
Assalamualaikum para pembaca setianya Noveltoon!!!
apa kabarnya hari ini?
buat para pembaca yang suka dengan cerita Alin & Hazar mohon like dan komen ya kakak 🙏 jempolan dari pembaca sangat berpengaruh kuat dengan dunia halunya para author 😍😍😍
………………………………………………………………………………….
“Baiklah, kita akan pulang ke apartemen Nona” Ujar Bibi Fatma tiba-tiba.
Alin langsung tersenyum senang, cepat-cepat menganggukkan kepalanya.
***
“Nona Alin sedang dalam perjalanan Tuan” Jawab Bobi, saat di tanya oleh Hazar akan keberadaan Alin.
Hazar menghela napas. Sekarang sudah hampir jam sepuluh malam namun Alin belum juga pulang. Hazar memutuskan untuk kembali tidur di ruang kerjanya malam ini.
*
Tepat jam sepuluh malam Alin dan Bibi Fatma tiba di rumah Hazar, mereka langsung di sambut oleh Bibi Yona dan beberapa pelayan lainnya.
“Selamat malam Nona”
“Malam Bibi. Bibi kenalkan, ini Bibi Fatma pengasuhku” Alin menunjuk Bibi Fatma di sampingnya.
“Saya Yona” Bibi Yona memperkenalkan dirinya dengan ramah. Bibi Fatma sedikit menganggukkan kepalanya.
“Bibi Fatma akan bekerja dan tinggal di sini mulai sekarang Bibi” Ujar Alin pada Bibi Yona.
“Ah, iya Nona. Saya sudah di beritahu oleh Tuan Muda” Jawab Bibi Yona.
“Baiklah, aku titip pengasuhku padamu Bibi. Bibi harus bersabar padanya, semenjak di operasi dia menjadi lebih cerewet” Alin masih merasa kesal pada Bibi Fatma, yang terus saja mengoceh mengajaknya pulang ke rumah sejak jam delapan tadi sore.
Bibi Yona dan beberapa pelayan yang berada di sana dibuat terkekeh mendengar ucapan Alin barusan.
“Aku permisi ke kamar dulu Bibi” Pamit Alin.
“selamat beristirahat Nona”
Alin menghempaskan tubuhnya pada kasur, dia merasa cukup lega sebab Hazar tidak ada di sana sekarang. Tanpa berganti pakaian Alin langsung terlelap.
***
Hazar keluar dari ruang kerjanya, ia mendapati beberapa pelayan telah mulai bekerja membersihkan rumah. Ia hanya diam dan meneruskan langkahnya menuju kamar, tanpa membalas sapaan para pelayan yang menjumpainya.
Saat sampai di depan pintu kamarnya, dia bertemu dengan Bibi Fatma yang sedang mengetuk pintu kamar.
“Tuan!” Bibi Fatma menjauh dari pintu, sedikit menundukkan kepalanya.
“Ada apa?”
“Saya ingin membangunkan Nona Alin Tuan. Maaf jika saya membuat keributan”
__ADS_1
“Biarkan dia beristirahat” Hazar sudah memegang gagang pintu.
“Tapi Tuan. Nona Alin semalam berpesan kepada saya, untuk membangunkannya pagi ini, sebab dia akan mulai bekerja pagi ini Tuan” Ujar Bibi Fatma.
Hazar menegakkan tubuhnya, keningnya mengerut, menatap Bibi Fatma “Kerja!” Ulang Hazar, merasa tidak percaya.
“Iya Tuan. Nona akan mulai bekerja di rumah sakit Papanya hari ini Tuan. Apa Nona tidak memberi tahu Tuan, kalau dia akan mulai bekerja?” Tanya Bibi Fatma.
Hazar menghela napas “Pergilah! Biar aku yang membangunkannya” Hazar menutup pintu kamar.
Hazar tidak langsung membangunkan Alin, ia lebih memilih duduk di sofa memandangi istrinya yang masih tidur. Lama Hazar diam dengan posisi seperti itu, akhirnya Alin bergerak juga, ia meregangkan otot-ototnya yang kaku kemudian langsung duduk.
Alin terlonjak kaget, saat mendapati Hazar yang menatap tajam ke arahnya. Ia berusaha biasa saja dengan tidak menghiraukan Hazar. Alin hendak bangkit dan melangkah ke kamar mandi, namun di cegah oleh Hazar.
“Kita perlu bicara!” Ujar Hazar.
“Tidak ada yang perlu di bicarakan” Ketus Alin.
“Duduk! Sebelum aku memaksa” Hazar mempertajam tatapannya.
Alin sangat ingin merutuki dirinya sendiri saat ini, mengapa dia harus merasa kecil dan takut setiap kali berhadapan dengan Hazar. Dengan malasnya Alin pun menurut duduk berhadapan dengan Hazar.
“Cepatlah, aku sudah telat sekarang” Ujar Alin, dia tidak berani menatap mata Hazar saat ini.
“Untuk apa kau bekerja?”
Alin terkekeh mendengar pertanyaan Hazar barusan “Sebagai seorang pengusaha, pertanyaanmu barusan sangatlah bodoh. Aku bekerja tentu saja untuk mencari uang” Jawab Alin. Dia hanya berani menatap mata Hazar sekilas.
“Untuk apa kau mencari uang! Bukankah aku sudah memberimu banyak”
“Cerai katamu! Kau tidak akan mudah lepas dariku” Hazar menyeringai “Dan tentang pekerjaanmu, aku baru saja menghubungi Papa Haris, dan mengatakan bahwa kau tidak akan bekerja, Karna aku tidak mengizinkannya”
“Apa hakmu melarangku!” Suara Alin meninggi.
“Aku berhak atas dirimu, dan segala urusanmu!. Mulai hari ini, kau tidak akan bisa keluar dari rumah ini tanpa izin dariku!” Hazar berdiri dan masuk ke kamar mandi.
“Arrgghh...” Alin menjambak rambutnya karna kesal. Memang tidak pernah ada kata bebas dalam kamus hidupnya. Jika dulu ia masih berani membantah Kakek, mengapa sekarang dia merasa takut saat menghadapi Hazar.
“Selamat pagi Nona” Sapa seorang pelayan. Bibi Yona yang berdiri tidak jauh dari tempat Alin pun mendekat.
“selamat pagi Nona. Ada yang bisa saya bantu Nona?” Tanya bibi Yona, dia terlihat keheranan melihat tampilan Alin pagi ini. Ya, Alin langsung keluar dari kamar dengan keadaan kacau.
“Apa Bibi melihat Bibi Fatma?” Tanya Alin.
“Dia sedang memasak di dapur Nona. Apa Anda membutuhkan sesuatu Nona?”
“Terimakasih Bibi” Alin langsung menuju dapur.
Saat sampai di dapur. Alin langsung di suguhkan dengan pemandangan yang membuat emosinya langsung tersulut. Dimana Bibi kesayangannya sedang di bentak-bentak oleh Angel.
PRENKK!!!
Alin dengan sengaja menjatuhkan piring yang sudah berisi makanan, yang baru saja di masak oleh Angel, bukan satu atau dua tapi semua makanan. Semua mata melihat ke arahnya. Bibi Yona tergopoh-gopoh menuju dapur.
__ADS_1
“Opss!!! Sorry!!!” Alin berlagak merasa bersalah.
“Apa yang Anda lakukan Nona!!” Pekik Angel.
“Apa kau baru saja menghardikku?” Tanya Alin dengan mendekat ke arah Angel.
Angel tidak menjawab, hanya matanya yang melototi Alin. Wajahnya terlihat mengeras, napasnya terdengar memburu.
“Kau harus tahu di mana tempatmu Angel!.” Bisik Alin di telinga Angel “Jika sampai aku melihat kau berbicara atau berbuat kasar terhadap Bibi Fatma lagi, kau pasti tahu siapa yang akan dirugikan!” Alin menyunggingkan seringainya “ Sekarang masaklah segera. Suamiku akan turun sebentar lagi” Alin menggandeng tangan Bibi Fatma. Meninggalkan Angel yang terlihat sangat marah.
“Kita mau kemana Nona?” Tanya Bibi Fatma.
“Ke kamar Bibi. Dimana kamar Bibi?” Alin dan Bibi Fatma pergi ke rumah belakang.
“Apa Nona tidak pergi kerja?”
“Hazar tidak mengizinkan aku bekerja Bibi” Alin menghempaskan tangan Bibi Fatma, karna saking kesalnya dia dengan Hazar.
Bibi Fatma menghela napas “Mengapa Nona tidak mencoba membujuk Tuan Hazar, dengan merayunya, untuk mengizinkan Nona bekerja? Biasa laki-laki akan mau menuruti semua kemauan istrinya bila si istri mulai merayu” Bibi Fatma tampak menyeringai.
“Apa Bibi sudah gila! Menyuruh aku merayu Hazar” Alin mengerlingkan matanya “Lebih baik aku tidak usah bekerja” Alin berjalan dengan menghentakan kakinya “cepatlah Bibi. Yang mana kamar Bibi?” Desak Alin.
***
“Dimana istriku?” Tanya Hazar. Ia tidak mendapati Alin di kamar mau pun di ruang makan.
“Nona sedang di kamar pengasuhnya Tuan” Jawab Bibi Yona.
“Suruh dia kesini”
“Baik Tuan”
Alin menatap sinis punggung Hazar yang membelakanginya. Ia kini tengah berdiri di pintu penghubung antara dapur dan ruang makan.
“Aku tidak menyukai menu sarapan hari ini. Aku akan sarapan di luar” Alin menjauhkan piring di depanya.
“Kau bisa menyuruh koki untuk masak makanan kesukaanmu” Ujar Hazar, masih meneruskan sarapannya.
“Aku ingin sarapan di tempat langgananku! Rasanya tidak akan sama dengan buatan koki di rumah ini” Alin berdiri.
“Duduk!”
Alin memejamkan matanya, menghela napas dan duduk kembali dengan kesal.
“Bibi!” Hazar memanggil Bibi Yona.
Bibi Yona langsung muncul dari dapur, berjalan agak tergesa “Iya Tuan”
“Kau bisa memberi tahu Bibi Yona, nama makanan dan tempat langgananmu itu” Ujar Hazar.
“Aku sendiri yang akan ke sana” Tegas Alin.
“Apa kau pikir perkataanku tadi pagi hanya bualan?” Hazar menatap Alin tajam.
__ADS_1
“Dan apa kau pikir aku mau menuruti semua kemauanmu? Lakukan apa pun semaumu! Aku akan tetap menjalani hidupku semauku” Suara Alin menggema di seluruh ruangan. Para pelayan yang mendengar pertengkaran mereka memilih menjauh. Hanya Angel yang semakin mendekat dengan senyuman kecil di bibirnya.