
“Sebutkan saja apa keperluan Anda memanggil saya Nona. Tidak perlu memikirkan yang lain” Geram sekretaris Jon. Dia berbicara dengan menautkan gigi atas dan bawanya, ia semakin kesal.
“Hmmm... baiklah. Apa kau mau menikah denganku?” Ini bukan kali pertama Alin melamar sekretaris Jon. Alin tampak sedang menyeringai, dengan mata yang mengerjap manja.
Sekretaris Jon menghela napas “Jika Anda tidak ada keperluan lagi, saya permisi Nona” Sekretaris Jon hendak berbalik badan, namun di cegah oleh Alin.
“Apa kau benar-benar tidak mau membantuku untuk balas dendam pada Kakek dan Papa?” Alin tampak memelas “Kau akan menjadi pimpinan yayasan Kakek jika kau mau membantuku, semuanya, semua kekayaan Kakek. Aku benar-benar tidak tertarik akan harta warisan. Ayolah sekretaris Jon, kau harus membantuku” Alin meraih tangan sekretaris Jon “ Balas dendamku akan lancar & sangat sempurna bila kau mau membantuku”
Sekretaris Jon melepaskan pegangan tangan Alin dari lengannya “Saya permisi Nona” Raut wajah Alin murung seketika.
Di dalam drama dan film yang sering ia tonton perasaan sangan banyak sekretaris yang gila akan kedudukan, bahkan ada yang mengambil alih semua kekayaan majikannya dengan cara licik atau membunuh majikannya. Mengapa sekretaris Kakeknya ini sangat bebal seperti ini. Ck! Alin berdecak sebal.
“Baiklah” Alin menadahkan tangan kanannya “Kembalikan tiga kartu magicku!” Pinta Alin.
“Saya akan menyerahkannya besok pagi Nona. Kartu Anda saya simpan di kantor”
“Tidak bisa! Aku mau itu sekarang!” Seru Alin, ia bahkan berkacak pinggang sekarang, dengan mata melototi sekretaris Jon. “Atau kalau tidak, menikahlah denganku” Alin menurunkan tangannya dari pinggang, dan tersenyum manis.
Sekretaris Jon mengeluarkan dompet dari saku celananya “Anda bisa memakai ini sementara Nona”
Alin dengan cepat merampas kartu yang di ulurkan oleh sekretaris Jon “Apa ini kartu pribadi milikmu? Apa kau sudah mulai menafkahiku!” Alim tampak mengulum senyumnya, dengan mata yang mengerjap-ngerjap menatap sekretaris Jon.
“Itu kartu Kakek Anda Nona” Jawab sekretaris Jon.
Alin menatap sinis sekretaris Jon, ia kembali menadahkan tangannya “Hpku!” Ketus Alin.
“Hp Anda juga saya simpan di kantor Nona”
“Klau begitu, hpmu saja!”
“Anda bisa menggunakan telfon rumah sakit Nona” Sekretaris Jon menunjuk meja kecil di samping ranjang Alin.
“Yang aku mau hp! Bukan telfon”
“Saya permisi Nona” Sekretaris Jon langsung keluar.
***
“Anda sudah siap Nona” Tanya seorang perawat yang baru saja masuk ke ruangan Alin. Dia tampak ngos-ngosan dan ada keringat yang menetes di keningnya.
“Sudah” Alin mengerutkan keningnya “Untuk apa kursi roda itu?” Tanya Alin.
“Untuk Anda Nona, agar Anda merasa lebih nyaman”
__ADS_1
“Kakiku baik-baik saja, tak terluka sedikit pun. Kau terlalu berlebihan” Alin melangkah keluar, melewati si perawat bersama kursi roda di tangannya.
Wajah si perawat tampak nelangsa. Dia sangat tidak beruntung hari ini, mulai dari bangun kesiangan, ketinggalan bus, kena tegur oleh Karu(kepala ruangan) dan berkeliling rumah sakit untuk mencari kursi roda, sebab entah setan apa yang menyembunyikannya, hingga kursi roda di seluruh ruangan tak terlihat oleh matanya.
***
Hari-hari Alin kembali seperti biasanya, ia kembali bertingkah dan berbuat semaunya, selama itu tidak membuat Kakeknya marah, ia masih aman. Dengan tiga kartu Magic yang kembali ke tangannya, ia kembali menghambur-hamburkan uang Kakek, berharap si Kakek cepat bangkrut olehnya. Ia selalu mentraktir makan seluruh orang yang ia jumpai di kantin, membeli banyak hadiah untuk Wira dan Mamanya, membeli banyak makanan dan camilan untuk para dokter dan perawat yang merawat dia dan Bibi Fatma. Serta memindahkan ibu Bibi Fatma ke panti Jompo milik Kakeknya, yang pastinya berfasilitas lengkap dan mewah.
“Ada apa kau kemari?” Tanya Alin pada sekretaris Jon. Seorang dokter sedang mengganti perban di pergelangan tangannya “Apa Kakek marah karna aku menghabiskan uangnya?” Sambung Alin.
“Tidak Nona” Sekretaris Jon beralih menatap dokter “Apa pekerjaan kalian sudah selesai?” Tanyanya.
“Sudah Tuan”
“keluarlah”
“Mengapa Anda tidak mau menerima panggilan telepon Tuan Hazar Nona?”
“Yang menelepon bukan Hazar, tapi sekretarisnya”
“Itu sama saja Nona!”
“Beda” Alin berpindah duduk ke sofa. Menyalakan televisi “Lagian, aku ingin menikah denganmu, bukan Hazar” Ujar Alin.
“Kalau begitu, jangan sampai dia tahu. Cukup laporannya sampai di telingamu saja, jangan kau beri tahu Kakek. Kan aman!" Ujar Alin “Lagian yang menghubungi aku sekretarisnya, bukan Hazar. Dan Hazar telah menyerahkan semuanya pada sekretarisnya, jadi kau yang harus mengurus bagianku”
“Tuan Hazar tidak bisa menghubungi Anda langsung, karna dia sibuk Nona”
“Dan aku sedang sakit” Alin mengangkat pergelangan tangannya yang di perban.
Sekretaris Jon menghela napas. Takkan ada habisnya jika dia berdebat dengan Alin.
“Nanti malam tuan Hazar akan mengunjungi Anda Nona”
“Untuk apa dia mengunjungiku?” Alin nampak terkejut.
“Anda bisa menanyakan langsung padanya nanti malam. Saya permisi Nona”
“Cih. Dasar manusia batu” Rutu Alin yang masih bisa di dengar oleh sekretaris Jon.
Karna merasa bosan sendirian di kamarnya, Alin pun memutuskan untuk pergi ke ruangan Bibi Fatma.
“Mengapa infusnya di buka?” Tanya Alin cemas. Saat dia masuk ke ruangan Bibi Fatma, seorang perawat sedang membuka infus Bibi Fatma.
__ADS_1
“Tangan saya terasa kebas Nona. Jadi saya meminta perawat untuk memindahkannya ke tangan yang satu lagi” Terang Bibi Fatma, dia terlihat sudah mulai membaik dari sebelumnya.
“Oh, syukurlah” Alin duduk di sisi ranjang Bibi Fatma “Apa keluhan Bibi hari ini?” Tanya Alin sambil memijat halus kaki Bibi Fatma.
“Tidak ada Nona” Jawab Bibi Fatma, bibirnya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca “Terimakasih Nona sudah mau membantu ibu saya”
“Apa yang Bibi katakan” Alin mengusap buliran air mata Bibi Fatma “Akulah yang seharusnya berterima kasih dan meminta maaf pada Bibi. Keluarga Bibi jadi begini karna kesalahanku!”
Bibi Fatma menggelengkan kepalanya. Menyentuh tangan Alin “Semua itu tidak ada hubungannya dengan Nona” air mata Bibi Fatma semakin mengucur deras.
“Sudahlah, Bibi tidak boleh menangis saat ini” Mata Alin pun sudah mulai basah “Bibi tahu , aku sebentar lagi akan menikah, jadi Bibi harus cepat sembuh agar bisa melihatku memakai gaun yang indah”
“Apa Nona bahagia?”
“Tentu! Aku akan terbebas dari Kakek sihir itu” Keduanya sontak tertawa “Apa Bibi mau tinggal bersamaku lagi?” Tanya Alin ragu.
“Tentu Nona. Dengan senang hati” Ujar Bibi Fatma. Seketika mata Alin langsung berbinar, ia menghambur memeluk Bibi Fatma.
Alin tadi sempat merasa khawatir, Bibi Fatma akan menolak tinggal bersamanya lagi. Sebab kejadian sepuluh tahun silam masih membekas jelas di pikirannya.
***
#EPOLOG perawat yang kehilangan kursi roda.
Seorang Cs berseragam biru, sedang khusuk mengepel lantai Rumah sakit. Tiba-tiba seorang perawat memanggilnya.
“Mbok Ani!”
“Iya Buk perawat, ada yang bisa saya bantu?” Mendekati orang yang memanggilnya, sambil mengelap kedua telapak tangannya dengan baju yang ia kenakan.
“Mbok tolong cuci kursi roda yang di kamar sebelah ya! Tadi kecipratan darah”
“Oh, iya, iya Mbak. Segera saya laksanakan” Mengangguk berkali-kali.
Lima menit kemudian...
“Kursi roda yang mana ya! Yang mau dicuci?” Bergumam sendiri, mengaruk-garuk kepala yang tak gatal “Tak cuciin semua aja lah, biar Ngga repot bolak-balik nanya” Mengumpulkan puluhan kursi roda per lantai.
“Ini mau ada acara apaan ya? Kok kursinya bisa berjejer sebanyak ini?” Tannya seorang perawat pada rekannya. Mereka sedang melintas di lapangan Rumah sakit.
“Acara layar tancap kali” Mereka terkekeh.
“Bikin acara di lapangan, panas gini lagi. Ckckck”
__ADS_1
EPILOG END