
Pemandangan tadi malam masih berlanjut di kamar utama vila. Hanya saja Alin dan Hazar bertukar posisi sekarang, Hazar yang tertidur, sementara Alin terus saja menatap wajah Hazar yang berbaring di sampingnya.
Setelah merasa puas menatap wajah suaminya, Alin pun hendak bangkit. Namun matanya tiba-tiba saja terbelalak, tangannya bahkan spontan menutup mulutnya sendiri. Ia baru ingat, bahwa ia sedang tidak ber KB sekarang. Sambil terus merutuki kebodohan dirinya, Alin pun masuk ke kamar mandi.
“Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” Sapa Mbak Tami saat melihat Alin masuk ke dapur.
“Uussst!!!” Alin langsung menempelkan telunjuk pada bibirnya. “Ikut aku sebentar.” Alin menarik tangan Tami menuju pintu belakang vila.
“Ada apa, Nona?” tanya Tami heran melihat tingkah Alin.
“Siapa yang membayar gaji, Mbak?” tanya Alin tiba-tiba.
Tami mengernyitkan dahi, tapi beberapa detik kemudian ia pun menjawab pertanyaan Alin.
“Tuan Haris, Nona.”
Alin bernapas lega. “Baguslah, berarti, Mbak Tami, tidak bekerja untuk Kak Hazar?”
“Tidak, Nona. Ada apa memangnya, Nona?”
Tami masih merasa bingung sekarang.
“Pergilah ke pasar desa sebentar. Tolong belikan aku_” Alin membisikan kalimat terakhirnya pada Tami. “Jangan sampai ada yang tahu, termasuk Papa!” ujar Alin setelah selesai membisikkan pesanannya pada Tami.
Tami terdiam sesaat setelah mendengar bisikan Alin tadi, sebelum kemudian ia mengangguk dan menjawab. “Baik, Nona.”
***
Setelah kepergian Tami, Alin pun melangkah ke luar vila. Ia terlihat celingukan mencari sesuatu. Dan mata berhenti saat mendapati Pak Sukri yang sedang duduk di teras vila.
Pak Sukri pun menyadari kehadiran Alin di sana, ia langsung berdiri dari duduknya dan mendekat pada Alin. “Selamat pagi, Nona.”
“Pagi, Pak. Apa aku boleh meminjam kunci mobil Kak Hazar?”
Pak Sukri menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia terlihat bingung harus berbuat apa. Ia takut jika saja nanti istri Tuannya itu akan kabur dengan mobil Tuan Hazar. Sebab sikap istri Tuannya ini memang selalu di luar dugaan orang.
Alin seperti mengerti dengan raut cemas Pak Sukri. “Kalau begitu, bukakan saja kuncinya. Aku hanya mau mengambil baju ganti Kak Hazar.”
Mendengar ucapan Alin barusan, Pak Sukri langsung mengangkat kepalanya. “Biar saya saja yang mengambilnya, Nona.”
“Tidak usah. Bapak, lanjutkan saja ngopinya,”
Karna sudah tahu kebiasaan suaminya yang tidak suka apabila orang lain menyentuh barang pribadi miliknya, Alin pun harus turun tangan sendiri menyuapkan semua keperluan suaminya itu. Saat Alin masuk ke dalam kamar, ia mendapati suaminya masih terlelap tidur.
Alin meletakkan baju ganti Hazar di atas kasur. Sebelum kembali beranjak ke luar, Alin terlebih dahulu membenarkan selimut Hazar yang berantakan.
Karna Tami tak kunjung juga pulang, akhirnya Alin pun terpaksa menyiapkan sarapannya sendiri.
*
Sejak tadi pagi Mala terus saja uring-uringan, karna dokter yang bernama Wira itu tidak mau memberikan nomor ponselnya.
Luna pun merasa risih melihat Mala yang setiap saat mengontak-ganti, membesar dan mengecilkan volume televisi. “Pergilah kau sana! Jangan mengganggu waktu istirahatku.” teriak Luna.
Mala tidak menggubris teriakan kakaknya, ia terus saja sibuk dengan kegiatannya.
Tok! Tok! Tok!
Seorang perawat muncul dari balik pintu.
“Permisi, Ibu Luna, saya akan mengganti cairan infus, Anda.” Ujar si perawat.
__ADS_1
Luna hanya mengangguk mengiyakan, ia kembali fokus pada ponselnya.
“Suster!”
Luna langsung mengangkat kepalanya, menatap penuh heran pada Mala, yang baru saja memanggil si perawat dengan nada lirih.
“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” jawab si perawat.
“Apa aku boleh minta nomer ponsel Dokter Wira?”
Luna memutar bola matanya, jengah. Ternyata adiknya masih belum menyerah pada si Dokter tampan.
“Maaf, Nona, saya tidak bisa memberikan kontak pribadi dokter pada sembarangan orang.”
“Aku bukan orang sembarangan, Suster, aku ini calon pacarnya.” Jawab Mala cepat, ia bahkan sudah berdiri di depan si perawat.
“Sebaiknya, Anda, menyerah saja, Nona.” Kini tampang si perawat sudah sama sendunya dengan wajah Mala. “Dokter Wira sudah menyukai wanita lain. Hatinya sudah dimiliki oleh orang lain.” Lanjut si perawat.
“Siapa wanita yang beruntung itu?”
SI perawat terdengar menghela napas panjang, sebelum kembali bersuara. “Wanita itu memang beruntung. Dia bahkan memiliki banyak laki-laki hebat di sekitarnya.”
“Iya, siapa wanita itu?” desak Mala tak sabaran.
Luna ikutan mengangguk, dia juga penasaran dengan wanita itu, ia bahkan sudah menyiapkan pendengaran terbaiknya.
“Dia putri dari pemilik rumah sakit ini.”
“Apa!”
“Apa!”
Luna dan Mala kompak terpekik. Mata keduanya pun ikut terbelalak.
Si perawat mengangguk. “Benar, dia istrinya Tuan Hazar.”
“Tidak, tidak.” Mala menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya. “Tidak mungkin Dokter Wira mencintai istri orang!” Mala langsung terkulai tak berdaya.
Berbeda dengan ekspresi Mala, Luna malah tersenyum penuh arti. “Tidak masalah siapa pun yang dia cintai sekarang.” Batinnya.
***
“Alin! Alin!”
Hazar berteriak-teriak memanggil istrinya, saat ia bangun tadi, ia tidak menemukan Alin di sisinya. Ia bahkan tadi mandi dengan gerakan cepat, berpakaian, dan langsung menghambur ke luar dari kamar.
Hazar bisa bernapas lega saat mendapati Alin yang sedang duduk di meja makan. Tanpa membuang waktu ia ikut bergabung bersama Alin di meja makan.
Hazar terlihat salah tingkah, sebab Alin menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk ia artikan, dan ekspresi wajah istrinya itu terlihat kaku dan dingin. Alin tidak menyambut kedatangannya, dan juga tidak bersuara sedikit pun, istrinya itu tetap meneruskan sarapannya dalam diam.
Hazar hendak memulai percakapan, namun urung sebab Alin lebih dahulu memintanya untuk diam.
“Kita bicara nanti saja,” ujar Alin sambil terus fokus pada sarapannya.
Setelah menyelesaikan sarapannya, tanpa pamit Alin langsung pergi meninggalkan Hazar sendirian di meja makan.
*
Hazar menghela napas panjang saat ia masuk kamar, ia mendapati istrinya tengah mengepak beberapa pakaian ke dalam Travel bag. Sepertinya memang akan selalu ada saja perdebatan dan pertengkaran di setiap kali mereka bertemu.
“Kau, mau pergi?”
__ADS_1
“Hmmm,” Alin hanya bergumam, ia tetap melanjutkan kegiatannya. Ia bahkan tak melirik Hazar sedikit pun.
Menghadapi Alin jika sedang bertingkah seperti ini, selalu membuat Hazar lupa diri. Ia akan dikuasai oleh emosinya, darahnya akan mendidih dan kerja jantungnya akan naik sepuluh kali lipat.
Hazar membalikkan tubuh istrinya, dengan kasar ia hempaskan punggung Alin pada pintu lemari. “Sebenarnya, apa maumu! kau benar ingin bercerai dariku!” geram Hazar.
PLAK!!!
Tinju Hazar menembus pintu lemari yang disandari oleh istrinya.
Jika sudah begini, adegan ini akan diakhiri dengan tangisan Alin dan dia akan pergi meninggalkan istrinya untuk beberapa saat lamanya.
Tapi, untunglah bukan ini yang terjadi. Hazar masih bisa menahan dirinya, ia selalu mengingat pesan Papa Adi, untuk selalu bersikap lembut pada Alin, dan berusaha untuk menuruti apa pun kemauan istrinya itu.
“Kau, mau pergi?” Hazar berusaha untuk tetap sabar dan tenang dalam menghadapi Alin.
“Hmmm,” Alin hanya bergumam, ia tetap melanjutkan kegiatannya. Ia bahkan tak melirik Hazar sedikit pun.
“Kemana? Boleh aku ikut denganmu?” Hazar duduk di sisi ranjang, tepat di samping travel bag istrinya yang masih terbuka lebar.
Alin masih mengacuhkan Hazar. Tapi ia merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya ini.
“Apa boleh? Aku akan bersiap-siap!” Hazar hendak berdiri namun urung karna Alin malah melarangnya.
“Tidak boleh,” cegah Alin cepat. “Aku akan pergi ke pulau terpencil, dan fasilitas di sana sangat tidak memadai. Kami tidak bisa lagi menambah anggota.” Terang Alin sambil membuang muka dari Hazar.
Karna merasa Alin sudah mau menjawabnya, membuat Hazar memiliki sedikit keberanian. Ia meraih tangan kiri Alin yang tidak jauh dari tempatnya. “Apa kau, pergi lama?” tanyanya.
Alin menepis tangan Hazar dari pergelangan tangannya. Ia menatap berang pada suaminya itu. Tapi ia tetap menjawab pertanyaan Hazar. “Besok lusa.” Jawabnya ketus.
“Jadi kau, akan kembali besok lusa. Kalau begitu aku akan menunggumu di sini. Dua hari tidak akan lama.” ujar Hazar sambil terus memperhatikan kesibukan istrinya.
PLUK! Alin menutup travel bagnya dengan kesal. “Mengapa harus menungguku? Bukankah Kakak memiliki banyak pekerjaan? Dan bukankah besok adalah hari pernikahan Kakak!” sembur Alin emosi. Ia bahkan sudah berkacak pinggang di depan Hazar. “Pergi saja sana!”
Hazar terkekeh, ternyata istrinya sangat menggemaskan kalau sedang marah. “Kau, marah!?” Hazar menarik pinggang Alin dan mendudukkan istrinya itu di pahanya.
“Lepas!” Alin berusaha merontak hendak melepaskan diri dari suaminya.
Melihat wajah merengut Alin membuat Hazar sangat bersemangat ingin mengerjai istrinya.
“Jika kau, marah, akan aku batalkan pernikahanku dengan Luna?”
“Siapa yang marah!” sembur Alin berang. “Lepas!”
“AAUWW...!” Hazar meringis kesakitan sebab Alin mencubit perutnya dengan kuat. “Iya, iya, akan aku lepaskan.”
Setelah lepas dari Hazar Alin langsung menurunkan travel bagnya dari kasur. Saat ia hendak menjauh, Hazar kembali menarik tubuhnya, hingga ia hampir menubruk tubuh suaminya itu, untung kedua tangannya dengan sigap menahan pundak Hazar.
“Apa kau, melupakan sesuatu?”
Alin yang awalnya hendak marah pada suaminya pun urung, sebab ia malah ikutan berpikir. Apa yang sudah dilupakannya?
Hazar menangkup wajah Alin dengan kedua telapak tangannya. “Kau harus meninggalkan jejakmu di sini, di sini, di sini, dan di sini!” Hazar menuntun bibir Alin untuk meninggalkan beberapa kecupan di wajah dan bibirnya. Hazar tidak langsung melepaskan wajah istrinya, ia masih ingin berlama-lama memandang wajah itu.
Hazar tersenyum senang melihat wajah merona istrinya. “Kau, mau aku membalasmu?”
“Tidak!” Alin langsung mendorong pundak Hazar.
*
*
__ADS_1
*