Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 62


__ADS_3

Alin.


Karna sudah terbiasa hidup tanpa kasih sayang dari keluarga. Ia menjadi sangat buta akan bentuk dan arti dari kasih sayang dan cinta yang sesungguhnya. Yang ia tahu hanya Bibi Fatma seoranglah yang peduli dan sayang padanya, tidak ada orang lain selain Bibi Fatma.


Ia mulai mengerti dan memahami tentang kehidupan sejak usianya lima tahun. Ia memiliki segalanya, tapi tidak dengan keluarga. Ia hanya sebatas seorang anak yang harus dibesarkan dan dirawat oleh papanya. Ia hannyalah beban bagi papanya.


Ia memang dimanjakan dengan segala kemewahan, kamar yang luas dengan fasilitas serba mewah. Memiliki seluruh koleksi mainan, bahkan ia memiliki ruangan khusus untuk memajang semua mainannya. Semua itu ia dapatkan tanpa harus meminta untuk dibelikan. Sebab Papa Haris selalu membelikan mainan untuknya setiap ada koleksi mainan baru. Dan sikap Papa Haris yang seperti itu disalah artikan oleh Alin. Yang tertanam dalam hati Alin adalah, bahwa papanya melakukan ini agar ia tidak perlu merengek dan menyusahkan papanya, jadi papanya membelikan semuanya meski pun ia tidak menyukai mainan itu. Alhasil Alin tidak pernah mau masuk ke ruangan mainannya, karna ia sangat membenci segala yang berhubungan dengan papanya.


Perayaan hari ulang tahun tidak pernah Alin dapatkan, bahkan saat ulang tahun David, ia juga tidak pernah diikut sertakan. Ia juga tidak pernah diikut sertakan dalam segala acara keluarga. Lingkup hidupnya hannyalah sebatas kamar, dapur, rumah belakang, dan taman belakang. Ia tidak pernah keluar dari pekarangan rumah sampai usianya sepuluh tahun.


Dulu ia selalu ditemani Bibi Fatma saat tidur, namun suatu hari saat usianya lima tahun tiba-tiba saja Papa Haris melarang Bibi Fatma tidur di kamar Alin. Alasannya Alin harus belajar mandiri dan tidur sendirian. Meski selama seminggu Alin memohon untuk ditemani tidur oleh Bibi Fatma lagi, Papa Haris tetap tidak mengabulkannya.


Papa Haris juga melarang Alin sekolah di luar rumah. Karna itu Papa Haris selalu mendatangkan guru ke rumah untuk mengajari Alin. Sementara David diizinkan sekolah di luar. Meskipun Alin kembali memohon Papa Haris tetap tidak mau merubah peraturannya.


Alin selalu mengadu sambil menangis pada Bibi Fatma. Namun jawaban Bibi Fatma selalu sama. Selalu membela Papa Haris.


“Karna Tuan Haris sangat sayang pada Nona. Dia ingin putri cantiknya belajar mandiri agar cepat tumbuh dewasa dan menjadi gadis yang tangguh.” Jawab Bibi Fatma saat ia mengadu tentang tidur sendirian.


“Karna Papa Nona sangat sayang pada Nona. Dia tidak mau putri cantiknya kelelahan sekolah di luar, dan di luar juga sangat berbahaya bagi anak cantik seperti, Nona ini.”


“Nona tahu, Tuan David kemarin sampai berlutut memohon untuk tidak mau pergi sekolah, dia juga ingin belajar di rumah seperti Nona. Tapi Tuan Haris malah memarahinya.”


“Itu hanya karangan Bibi saja.” Alin kecil membuang muka, marah pada Bibi pengasuhnya.


Semua sikap Papa Haris memang selalu berbanding terbalik pada David. Karna itulah Alin mengartikan bahwa sikap Papanya terhadapnya hannyalah sebuah pelampiasan rasa kebencian. Sementara sikap papanya pada David adalah kasih sayang yang sesungguhnya. Setiap Hari Alin selalu memupuk rasa bencinya pada papanya. Segala apa yang dilakukan papanya adalah salah di matanya.


Ditambah lagi hasutan dari Amel setiap harinya, yang mengatakan Papa Haris telah membuang Mama Diana saat hamil dulu, dan ceritanya sangat sama dengan gosip-gosip yang beredar, membuat Alin makin membenci papanya. Meskipun Bibi Fatma sudah mengatakan gosip itu salah, Alin tetap tidak mau mendengar.


Sejak ulang tahun Alin yang ketujuh belas, Papa Haris mulai menukar isi kado untuk Alin, yang biasanya selalu berupa mainan, tapi kali ini Papa Haris menghadiahi Alin kado berupa perhiasan mahal dan seperti biasa Papa Haris selalu meletakkan kadonya di meja belajar Alin. Karna Alin tahu itu hadiah dari papanya, ia langsung melempar kotak perhiasan itu keluar dari jendela kamarnya. Dan itu terus berlanjut hingga ulang tahun Alin yang ke 25 kemarin, dan Alin selalu membuang hadiah dari papanya itu.


Rasa benci yang terus menerus dipupuk Alin, membuat rasa itu makin tumbuh dan membesar, hingga Alin membenci segala hal yang berhubungan dengan laki-laki. Ia juga beranggapan semua laki-laki itu sama seperti papanya.


Dan ucapan David waktu di rumah sakit dulu, membuat Alin terlebih dahulu membentengi diri dari Hazar. Dia juga berpikir kalau Hazar adalah laki-laki yang sama seperti papanya.

__ADS_1


“Sekarang hanya belum saatnya. Gue masih ingin melihat lo tersiksa. Perlahan terlupakan dan mati dengan cara mengenaskan, sama seperti ibu lo. Lo sebentar lagi akan masuk ke neraka lain. Lo akan di nikahkan dengan laki-laki yang sama dengan Papa dan Kakek, yang menganggap wanita hanya sebatas rumah produksi untuk menghasilkan pewaris harta selanjutnya. Gue harap dia lebih buruk dari pada Papa, agar lo makin tersiksa, lebih! dari ibu lo yang sudah mati” Ucapan David ini masih terekam jelas di benak Alin.


Keyakinan Alin bahwa Hazar adalah laki-laki yang buruk makin kuat saat Hazar pertama kali menyerangnya.


“Anak! Jika kau ingin bebas dan tak ingin di kekang, lahirkan seorang Anak untukku, setelah itu kau akan aku lepaskan.” Bisik Hazar di telinga Alin pada malam itu. Saat itu juga Alin memutuskan untuk tidak akan memiliki anak dengan Hazar.


Ditambah lagi semakin Alin mengenal Hazar, ia semakin menemukan banyak kesamaan antara Papa Haris dan Hazar. Keduanya selalu suka berbuat semaunya, memang terkadang mereka membuatnya merasa paling berharga, namun tak jarang pula keduanya membuat ia seolah tak berarti apa-apa.


Alin semakin ingin meneruskan kebohongannya tentang kemandulan saat tahu kalau Kakek Setyo sangat menginginkan cicit darinya dan Hazar. Ia sangat benci melihat kakek tua itu mendapatkan sesuatu yang diinginkannya.


Tentang kejahatan Angel, Amel dan David, Alin sudah mengetahuinya sejak awal, sebab ia bisa mendengar dengan jelas dari ruang makan omongan ketiganya waktu di dapur hari itu. Alin pun berpura-pura tidak tahu, ia hanya ingin mengikuti permainan iblis-iblis itu. Karna itu Alin selalu meminta Angel untuk mengantarkan jus buah langsung ke kamarnya, agar ia bisa dengan mudah membuang jus beracun itu.


Namun Alin mulai menyesali perbuatannya setelah ia menyebarkan berita kemandulannya pada keluarga Hazar. Reaksi Hazar dan keluarganya sangat berbeda dari yang ia pikirkan, seharusnya Hazar langsung menceraikannya dan mengusirnya dari rumah saat itu juga, tapi itu semua tidak terjadi. Meski sejak malam itu Hazar tidak pernah lagi menuntut haknya, namun Hazar selalu mendekapnya dengan sayang setiap malam. Meski Hazar selalu pergi pagi dan pulang malam, namun Hazar tak pernah lupa memberi kabar dan kecupan padanya. Sikap Mama Rosa, Papa Adi, dan Kakek Tomi pun terbilang lebih mencemaskan keadaannya dari pada membencinya setelah malam itu.


Alin semakin menyesal, karna dia kesehatan Kakek Tomi makin memburuk. Pernah terpikir olehnya untuk mengakui kebohongannya, tapi ia takut orang-orang malah akan membencinya karna telah berbohong. Dan ia pun memutuskan untuk pergi saat Mama Rosa telah menemukan penggantinya.


Alin kembali teringat, pagi itu Karin pernah memberitahunya untuk bertemu dengan tim kuasa hukum Hazar. Tapi ia keburu kabur siang itu. Apa Kak Hazar ingin menggugat cerai padanya? Ya, tidak ada tujuan lain. Untuk apalagi tim kuasa hukum Kak Hazar menemuinya kalau tidak tentang perceraian.


***


Selama dalam masa pelarian, Alin selalu mengutuk dirinya yang tak pernah bisa melupakan semua hal tentang Hazar. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa. Tidak ada kebahagiaan yang seperti dibayangkannya selama ini. Padahal semua yang terjadi sesuai dengan keinginannya sendiri, hidup bebas tanpa harus dikekang oleh siapa pun.


“Surat ceraimu sudah Papa kirim pada Hazar.” Bunyi pesan singkat dari Papa Haris yang diterima Alin pagi ini.


Perasaan Alin makin tak karuan setelah menerima pesan dari papanya. Alin pun mencoba menghibur diri, ia berjalan mengelilingi desa sambil berjalan kaki ditemani oleh Mbak Tami orang suruhan Papa Haris untuk menemaninya selama tinggal di vila.


Alin berkali terdengar menghela napas panjang, membuat Tami khawatir olehnya.


“Kita kembali saja, Nona. Udara di sini cukup dingin, nanti Anda bisa flu, Nona.” ujar Tami, sambil menyelimuti pundak Alin dengan jaket yang tadi dipakainya.


*


“Bawa obatku ke kamar, sekarang,” Perintah Alin sebelum menaiki tangga.

__ADS_1


Sebelum Alin pergi meninggalkan kota kemarin, Papa Haris meresep beberapa obat untuk Alin. Obat itu berupa vitamin dan obat tidur, Papa Haris sangat tahu, masalah berat yang dihadapi putrinya kali ini pasti akan membuat putrinya susah untuk tidur. Dan benar saja, Alin memang selalu membutuhkan obat yang diberikan oleh papanya itu jika ia ingin beristirahat.


“Tapi, Nona, Ini masih sore dan Anda belum makan malam.” ujar Mbak Tami.


“Aku tidak berselera, cepat bawakan,”


“Tapi, Nona, Tuan Haris bilang, Anda harus makan dulu sebelum minum obat.”


Alin menghela napas, menatap sebal pada Mbak Tami. “Antarkan dengan makan malamku sekalian, Se-ka-rang...” Alin langsung naik ke lantai atas tempat kamar utama vila berada.


Alin menempati kamar Mama dan Papanya, sebab vila itu hanya memiliki dua kamar, satu kamar utama dan satu lagi kamar belakang yang dulu ditempati oleh Bibi Fatma dan Mang Bakri, sekarang Mbak Tami lah yang menempati kamat itu.


Setengah jam kemudian Mbak Tami masuk ke kamar Alin, membawa sebuah nampan.


“Terimakasih, Mbak. Mbak Tami boleh keluar.” Ujar Alin, ia tahu Mbak Tami pasti akan tetap berdiri di sana hingga ia menghabiskan makan malam yang terlihat hambar itu.


“Saya akan menemani Anda, Nona.”


Alin kembali menghela napas, ia merasa sangat jengah sekarang. Alin tidak berbicara lagi, tapi ia tetap diam menatap tajam pada Tami. Akhirnya Tami pun menyerah. “Baiklah, Nona, Saya akan ke sini setengah jam lagi untuk mengambil piring kotor.”


“Tidak perlu, ambil besok pagi saja.” Alin sudah berdiri menghampiri pintu, meminta Tami untuk segera keluar dari kamar.


Setelah Tami pergi, Alin pun menutup pintu kamarnya kembali, tapi ia tidak bisa menguncinya, sebab sejak ia datang ke vila itu, Tami sudah menyembunyikan semua kunci termasuk kunci kamar utama yang ditempati Alin sekarang. Ketika Alin menanyakan kenapa? “Ini perintah Tuan Haris, Nona.” jawab Tami. Alin tidak mau memperpanjang masalah kunci kamar, papanya memang sudah begitu sejak dulu. Pintu kamar Alin tidak pernah memiliki kunci, sejak Alin merajuk karna tidak diizinkan untuk pergi bersekolah di luar, Alin pernah mengurung diri di kamar dan tak mau membuka pintu, alhasil papanya harus memanggil tukang kunci untuk membobol pintu kamarnya. Alin kembali memiliki kunci kamar lagi setelah usianya tujuh belas tahun.


Alin memandangi nampan berisi obat dan makan malamnya.


Benar saja, yang dicemaskan Tami memang terjadi. Alin langsung meminum obat tanpa menyentuh makan malamnya.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2