Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 39


__ADS_3

Alin masih saja duduk bersila bak petapa di atas kasur, mukanya tampak merengut menatap kesal pada Hazar yang saat ini sedang berkemas.


“Matamu akan copot jika terus melototi ku seperti itu.” ujar Hazar. Tanpa mengalihkan matanya, tangannya masih sibuk memasukkan pakaiannya dan Alin ke dalam Travel bag.


“Aku tetap tidak mau pulang!” ketus Alin.


Hazar menghentikan kegiatannya. Mengalihkan matanya menatap Alin.


“Ada masalah di perusahaan. Aku harus kesana segera.”


“Yang harus ke sana kan Kakak! Bukan aku!”


“Akan aku bawa kau kesini lagi setelah urusanku selesai.”


“Kakak tahu... bukan itu yang ku mau!” Alin semakin kesal dibuatnya.


Hazar tahu yang dihindari Alin sekarang adalah acara ulang tahunnya, bukan masalah kepulangan mereka.


“Acara ulang tahunmu akan aku diskusikan kembali dengan Kakek.”


“Batalkan! Bukan... diskusikan...” ralat Alin.


“Terserahlah... bersiaplah cepat.”


“Tidak ada yang perlu dipersiapkan.” ketus Alin. Dia langsung melenggang meninggalkan kamar.


*


Sejak keberangkatan tadi Hazar tak henti-hentinya menerima panggilan telepon. Entah siapa yang menelepon pokoknya wajah Hazar tampak berkerut setiap bicara. Selesai dengan panggilan yang bertubi-tubi, kini Hazar berfokus pada iPad di tangannya. Beruntung Bobi sudah datang pagi tadi untuk menjemput mereka, jadi Hazar bisa bekerja selama dalam perjalanan.


“Tidurlah jika kau bosan.”


“Ck!” Alin berdecak sebal. “apa aku terlihat seperti putri tidur? Mengapa Kakak selalu menyuruhku untuk tidur.” sewot Alin. Dia masih kesal pada Hazar.


Sepuluh menit kemudian....


Hazar membaringkan tubuh Alin dengan sangat hati-hati, dia menidurkan Alin dengan berbantalkan pahanya. Ya! Siapa sangka wanita yang dengan sewotnya membentaknya tadi sudah tepar tak sadarkan diri.


“Bawa sini selimutnya!” pinta Hazar pada Bobi.


Bobi mengulurkan selimut dari bangku depan dengan sebelah tangannya. Tangannya yang satu lagi masih sibuk memegang kemudi.


“Bantalnya Tuan?” tanya Bobi.


“Tidak usah.” Jawab Hazar. Kini dia kembali sibuk dengan iPadnya.


***


“Aku dengar Alin sudah memiliki dokter kandungan pilihannya. Siapa yang dipilihnya?” tanya Kakek.


“Dokter Qori. Dokter wanita yang dulu Papa pecat karna menyebarkan Video perkelahian Alin dan David.”


Kakek tampak bingung. “Dari sekian banyaknya dokter yang berpengalaman, mengapa dia memilih dokter bodoh itu?” Suara Kakek meninggi. “Ganti dokternya!”


“Sudah aku bicarakan dengan Alin, dia tetap tidak mau mengganti dokternya.”


“Kau tidak perlu meminta izinnya!” Kakek menatap berang pada Haris. “kau terlalu lemah dalam mendidik anak-anakmu! Lihatlah mereka semuanya menjadi pembangkang. Tidak ada yang berguna.” hardik Kakek.


“Hazar yang memberi izin. Dia memintaku untuk menuruti semua kemauan Alin.”


Saat nama Hazar diikut sertakan, tatapan Kakek melemah. Dia kembali menyandarkan punggungnya. “Kau didiklah dokter bodoh itu, buat dia pintar sedikit. Aku tidak mau calon penerusku dirawat oleh orang bodoh.”


***


“Kita langsung ke perusahaan atau pulang ke rumah dulu Tuan?” tanya Bobi saat mereka telah memasuki jalan kota.


Hazar menatap Alin yang masih nyenyak dalam tidurnya. “Langsung ke kantor saja.”


“Baik Tuan.”

__ADS_1


Alin terbangun saat mobil yang ditumpanginya berhenti. “Apa kita sudah sampai?” gumamnya. Kemudian bangkit dan duduk.


“Kau mau langsung pulang atau menungguku di dalam?”


“Aku lapar...!” jawab Alin.


“Kita makan siang di ruanganku saja, turunlah!” Hazar mengulurkan tangannya dia sudah berdiri di luar mobil.


“Tidak, aku akan makan siang di tempat lain saja!” tolak Alin.


“Turun...!!”


Alin kembali berdecak malas. Kalau sudah keluar nada perintah seperti itu, tandanya suaminya itu sedang tidak mau dibantah.


“Selamat siang Tuan, Nona!” Pak Naf telah menunggu mereka di pintu masuk.


“Siang Pak Naf.” Balas Alin.


*


Alin hanya sendirian makan di ruangan Hazar. Mereka berpisah saat di lift tadi. Sebab Hazar harus langsung memimpin rapat saat itu.


Makanan sehat ala pesanan Hazar sangat tidak disukai Alin. Ia hanya memakannya beberapa suap kemudian kembali menjauhkan makanan itu darinya.


Alin membuka pintu ruangan Hazar. Ia mendapati seorang staf sekretaris di depan ruangan itu. Saat melihat kemunculan Alin, dia langsung berdiri menghampiri Nona Mudanya itu.


“Ada yang bisa saya bantu Nona?”


“Tidak ada, aku hanya ingin jalan-jalan saja. Di dalam sangat membosankan!” ujar Alin.


“Tapi... Nona!” Wajah staf Sekretaris itu tampak bingung. “Tuan Hazar meminta seseorang untuk mengunci pintu itu.” Menunjuk pintu kaca pembatas ruangan pimpinan.


“Apa! Jadi kita sedang di kurung sekarang?!” pekik Alin.


“I-iya Nona.”


Dengan kesalnya Alin kembali menutup pintu ruangan Hazar. Ia meraih ponselnya, menghubungi nomer Hazar.


“Mengapa Kakak mengunciku? Buka pintunya sekarang juga!” sembur Alin.


“Aku akan kesana sebentar lagi.” Hazar langsung memutuskan panggilan telepon.


“Cih!” Alin melempar ponselnya ke atas sofa. “Masih saja berbuat semaunya.”


Tak lama setelah itu Hazar muncul dari balik pintu.


“Ayo pulang!” ajak Hazar, dia baru saja masuk ke ruangannya.


“Pulang!? Kakak juga ikut pulang?”


“Iya!”


“Mengapa Kakak juga ikut pulang? Ini kan belum jamnya Kakak pulang bekerja. Bukankah katanya pekerjaan Kakak masih banyak.” Sewot Alin.


“Kau mau pulang atau tidak?” Hazar berjalan menuju meja kerjanya, dia terlihat mengambil sesuatu dari dalam laci. “mengapa tidak kau habiskan makananmu?”


“Mengapa Kakak membelikanku makanan yang tidak enak?” Alin malah balik bertanya. Kemudian melenggang keluar dari ruangan tanpa menunggu Hazar.


*


Saat sampai di rumah. Bibi Yona, Bibi Fatma dan beberapa pelayan yang lainya telah menyambut mereka di pintu masuk.


“Bibi....!” Alin langsung memeluk Bibi Fatma, rasanya sudah lama saja mereka tidak bertemu. Padahal dia pergi hanya tiga hari dua malam saja.


“Ikut aku!” Hazar menarik tangan Alin yang masih memeluk Bibi Fatma.


“Kakak... Lepas!”


Hazar tidak menghiraukan teriakan Alin. Dia masih saja menyeret tangan Alin sampai ke dalam kamar.

__ADS_1


“Kakak apa-apaan sih!” rutu Alin, setelah tangannya dilepas oleh Hazar.


“Aku harus keluar kota.” ujar Hazar.


“Terus... hubungannya sama aku apa?” Alin menatap sinis pada Hazar. “Apa yang Kakak lakukan?” Alin terkejut tiba-tiba saja Hazar mendorongnya ke atas ranjang. Alin berusaha untuk melepaskan diri dari Hazar. “bukankah Kakak akan pergi!” serunya.


“Karna itu kau diamlah! Biar aku bisa cepat menyelesaikannya.” Hazar menepis tangan Alin yang menahan dadanya.


*


“Apa Nona Alin sudah pulang?” tanya Angel, pada seorang pelayan yang sedang berada di dapur.


“Sudah buk. Tuan dan Nona kini sedang berada di kamar mereka.”


“Baiklah!” Angel terlihat tersenyum senang.


“kau siapkan buahnya. Aku akan membuatkan jus untuk Nona Alin.” Perintah Angel pada pelayan tadi.


“Baik buk.”


“Eh... tidak-tidak! Kau pergilah, biar aku sendiri yang siapkan.”


“Tapi buk, tadi saya disuruh Bibi Yona untuk membuatkan minuman untuk Mbak Karin dan Papanya Ibuk.”


“Ya sudah, kau buatkan cepat, dan pergilah dengan segera.”


“Baik buk.”


Saat merasa situasi aman Angel mulai membuatkan jus untuk Alin. Sesuai dengan saran Amel, kali ini Angel menaburkan dua butir sekaligus kapsul obat ke dalam gelas jus. Saat Angel sedang asik mengaduk-aduk jus, tiba-tiba dia dikejutkan oleh kemunculan seseorang di dapur.


“Apa yang sedang kau lakukan!?”


Angel terbelalak kaget hampir saja dia menjatuhkan gelas jus. “A-aku sedang membuatkan jus untuk Nona Alin!” jawab Angel. Dia menatap cemas pada Karin, sambil menerka-nerka dalam hatinya.


“Mengapa kamu terlihat cemas begitu? Apa kamu menyembunyikan sesuatu?” Karin mendekat pada Angel. “obat apa ini?” Karin mengambil botol obat yang di letakan Angel di atas meja.


Angel dengan kasarnya merebut botol obat. Hingga kukunya melukai tangan Karin.


“Jangan pegang-pegang barang pribadiku.” Sentak Angel.


“Apa-apaan sih kamu!” hardik Karin, sambil melihat luka ditangannya yang tampak mengeluarkan darah. “memangnya itu obat apaan?” Karin menatap curiga pada Angel.


“Bukan urusan kamu!” ketus Angel. Kemudian menyimpan botol obat ke dalam tasnya.


***


Saat ini Alin dan Hazar baru saja selesai mandi. Mereka sedang berganti pakaian di ruang ganti. Alin sedang duduk di sofa memperhatikan Hazar yang sedang membereskan pakaian untuk dibawanya keluar kota.


“Mengapa Kakak tidak meminta pelayan saja yang menyiapkan pakaian Kakak?”


“Aku tidak suka barang-barang pribadiku di sentuh orang lain.”


Alin tertawa mendengar ucapan Hazar barusan. “Lalu siapa yang mencuci, menyetrika dan menyusun kembali barang-barang Kakak ini?”


“Itu berbeda.”


“Beda dari mananya? Ckckck.” Alin menggeleng-gelengkan kepalanya. “lalu bagaimana dengan ini! Ini dan ini!” Alin menyentuh tangan Hazar, pinggang kemudian perut Hazar. Alin kembali tertawa.


“Apa kau menginginkannya lagi?” Hazar menatap Alin dengan tajam, dengan seringai licik dibibirnya.


Alin langsung mundur dengan teratur, tawanya sudah terhenti. “Biar aku saja yang menyiapkan keperluan Kakak!” Alin membuka lemari pakaian Hazar. “berapa lama Kakak di sana? Seminggu dua minggu?”


“Mengapa kau terlihat sangat berharap kalau aku akan pergi lama?”


“Tentu itu yang ku harapkan.” Alin refleks membekap mulutnya sendiri. “maksudku mana ada aku berharap begitu.” kilahnya.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2