
“Siapa bilang kau boleh pergi?” Hazar menatap tajam pada Alin. “Kau tidak ingat, kalau kau harus tetap tinggal di rumah ini sampai melahirkan.”
PLAKK! Hazar menghempaskan daun pintu sampai tertutup rapat, lalu menguncinya dari dalam. Ia berbalik dengan rahang yang mengeras, kembali ke hadapan Alin. Hazar mengacungkan kunci yang di pegangnya. “Mulai sekarang kau tidak aku izinkan untuk keluar rumah.” geramnya.
Alin menatap tak percaya pada apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Ini seperti tidak nyata. Bagaimana bisa Hazar berbuat sejahat ini kepadanya. Alin memejamkan matanya, sakit, benar-benar perih. “Ini salah!” batinya. Mengapa harus sesakit ini. Ia benar-benar tidak mengerti dengan hatinya saat ini. Selain marah dan sakit, ia juga sedang merasa takut. Hati ini sudah tak bersamanya lagi, entah sejak kapan hatinya menjadi membingungkan seperti ini. Di saat ia ingin mengumpat untuk melampiaskan rasa sakitnya, hatinya malah berkata lain. Mulutnya malah terkunci rapat. Mengapa di saat-saat seperti sekarang ia malah merasa takut ditinggalkan oleh Hazar.
Alin menggigit bibirnya dengan kuat, mata merahnya menatap sendu pada Hazar.
Apa Mama Diana juga merasa sakit dan rasa aneh yang sama saat mengandungnya dulu? Ini adalah hal yang paling ditakutinya. Ia takut akan bernasib sama seperti mamanya. Ia takut membuat kesalahan yang sama seperti mamanya, yang mencintai laki-laki br*ngs*k seperti Papa Haris. Ia takut jika nanti hatinya malah memilih tinggal, dan bersedia di sakiti. Menjadi istri yang terbuang dan diasingkan, sama seperti kisah mamanya dulu.
“Dasar laki-laki br*ngs*k! Kau, menyuruhku untuk tinggal di sini bersama wanita harammu!” Alin berteriak lantang, suaranya bergema memenuhi langit-langit rumah. Akhirnya mulutnya mau terbuka. Sekarang ia sudah tak tahan menahan air matanya. Ini terlalu menyesakkan. Apa kesalahan yang telah ia dan Mama Diana lakukan? Mengapa mengerak harus di hukum dengan cara yang sama.
Hazar terlonjak kaget. “Wanita haram?” ulangnya bingung.
Melihat raut wajah Hazar yang seperti merasa tak bersalah, membuat Alin semakin menggila.
“Arrgghh...” Alin memukul tubuh Hazar dengan membabi buta. “Ceraikan aku. Ceraikan aku sekarang juga! Aaaa....” racau Alin. Ia masih terus memukul dada Hazar.
Sementara Hazar hanya diam, ia tak menghindar, ia membiarkan Alin berbuat semaunya.
“Arrgghh....” Alin kembali mengerang, tubuhnya sudah tak bertenaga lagi, kepalanya terasa pening dan berat, pandangannya sudah mulai mengabur. Ia pasrah, membiarkan tubuh lemahnya terjatuh.
“Alin!” Dengan cepat Hazar menahan tubuh Alin. “Alin, kau tidak apa-apa?”
“Lepas,” Alin meronta, mencoba melepaskan pegangan tangan Hazar di lengannya. Bukanya terbebas, tubuhnya malah terseret ke dalam pelukan Hazar.
Alin kembali menangis. Ia sudah menyerah, tak lagi mencoba meronta. Kedua tangannya yang berada di balik punggung Hazar sudah terkulai lemas. Tenaganya benar-benar telah habis.
Karna merasa Alin sudah tenang, Hazar pun merenggangkan dekapannya. Ia berniat hendak membawa Alin ke kamar mereka. Namun, kedua tangan yang terkulai lemas tadi secara tiba-tiba mengunci pinggangnya.
“Bukankah dulu Kakak mengatakan kalau tubuh ini adalah milikku,” Dengan mata terpejam, Alin tiba-tiba saja meracau dengan suara yang tidak jelas.
Hazar menunduk untuk dapat menatap wajah Alin yang berada di dalam dekapannya.
“Tapi, mengapa sekarang Kakak membaginya dengan wanita lain. Hiks... apa kalian juga tidur bersama semalam?”
Kedua mata Alin terbuka lebar, ia menengadah, menatap berang pada Hazar. Dan... Tiba-tiba saja Alin mendorong tubuh Hazar dengan kuat.
__ADS_1
Hazar yang kala itu tidak menyangka akan serangan Alin, pun tumbang. Tubuhnya terhempas ke lantai. “Akh...” Hazar mengerang kesakitan. “Kau tidak apa-apa?” tanya Hazar cemas. Sebab Alin juga ikutan jatuh, menindih tubuhnya.
Wajah Hazar semakin pias, sebab tak mendapat jawaban dari Alin. Ia menggeser tubuh Alin yang berada di atasnya. Ia duduk sambil memangku tubuh Alin.
“Alin! Alin!” seru Hazar, menepuk-menepuk pipi Alin. Hazar hampir hilang akal karena cemas, beruntung matanya menangkap ponsel hancur di lantai. Ya! Ponsel. Ia harus menghubungi seseorang untuk menolong istrinya.
Sekarang ia sangat menyesali perbuatannya yang telah mengusir semua pelayan dan mengunci pintu rumah.
Hazar berteriak meminta pertolongan. Karna tak ada yang merespons teriakannya, ia pun meraih ponselnya. Namun...
Belum sempat tangannya merogoh saku tiba-tiba Alin bersuara dengan kedua matanya yang masih terpejam.
“Aku tidak mau bercerai,” gumam Alin dengan suara paraunya.
Hazar terpaku. Apa ia salah dengar? Apa tadi benar suara Alin?
“Hiks, hiks... aku tidak mau lagi hidup sendiri. Kakak!” Kedua kelopak mata Alin kembali terbuka. “Jangan ceraikan aku. Hiks...”Alin menarik kemeja depan Hazar, membenamkan wajahnya di sana.
Wajah Hazar berubah datar, namun detik kemudian sebuah senyuman kebahagiaan tergambar di wajahnya. Ia membelai kepala Alin yang berada di dekapannya. Belum saatnya ia tersenyum. Ia masih harus memastikan sesuatu.
“Tapi, kau yang meminta cerai.”
“Kau juga pernah bilang, kalau kau tidak pernah bahagia bersamaku.”
“Aku lebih tidak bahagia, jika tidak bersamamu.”
“Kau bilang_”
“Cukup!” seru Alin kesal.
Suara Hazar menggantung di udara, ia semakin terkejut karna Alin tiba-tiba saja bangkit, menarik kemeja depannya dengan kuat.
Cup!
Mata Hazar terbelalak, tak percaya dengan apa yang terjadi. Awalnya memang hanya sebuah kecupan, tapi detik kemudian Alin berubah brutal. Mendorongnya hingga berbaring di lantai, menghimpit tubuhnya, m*****t bibirnya dengan kasar. Tak sampai di situ, sekarang tangan Alin sedang berusaha untuk membuka kancing kemejanya.
“Tuan_” Bibi Yona dan beberapa anggota kepolisian muncul dari pintu belakang. Mata semuanya sontak terbelalak, melihat pemandangan ganjil di lantai depan pintu utama.
__ADS_1
Menyadari kehadiran Bibi Yona, Hazar mengangkat satu tangannya. Meminta semua orang kembali keluar. Ia sedang tidak mau diganggu, dan tak berniat mengganggu aktivitas istrinya.
……………………………
Mama Rosa poV
Saat pertama kali Hazar memperlihatkan foto Alin padanya ia merasa sangat senang bukan kepalang. Sebab sudah lama ia memimpikan memiliki seorang menantu. Tapi Hazar selalu menghindar untuk dipertemukan dengan semua wanita yang dijodohkannya selama ini. Hingga akhirnya ia menyerah dan membiarkan Hazar.
Namun malam itu tanpa dimintanya tiba-tiba saja Hazar memperlihatkan foto seorang gadis cantik kepadanya. Bagaikan mimpi, serasa tidak nyata jika putra semata wayangnya itu sekarang sedang mendambakan seorang wanita.
Apa Impiannya akan segera terwujud! Apa ia akan segera memiliki seorang menantu? Menimbang cucu yang lucu-lucu dan menua dengan menyaksikan kebahagiaan putra tercintanya itu. Walau harus menunggu si gadis selesai kuliah, itu tidak masalah baginya. Yang terpenting ia sudah memiliki calon menantu. Cantik, pintar dan... pokoknya pilihan putranya pasti yang terbaik.
Meski dulu ia sempat merasa putus asa dan kecewa sebab Alin menolak perjodohan dengan Hazar, namun itu tak berselang lama. Ia kembali mendapat kabar yang menggembirakan setelah itu. Perjodohan Alin dan Hazar tak jadi dibatalkan, keluarga Alin juga mendesak meminta hari pernikahan dipercepat. Itu bukan masalah baginya, ia sendiri tidak sabaran menanti hari pernikahan itu. Betapa berbunga-bunganya hatinya saat itu, dalam tujuh hari lagi Hazar akan resmi menikah dan memberikannya seorang menantu.
Penantian lima tahunnya akhirnya berakhir.
Kehadiran Alin benar-benar telah merubah putranya. Meski Hazar tetap terlihat biasa, atau lebih tepatnya bersikap cuek terhadap Alin, ia bisa melihat sisi lain dalam diri putranya itu. Perilaku Hazar terlihat berbeda jika di dekat Alin. Cara bicara, suara dan raut wajah Hazar sangat menjengkelkan di hari pernikahan, namun itu malah membuatnya ingin tertawa. Anaknya itu malah terlihat seperti remaja tanggung yang dipaksa menikah.
Karna Hazar bersikeras menolak untuk berbulan madu, jadilah ia yang mengalah. Ia memaksa suami dan papanya untuk pergi ke luar negeri. Dengan dalih mengurus perusahaan yang ada di sana. Padahal sebenarnya ia ingin memberi waktu pada pengantin baru itu untuk berduaan di rumah.
Hari-harinya terasa lebih berwarna dan menyenangkan setelah memiliki menantu. Meski ia jauh di luar negeri, ia tetap bahagia. Hampir setiap malam ia memimpikan menimang cucu. Membayangkan hal-hal menyenangkan lainnya yang akan ia lakukan bersama cucu dan menantunya kelak.
Ia sempat terpukul dan putus asa saat mendapat berita kemandulan Alin. Buyar sudah semua yang diimpikannya. Meski merasa sedih dan kecewa, rasa sayangnya kepada Alin tak pernah berubah. Kalau saja bukan Alin yang menimbulkan ide gila dengan meminta Hazar nikah lagi, ia mungkin juga tidak akan pernah kepikiran untuk itu. Namun dengan sikap Alin yang sedikit memaksa dan keadaan kesehatan Papa Tomi juga mempengaruhi, ia pun melakukan hal bo doh itu. Merencanakan pernikahan kedua Hazar dengan diam-diam. Dan karna keputusannya yang satu itu, sampai sekarang ia masih merasa bersalah terhadap Alin dan Hazar. Ia menjadi trauma, tak mau lagi berbuat gegabah. Melihat bagaimana hancurnya Hazar saat ditinggalkan oleh Alin, membuatnya merasa sangat bersalah. Sebab dirinyalah Alin meninggalkan putranya.
Meski pun ia sudah tahu kalau Alin telah berbohong tentang kemandulan. Hebatnya ia tidak marah akan itu. Ia malah semakin menyayangi menantunya itu. Bukan marah atau pun kecewa, ia malah semakin merasa bersalah saat mengetahui apa yang menyebabkan Alin sampai berbohong sejauh itu.
Walau ia sudah tahu kalau Alin bisa saja hamil, ia tak mau lagi berharap. Sama seperti Hazar, ia juga sudah bahagia dengan keadaan keluarganya yang sekarang. Ia merasa sangat bersalah sebab tidak mengetahui apa pun tentang menantunya itu.
Setelah badai itu berlalu, kebahagiaan pun datang di rumah utama. Rumah tangga Alin dan Hazar baik-baik saja. Begitu pun dengan hatinya, yang tidak lagi mempermasalahkan kehadiran cucu. Dengan kembalinya Alin ke rumah itu telah membawa banyak kebahagiaan untuknya. Ia tidak lagi meminta lebih, ini sudah cukup baginya. Semua anggota keluarga sehat dan bahagia.
Dua bulan setelah insiden itu, Ia kembali dikejutkan dengan berita kehamilan Alin. Tak terukur betapa bahagianya ia kala itu. Namun ia harus menuruti permintaan Hazar untuk merahasiakan kabar gembira itu dari Alin. Sangat sulit baginya untuk menyembunyikan kebahagiaannya itu. Secara tidak sadar ia telah bersikap berlebihan pada Alin sejak mengetahui kalau menantunya itu sedang hamil.
Terlepas dari semua itu, ia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk menantu dan calon cucunya. Namun kejadian yang tak mengenakkan kembali terjadi. Rumah tangga Alin dan Hazar kembali mendapat masalah.
Penculikan!
Dan
__ADS_1
Perceraian!