Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 23


__ADS_3

Saat mereka keluar dari kamar mandi, kamar sudah terlihat bersih. Alas kasur yang kotor dan berantakan, terlihat sudah di ganti dan dirapikan oleh seseorang.


“Mengap Kakak membawaku kesini?” Tanya Alin heran. Saat dia telah selesai di mandikan oleh Hazar, namun Hazar malah mendudukkannya di sofa bukanya ke ruang ganti untuk memakai baju.


“Bubur ini bisa dingin jika kau berpakaian terlebih dahulu. Makanlah cepat” Hazar duduk di samping Alin.


“Bagaimana aku bisa makan, jika hanya memakai jubah mandi ini!” Seru Alin, ia terlihat sangat kesal.


“Apa kau lupa cara makan, jika tidak memakai baju?” Tanya Hazar.


“Aku akan bersiap terlebih dahulu, setidaknya aku harus memakai dalaman” Alin hendak berdiri, namun dengan cepat Hazar menahan tangannya.


“Duduk! Jika tidak akan aku bakar semua dalamanmu” Ancam Hazar.


Alin mendengus dan menjauhkan tangan Hazar dari pergelangan tangannya.


“Kakak tidak mengizinkan aku memakai baju. Kakak sendiri memakainya” Rutuk Alin.


“Apa kau mau aku membukanya!” Tangan Hazar sudah bersiap hendak membuka bajunya.


“Tidak!” Alin menjauhkan tangan Hazar dari ujung baju yang dia kenakan. Hazar terlihat menyeringai melihat ekspresi ketakutan Alin.


Alin telah menghabiskan bubur beserta teh panasnya, ia sekarang tengah menyandarkan punggungnya, ia merasa kekenyangan. Alin melirik mangkuk Hazar yang hanya habis setengahnya.


“Mengapa tidak kakak habiskan?”


“Aku tidak terlalu menyukai bubur” Jawab Hazar.


“Baguslah! berarti kita bukan jodoh!” Muka Alin terlihat sangat riang.


Hazar mengerutkan keningnya menatap Alin “Maksudmu?”


“Kalau orang berjodoh itu, mereka satu selera, satu sifat, mati di hari yang sama dan di kuburkan di tempat yang sama pula” Ujar Alin seenaknya.


“Kalau begitu kau harus merubah seleramu mulai sekarang” perintah Hazar.


“Mengapa harus aku! Aku tidak mau” Sungut Alin “Jika tentang mati di hari yang sama! apa Kakak akan mati juga jika seandainya aku yang mati duluan?” Tanya Alin, ia mencondongkan badannya agar bisa lebih leluasa menatap Hazar.


“Ya” Jawab Hazar datar.

__ADS_1


“Lalu jika Kakak yang mati duluan apa Kakak juga akan menyuruhku ikut mati?”


“Tentu saja” Hazar menaikkan satu alisnya, dan menyunggingkan satu sudut bibirnya.


“Itu bukan laki-laki sejati namanya” Alin tampak cemberut, melipat kedua tangannya “Laki-laki sejati itu akan rela mati untuk wanitanya”


“Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku mati?” Tanya Hazar.


“Aku akan menikah lagi. Dan Kakak sebelum mati, tinggalkanlah surat wasiat yang berisikan beberapa bagian harta peninggalan Kakak untukku. Kan belum tentu suami baruku akan kaya seperti Kakak” Jawab Alin dengan santainya.


Hazar menatap Alin dengan tajam, raut wajahnya terlihat datar namun membuat orang yang memandangnya menjadi membeku.


“Hehehe” Alin cengengesan sendiri tiba-tiba aura di sekitar Hazar terasa menghitam.


Hazar mengeluarkan sebuah Black Card dari saku celana pendeknya, meletakannya di atas meja depan Alin.


Mata Alin terlihat berbinar “Sudah aku bilang! Aku tidak butuh itu” Alin sok jual mahal, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, dan mencoba menormalkan ekspresi wajahnya.


“Satu!” Hazar mulai berhitung. Alin mulai terlihat panik ia takut jika Hazar akan mengambil kartu itu lagi, tapi harga dirinya juga di pertaruhkan disini.


“Dua!” Alin memejamkan matanya.


“Aku tidak boleh egois, aku juga harus memikirkan ibu Bibi Fatma dan Bibi Fatma juga” Gumam Alin dalam hati.


“Hmmm...” Alin memukul dada Hazar dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih di cengkeram oleh Hazar. Ia gelagapan oleh ciuman mendadak itu.


Tidak hanya sampai disitu, Hazar sekarang malah menggendongnya menuju kasur, Hazar melepaskan pagutannya saat hendak membaringkan Alin. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Alin.


“Kakak hentikan! Jangan sekarang” Alin menahan dada Hazar dengan kedua tangannya.


“Lalu apa aku harus menunggu sampai tahun depan” Muka Hazar tampak kesal.


“Bukan! Hanya, kata Bibi Fatma tidak baik bila kita berbaring dan tidur dalam keadaan kenyang” Ujar Alin. Mencoba mencari alasan.


“Lalu apa aku harus menunggu lapar dulu baru bisa berbaring dan tidur!”


Alin memejamkan matanya. Kata orang kalau jodoh itu juga memiliki pikiran yang sama, dan sekarang jawaban Hazar adalah kopian dari jawabannya waktu itu “Sebenarnya dia jodohku atau bukan” Gumam Alin. Ia membiarkan Hazar menepis kedua tangannya dari dada Hazar.


Ternyata bukan hanya bubur yang akan dingin menjadi alasan, menghemat tenaga si pelaku dan tidak perlu buang-buang detergen pun juga berlaku pada kasus ini.

__ADS_1


***


Hazar merapikan anak rambut yang menutupi wajah Alin. Sekarang istrinya kembali tertidur pulas, bahkan ada dengkuran halus terdengar oleh telinganya. Hazar memencet hidung Alin dengan kuat, hingga Alin gelagapan karna sesak napas. Alin menepis tangan Hazar dari hidungnya, matanya kini sudah terbuka sempurna.


“Biarkan aku tidur sebentar lagi” Alin kembali membenamkan wajahnya pada dada Hazar.


“Apa kau tidak lapar? Sekarang sudah habis jam makan siang” Ujar Hazar.


“Hmmm” Alin hanya bergumam.


“Apa kau tidak mau keluar? Aku akan mentraktirmu makan sesuatu!” Ujar Hazar kembali. Tangannya kini berusaha untuk menurunkan selimut Alin.


“Diamlah!” Hardik Alin, ia menepis tangan Hazar dari selimutnya.


“Apa kau tidak penasaran! Bagaimana bisa kartu yang kau lempar kemarin ada padaku?”


“Tentu Kakak mengambilnya saat aku melemparnya” Jawab Alin.


“Tidak! Aku mendapatnya dari Bibi pengasuhmu” Jawab Hazar.


“Apa! Tidak mungkin kartu itu bisa ada pada Bibi Fatma” Seru Alin, ia menggeser sedikit badannya menjauh dari Hazar.


“Dia bahkan menceritakan bahwa kau telah merampok sekretaris Kakekmu” Hazar terkekeh, menertawakan istrinya.


“Aku tidak mau lagi melakukan yang tadi denganmu” Alin merasa malu, kebangkrutannya kemarin adalah aib baginya. Bagaimana bisa Bibi Fatma membocorkannya pada Hazar.


Alin hendak bangkit, namun kalah cepat dari tangan Hazar yang kini mendekapnya dari belakang “Aku tidak butuh izinmu, jika aku mau melakukannya lagi”


“Kakak akan terlihat seperti p*merk*sa jika memaksaku melakukannya!”


“Tidak akan ada hukuman bagi suami yang memp*rkos* istrinya sendiri" Hazar menyeringai melihat Alin yang menatapnya dengan sinis “Lalu apa kau akan menolak kartu itu lagi?” Tanya Hazar.


“Tidak!” Jawab Alin cepat “Akan aku anggap itu sebagai bayaranku, karna telah menjadi istri yang baik untukmu” Alin mencoba melepaskan dekapan Hazar di badannya.


“Mengapa kau selalu mau terlihat seperti wanita murahan, yang gila akan uang saat bersamaku?” Hazar semakin mengencangkan dekapannya.


“Apa aku terlihat murahan?” Tanya Alin.


“Tidak! Kau terlalu berharga untuk jadi murahan” Hazar membenamkan wajahnya di pundak polos Alin.

__ADS_1


Alin hanya terdiam mendengar jawaban Hazar barusan, dan membiarkan suaminya itu berbuat semaunya.


Akhirnya mereka pun melewati makan siang mereka.


__ADS_2