
“Biar Gue yang melakukannya!” Alin merebut ‘bak instrumen’(kotak yang berisikan alat-alat medis. Seperti gunting, pisau bedah, alat untuk menjahit luka dll.) dari tangan Wira.
“Kamu masih tidak di bolehkan melakukan tindakan pada pasien” Wira kembali merebut bak instrumen dari tangan Alin.
“Eh, Lo masih sadar kan, kalo nilai Gue lebih tinggi dari Lo! Pintaran Gue kali dari pada Lo”
“Tangan kamu masih dalam masa pemulihan. Tidak baik bila kamu paksakan untuk bekerja” Wira keluar dari ruangan, menuju tempat tidur pasien yang membutuhkan perawatannya. Alin mengekorinya dari belakang.
Saat seorang perawat hendak membantu Wira menjahit luka pasien, Alin dengan cepat menghalangnya “Bawa sini guntingnya, biar aku saja yang membantu dokter Wira” Alin merebut gunting dari tangan perawat, si perawat tampak kecewa di buatnya “Siapa Namamu?” Tanya Alin pada si perawat dengan berbisik, karna sekarang dia tengah berada di depan pasien.
“Nama saya Sarah Nona”
“Ok! Sarah dokter Wira akan mentraktirmu makan siang nanti” Ujar Alin.
Mata Sarah terlihat berbinar, ia menutup senyumannya dengan telapak tangan “Benarkah dokter?” Tanya Sarah pada Wira.
“Tidak!, aku tidak pernah mengatakannya” Ketus Wira, ia kembali fokus pada pekerjaannya.
Muka Sarah kembali tampak kecewa dan pergi menjauh dari Wira dan Alin.
Alin kembali menutup tirai pembatas yang tersingkap oleh Sarah tadi, lalu memukul pundak Wira “Lo jadi cowok pekaan dikit kenapa sih!” Ujar Alin.
“Diamlah! Kamu tidak lihat tangan aku lagi sibuk. Jadi jangan di sentuh” Ujar Wira.
*
“Kapan Mama Lo kesini?” Tanya Alin saat ia dan Wira berjalan menuju kantin.
“Minggu depan” Jawab Wira.
“Siapin juga kamar untuk Gue di rumah Lo! Gue bakal nginap di sana juga minggu depan”
__ADS_1
“Aku tidak pernah mengundangmu untuk datang ke rumahku!” Ujar Wira.
“Karna itu, aku yang akan datang sendiri tanpa kamu undang” Alin melangkah mendahului Wira “Aku sangat kangen dengan masakan Mama” Ujar Alin, masih bisa di dengar oleh Wira.
“Cepatlah! Mengapa Lo jadi lemot kaya gini” Alin melambaikan tangannya pada Wira, yang masih berdiri di pintu masuk Kantin.
Wira menghela napas “Tidak usah teriak-teriak” Ujar Wira, ia duduk di bangku seberang Alin.
*
“Tuan apa Anda baik-baik saja?” Tanya Pak Naf, saat melihat Hazar sekarang tengah memijat keningnya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing” Jawab Hazar.
“Tuan beristirahatlah sebentar. Biar saya saja yang mengurusi sisanya”
“Tidak perlu” Hazar memejamkan matanya menyandarkan punggungnya dengan nyaman ke sandaran sofa yang ia duduki. Ia sama sekali belum tidur sejak kedatangannya ke kota itu. Karna pikirannya sangat tidak tenang, serta suasana hatinya yang terasa hampa saat ini.
Hazar tidak berkomentar, ia masih terdiam dengan posisi yang sama. Dengan mata yang masih terpejam.
***
Alin merasa terganggu oleh helaan napas Hazar yang berbaring di sampingnya. Ia mengerjap secara perlahan membuka matanya, Hazar terdengar bergumam seperti orang mengigau. Dia tidur dengan menggunakan pakaian kerjanya, lengkap dengan sepatu, dasi dan jas, sepertinya suaminya itu langsung tidur saat tiba di rumah.
“Mungkin dia terlalu kecapean” Alin hendak turun dari kasur, namun urung karna ia kembali mendengar igauan Hazar. Mata Alin menyipit menatap wajah Hazar.
“Apa dia sakit?” Alin kembali naik ke atas kasur, mendekat pada Hazar. Kening Hazar tampak mengernyit, wajahnya dan bibirnya pun tampak pucat. Alin meletakan tangannya di kening Hazar “Dia demam!” Alin juga meletakan satu tangannya di keningnya dan meletakan kembali tangan satunya pada kening Hazar.
Alin melonggarkan dasi yang melingkar di leher Hazar, membuka dua kancing atas kemejanya, dan membuka sepatu Hazar. Lalu Alin turun ke lantai bawah.
“Selamat pagi Nona” Sapa seorang pelayan.
“Pagi, apa Mbak melihat Bibi Yona dan Bibi Fatma? Dimana mereka?” Tanya Alin.
__ADS_1
“Mereka sedang di belakang Nona. Sebentar saya panggilkan”
“Tidak usah Mbak, biar aku saja yang ke belakang” Cegah Alin.
“Nona!” Belum tiga langkah Alin berjalan, Bibi Yona sudah muncul dari pintu ruang makan “Ada yang bisa saya bantu Nona?”
“Iya Bibi, aku sangat membutuhkan bantuan Bibi sekarang. Bisakah Bibi siapkan satu baskom dengan air hangat, dan satu handuk kecil” Ujar Alin.
“Apa ada yang sakit Nona?” Tanya Bibi Yona.
“Kak Hazar sedang demam sekarang” Jawab Alin.
Mata Bibi Yona terbelalak, dan raut wajahnya tampak cemas “Apa Tuan baik-baik saja Nona?”
“Dia tidak baik-baik saja Bibi, dia sedang sakit” Jawab Alin lagi “Lebih baik sekarang Bibi siapkan yang aku minta barusan, dan juga minta Bibi Fatma untuk membuat teh jahe hangat dengan sedikit madu dan bubur bayam yang sering dia buatkan saat aku sakit dulu. Ok Bibi!” Ujar Alin.
“Baik Nona. Saya juga akan memanggil dokter”
“Ya! Itu terserah Bibi. Ingat Bibi yang membuatnya harus Bibi Fatma bukan Angel, dan buatkan semuanya dua porsi, untukku dan kak Hazar” Alin kembali naik ke lantai atas “Apa Bibi lupa aku juga seorang dokter” Gumam Alin.
Alin kembali masuk ke kamar, ia langsung menuju ruang ganti, dan keluar dengan membawa baju tidur Hazar. Alin duduk bersila di tengah kasur di samping tubuh Hazar, bersiap hendak mengganti pakaian Hazar.
“Kakak! Kak Hazar!” Alin menepuk-nepuk pipi Hazar. Hazar hanya bergumam matanya masih tertutup rapat “Aku akan mengganti pakaian Kakak” Izin Alin.
Merawat orang sakit tentu bukan hal yang baru bagi Alin. Serta perihal membuka dan memakai pakaian pasien, Alin tentu juga sudah pernah melakukannya, bahkan ia sering melakukannya saat dia praktik lapangan dulu.
Alin terlebih dahulu membuka celana Hazar, dan menyisakan celana pendek. Ia beralih membuka semua kancing kemeja, Alin sedikit kesusahan membuka jas yang di kenakan Hazar, hingga dia harus mendudukkan Hazar terlebih dahulu.
Alin memerlukan tenaga yang cukup ekstra untuk mendudukkan tubuh Hazar yang hampir dua kali lipat lebih besar dari tubuhnya, terlebih dalam keadaan lemah seperti sekarang tubuh lunglai Hazar terasa lebih berat olehnya. Alin berhasil, ia mendekap tubuh lemah itu ke pelukannya agar dia lebih mudah membuka jas dan kemeja Hazar, yang tinggal di dorongnya ke belakang.
Tubuh Alin meremang saat hembusan napas Hazar menerpa lehernya. Ia menggeser dagu Hazar yang menempel sempurna di pundaknya untuk sedikit menjauh dari lehernya, dan itu berhasil. Alin kembali berusaha untuk membuka jas dan kemeja Hazar. Saat semua sudah terlepas dan hanya menyisakan kaos putih tipis, Alin kembali hendak membaringkan Hazar. Tiba-tiba kedua tangan Hazar memeluknya dengan erat, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Alin.
“Kakak!” Pekik Alin, ia terkejut dengan tindakan Hazar. Alin berusaha menjauhkan tubuh Hazar darinya, namun itu sia-sia Hazar malah semakin kuat mendekapnya. Akhirnya Alin hanya pasrah dan membiarkan Hazar yang berkali-kali terdengar menghela napas panjang di lehernya. Tindakan Hazar itu sangat membuat Alin merasa tidak nyaman tentunya, hati dan pikirannya menjadi tak karuan, serta detak jantungnya menjadi berantakan.
__ADS_1