Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 11


__ADS_3

“Duduk” Perintah Hazar. Alin pun duduk di sampingnya. Saat itu Karin selaku sekretaris Hazar pun, mulai membuka acara perkenalan.


“Nona, perkenalkan, ini Bibi Yona, kepala pelayan di rumah ini” Ujar Karin, menunjuk orang yang menyapa mereka tadi.


“Selamat sore Nona”


“Sore Bibi”


“Dan ini Angel, kepala koki di rumah ini” Karin menunjuk seorang wanita cantik, sepertinya seusia dengan Hazar.


“Selamat sore Nona”


“Sore Angel” Alin sudah mulai merakan gelagat tidak enak dari cara Angel menatapnya. Namun Alin tidak mau ambil pusing.


“Apa sudah selesai?” Tanya Hazar. Matanya menatap ke arah Alin yang duduk di sampingnya. Alin mengangkat bahu, tanda ia tidak tahu.


“Sudah Tuan” Jawab Karin.


Hazar langsung berdiri dan melangkah menuju tangga “Apa kau hanya akan diam di sana?” Ujar Hazar. Karna Alin masih duduk dan diam di tempatnya.


“A, aku datang” Saut Alin, mengejar langkah Hazar yang sudah menaiki beberapa anak tangga.


“Ke mana semua orang?” Tanya Alin. Saat mereka telah sampai dalam kamar.


“Siapa yang kau harapkan ada di sini?”


“Maksudku Mama, Papa dan Kakek” Jelas Alin.


“Mereka sudah kembali ke luar Negeri”


“Apa! Luar Negri?” Tanya Alin lagi.


“Iya. Mengapa ekspresimu seperti itu?” Hazar menghentikan gerakan tangannya yang sedang membuka kancing kemejanya. Menatap heran pada Alin.


“Jadi, yang akan tinggal di sini hanya kita berdua?”


“Mau kau kemanakan mereka yang menyapamu barusan?” Hazar melangkah masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Alin hanya mencibir. Lalu membaringkan tubuhnya ke atas kasur, dengan kedua kakinya masih menapaki lantai. Alin menyapu seluruh sudut ruangan dengan matanya, ia mendapati foto pernikahan mereka kemarin, sudah tergantung rapi di dinding kamar, dengan ukuran yang cukup besar.


Tidak lama setelah itu, Hazar keluar dari ruang ganti, ia mendapati Alin masih berbaring di atas kasur, sambil bermain ponsel.


“Apa kau akan tetap seperti itu sampai besok?”


“Aku lupa tidak bawa baju ganti ke sini” Alin mendudukkan dirinya, menatap suaminya “bolehkah, aku menginap di rumah sakit saja malam ini?”


“Pergilah, dan jangan kembali lagi!” Hazar merapikan rambutnya di depan cermin.


Alin mencibir Hazar, mulutnya komat-kamit membaca mantra, di belakang Hazar tentunya. Kembali berbaring di atas kasur.


“Apa kau tidak punya mata? Carilah pakaianmu di ruang ganti, semuanya sudah di siapkan oleh mama” Melangkah ke luar kamar.


“Benarkah!” Alin berdiri, masuk ke ruang ganti “Wow. Ini terlalu berlebihan” Mata Alin melotot, melihat isi dari ruang ganti Hazar “Sudah seperti Mol saja, ckckck” Decak Alin, mengitari seisi ruangan “Apa ini semua benar untukku!” Menyentuh lemari kaca berisi tas, berpindah pada lemari sepatu, perhiasan wanita dan sebuah lemari besar berisi tiga manekin dengan tiga gaun yang indah dan elegan “Wow. Ternyata benar, suamiku lebih kaya dari Kakek” Alin terkekeh sendiri.


Saat Alin keluar dari kamar mandi, dan telah berganti pakaian, seorang pelayan telah menunggunya “Ada apa?” Tanya Alin.


“Tuan Hazar menunggu Anda di ruang kerjanya Nona”


Alin pun pergi ke ruang kerja Hazar yang berada di lantai satu, di antar oleh pelayan tadi.


“Terima kasih” Alin masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat dia masuk Hazar terlihat sedang sibuk membaca sesuatu, hingga dia tidak menyadari kedatangan Alin. Karna tidak mau mengganggu kerja suaminya, Alin pun memilih duduk di sofa yang terletak di tengah ruangan sambil bermain ponsel.


“Kau sudah datang” sepuluh menit kemudian Hazar baru menyadari keberadaan Alin. Dia melangkah, duduk di sofa berhadapan dengan Alin.


“Hmmm” Alin meletakkan ponselnya ke atas meja “Ada apa kakak memanggilku?” Tanyanya


Hazar meletakan sebuah kartu ke atas meja “Wow... ini Black card” Alin meraih kartu di atas meja “apa ini untukku?” Alin mengerjapkan matanya, menatap Hazar dengan senyuman seperti seorang penggoda.


Hazar menyandarkan punggungnya, menatap tajam pada Alin, tanpa berbicara apa pun.


“Mengapa kakak menatapku seperti itu?” Alin merasa risi.


Hazar berdiri dan melangkah ke luar “Kakak mau ke mana?” Alin menyusul langkah Hazar keluar.


“Selamat malam Tuan, Nona” Sapa Bibi Yona, saat mereka tiba di ruang makan.

__ADS_1


“Selamat malam juga Bibi” Balas Alin.


Menyusul duduk di samping Hazar, meletakkan ponsel dan kartu pemberian Hazar di atas meja. Menu makan malam telah tertata rapi di atas meja. Saat Alin hendak mulai mengambil makanan. Matanya tidak sengaja bertatapan dengan mata Angel, yang menatap tidak suka ke arahnya.


Bibi Yona, Angel dan beberapa pelayan yang lainya berdiri di depan mereka.


“Apa mereka akan tetap berdiri di sana?” Bisik Alin pada Hazar, ia merasa risi di pelototi saat makan seperti itu. Biasanya kalau di rumah Kakek, para pelayan akan kembali ke belakang, jika mereka telah duduk di meja makan.


“Suruh mereka pergi, jika kau tidak suka” Jawab Hazar dengan santainya, sudah di pastikan, Bibi Yona dan yang lainya bisa mendengar kata-kata suaminya. Hazar kembali melanjutkan makan malamnya.


Alim menggerutu dalam hati, menyumpahi suaminya “Hmmm... Bibi Yona dan yang lainya tidak makan?” Tanya Alin pada Bibi Yona.


“Kami akan makan sebentar lagi Nona”


“Sekarang saja, Bibi bisa langsung ke belakang dan istirahat” ujar Alin.


“Tidak Nona”


“Pergilah!” Ujar Hazar, masih fokus pada makanannya.


“Baik Tuan”


Sebelum beranjak pergi, Angel kembali menatap tajam pada Alin.


Alin menghela napas “Mengapa? Kau tidak suka makanannya?” Tanya Hazar, sebab Alin belum juga mulai makan.


“Tidak, Aku akan makan sekarang”


Seusai makan malam Alin kembali ke kamar, sedangkan Hazar kembali ke ruang kerjanya, sebab tadi Pak Naf datang ingin menyerahkan beberapa berkas pada Hazar. Alin tidak langsung tidur, lebih memilih duduk di sofa sambil menonton televisi.


Saat pukul sebelas Hazar pun masuk ke dalam kamar, saat itu Alin masih terjaga, dia sedang bermain ponsel dan televisi tetap menyala. Hazar langsung masuk ke kamar mandi.


“Kakak, apakah kado-kado itu boleh aku buka?” Tanya Alin, saat Hazar telah berganti pakaian, dan hendak berbaring ke atas kasur.


“Bukalah” Jawab Hazar pendek.


Alin melangkah menghampiri kotak kado yang teronggok di atas lantai dekat sofa. Duduk bersila bak petapa, siap memporak porandakan isi dari kado-kado itu.

__ADS_1


“Apa ini?” Alin menjinjit sebuah dalaman transparan dengan banyak tali-tali. Ia menyeringai geleng-kepala kepala, kemudian melempar sembarang benda tersebut.


“Mengapa isinya tidak ada yang bisa aku pakai” Ucap Alin saat kado terakhir pun sudah ia buka, tapi tidak ada yang bisa ia gunakan. “Semuanya kekurangan bahan, dan terlihat mudah sobek” Gumamnya. Tanpa membereskan kotak-kotak kado yang berhamburan beserta isinya itu. Alin langsung beranjak tidur.


__ADS_2