Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 29


__ADS_3

“Cih, siapa suruh aku duduk di sana.” Rutu Alin. Ia berdiri dan duduk di kursinya. “Kakak mau kemana?” tanya Alin saat melihat Hazar berjalan menuju dapur. Karna Hazar tak menjawabnya, Alin pun ikut berdiri mengikuti langkah Hazar.


Hazar terlihat mencari sesuatu. “Apa yang Kakak cari?” Alin masih mengekori punggung Hazar.


“Susu.” Jawab Hazar tanpa menoleh, ia masih sibuk dengan urusannya.


“Susu! Untuk apa?”


“Apa kau tidak tahu apa gunanya susu? Tentu untuk kau minum!” ketus Hazar. Ia semakin kesal sebab benda yang ia cari masih belum di temukannya.


“Untukku minum! Aku sedang tidak ingin minum susu.” Ujar Alin.


“Diamlah! Sana, panggilkan seseorang untuk mencarinya!” seru Hazar.


Alin mencibir. “Siapa suruh Kakak mengusir mereka tadi.” Bukanya pergi mencari bantuan. Alin malah membuka pintu lemari satu-satu. “ini!” Alin berseru riang, mengacung-acungkan kotak susu ke udara.


Hazar merampas kotak susu dari tangan Alin.


Kening Alin berkerut bingung. “Untuk apa aku meminum susu ini?” ujarnya.


“Apa kau tidak bisa membaca kegunaannya?” nada suara Hazar masih ketus. Sekarang dia sedang memanaskan air di panci kecil.


“Aku tahu! Tapi siapa yang ingin mempersiapkan kehamilan?”


“Yang meminum susunya kau, yang mempersiapkan kehamilan kucingnya tetangga sebelah.”


“Bagaimana bisa begitu?”


“Bagaimana bisa kau menjadi dokter dengan otakmu yang seperti ini.” Hazar menuding kening Alin dengan jari telunjuknya.


Alin mencibir dibalik punggung Hazar. Ia tidak berkomentar lagi. Ia hanya diam menyaksikan Hazar yang terlihat sangat fokus membuatkan susu untuknya. Hazar tampak membaca saran penyajian pada kotak susu, kembali beralih pada sendok di tangannya, memasukkan beberapa sendok susu bubuk ke dalam gelas. Kemudian kembali memastikan apakah tindakannya sudah benar atau belum, tampak sekali bahwa dia masih pemula dalam hal itu.


“Bagaimana jika aku tidak bisa hamil? Apa yang akan Kakak perbuat?” tanya Alin tiba-tiba.


Ia masih menatap punggung Hazar.


Hazar menghentikan kegiatannya, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Alin. Ia menopangkan kedua telapak tangannya pada sudut meja, hingga bahunya tampak condong ke depan, posisinya sekarang masih membelakangi Alin. “Mengapa kau bertanya begitu?” Hazar bersuara setelah lama mereka terdiam. Hazar membalikkan badannya menatap Alin dengan tajam. Ekspresi wajah Alin tampak tak biasa.


“A-aku hanya bertanya.” Alin merasa gugup di tatap sedemikian rupa oleh Hazar. “aku akan kembali ke depan.” Alin langsung beranjak pergi dari sana.


Hazar kembali terdiam saat ditinggal Alin sendirian di dapur. Ia merasa ada yang salah, perasaannya tiba-tiba menjadi hampa setelah mendengar ucapan Alin tadi.


*


Hazar baru saja keluar dari ruang ganti. Ia sudah mengenakan baju tidurnya. Perasaannya masih tidak tenang, di tambah lagi sikap Alin yang juga berubah setelah mereka kembali dari dapur tadi. Hazar menghela napas menghampiri kasur, tempat di mana Alin telah terlebih dahulu berbaring disana dengan memunggunginya.

__ADS_1


Hazar merebahkan tubuhnya tepat di samping Alin, sedikit menggeser posisinya untuk lebih dekat dengan Alin. Ia membalikkan badan Alin hingga berbalik menghadapnya, ditariknya hingga masuk dalam dekapannya. Berharap kegundahan hatinya dapat sedikit berkurang.


***


Alin merasa terganggu oleh rasa dingin yang entah dari mana asalnya, Kening, pipi dan berakhir di bibirnya. Alin mengerjapkan matanya. Ia mendapati Hazar yang duduk di sisi ranjang di sampingnya, suaminya itu terlihat telah rapi dengan pakaian kerjanya. Alin merasa masih mengantuk, sebab Hazar kembali mengganggu tidurnya dini hari tadi, dan dia baru tertidur dua jam lamanya.


“Aku akan berangkat.” Ujar Hazar sambil merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Alin. “Minum susumu sebelum dingin.” Hazar kembali membuatkan susu untuk Alin setelah ia selesai sarapan tadi. Ia membuatkannya sendiri dengan kedua tangannya, di saksikan oleh tatapan kekaguman para pelayan di rumah itu.


“Hmmm...” Alin hanya bergumam, kembali memejamkan matanya. “Apa aku boleh keluar untuk menemui Mama Wira?” Alin kembali membuka matanya. Nada suaranya terdengar tidak meyakinkan, sepertinya dia sudah tahu apa jawaban yang akan Hazar berikan.


Hazar menyipitkan matanya menatap tajam pada Alin. “Apa kau tidak sadar kalau kau sedang dalam masa hukuman!”


“Kakak!” Alin langsung bangkit dan duduk, sambil mendekap erat selimut yang menutupi tubuh polosnya. “Mama Wira akan kembali ke kampung hari ini. Aku tidak tahu kapan lagi aku bisa bertemu dengannya.” Alin tampak sangat memohon. “Setelah dari sana, aku akan langsung pulang ke rumah.” Lanjutnya.


“Lebih baik kau kembali tidur, dan minum susumu terlebih dahulu!.” Hazar mempertegas suaranya tanda dia tidak mau lagi di bantah. Hazar berdiri menjangkau ponselnya yang ia simpan di atas nakas. Kemudian berlalu keluar kamar.


Alin hanya bisa menghela napas, ia juga sudah tidak berani lagi membantah Hazar. Ia kembali berbaring, rasanya dia sedang malas untuk melakukan apa pun. Lama Alin memandangi gelas susu yang di letakan Hazar di atas nakas, gelas itu terlihat masih mengeluarkan uap tipis.


***


“Silakan duduk Nyonya, Tuan. Sebentar, akan saya panggilkan Nona Alin.” Bibi Yona mempersilahkan Mama dan adik Nonanya untuk duduk di ruang tamu. Ya! Amel dan David, mereka datang berkunjung untuk meminta maaf secara langsung kepada Alin. Setelah kemarin mereka dimarahi habis-habisan oleh Kakek.


Ketiga kartu Alin yang di rampas oleh Amel telah di ambil lagi oleh Kakek, bukan hanya itu seluruh kartu debet milik mereka pun juga di tahan oleh Kakek. David kembali mendapat beberapa pukulan di wajah dan punggungnya.


“Ini paket untuk ibu Angel Bibi.”


“Angel!”


“Ya! Itu paket untukku!” Angel muncul dari pintu ruang makan, langsung merampas kotak paket dari tangan pelayan tadi.


“Mengapa kau menerima paket di alamat sini? Kau tahu Tuan Hazar sangat tidak suka dengan itu.”


“Ini paket penting, tidak bisa aku titipkan pada siapa pun. Makanya aku pakai alamat sini. Nanti akan aku kabari pada Tuan Hazar.” Angel menjawab ketus, kemudian kembali ke dapur.


Bibi Yona hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Angel. Amel dan David yang juga menyaksikan kejadian itu pun jadi penasaran.


“Bibi siapa dia?” tanya David, ia menahan langkah Bibi Yona yang hendak pergi memanggil Alin.


“Siapa dia yang Anda maksud Tuan?”


“Wanita berpakaian seksi tadi.” Ujar David.


“Ah, maksud Anda Angel. Dia kepala koki di rumah ini Tuan.”


“Kepala koki! Mengapa cara berpakaiannya seperti itu, tidak seperti pelayan yang lainnya? Apa dia di istimewakan oleh Hazar!” Amel ikut menimpali.

__ADS_1


“Angel tidak bekerja selama dua puluh empat jam di sini Nyonya. Dia hanya datang saat jam makan saja. Selain bekerja pada Tuan Hazar di rumah ini dia juga mengelola restoran milik Keluarga ini.


“Oh, berarti dia bukan pelayan biasa.” Gumam David.


“Sudah, sana! pergilah kau panggil Alin.” Ujar Amel, sambil celingukan melihat ke arah pintu tempat Angel menghilang tadi.


“Baik Nyonya.” Bibi Yona pun pergi ke lantai atas.


“Ma aku rasa ada yang tidak beres dengan wanita tadi.” Ujar David saat Bibi Yona telah jauh dari mereka.


“Mama juga berpikir begitu.”


*


Sementara itu di dapur Angel terlihat agak kesusahan membuka paketnya.


“Apa perlu saya bantu Bu?”


Seorang pelayan menawarkan bantuan pada Angel yang terlihat kesusahan.


“Tidak perlu! Kalian pergilah sana!” Angel berbalik badan menatap bawahannya. “Biar aku saja yang menyiapkan sarapan untuk Nona Alin.” Lanjutnya.


“Baik Bu.” Empat orang bawahan Angel pun pergi meninggalkan dapur.


Setelah sedikit kesusahan akhirnya Angel pun berhasil membuka kotak paketnya. Dua buah botol putih, terlihat seperti botol obat-obatan di keluarkan Angel dari kotak paket itu. Saat mengeluarkan botol terakhir Angel menemukan sepucuk surat di dasar kotak.


“Apa ini!” Angel mengambil surat itu, lalu membukanya. Angel terliat mengerutkan keningnya saat membaca isi surat itu. Kemudian dia merogoh ponselnya dari dalam tas yang ia taruh di atas meja. Angel terlihat sedang menghubungi seseorang.


“Halo!” terdengar sahutan dari seberang telepon.


“Apa maksud dari suratmu ini? Mengapa tidak boleh di campurkan pada susu atau air putih?” tannya Angel.


“Obat itu tidak akan bisa di cerna jika kau campurkan pada susu Angel. Dan jika kau mencampurnya pada air putih maka air itu akan berubah warnanya.”


“Lalu bagai mana caranya agar obat ini diminum oleh Alin, tanpa ada yang mencurigaiku?!” Angel sudah terlihat kesal sekarang.


“Kau campurkan saja pada jus buah.”


“Aku tidak pernah melihat Wanita itu minum jus buah.” Ketus Angel.


“Kau hanya belum pernah melihatnya. Coba kau tawarkan saja dulu, siapa tahu dia akan mau.”


Angel tidak berkomentar lagi dia langsung memutuskan panggilan telepon. Tiba-tiba seseorang merebut kertas surat itu dari tangan Angel.


Mata Angel langsung terbelalak saat melihat siapa yang merebut surat itu dari tangannya.

__ADS_1


__ADS_2