
“Kita ke rumah sakit sekarang!”
“Untuk apa? Aku hanya nyeri menstruasi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Alin berusaha melepas genggaman tangan Hazar dari pergelangan tangannya.
Hazar melepaskan genggamannya. Mata tajamnya menatap Alin penuh sidik.
Alin menciut, ia menundukkan kepalanya tidak berani menatap Hazar. “Aku memang tidak pernah datang bulan dua tahun belakangan.” Alin memejamkan matanya, ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada Hazar. “Apa Kakak, masih Mengharapkan anak, dariku?” Alin mengangkat dagunya menatap dalam mata Hazar. “Aku mandul, dan aku tidak akan bisa memberimu anak! Apa Kakak masih belum mengerti dengan penjelasan Papa malam itu!” pekik Alin.
Pancaran mata Hazar meredup, detak jantungnya seolah berhenti mendengar ucapan Alin barusan. Mata Alin telah berkaca-kaca. Sepuluh detik kemudian, carian bening itu pun lolos membasahi pipi istrinya.
Hazar menarik tubuh Alin, mendekap tubuh itu ke dalam pelukannya. Ia merasa sangat bersalah. “Maafkan, aku.” bisik Hazar lirih. “Sekarang aku sungguh tidak menginginkannya lagi. Hanya kau yang aku butuhkan. Maafkan, aku.” Hazar mengeratkan dekapannya.
Alin merotak hendak melepaskan diri dari dekapan Hazar.
"Maafkan, aku." Hazar mengeratkan dekapannya, tak membiarkan Alin untuk lolos darinya. "Maafkan, aku." Hazar berulang-ulang menyerukan kalimat yang sama.
Bukannya mereda, tangisan Alin malah makin menjadi mendengar penuturan Hazar. Hingga ia pun ikut mengeratkan cengkeramannya pada pinggang Hazar. Isakannya makin terdengar memilukan.
Hazar merasa sedikit lega saat Alin sudah tidak merontak lagi dalam dekapannya.
Hazar mengusap kepala Alin dengan sayang. Membiarkan istrinya itu menangis sepuasnya.
*
Hazar meninggalkan sebuah kecupan di kening Alin, sebelum ia beranjak dari tempat tidur. Ya, sekarang istrinya itu sudah terlelap, setelah menangis sepuasnya.
Setelah berganti pakaian Hazar kembali turun ke lantai bawah. Ia sangat lapar saat ini, dia baru teringat bahwa ia telah melewatkan makan siang dan makan malamnya.
“Selamat malam, Tuan.” Sapa Bibi Yona, menyambut Hazar di depan tangga.
“Malam, Bibi.”
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Bibi Yona, sebab Hazar terlihat celingukan seperti mencari seseorang.
“Apa istriku sudah makan malam?”
“Sudah, Tuan. Fatma sendiri yang mengantarkan makan malam Nona ke kamar.”
“Dimana Bibi Fatma, sekarang?”
“Dia ada di dapur, Tuan. Akan saya panggil ke belakang sebentar,”
“Tidak usah. Siapkan saja makan malamku.” ujar Hazar, kemudian melangkah menuju ruang kerjanya.
“Baik, Tuan.” Bibi Yona pun berbalik ke dapur.
Langkah Hazar terhenti saat mendapati Karin di ruang tengah.
__ADS_1
“Selamat malam, Tuan.” Sapa Karin.
“Ada apa?”
Belum sempat Karin menjawab, Hazar kembali bersuara. “Masuklah,” Hazar mengajak Karin untuk masuk ke ruang kerjanya.
Hazar duduk di kursi meja kerjanya, sementara Karin tetap berdiri di samping meja kerja.
“Minta seseorang untuk memeriksa keaslian rekam medik, ini. Lakukan secara diam-diam, jangan sampai ada yang tahu, terutama istriku. Dan cari tahu juga siapa yang mengirim surat ini padaku.” Hazar mengeluarkan sebuah amplop dari laci meja kerjanya, yang tak lain adalah rekam medik Alin yang masih disimpannya dengan baik.
Hazar hanya sedang bimbang sekarang. Ia bisa melihat dengan jelas gelagat mencurigakan dari sikap Alin tadi.
Sebenarnya dia bisa saja meminta Alin untuk menjelaskan situasi tadi, hanya saja dia tidak mau memperburuk keadaan. Lebih baik ia mencari tahu sendiri apa yang sedang disembunyikan oleh istrinya itu.
“Baik, Tuan.” Karin meraih amplop dan menyimpannya di pangkuannya.
“Besok kirimkan semua keperluan berkebun ke rumah singgah Mama Diana.”
“Baik, Tuan.”
“Ada perlu apa kau, ke sini?” Hazar baru ingat, bukan dia yang meminta Sekretarisnya itu datang ke rumah.
“Semua berkas dan dokumen yang dibutuhkan untuk pengalihan saham Anda pada Nona Alin sudah selesai, Tuan. Tim Notaris dan Kuasa Hukum juga sudah memeriksanya. Mereka hanya membutuhkan tanda tangan Nona, sekarang.”
“Minta mereka untuk datang ke sini besok siang.”
“Baik, Tuan.”
*
Karna telah terbiasa makan bersama Alin tanpa harus ditemani pelayan, Hazar pun meminta Bibi Yona dan yang lainnya meninggalkannya sendirian di ruang makan.
Tentu itu membuat Angel makin dongkol. Ia hanya memiliki kesempatan untuk memandangi Hazar hanya saat majikannya itu sedang makan saja. Tidak ada waktu yang lain, selain saat jam sarapan dan makan malam. Tapi, sejak kemunculan Alin, ia sangat susah untuk bertemu dengan Hazar. Waktunya untuk memandangi Hazar secara lama pun sudah tak ada lagi sejak kemunculan Alin.
Dengan berat hati, Angel pun mengikuti langkah Bibi Yona menuju dapur. Saat melihat cangkir kopi di atas meja dapur, Angel pun menemukan sebuah ide untuk ia bisa kembali ke ruang makan, dan bertemu dengan majikan kesayangannya.
Saat Bibi Yona telah pergi ke rumah belakang, Angel pun mulai menyeduh segelas kopi. Dengan senyuman yang tak henti-hentinya terkembang, sambil bersenandung kecil Angel mengaduk cairan hitam itu. Setelah dirasainya semua sempurna ia pun melenggang ke ruang makan.
“Kopi Anda, Tuan.” Angel berucap selembut mungkin. Meletakan cangkir kopi ke atas meja.
Hazar mengerutkan keningnya, menatap Angel. “Aku tidak memintanya.” ujar Hazar.
“Anda, memang tidak meminta dibuatkan kopi, Tuan. Saya hanya ingin membuatkannya untuk, Anda.” Bibir Angel tak henti-hentinya melebar.
Hazar begitu jengah melihat wajah Angel, hingga ia pun mengusirnya. “Pergilah, dan bawa kopi itu ke belakang.”
Detik itu juga senyuman di wajah Angel menghilang, digantikan dengan raut kekecewaan.
__ADS_1
Karna Hazar sudah tak berselera lagi untuk makan, ia pun berdiri dan hendak pergi. Tapi...
“Aduh... Maaf, Tuan. Maaf...” Angel dengan sengaja menabrakkan diri pada Hazar, hingga kopi yang dipegangnya tumpah mengenai lengan dan pinggang Hazar. Angel meletakan cangkir kopi yang sudah kosong ke atas meja.
Hazar berdecak malas, melihat kaos yang dikenakannya kotor tersiram air kopi. Sebenarnya kulit lengan dan pinggangnya terasa perih, tapi rasa dongkollah yang lebih merajainya sekarang.
“Maaf, Tuan. Saya tidak sengaja!” seru Angel.
Saat tangan Angel terulur ingin menyentuh Hazar. Hazar pun dengan kasar menepis tangan Angel, tak sampai disitu Hazar bahkan mendorong tubuh Angel menjauh darinya, hingga pinggang Angel terbentur sisi meja makan.
Tanpa kata, Hazar pun melanjutkan langkahnya. Mengabaikan Angel yang terus mengaduh kesakitan karna dorongannya tadi.
Angel meringis menatap kepergian Hazar yang sama sekali tidak memedulikannya. Padahal ia sudah berusaha mengaduh sekeras mungkin.
“Kita lihat saja, Tuan. Sampai kapan Anda akan memperlakukan saya seperti ini.” Angel menyeringai sambil memandangi pintu tempat Hazar menghilang tadi.
***
Hazar tidak bisa tertidur, sebab luka bakar bekas tersiram kopi tadi belum diobatinya dengan benar. Hingga ia merasan perih di sekitar lengan dan pinggangnya. Karna rasa dongkolnya masih tersisa Hazar pun bangkit dengan gerakan kasar, hingga tanpa ia sadari gerakannya telah mengganggu tidur Alin yang berbaring di sampingnya.
Hazar menghidupkan lampu, mengangkat kaos bagian pinganya, melihat luka bekas tersiram air panas yang meninggalkan jejak kemerahan di pinggang dan lengannya.
“Ada apa?” tanya Alin sambil mengerjapkan matanya.
Hazar baru tersadar bahwa ia telah menggagu tidur istrinya. Hazar menghampiri Alin. “Bukan apa-apa. Tidurlah lagi.”
“Kenapa, ini?” Alin meraih tangan Hazar yang terlihat memerah. Alin menatap wajah Hazar menanti jawaban dari suaminya itu, karna Hazar Hanya diam memandangi luka bakarnya.
“Kena air panas, tadi.” jawab Hazar. Saat kembali mengingat kejadian tadi rasa dongkolnya kembali bangkit. “Apa aku pecat saja dia dari rumah ini!” geram Hazar.
Alin tergelak melihat wajah kesal Hazar. “Siapa yang ingin Kakak pecat?” Alin bangkit dari tempat tidur, mengambil kotak obat yang disimpannya di dalam lemari kecil di bawah televisi.
“Sudah selesai!” seru Alin, kembali menutup salep obat luka bakar.
“Belum.” Hazar mengangkat kaosnya hingga menampakkan pinggangnya yang juga memerah. “Ini juga, obati.” ujarnya.
Alin mengerutkan keningnya, menatap Hazar. “Bagai mana bisa Kakak menumpahkan air panas sampai ke pinggang?”
“Bukan aku yang menumpahkannya, tapi Angel.” geram Hazar.
“Angel?” Alin menatap bingung.
“Sudahlah, obati lukaku, cepat!” Muka Hazar masih tampak kesal.
Alin menurut, ia sedikit membungkuk untuk mengoleskan salep pada luka di pinggang Hazar. “Ini hanya tumpahan air panas, mengapa Kakak sekesal ini?” tanya Alin sambil mengobati luka Hazar. “Apa Kakak pernah ditolak olehnya?” Alin tergelak.
Alin langsung terdiam, tiba-tiba saja Hazar menegak dan menangkup pundaknya, membuat posisi mereka saling berhadapan.
__ADS_1
“Dengarkan aku, baik-baik! Sebelum bertemu denganmu, tidak ada yang namanya wanita dalam hidupku. Kau yang pertama, hanya kau wanitaku saru-satunya! Dan hanya kau wanita yang pernah menolakku!” Mata Hazar menatap Alin penuh keseriusan.
Alin tertegun, seluruh tubuhnya meremang mendengar ucapan Hazar barusan. Mata dan hidungnya dijalari rasa panas hingga wajah Hazar yang dipandanginya terlihat membayang sebab matanya telah berkaca-kaca.