Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 16


__ADS_3

“Dan apa kau pikir aku mau menuruti semua kemauanmu? Lakukan apa pun semaumu! Aku akan tetap menjalani hidupku semauku” Suara Alin menggema di seluruh ruangan. Para pelayan yang mendengar pertengkaran mereka memilih menjauh. Hanya Angel yang semakin mendekat dengan senyuman kecil di bibirnya.


“Terserah apa maumu. Kau tetap tidak akan pernah bisa keluar dari sini” Hazar menghempaskan sendok di tangannya, pergi meninggalkan ruang makan.


“Arrgghh...!” Alin melempar piring sarapannya ke arah pintu, tempat punggung Hazar menghilang. Lemparannya mengotori dinding dan lantai, serpihan beling bertebaran ke mana-mana.


Alin pergi ke rumah belakang, ia mengabaikan Angel yang menertawainya, ini hanya bukan waktunya untuk meladeni wanita itu. Geram Alin.


*


Sudah hampir seminggu sejak pertengkaran hebat pagi itu. Alin tidak pernah lagi menginjakkan kakinya ke rumah utama, dia hanya mengurung dirinya di kamar Bibi Fatma. Para pelayan yang tinggal di rumah belakang tidak ada yang berani menegurnya, mereka terus mencoba menghindar, takut jika sewaktu-waktu emosi istri majikan mereka itu meledak, seperti pagi itu.


Hari-hari Hazar menjadi kacau sejak hari itu, dia hanya tahu kabar tentang Alin dari laporan Bibi Yona dan Bibi Fatma, sesekali dia juga mendengar bisik-bisik pelayan tentang istrinya itu.


“Sepertinya Nona Alin kelelahan Tuan, setelah menangis semalaman”


“Saya sudah mencoba membuat makanan kesukaan Nona, namun Nona tetap menolak Tuan”


“Nona Alin hanya mau makan Mie instan saja Tuan”


“Nona Alin tidak mau makan Tuan, dia bilang dia sudah kenyang”


“Nona masih tidur Tuan”


Selalu seperti itu jawaban yang dia terima dari Bibi Yona dan Bibi Fatma tentang istrinya. Alin selalu menangis setiap malam, kalau siang ia hanya berdiam diri di dalam kamar, bermenung dan tatapannya terlihat kosong. Bibi Fatma hanya bisa menenangkan dengan memeluknya sambil tidur. Ia turut merasa sedih dengan keadaan Nona mudanya saat ini.


“Antarkan aku ke tempatnya” Ujar Hazar, dia sudah cukup bersabar dan sekarang dia mau menemui istrinya itu. Saat itu masih jam istirahat makan siang. Saat dia bertanya akan kegiatan istrinya siang itu, kembali jawaban yang ia terima “Nona masih tidur Tuan. Nona masih menolak untuk makan”


Hazar terpaku di tempatnya berdiri saat ini, melihat keadaan istrinya yang sangat memprihatinkan. Tidur di atas kasur berukuran kecil yang hanya muat untuk satu orang, serta keadaan kamar yang sangat sempit menurutnya. Istrinya terlihat kurusan, wajah yang sembab dan ujung hidung yang memerah. Sepertinya, istrinya kembali menangis sebelum terlelap. Di atas meja kecil di sudut kamar tersusun beberapa Mie Cup extra pedas, dan satu termos air panas. Hampir seminggu ini hanya itu yang istrinya konsumsi.


Hazar menggendong tubuh Alin dengan pelan dan hati-hati, takut jika tindakannya itu mengganggu tidur Alin.

__ADS_1


“Kosongkan kamar ini segera” Perintah Hazar.


Semua pelayan yang berada di sana terkejut mendengar perintah Hazar. Apa maksudnya Tuan Muda mereka itu baru saja mengusir pengasuh istrinya.


“Baik Tuan” Hanya Bibi Yona yang menjawab.


Hazar membawa Alin ke kamar mereka, di tidurkannya Alin secara pelan dan hati-hati, kemudian menyelimutinya.


***


Alin mengerjapkan matanya, perut bagian bawahnya terasa nyeri. Ia di buat heran, bagaimana bisa ia berada di kamar Hazar, jelas-jelas ia masih marah bahkan tak pernah menginjakkan kakinya lagi ke rumah utama. Dengan menekan perutnya yang terasa nyeri Alin mencoba bangkit dan keluar dari kamar, Berjalan tertatih-tatih ke rumah belakang. Alin mengabaikan sapaan pelayan yang melihatnya.


“Bibi!” Alin membuka pintu kamar “BIBI!!!” Alin tercengang, kamar Bibi Fatma sudah kosong, Alin berlari ke rumah utama raut wajahnya tampak sedang cemas, kuku jari jempolnya mengikis-ngikis ujung telunjuknya.


“Nona!” Bibi Yona sedikit berlari menghampiri Alin “Nona Alin” Ulangnya.


Alin tidak menghiraukan panggilan Bibi Yona, ia terus berjalan menuju ruang kerja Hazar.


Alin membuka pintu dengan kasar, Hazar yang berada di dalam ruangan terkejut, ia berdiri di tempatnya. Alin menghambur ke hadapan Hazar menarik kasar kerah baju Hazar, hingga Hazar membungkuk olehnya.


“Kau!!!” Alin tidak dapat meneruskan kata-katanya, ia memejamkan matanya sebelah tangannya menekan perut bawahnya yang semakin terasa nyeri, sementara tangan kirinya meremas baju Hazar makin kuat.


“Al!!!” Pekik Hazar, dengan cepat di raihnya tubuh Alin ke pelukannya “Alin!” Hazar menepuk halus pipi Alin yang pingsan dalam dekapannya.


*


Seorang dokter kini sedang memasang infus pada tangan kiri Alin. Setelah tadi rumah utama di buat heboh oleh pingsannya Nona Muda. Bibi Fatma yang saat itu sedang memindahkan barang-barangnya, langsung berlari ke kamar majikannya itu, hingga kini dia masih berdiri di depan pintu kamar meremas kedua telapak tangannya yang bergetar dan berkeringat, wajahnya sudah basah oleh lelehan air mata. Ia hanya dapat melihat Alin dari celah pintu yang sedikit terbuka, tidak berani meminta izin untuk ikut masuk.


Hazar berdiri di samping tubuh Alin, raut wajahnya tampak sangat khawatir dari tadi matanya tak lepas memandangi wajah pucat Alin. Dokter telah selesai mengobati Alin kini ia sedang bersiap hendak pulang.


“Tuan” Dokter menegur Hazar yang masih mematung memandangi Alin “Tuan” Ulangnya.

__ADS_1


Hazar tidak menyahut hanya matanya yang kini berpindah menatap ke arah dokter.


“Bicaralah !” Ujar Hazar, kembali menatap ke arah Alin.


“Nona Alin tengah mengalami gejala depresi, dan saran saya sebaiknya Nona menjalani psikoterapi pasca percobaan bunuh diri. Besar kemungkinan Nona akan mencoba mengakhiri hidupnya lagi dengan kondisi seperti ini Tuan” Ujar dokter.


Saat dokter dan perawat keluar dari kamar, Bibi Fatma langsung menahan pintu yang hendak di tutup oleh Bibi Yona. Kemudian menghambur masuk ke dalam kamar majikannya itu.


“Tuan saya mohon izinkanlah Nona untuk bekerja lagi Tuan” Bibi Fatma langsung berlutut di dekat pintu.


“Apa yang kau lakukan!” Hazar terlihat tidak suka dengan perbuatan Bibi Fatma.


“Nona memang keras kepala, dan sering tidak mengindahkan perintah Tuan, saya janji akan membuat Nona menuruti apa pun kemauan Tuan mulai sekarang. Tapi tolong bebaskan Nona Tuan, biarkan dia pergi bekerja. Ini terlalu sulit untuk Nona Tuan, dia sangat tidak suka di kekang” Bibi Fatma masih berlutut di tempatnya.


“Keluarlah!” Perintah Hazar.


“Tapi Tuan, tolonglah Nona Tuan” Bibi Fatma masih memohon kepada Hazar.


Bibi Yona yang berdiri di luar kamar langsung masuk menarik lengan Bibi Fatma keluar.


“Tuan saya mohon, saya janji akan membuat Nona Alin menjadi penurut dengan Anda Tuan! Tuan” Bibi Fatma masih memohon walau dia sudah di seret keluar oleh Bibi Yona.


“Tua...n!” Lirih Bibi Fatma di luar kamar. Bibi Yona menepuk halus punggung Bibi Fatma.


“Sudahlah, Tuan Hazar pasti akan melakukan yang terbaik untuk Nona Alin. Mari kita ke bawah”


Hazar menghela napas, memejamkan kedua matanya, kepalanya kembali terasa pusing. Dengan malas diraihnya ponsel yang bergetar sejak tadi di atas meja.


“Ada apa?”


“Tuan apa perlu saya undurkan penerbangan Anda sore ini Tuan?” Tanya Karin.

__ADS_1


Hazar kembali menghela napas, diam sejenak “Tidak perlu” Hazar langsung mematikan panggilan telepon.


__ADS_2