
BRAKK!!! Kakek Setyo menandang pintu dengan kuat, ia tampak sangat marah dan kesal. Saat didalam perjalanan pemindahan tempat penyekapan Alin dan Papa Haris tadi, ia mendapat kabar, bahwa keluarga Hazar tidak menepati janji mereka.
“Aku rasa... aku hanya harus menyelesaikan semua ini dengan cepat,” Kakek Setyo merampas pistol dari tangan preman yang berdiri tidak jauh dari tempatnya. Ia kembali masuk ke dalam ruangan tempat penyekapan Alin dan Papa Haris, meninggalkan Amel yang terlihat marah. Bagaimana tidak! Semua yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya tadi siang.
“AAhhkh...” Alin menjerit kesakitan saat kepalanya terbentur sudut meja, tubuhnya terhempas dan terpelanting ke atas lantai.
“Alin!” pekik Papa Haris, matanya membulat penuh, menatap nyeri pada Alin. Ia meronta hendak melepaskan diri dari preman yang memeganginya, namun itu kembali sia-sia, ia masih terikat dan tidak bisa berbuat apa pun untuk menolong Alin.
Alin kembali menjerit saat seorang preman menarik paksa rambutnya dari belakang membuat tubuhnya yang semula tersungkur menjadi terduduk dan berlutut tepat di depan Kakek Setyo. Dan...
PLAKK!!! Tubuh Alin kembali terlempar, sebuah tamparan keras dari Kakek Setyo mendarat tepat di pelipisnya yang terluka oleh sudut meja tadi.
“Tutup mulut dia!” seru Kakek Setyo menunjuk ke arah Papa Haris yang sedang meronta sambil berseru lantang menyumpahinya.
Alin tiba-tiba saja tertawa dengan wajahnya yang lebam, luka robek di pelipisnya kembali mengeluarkan darah segar.
Alin menatap tajam pada Kakek Setyo, dengan seringai kemenangan tergambar pada wajah pucatnya itu. “Apa kita harus merayakan hari kebangkrutan Kakek. Akan sangat disayangkan jika hari ini kita lalui begitu saja.”
“Kau!”
“Tadi... aku sempat mendapat kabar kalau Yayasan Kakek mendadak bangkrut. Dan yang lebih mengejutkan adalah orang dibalik kebangkrutan itu.” Alin kembali menyeringai, dan itu berhasil membuat kemarahan Kakek Setyo semakin membuncah.
“Apa Kakek tidak mendapatkan apa-apa dengan menculikku?” Alin mempertajam tatapannya pada Kakek Setyo. “Dari raut wajah tua Kakek, sudah bisa aku pastikan kalau Kakek sangat kesal sekarang, dan juga bisa aku pastikan itu karna Kak Hazar dan keluarganya pasti tidak memberikan apa yang Kakek pinta. Mau tahu kenapa?” Alin menaikkan satu alisnya sambil menyeringai. “Karna aku sudah terlebih dahulu mengancam mereka.” Alin kembali tertawa lepas. “Aku rasa... aku memang harus mengakui kalau aku adalah cucu Kakek. Sama seperti Kakek, aku juga mengancam keluarga Kak Hazar dengan menggunakan bayi ini.”
Ya, tadi, sebelum ia kehilangan kesadarannya Alin masih memiliki kesempatan mengirimkan pesan suara untuk Hazar.
“Ckckck...” Alin menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menghentikan tawanya. “Kasihannya Kakek... sudah tua, jatuh miskin pula. Meski pun aku sudah mengakui kalau KAU! Adalah Kakekku, tetap saja aku tidak sudi mengurus orang tua seperti Kau. Mungkin panti jompo pun akan menolak mengurus kakek-kakek bejat seperti kau!”
Papa Haris memejamkan matanya. Ia tak habis pikir, di saat seperti ini bagaimana bisa putrinya itu terus memancing kemarahan Kakek Setyo.
“Hahaha...” Kakek Setyo malah tertawa mendengar ucapan Alin barusan. “Terimakasih, kau sudah mau memikirkan nasibku setelah kebangkrutan ini. Tapi itu tidak perlu. Karna, nasib kau yang lebih mengenaskan disini. Dan pengakuanmu pun tak ada artinya, Sebab ini adalah hari terakhir kau di dunia ini.”
__ADS_1
Alin tidak menjawab, ia malah semakin mempertajam tatapannya.
“Hmmm... jadi kau lah penyebabnya Hazar tidak mau membayarku.” Kakek Setyo mangut-mangut. “Sama seperti kau, aku dulu juga mengancam ibumu menggunakan bayinya, dan dia selalu patuh dan juga selalu mau menuruti semua perintahku demi keselamatan bayinya.” Kakek Setyo bangkit dan berjalan ke arah kursi kayu yang sudah disiapkan oleh anak buahnya. Letak kursi itu tidak terlalu jauh dari tempat Alin.
Sekarang wajah Alin yang tampak mengeras.
“Aku sudah tahu... Kakek memang seorang pengecut. Selalu membutuhkan sandera untuk mengancam orang lain.”
“Aku bukan sekedar mengancamnya. Kau, mau mendengar seperti apa cerita lengkapnya saat ibumu di meja operasi? Aku menyaksikan sendiri proses kelahiranmu. Mulai dari perut ibumu yang dibedah... sampai dia menghembuskan napas terakhirnya tidak berselang lama setelah kau lahir.”
Alin menatap tajam pada Kakek Setyo, api kemarahan dan kebencian terlihat menyala dari kedua bola matanya yang membulat.
Kakek Setyo beralih menatap pada Papa Haris. “Kalian berdua perlu tahu seperti apa Diana pada saat-saat terakhirnya dulu. Akan aku ceritakan kisah aslinya. Dan anggap ini persembahan terakhir dariku sebagai pengantar kematianmu,” ujar Kakek Setyo menunjuk muka Alin.
“Untukmu Haris, akan aku beri kesempatan bagimu untuk tetap hidup setelah ini. Karna, kau masih akan aku perlukan untuk mengembalikan Yayasanku.”
Muka Papa Haris yang sudah mengeras sejak tadi, semakin terlihat berang menatap pada Kakek Setyo. Meski pun terlihat mustahil Papa Haris masih berusaha meronta untuk membebaskan ikatannya.
"Diana mati bunuh diri, bukan karna pendarahan.”
Alin dan Papa Haris sontak terkejut. Namun keduanya sama-sama diam tak bersuara. Menatap tajam pada Kakek Setyo. Napas keduanya sama-sama terbuang cepat.
“Dia memotong nadinya sendiri dengan pisau bedah yang sama, yang digunakan dokter untuk membuka perutnya.”
“Mau tahu kenapa?” Kakek Setyo sengaja menjeda ucapannya. Ia semakin senang melihat api kemarahan di mata Alin. “Karna... dia mengira kau tidak selamat saat itu. Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya meminta Amel untuk membawa kau pergi dari ruang operasi sebelum kau sempat menangis dan bersuara. Namun tiba-tiba saja dia menangis dan mengiba, meminta aku menyelamatkan bayinya. Dan lucunya, dia sendiri yang membuat penawaran denganku.”
“Jika saya mati. apa kalian akan membiarkan anak saya hidup?" Kakek Setyo meniru ucapan Mama Diana.
“Aku belum sempat menjawab. Tapi, aku tetap diam. Membiarkannya merebut pisau bedah dari tangan dokter.” ujar Kakek Setyo dengan muka berseri-seri. “Dan... SREKK!” Tawa Kakek Setyo semakin keras. “Dia merobek nadinya sendiri. Dan darahnya berceceran di mana-mana.” Tawa Kakek Setyo bergema memenuhi langit-langit ruangan.
Tubuh Alin bergetar hebat, pandangannya mengabur karna air mata telah berkumpul di pelupuk matanya. Cerita Kakek Setyo membuatnya merasa perih dan sesak. Bukan cerita baru lagi baginya. Sejak dulu ia sudah tahu kalau Mama Diana hidup di bawah tekanan Kakek Setyo, Papa Haris dan Tante Amel. Alin menggigit bibir bawahnya dengan kuat, ia tak kuasa menahan rasa sedih dan marah di dadanya. Apa salah Mama Diana hingga dia harus hidup dalam kesengsaraan seperti itu.
__ADS_1
Berbeda dengan Alin Papa Haris malah semakin meronta dan mengerang. Penyumpal mulutnya hampir saja terlepas kalau tidak cepat dipegangi oleh preman bayaran.
“Karna kau sudah tidak ada gunanya lagi bagiku. Kau akan segera aku kirim menyusul mamamu!” seru Kakek Setyo.
Alin tak merespons seruan Kakek Setyo barusan. Ia terkulai lemas, ia hanya pasrah dan diam saat tubuhnya diseret. Hidupnya seakan telah berakhir meski saat ini ia masih bisa bernapas.
“Papa, tunggu!” seru Amel tiba-tiba. “Kita tidak harus membunuhnya saat ini juga. Cukup kita gugurkan saja kandungannya dan dia kita biarkan untuk tetap hidup. Papa masih butuh dia untuk mengendalikan Kak Haris.” Bisik Amel pada Kakek Setyo.
Meski tidak terlalu keras, ucapan Amel barusan bisa didengar Alin dengan jelas.
Entah dorongan dari mana Alin tiba-tiba saja merontak. Karna sentakan yang tak terduga ia berhasil lolos dari cengkeraman si Preman. Tanpa membuang waktu Alin langsung kabur dan lari.
Mungkin keadaan sedang berpihak padanya, dengan mudahnya Alin bisa lolos dan keluar dari ruang penyekapan. Entah kemana perginya para preman bayaran yang diperintahkan Kakek Setyo untuk berjaga-jaga di luar. Ruang tengah, halaman dan sekitar terlihat kosong, tak ada satu pun manusia di sana.
Alin terus berlari. Dua orang preman bayaran mengikutinya dari belakang. Keduanya terlihat berjalan dengan santai, seolah sengaja membiarkannya untuk bermain sebelum kembali ditangkap.
Karna merasa lelah sendiri, akhirnya Alin berhenti berlari. Ia sekarang berada tepat di pinggir jalanan yang sepi dan remang. Alin menangis, dan berjongkok. Sayup-sayup ia mendengar suara tawa dua preman yang mengikutinya. Ya, mereka terlihat senang karna akhirnya mangsa mereka telah menyerah.
Derap langkah kedua preman terdengar semakin mendekat. Seiring dengan rasa sesak dan perih yang semakin menggerogoti hati Alin. Ia semakin merasa bersalah atas penyebab kematian mamanya. Ia adalah seorang anak yang tak seharusnya ada. Ia hannyalah beban bagi orang-orang di sekitarnya.
“Kau mau pulang sendiri, atau perlu kami seret?” ujar si preman yang sudah berdiri di sisi lain jalan, berseberangan dengan Alin.
Melihat Alin yang tetap diam dan lambat merespons, membuat preman yang satunya hilang kesabaran. Ia hendak melangkah mendekati Alin, namun urung karna tiba-tiba saja penglihatan mereka menjadi silau karna cahaya lampu mobil yang mendekat ke arah mereka.
Alin tidak menghiraukan siapa orang yang baru datang. Ia tetap menatap lurus ke depan. Karna cahaya lampu mobil membuat terang area sekitar, membuat Alin bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depannya sekarang.
Jurang!
Tanpa membuang waktu, Alin langsung berdiri dan berlari ke depan.
“Alin...!”
__ADS_1