
“Kakak, bagaimana bisa Kakak membatalkan pernikahan Hazar dan Luna? Aku sudah menyebarkan undangan pernikahan mereka pada rekan bisnisku, Kakak! Keluargaku pasti akan malu jika pernikahan ini tidak jadi dilaksanakan.” Deri masih belum menyerah dengan pernikahan Hazar dan Luna, anaknya. Ia bahkan datang sendiri ke kamar rawatan Rosa, Kakak sepupunya.
“Ckckck...” Papa Adi berdecak sambil geleng-geleng kepala, melihat tingkah Deri yang sangat tidak tahu malu menurutnya. Hampir seluruh keluarga sudah mengetahui sifat licik Deri. Lihatlah, bukannya bertanya tentang kabar kakak sepupunya yang terbaring di rumah sakit dalam keadaan pucat dan lemah, eh, dia malah langsung pada pokok dan tujuannya datang ke rumah sakit saat ini. Tanpa basa basi terlebih dahulu.
“Undangan apa yang kau berikan pada rekan bisnismu?” Mama Rosa tampak mengerutkan keningnya. “Bukankah perjanjiannya pernikahan Hazar dan Luna akan kita rahasiakan dari publik?”
Deri tampak terdiam mendengar ucapan Kak Rosa barusan. Pernikahan Hazar dan Luna memang akan dirahasiakan dan hanya keluarga inti yang akan menghadiri pernikahan itu. Ia dan Luna bahkan sudah menanda tangani surat perjanjian pranikah untuk tetap merahasiakan pernikahan itu.
“Luna sendiri yang menyebar luaskan kabar pernikahan kedua Hazar pada banyak orang. Dan kau ternyata juga sudah mencetak undangan dan menyebarkannya pada rekan bisnismu! Menurutmu, apa sebaiknya kami membawa ini ke ranah hukum saja, sekarang!?” Papa Adi ikut menimpali.
Muka Deri makin pucat, ternyata ia hanya menggali kuburannya sendiri dengan nekat menemui Kak Rosa dan Kak Adi sekarang. “Luna memang selalu membawa masalah untukku.” Batin Deri.
***
Sementara Bobi sedang mencari si wanita pengirim rekam medis Alin, Hazar tetap berada di apartemen sambil memeriksa CCTV cafe saat Alin dan Mamanya bertemu terakhir kali.
Hazar mengerutkan keningnya, ia merasa tidak asing dengan wajah si wanita berambut panjang yang duduk di samping Mamanya. Tapi ia tetap tidak bisa mengingat siapa nama wanita tersebut. Hazar kembali mengerutkan keningnya saat Mamanya meninggalkan Alin dan si wanita. Raut wajah keduanya tampak serius seperti membicarakan sesuatu, tapi Hazar tidak bisa mengetahui apa yang dibicarakan oleh keduanya. Karna masih penasaran, Hazar pun menghubungi nomer Karin menanyakan siapa si wanita tersebut.
“Wanita yang duduk di samping Nyonya Rosa adalah Nona Luna, Tuan. Sepupu Anda, dia adalah wanita yang dijodohkan Nyonya Rosa dengan Anda, Tuan.” jawab Karin.
Air muka Hazar langsung berubah kesal.
“Bawa dia ke apartemenku sekarang!” Perintah Hazar, setengah berteriak.
“Baik, Tuan.” jawab Karin cepat.
Hazar masih terus menonton rekaman CCTV, terakhir sebelum Alin menghilang ke arah toilet dia terlihat menuliskan sesuatu di kertas, melipatnya dan menyimpan kertas tersebut ke dalam tas jinjingnya.
Hazar langsung berdiri masuk ke dalam kamar, ia meraih tas jinjing Alin yang disimpannya di atas meja di dalam kamar apartemennya. Hazar memeriksa satu persatu barang-barang Alin yang tersimpan di dalam tas itu hingga kosong. Namun kertas yang dilipat Alin di dalam video masih belum ditemukannya. Hazar akhirnya ingat, tempo hari waktu di cafe ia sudah pernah membongkar isi tas istrinya, mungkin kertas yang dicarinya tercecer waktu itu.
Hazar langsung keluar dari apartemen menuju parkiran. Ia memacu kendaraan menuju cafe.
Gerakan Hazar tertahan saat hendak mendorong pintu kaca cafe, karna ia melihat Wira di parkiran yang juga melangkah ke arahnya.
“Akhirnya, Anda, menyadarinya juga.” Wira tampak tersenyum sinis. “Ambillah,” Wira mengulurkan sebuah kertas berlipat rapi pada Hazar. “Jika, Anda, tidak bisa memenuhi permintaan Alin, silakan hubungi nomer saya. Saya permisi.” Setelah berucap demikian Wira kembali melangkah ke parkiran.
Hazar mematung di tempatnya, memandangi mobil Wira hingga menghilang di kejauhan.
***
Hazar kembali masuk ke dalam mobilnya, tangannya terkepal erat menggenggam kertas pemberian Wira tadi. Ia terlihat ragu untuk membuka lipatan kertas.
“Maaf, selama ini aku hanya bisa merepotkan Kakak. Bahkan di saat terakhir pun aku masih merepotkan. Aku akan kembali untuk menjemput Bibi Fatma, dan mengambil barang-barangku yang Kakak bawa dari apartemen dulu. Jika Kakak merasa kerepotan, tolong hubungi Wira, dia akan membawa Bibi Fatma dan barang-barangku. Semoga pernikahan Kakak kali ini bahagia. Sampaikan salam maafku pada Kakek Tomi, Mama Rosa, dan Papa Adi. Maaf aku sudah menyusahkan kalian selama ini.
Hazar memejamkan matanya, menyandarkan punggungnya, kepalanya terasa berdenyut, dadanya pun terasa sesak. Hazar tetap diam dengan posisinya hingga beberapa saat.
Lamunan Hazar buyar, oleh nyaringnya deringan ponsel. Dengan malasnya Hazar pun meraih ponselnya yang ia simpan di saku jaketnya. Ternyata Karin yang menelepon.
__ADS_1
“Ada apa?”
“Maaf, Tuan. Nona Luna sedang di rawat di rumah sakit sekarang, dia mengalami kecelakaan di kamar mandi tadi pagi.”
Diam, tidak ada respons dari Hazar. Karin pun ingin kembali bersuara. "Tuan!"
Tanpa menjawab atau memberi respons Hazar langsung memutuskan panggilan telepon Karin. Dan langsung menghubungi nomer Bobi.
“Di mana kau?”
“Saya sedang di bandara, Tuan. Dokter Qori sepertinya ingin meninggalkan negara ini.”
Ya, dokter Qori adalah orang yang mengirimkan rekam medis Alin pada Hazar, dan Mama Rosa.
“Bawa dia padaku, apa pun yang terjadi jangan biarkan dia lolos!”
Hazar kembali memutuskan panggilan telepon sepihak, dia langsung memacu kendaraannya keluar dari parkiran cafe.
***
Sementara itu di dalam toilet khusus wanita di bandara.
Dokter Qori tengah ketakutan, dia tahu bahwa ia sekarang tengah di buntuti oleh beberapa orang laki-laki berpakaian serba hitam.
Sambil mengurung diri duduk di atas kloset dokter Qori terus berusaha memikirkan cara untuk kabur dari orang-orang yang membuntutinya. Saking ketakutannya dia, tangan dan kakinya tak henti-hentinya bergetar sejak tadi, matanya bahkan sudah tak fokus lagi.
Dokter Qori buru-buru mencari ponselnya di dalam tas, ia teringat akan seseorang yang mungkin saja bisa menolongnya keluar dari sana. Ia pun langsung menghubungi nomer orang itu. Sial! Ternyata nomer si penolong sedang di luar jangkauan. Karna masih belum mau menyerah ia pun mengirimkan pesan singkat pada si penolong bertepatan dengan pintu toilet di dobrak seseorang dari luar.
***
“Angkat kepalamu!” Terdengar suara bariton memberi perintah, dokter Qori yang hampir hilang akal pun langsung menurut.
Bola mata dokter Qori langsung membulat, detik itu juga kepalanya kembali tertunduk. “Ampun, Tuan. Ampuni saya, saya hanya menuruti perintah Nona Alin, Tuan!” Ratap dokter Qori sambil bersujud di depan Hazar. “Ampuni saya, sungguh saya hanya mengikuti perintah Nona Alin.” Dokter Qori terus saja memohon, air matanya kembali menganak sungai. Kepalanya makin tertunduk dalam.
“Memangnya apa yang diperintahkan istriku padamu?”
“No-Nona Alin hanya meminta saya untuk mengirimkan rekam medisnya pada Anda dan Nyonya Rosa, Tuan.” Jawab dokter Qori dengan suara gemetaran.
“Apa hanya itu yang istriku perintahkan padamu?” Hazar kembali bertanya.
“I-iya, Tuan. Sungguh hanya itu yang Nona Alin perintahkan pada saya.”
“JAWAB YANG JUJUR, APA KAU MAU MATI DI TANGANKU!!!”
Dokter Qori terlonjak kaget mendengar teriakan Hazar, rasa takutnya makin menjadi, sekarang telapak tangannya sudah menempel ke lantai, dengan wajah yang nyaris menyentuh lantai juga. “Iya, Tuan. Hanya itu, hanya itu yang Nona Alin perintahkan pada saya.” Jawabnya spontan.
“Tuan!” Bobi langsung mendekat, menyerahkan sebuah ponsel pada Hazar.
__ADS_1
Hazar tidak bertanya kenapa, ia pun menerima ponsel yang entah milik siapa itu, dan membaja dokumen yang ditunjuk Bobi tadi.
SURAT PERJANJIAN.
Pihak pertama : Alindia Shakier
Pihak kedua : Qoriatul Fadhilah
Pihak kedua harus menuruti apa pun yang diperintahkan oleh pihak pertama.
Pihak kedua wajib menjaga rahasia pihak pertama.
Pihak kedua hanya bekerja sama dengan pihak pertama.
Pihak kedua harus menjadi dokter kandungan pihak pertama, dan menegakkan diagnosa berdasarkan keinginan pihak pertama.
Pihak kedua bersedia melakukan aborsi pada pihak pertama jika sewaktu-waktu terjadi kehamilan.
Darah Hazar terasa mendidih saat membaca poin kelima. Ia yang selama ini tidak pernah suka menyentuh orang asing langsung berhambur ke depan dokter Qori. Hazar menarik pundak dokter Qori hingga bisa menatap wajahnya.
“Apa Alin pernah melakukan aborsi!? APA KALIAN PERNAH MEMBUNUH ANAKKU!?” Teriak Hazar histeris, kedua bola matanya telah memerah menahan amarah, tubuhnya bahkan bergetar sekarang.
*
__ADS_1
*
*