sudah penuh. “Ini terlihat sangat lezat,” gumamnya. “Kakak, cepatlah!” seru Alin berjalan mendahului Hazar yang membawa nampan.
“Tiup, dulu...” Hazar menahan suapan pertama Alin. “Mulutmu bisa terbakar, nanti.”
Alin terlihat sedikit kesal. “Makan mi itu, enaknya kalau masih panas, Kakak,” Alin masih mempertahankan suapannya. Lidahnya sudah tidak sabaran ingin merasakan sentuhan mi instan.
“Tapi, mulutmu bisa terbakar.” Tangan Hazar makin kuat menahan tangan Alin. “Biar aku suapi,” Hazar hendak merebut sendok Alin.
“Tidak, aku bisa makan sendiri.” Alin menjauhkan sendoknya dari Hazar. “Baiklah, akan aku tiup.” Alin akhirnya menyerah. Jika memperpanjang pertengkaran, minya tidak akan enak lagi.
Huuah... huuah... hap! Satu sendok mi berhasil mendarat di lidah Alin.
Hajar tercengang, punggungnya tersandar pada senderan kursi. Ia menghela napas panjang. Tiupan Alin tadi sama sekali tidak mengurangi panas mi. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa saat melihat lahapnya Alin makan.
Dua menit kemudian...
“Huh... Kenyangnya.” Alin menjauhkan mangkok yang telah kosong. Ia mengusap-usap perutnya yang kekenyangan.
Hazar mendekatkan gelas air minum pada Alin. “Masih mau nambah?” tawarnya.
Alin menggeleng, menerima uluran gelas dari Hazar. “Aku sudah kenyang,”
☆
☆
☆
__ADS_1