Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 82


__ADS_3

Saat Alin baru sampai di lantai bawah bertepatan dengan Mama Rosa yang juga baru sampai di rumah. Mama Rosa terlihat menenteng kantong plastik berwarna putih, dia terlihat berjalan dengan sedikit tergesa.


“Mama, sudah pulang!” seru Alin dari anak tangga.


“Alin! Kamu tidak apa-apa, sayang!” Mama Rosa makin melebarkan langkahnya mendekat pada Alin.


Alin pun melakukan hal yang sama, menghampiri Mama Rosa. “Hm," Alin mengangguk. "Aku baik-baik saja. Mama, kenapa pucat begini? Dan kenapa, Mama, sampai keringatan seperti ini,” tanya Alin, wajahnya tak kalah cemasnya dengan ekspresi Mama Rosa.


Mama Rosa menghela napas lega, kedua tangannya terangkat menangkup kedua pipi Alin. Mata bsahnya meneliti setiap inci wajah pucat menantunya itu. “Mama dengar tadi, kamu muntah-muntah! Apa sudah baikan, sayang?"


“Aku hanya masuk angin, Ma. Mungkin karna tadi aku terlalu lama duduk di teras.” Terang Alin. “Aku akan baik-baik saja setelah nanti minum obat.”


“JANGAN!” Teriak Hazar, dan Mama Rosa berbarengan.


Alin terlonjak kaget, matanya mengerjap tak percaya.


“Jangan minum obat sembarangan!” sembur Hazar, menatap tajam pada Alin. Akan gawat jika Alin mengonsumsi obat sembarangan, itu pasti akan berdampak pada janin dalam kandungannya.


PLAK! Mama Rosa menampar lengan Hazar.


“Mengapa kamu melototinya!”


Hazar meringis. “Aku hanya mengingatinya.” bela Hazar.


Mama Rosa mendengus menatap Hazar. “Alin, jangan terlalu ketergantungan dengan obat, sayang. Kalau kamu masuk angin, kita coba kasih minyak angin saja dulu.”


“Iya, pake minyak angin saja sementara. Biar aku carikan obat untukmu, sebentar.” Hazar hendak melangkah pergi.


“Kakak, mau ke mana!” cegat Alin, matanya menatap sengit pada Hazar. Baru saja beberapa menit yang lalu, apa suaminya itu sudah lupa dengan hukumannya tadi.


“Kau, sakit, dan kau juga perlu obatkan? Akan aku carikan.”


“Kita punya banyak obat-obatan di rumah. Untuk apa Kakak ke luar?”


“Sudah, biarkan saja dia. Mendingan kita ke belakang,” Mama Rosa mengacungkan kantong plastik di tangannya. “Mama bawa rujak pesananmu.” Mama Rosa menarik tangan Alin.


Alin hanya bisa bertopang dagu sambil memandangi Mama Rosa dan Bibi Fatma yang sedang sibuk menyiapkan buah untuk rujak. Tadi ia sudah menawarkan diri untuk ikut membantu, namun malah disuruh duduk oleh kedua Ibu-ibu itu.


Sedang asik termenung Alin malah dikejutkan dengan kemunculan Hazar yang tiba-tiba.

__ADS_1


“Mengapa, Kakak cepat sekali pulangnya?”


“Aku hanya menelepon Papa Haris. Obatmu akan dikirim sebentar lagi.”


Alin mendengus kemudian kembali memfokuskan matanya pada Mama Rosa dan Bibi Fatma. “Mengapa mereka lama sekali mengupas kulit buahnya?” batin Alin, tak sabaran. Sebenarnya dia sudah ngiler sejak tadi, namun rujak itu tak kunjung jua selesai.


Raut tak sabaran Alin malah disalah artikan oleh Hazar. “Kalau kau tidak mau memakan rujaknya, biar aku saja.”


“Mengapa!” pekik Alin. “Apa sekarang aku juga tidak boleh memakan rujak!?” semburnya.


Hazar tertegun, dan tak bisa berkata-kata.


***


Hazar sedang duduk termenung di sisi ranjang, sambil menunggu Alin yang sedang mandi. Kata-kata Kakek Tomi tadi siang masih terpikirkan olehnya. Ia hanya memiliki waktu dua hari untuk memberitahu Alin tentang kehamilannya, jika tidak, Kakek Tomi sendiri yang akan memberitahu Alin. Setelah mengetahui mengapa Alin tidak bisa menerimanya, ia semakin merasa takut untuk memberitahu istrinya itu. Ia semakin merasa tak percaya diri. Tapi ia juga tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi. Dua hari, apakah bisa lusa besok hubungannya dengan Alin tetap bisa baik seperti sekarang?


Alin keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Ia tidak tahu kalau Hazar ada di sana. Ia terlihat hendak langsung masuk ke ruang ganti. “Kakak!” pekik Alin terkejut, saat tiba-tiba saja tubuhnya melayang. “Kakak, apa yang kakak, lakukan! Turunkan aku, aku masih belum berpakaian!” Alin merontak minta diturunkan dari gendongan Hazar.


Hazar mendudukkan Alin di atas kasur. “Biar aku bantu,” ujar Hazar, mengambil handuk dari tangan Alin. Hazar duduk di belakang Alin, bersiap hendak mengeringkan rambut istrinya yang basah.


“Cepat keringkan. Aku sudah lapar.” Tadi Alin memang tidak jadi makan, sebab ia sudah merasa kenyang setelah menghabiskan semua rujak yang dibeli Mama Rosa. Ludes, sedikit pun tak bersisa olehnya. Hingga Mama Rosa pun dibuat senang, dan berjanji akan membelikannya rujak lebih banyak lagi besok.


“Kau, mengantuk?” tanya Hazar, heran.


“Hm...” Alin mengangguk, lalu berbalik badan untuk menatap Hazar. “Aku rasa ada yang salah dengan tubuhku, aku harus ke rumah sakit besok.” Ujar Alin.


Alin kembali membalikkan badannya dengan kesal, sebab Hazar hanya diam tak berkomentar setelah mendengar keluhannya tadi. Suaminya itu terlihat samasekali tak peduli padanya.


“Mau makan sekarang?” tanya Hazar.


“Tidak, nanti saja.” Jawab Alin ketus.


Hazar terdengar menghela napas panjang, membuat Alin kembali berbalik menatapnya. Hazar masih diam dengan wajah keruhnya, membuat kekesalan Alin makin bertambah. Alin merebut handuk di tangannya dengan kasar dan hendak berdiri, namun dengan cepat ia menahan lengan istrinya itu.


“Lepas! Aku mau pake baju!” Sembur Alin dengan mata melototi Hazar.


“Aku mau bicara. Duduklah sebentar.” Pinta Hazar.


“Dari tadi, Kakak sudah bicara, mau bicara apa lagi!” Tangan kiri Alin berusaha melepaskan cengkeraman tangan Hazar di pergelangan tangan kanannya. Ia benar-benar sedang kesal sekarang, untuk menatap Hazar pun ia sedang malas. “Lepas!” seru Alin makin kesal sebab tangannya masih belum juga terlepas dari cengkeraman Hazar.

__ADS_1


“Kau, masih menyesal menikah denganku?” tanya Hazar lirih, matanya juga tak berani menatap wajah Alin. Ia hanya menatap ke bawah, menatap pada tangan Alin yang berada dalam genggamannya.


Tiba-tiba saja keheningan tercipta. Alin yang tadinya merontak mencoba melepaskan tangannya, tiba-tiba saja terdiam, tak ada lagi perlawanan.


Sunyi...


Senyap...


Hazar memejamkan matanya, kegundahan hatinya makin bertambah. Ia masih menundukkan pandangannya.


Sesak...


Tiba-tiba saja udara di sekitarnya terasa pekat, membuatnya kesulitan untuk bernapas. Ada kata “Masih” dalam pertanyaannya barusan, yang artinya ia sangat tahu kalau istrinya ini pernah menyesali dan mungkin masih menyesali pernikahan mereka. Hubungan yang ia awali dari kesalahan, dan tak ada penjelasan dalam hubungan rumah tangga yang hampir satu tahun ini mereka jalani. Ia tak pernah mengatakan cinta, atau mengungkapkan perasaannya pada istrinya ini. Begitu pun sebaliknya, Alin juga tak pernah melakukan hal itu. Satu-satunya hal yang mengikat mereka memang hannyalah sebuah status pernikahan, tak lebih dari itu.


“Apa kau pernah bahagia dengan pernikahan ini?” tanya Hazar setelah cukup lama terdiam. “Apa aku terlalu egois jika memintamu untuk tetap di sisiku, seperti sekarang? Hanya seperti ini. Apa itu terlalu sulit bagimu?”


“Apa maksud, Kakak?” Alin benar-benar bingung dengan situasi saat ini. Mengapa tiba-tiba saja suasana di kamar itu menjadi mencekam. Dan mengapa ekspresi wajah suaminya seperti ini, keruh dan sangat kacau.


Hazar menghela napas panjang, ia memberanikan diri menatap mata Alin. “Jika aku meminta maaf, apa kau mau memaafkanku?”


Alin semakin mengerutkan keningnya, bingung. “Memangnya kesalahan apa yang Kakak perbuat?” Alin benar-benar tidak suka dengan suasana seperti ini, dan ia ingin menyudahi ini sesegera mungkin. “Aku mau pake baju dulu.” Alin bangkit dan melangkah ke arah ruang ganti.


“Tidak ada yang salah dengan tubuhmu. Keluhan yang kau rasakan akhir-akhir ini karna pengaruh perubahan hormon kehamilan.”


Langkah Alin langsung terhenti, namun ia tak langsung membalikkan badannya. Ucapan Hazar barusan masih belum dicernanya secara menyeluruh.


“Kau sedang hamil sekarang.” Lanjut Hazar.


"Hamil!" Alin menyentuh perutnya, tubuhnya bergetar, dan tiba-tiba saja ia kehilangan keseimbangan, kepalanya berdenyut hebat, ia hampir saja tersungkur ke lantai. Untung saja ada lengan kokoh yang dengan sigap menangkap tubuhnya.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Hazar cemas.


Alin menepis tangan Hazar yang memegangi lengannya. Bukannya terbebas dari Hazar ia malah tambah terseret ke dalam dekapan suaminya itu.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2