
Alin kembali meletakan gelas kosong ke atas meja. Ia baru saja selesai meminum obat pereda nyeri. Sebab, perutnya semakin terasa nyeri setelah ia keluar dari ruangan papanya tadi.
Alin meraih ponselnya, memasukkannya ke dalam tas jinjingnya tanpa menghidupkan dayanya terlebih dahulu. Kemudian melangkah hendak keluar dari ruangannya. Tujuannya sekarang adalah rumah Wira. Satu-satunya tempat yang bisa disinggahinya sekarang.
Namun, saat Alin hendak mencapai pintu, tiba-tiba saja ada orang yang membuka pintu ruangannya dengan kasar. Hingga menimbulkan bunyi hantaman yang cukup kuat, membuat Alin terlonjak kaget olehnya.
“Kak Hazar...”
Hazar menghampiri Alin dengan langkah lebarnya. Matanya menatap tajam pada Alin. Raut wajahnya tak terbaca membuat Alin sedikit menciut dan mundur ke belakang, hingga tubuhnya membentur meja.
“Dimana ponselmu?” geram Hazar kini hanya tersisa satu langkah jarak antara mereka.
Alin menghela napas. Entah mengapa perasaannya semakin tak karuan sekarang, ia dapat mendengar nada kekesalan dari suara Hazar. Setelah kemarin dengan manisnya suaminya itu membisikan kata sayang di telinganya.
Alin mendongakkan kepalanya agar dia bisa menatap wajah Hazar yang lebih tinggi darinya.
“Disini...” jawab Alin sambil mengangkat tas jinjingnya.
Hazar menghembuskan napasnya dengan kasar, menatap tak percaya pada Alin. “Hanya selama aku pergi... Tidak bisakah kau mengangkat teleponku,” lirih Hazar.
Alin hanya diam dengan muka datarnya, matanya menatap lurus pada mata Hazar yang kini memancarkan aura ketidak berdayaan.
Hazar melangkah mendekat pada Alin, dan hanya menyisakan sedikit celah diantara mereka, kedua tangannya mencengkram kuat pinggang istrinya itu.
Alin dapat merasakan hembusan napas Hazar yang terbuang dengan cepat. Cengkeraman tangan Hazar di pinggangnya memang tak menyakitkan tapi mampu membuatnya seluruh persendiannya terasa lumpuh. Ia semakin merasa tidak berdaya saat Hazar membenamkan ciuman dibibirnya. Hingga kedua lengannya mengalungi leher Hazar guna mencari penopang untuk tubuhnya yang lunglai.
Ini memang bukan yang pertama Kali bagi mereka berdua. Tapi, ciuman kali ini terasa amat berkesan, berbeda dari yang sebelumnya. Mangkinkah ini akan menjadi ciuman terakhir diantara mereka. Semua tentang mereka pasti akan berubah, saat Hazar mengetahui tentang keadaanya saat ini.
*
Hazar melepaskan pagutannya, namun masih enggan menjauhkan wajah Alin darinya.
Kening keduanya masih menempel, dengan mata yang masih terpejam. Napas keduanya terdengar memburu terbuang dengan pendek dan cepat. Setelah pernapasannya mulai teratur Hazar kembali menghadiahi banyak ciuman pada wajah Alin. Kemudian dia mengusap bibir istrinya yang masih basah. “ Kakek Tomi masuk rumah sakit. Aku harus berangkat keluar negeri sekarang.” Hazar memberi jeda sebentar. Kemudian kembali bersuara. “Wira sudah setuju untuk mengurus Rumah Singgah Mama Diana. Siang ini rumah itu sudah mulai ditempati oleh anak-anak penderita kanker. Kamu boleh menginap disana selama aku pergi. ” lanjutnya. “Dan tolong angkat teleponku.”
Hazar terpaksa harus membatalkan jadwal pertemuannya dengan dokter Qori siang ini. Ia juga sudah memberitahu Papa Haris tentang keadaan Kakek Tomi yang kembali harus dirawat di rumah sakit. Ia juga menitipkan istrinya pada Papa Mertuanya itu. Sepertinya dia akan cukup lama berada di luar negeri.
***
“Aku sedang sibuk sekarang. Ini adalah hari pertama pembukaan rumah singgah ini, dan suami kamu melimpahkan segala urusan rumah ini denganku. Kamu seharusnya tahu itu...” ujar Wira dengan kesalnya. Sudah berulang kali ia mengatakan kalau dia sedang sibuk, tapi Alin tetap saja ngotot memintanya untuk datang ke cafe saat itu juga.
Degan malasnya Wira terpaksa meminta izin kepada rekannya sesama dokter yang juga diperkerjakan oleh Hazar di rumah singgah itu.
Sepanjang jalan Wira terus saja merutuk.
__ADS_1
Alin tampak melambaikan tangannya saat melihat Wira muncul di pintu cafe. Masih dengan muka kesalnya Wira berjalan menghampiri meja Alin.
“Ada apa?” tanya Wira ketus.
“Makan dulu... Gue lapar.” ujar Alin sambil melambaikan tangan memanggil pelayan cafe. “Lo mau makan apa?” tanya Alin saat membuka menu. Tapi orang yang ditanya malah diam menatapnya. Alin menghela napas, meminta pelayan tadi untuk pergi, karna dia akan memesan makanannya nanti saja.
“Apa yang terjadi, mengapa lo bisa diperkerjakan oleh Kak Hazar?” tanya Alin matanya menatap penuh sidik pada Wira.
“Jadi... kamu memintaku untuk datang jauh-jauh kesini hanya untuk menanyakan itu?”
“ini bukan hanya... Tapi ini sangat mencurigakan. Apa yang kalian rencanakan? Bekas perkelahian kalian saja belum hilang, bagaimana bisa kalian sudah menjalin kesepakatan kerja sama?” selidik Alin.
Wira terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Apa dia harus mengatakan semua ini adalah taruhan, siapa yang menang akan mendapatkan Alin. Tapi ia samasekali tidak berniat menjadikan Alin sebagai bahan taruhan, entahlah dengan Hazar. Jika mengambil kesimpulan dari pembicaraan mereka kemarin, Hazar sepertinya sedang memperjelas garis main mereka. Hazar yang sekarang memiliki kuasa penuh pada diri Alin, dan dia yang hannyalah orang asing bagi Alin. Mereka yang sama penasarannya dengan kedudukan mereka kedepannya. Apa ini bisa dibilang taruhan? Batin Wira.
“Cepat pesan makananmu,” ujar Wira sambil melirik jam di pergelangan tangannya. “Aku harus cepat kembali ke rumah singgah.” Mata Wira tampak kelimpungan tidak berani menatap mata Alin yang masih saja melotot ke arahnya.
“Apa lo dibayar mahal oleh Kak Hazar?”
“Ya...”
Alin tampak menyeringai. “Ya... sekarang uanglah yang berkuasa,” Ada nada kekecewaan yang tersirat dalam ucapan Alin barusan. Wira dapat merasakan itu.
“Jangan salah faham. Yang suamimu kontrak kemarin hannyalah jasa kepengurusanku untuk rumah singgah Mama Diana. Bukan yang lainnya.” terang Wira. Kali ini dia menatap mata Alin penuh keyakinan.
***
Setiap hari dosis obat yang dicampurkan Angel selalu dinaikkan agar efeknya lebih cepat, dan orang-orang akan segera mengetahui kalau Alin tidak akan bisa memiliki keturunan.
Amel pernah menjumpai dokter Qori untuk meminta hasil pemeriksaan rutin Alin. Tapi, ia harus kembali kecewa sebab rekam medik Alin disimpan langsung oleh Haris.
Amel dan Angel memutar otak mereka. Mencari cara agar kemandulan Alin segera diketahui orang banyak. Menurut perkiraan mereka, dengan besarnya dosis obat yang sudah Alin minum sudah bisa dipastikan kalau Alin tidak akan bisa memiliki keturunan.
“Bagaimana kalau kita buat dia kecelakaan. Tuan Hazar pasti akan khawatir dan meminta Alin untuk diperiksa secara menyeluruh.” ujar Angel.
“Bagus juga.” Amel menyeringai. “Kita harus membayar orang untuk mencelakai perempuan sialan itu.”
“Tidak, jangan libatkan orang lain dalam rencana kita.”
“Lalu... Apa kau sendiri yang akan turun tangan untuk mencelakainya?”
“Ya... kita harus membuatnya celaka saat berada didalam rumah. Akan bahaya jika kita mencelakainya diluar. Karna, Tuan Hazar sangat pintar dalam menyelidiki sesuatu, dia memiliki banyak detektif dan bodyguard untuk menjaga istrinya selama berada diluar rumah.” tutur Angel.
“Rencana kita akan semakin lancar jika Nyonya Rosa berada disini.” lanjut Angel. “Tapi, Nyonya Rosa sangat jarang pulang ke negara ini.”
__ADS_1
“Itu akan gampang. Kita hanya harus membuat bukti kemandulan Alin. Urusan Rosa kita bisa memberitahunya belakangan.” ujar Amel dengan entengnya. Sebab yang ia butuhkan sekarang hannyalah memberitahu Papa Setyo kalau Alin tidak akan bisa memberikannya cicit. Dan putra kesayangannya akan dikembalikan kesisinya.
Angel menatap sinis pada Amel. Merasa kalau Amel hanya mementingkan dirinya sendiri.
“Bukankah kau juga ingin melihat Alin menderita dan dicampakkan?” tanya Angel.
“Ya... memang itu yang aku harapkan. Memangnya kenapa?”
“Kau memang bodoh! Tuan Hazar tidak akan mau mencampakkan Alin hanya karna kemandulan. Karna itu, kita sangat membutuhkan kehadiran Nyonya Rosa disini saat Alin dinyatakan mandul.” Angel menatap geram pada Amel.
***
Dua minggu telah berlalu sejak kepergian Hazar. Seperti pesan Hazar sebelum pergi dulu, Alin selalu mengangkat telepon darinya. Pembicaraan mereka tidak ada yang istimewa sekedar bertanya kabar dan kegiatan masing-masing dari mereka.
Dan semenjak kepergian Hazar itu pula, Alin tidak pernah mengunjungi rumah singgah Mama Diana. Sikapnya pun berubah total. Dia tidak pernah lagi bertingkah. Selalu menuruti semua peraturan yang Hazar buat. Ia keluar rumah hanya untuk pergi bekerja, dan pulang selalu tepat waktu.
Bibi Fatma pun merasa ada yang salah dengan Nonanya. Meski dia merasa perubahan Nonanya tidaklah sesuatu yang buruk. Tapi, ia merasakan ada yang janggal dari perubahan sikap Nonanya itu. Nonanya yang biasanya akan banyak berbicara sekarang hanya berkata seperlunya.
Pernah suatu malam saat Nonanya itu tidur di kamarnya. Nonanya mengatakan banyak hal yang aneh dan sulit untuk ia mengerti.
“Bibi, jangan pernah tinggalkan rumah ini. Kalaupun Bibi mau pergi nantinya, tinggallah di sekitar tempat yang mudah untuk aku temukan.” tutur Alin.
“Maksud, Nona?” tanya Bibi Fatma.
Alin tidak menjawab, ia malah kembali mengatakan hal yang aneh.
“Menurut Bibi berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk bisa hidup mandiri.”
“Jika aku sudah berhasil nanti. Aku akan menjemput Bibi.”
“Memangnya Nona mau pergi kemana?” Bibi Fatma kembali bertanya.
“Sepertinya watu yangku nantikan akan segera tiba, Bibi.”
“Apa semuanya akan indah seperti yang aku bayangkan selama ini,”
“Pasti indah, dan harus indah.” Alin terus mengoceh sendiri.
*
*
*
__ADS_1