Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 47


__ADS_3

Hazar terpaksa pulang ke rumah malam itu juga. Karna ia merasa bersalah sebab ia pergi tanpa pamit pada Alin. pikirannya menjadi lebih tidak karuan karna mendapat kabar dari Pak Naf. Yang mengatakan kalau Alin tidak ingin menginap di rumah singgah malam itu. Padahal biasanya istrinya itu selalu ingin menginap di luar.


Pukul dua dini hari Hazar sampai di rumahnya. Dia langsung menuju kamarnya di lantai atas. Tapi, lagi-lagi Alin tidak ada di sana. Hazar kembali turun dan menanyakan keberadaan istrinya pada Bibi Yona yang tadi menyambut kedatangannya.


“Nona tidur di kamar Bibi Pengasuhnya, Tuan.” jawab Bibi Yona. “Biar saya bangunkan Fatma sebentar, Tuan.”


“Tidak usah, biarkan saja.” Hazar kembali naik ke lantai atas.


***


Pagi itu Alin berangkat ke rumah sakit lebih cepat dari biasanya. Ia pergi tanpa pamit pada Hazar yang masih terlelap saat ia berangkat tadi. Entah mengapa perasaannya masih saja tidak tenang.


Alin menolak sarapan dan meminum susu yang sudah disiapkan oleh Bibi Fatma. Ia malah meminta Angel untuk menyiapkan jus buah dan mengantarkannya langsung ke kamarnya.


Alin berulang kali menekan perut bawahnya, wajahnya tampak meringis, keringat dingin tampak membasahi kening dan pelipisnya.


“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya Bobi yang bisa melihat Alin dari kaca spion. Nonanya itu tampak tidak tenang duduk di bangku belakang.


Alin mengibaskan tangannya, tanda meminta Bobi untuk diam saja. Alin terlihat terburu-buru keluar dari mobil. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran Kakek dan Sekretaris Jon di sana, dengan langkah lebarnya Alin langsung masuk ke ruangan dokter Qori.


“Nona!” sapa seorang perawat. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?”


“Dokter Qori nya, ada?” tanya Alin tangannya masih saja menekan perutnya.


“Dokter Qori sedang di ruangan Tuan Haris, Nona.”


Alin memejamkan matanya, ia terdengar menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar. Alin langsung berbalik badan sambil merogoh isi tasnya, sepertinya ia tengah mencari sesuatu di sana. Langkah Alin terhenti raut kecewa kembali memenuhi mukanya. Karna benda yang dicarinya tidak ditemukannya.


Alin yang tadinya hendak menyusul dokter Qori ke ruangan Papanya pun urung. Ia malah melangkah ke ruangannya sendiri. Sebab ia sedang malas untuk bertemu dengan Papanya saat ini.


Alin langsung menghempaskan tubuhnya di sofa. Matanya langsung menangkap sebuah kertas berwarna kuning yang tertempel pada sebuah ponsel yang terletak di atas meja.


“Aku cuti selama seminggu...”


Alin meraih ponsel tempat kertas kuning tadi tertempel. Ternyata itu adalah ponselnya yang ia lempar tempo hari dengan sembarang, kini terlihat sudah bagus seperti sediakala. Alin menyandarkan punggungnya, kertas kuning itu masih berada di tangannya. Ia sudah tahu siapa Si Pengirim pesan itu, meski tidak terdapat nama Si Pengirim di sana.


***


“Apa!” Mata Kakek langsung terbelalak, saat mendengar penjelasan dokter Qori yang berdiri dengan kepala tertunduk di depannya.


“Maksudmu, ada yang salah dengan Alin?” tanya Kakek dengan suara yang menggelegar sampai terdengar ke luar ruangan.


Tubuh dokter Qori makin menggigil ketakutan. Kepalanya makin tertunduk dalam. Lutut dan kakinya terasa mati rasa, hingga tanpa dia sadari, ia sudah merosot ke lantai, berlutut dengan kedua tangannya yang masih terkepal erat, berharap itu bisa memberi sedikit kekuatan untuknya.


Air matanya entah sejak kapan mengalir.


Papa Haris yang hanya diam sejak tadi, masih tak bergeming dari diamnya. Ekspresi wajahnya tampak santai saja saat mendengar dokter Qori menyebutkan diagnosa tentang Alin, yang diduga memiliki masalah pada alat kandungannya.

__ADS_1


“Apa kau sudah tahu ini sejak lama?” tanya Kakek pada papa Haris. Matanya tampak memancarkan kemarahan.


“Iya.” jawab Papa Haris singkat.


Kakek mengerutkan keningnya. Menatap tajam pada Papa Haris. “Apa kau sudah punya solusi? Mengala kau terlihat santai sekali, apa Alin bisa disembuhkan?” desak Kakek.


“Aku belum tahu... karna Alin menolak melakukan pemeriksaan menyeluruh.” jawab Papa Haris.


“Jadi, Alin sudah tahu tentang ini?”


“Iya.”


“Apa Hazar juga sudah tahu?”


“Aku akan memberi tahunya siang ini.”


“Bodoh! Apa kau akan mengatakan padanya kalau putrimu mandul!?” seru Kakek dengan wajah memerah.


“Hazar harus tahu tentang ini.” jawab Papa Haris dengan santainya. Mukanya masih datar tanpa ekspresi.


“Jangan sampai berita ini bocor pada orang lain, termasuk Hazar!” seru Kakek. “Kau...” Kakek menunjuk dokter Qori. “Atur jadwal pemeriksaan Alin secepatnya. Mintalah bantuan pada dokter Widia. Cari solusinya agar Alin bisa memiliki anak. Dasar tidak berguna!” hardik Kakek.


“Alin tidak akan mau diperiksa oleh dokter lain.” ujar Papa Haris.


“Apa kau masih butuh izin darinya! Ini juga untuk kebaikannya. Apa kau mau anakmu dicampakkan oleh suaminya?” Suara Kakek makin meninggi, wajahnya tampak sangat kesal sekarang.


“Apa kau pikir... Hazar masih mau menerima putrimu yang cacat itu... Setelah dia mengetahui tentang ini?”


“Kita akan tahu nanti.”


“Bodoh...!” Kakek melempar pas bunga yang terletak di atas meja kecil di sampingnya, hingga pecahan kaca berhamburan di lantai.


“Bawa Alin kesini!” teriak Kakek.


“Baik, Tuan.” Sekretaris Jon langsung berlalu keluar ruangan.


***


Alin melenggang masuk ke ruangan Papanya. Dia langsung disambut oleh pemandangan yang sangat tidak sedap dipandang oleh mata. Pecahan pas bunga bertaburan dilantai. Dokter Qori yang berlutut dengan tubuh bergetar, dan Kakek Setyo yang dibencinya juga ada di sana.


Alin melangkah mendekati dokter Qori.


“Berdirilah...” Alin mengulurkan tangannya.


Alin berdecak malas, karna dokter Qori masih saja diam dan tertunduk, mengabaikan uluran tangannya.


“Biarkan dokter Qori pergi,” ujar Alin sambil mendudukkan tubuhnya di sofa berhadapan dengan papanya. Alin sedikit pun tak melirik Kakek Setyo, dia masih saja bersikap acuh pada Kakek tua itu.

__ADS_1


“Dia harus tetap disini. Karna, dialah yang akan bertanggung jawab pada masalahmu sekarang.” ujar Kakek.


“Tidak ada yang perlu dia pertanggung jawabkan.” Alin menatap tajam pada Kakek. “Ini samasekali tidak ada hubungannya dengan Kakek. Apa kemandulanku akan merugikan perjanjian Kakek?” tanya Alin.


Alin mengerutkan keningnya, mencoba membaca raut wajah kakeknya. “Apa perjanjian Kakek dan Kak Hazar akan berakhir jika aku tidak bisa memberikannya anak?” Bibir Alin tampak menampilkan seringai kecil.


“Perjanjian apa yang kau maksud?” tanya Papa Haris menatap bingung pada putrinya itu.


Alin tidak menjawab pertanyaan Papanya. Dia malah semakin mempertajam matanya menatap pada Kakek Setyo. Raut wajah tua itu tampak mengeras, juga menatap ke arahnya.


“Sepertinya... ini akan menjadi masalah besar untuk Kakek.” Alin tampak tertawa lepas. “Apa aku harus merayakan ini. Amat disayangkan jika momen ini kita lewatkan begitu saja.”


“Ini juga akan menjadi masalah untukmu! Kau mungkin saja akan dimadu, atau lebih buruknya Hazar akan mencampakkanmu. Karna, kau samasekali tidak ada gunanya!” seru Kakek dengan muka merah padam. Wajah tua itu tampak mengeras menahan kekesalan.


***


Hazar duduk di sisi ranjang sambil memijat keningnya yang masih saja terasa pusing, meski dia sudah beristirahat agak lama. Dia melirik jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan angka sepuluh.


Hazar menghela napas saat mendapati gelas bekas jus yang sudah kosong dan hanya menyisakan serat-serat buah apel yang masih menempel di sana.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu membuat Hazar tersadar, dia bangkit dan mendekati pintu kamar.


“Tuan, ada telepon dari Tuan Adi. Beliau ingin bicara pada Anda, Tuan.” Ujar Pak Naf sambil mengulurkan sebuah ponsel pada Hazar.


Hazar tidak langsung menerima uluran ponsel dari Pak Naf, dia malah mengalihkan pandangannya ke atas nakas dimana ponselnya sedang di charge sejak semalaman dalam keadaan daya mati.


“Aku akan menelepon Papa dengan ponselku.” ujar Hazar kemudian kembali menutup pintu kamarnya.


Pak Naf hanya bisa menatap prihatin pada Tuan Mudanya itu. Sudah lima tahun lamanya dia bekerja dengan Hazar. Dia tidak pernah melihat Tuannya itu sekusut ini. Hazar yang dulu dikenalnya tidak pernah mengeluh, tidak pernah menampilkan raut keputus asaan. Selalu menyelesaikan masalah dengan cemerlang dan tidak ada yang bisa menghalangi jalannya jika ia menginginkan sesuatu. Tapi, semua itu berubah sejak Alin masuk dalam kehidupan Tuannya itu.


Pak Naf menghela napas, sebelum kemudian menempelkan ponsel yang diabaikan Hazar tadi pada telinganya.


*


Hazar terlihat tergesa-gesa keluar dari kamarnya. Tidak seperti biasanya, hari ini dia keluar dengan pakaian santai, hanya mengenakan baju kaos dan celana panjang. Ia langsung menghambur masuk ke dalam mobil, untungnya Pak Naf sudah menyiapkan segalanya. Jadi Hazar bisa langsung menuju bandara sekarang. Ya, Hazar harus segera terbang ke luar negeri sekarang. Tadi, di telepon Papanya memberi kabar bahwa Kakeknya kembali harus masuk rumah sakit. Dan meminta Hazar untuk segera kesana.


Hazar terlihat berkali-kali menghubungi seseorang dengan ponselnya. Namun, keningnya selalu berkerut saat benda pipih itu dia tempelkan ditelinganya.


Hazar memejamkan matanya disertai dengan helaan napas berat. “Kita ke rumah sakit dulu,” ujar Hazar sambil menggenggam erat ponsel ditangannya.


“Baik, Tuan.” jawab Pak Naf yang duduk di samping kemudi.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2