
Ternyata menghadapi wanita dengan penuh kesabaran dan kelembutan memang banyak untungnya. Lihatlah! Hati Hazar sekarang masih berbunga-bunga meski istrinya telah pergi meninggalkannya sendirian di vila itu. Jika saja tadi ia menghadapi istrinya dengan emosi dan kemarahan, tidak hanya dua hari, mungkin istrinya akan benar-benar pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Hazar masih senyum-senyum sendiri membayangkan wajah kesal istrinya. Bibir bawahnya yang terluka akibat gigitan Alin tadi, samasekali tak terasa sakit olehnya. Karna tadi ia masih saja ingin menggoda istrinya hingga membuatnya lupa diri, ia hampir kebablasan. Niatnya hanya ingin menggoda istrinya, tapi malah dia sendiri yang tergoda. Ia hampir saja mengulang kejadian menyenangkan tadi pagi, tapi semua itu pupus saat Alin dengan kejamnya menendang dan menggigit bibirnya hingga berdarah.
“Tidak apa-apa, hanya sampai lusa besok.” Ujar Hazar pada dirinya sendiri. Ia sedang menghibur diri, dengan terus membayangkan kejadian menyenangkan tadi siang, membayangkan wajah menggemaskan istrinya saat ia menggodanya tadi.
Membiarkan istrinya pergi sendirian ke pulau terpencil, tentu itu tidak mudah bagi Hazar. Setelah Alin dan Tami pergi, ia pun ikut menyusul. Ia bahkan sudah meminta Bobi dan beberapa anak buahnya untuk melindungi istrinya selama berada di pulau terpencil itu. Beruntung ia sudah meminta Bobi untuk datang ke vila sejak malam tadi, dan tidak sampai satu jam lagi Bobi akan sampai di sana.
Karna tak ingin Alin lepas dari pengawasannya, Hazar pun langsung menyusul Alin tanpa menunggu kedatangan Bobi terlebih dahulu. Ia pun sudah menelepon Bobi untuk langsung menyusulnya ke pulau.
Tapi belum sampai sepuluh menit Hazar meninggalkan vila...
“Tuan, bukankah itu mobil Nona Alin?” ujar Pak Sukri.
Hazar yang saat itu sedang sibuk dengan ponselnya pun langsung menengok ke depan.
“Mengapa mereka berhenti di tempat sepi seperti ini?” Pak Sukri kembali bertanya.
Hazar sudah merasa ada yang tidak beres. Tanpa menjawab Pak Sukri ia langsung menghambur keluar dari mobil.
Mata Hazar langsung terbelalak, saat mendapati kaca bagian depan mobil yang sudah hancur berantakan, ia juga tidak menemukan siapa pun di dalam mobil. Kecemasan Hazar makin menjadi saat melihat darah segar yang berserakan di jalan.
“Tolong!”
Sayup-sayup Hazar mendengar teriakan seseorang dari balik semak jalanan. Tanpa membuang waktu Hazar langsung berlari ke arah suara.
*
Beberapa menit yang lalu...
Saat mobil yang dikendarai oleh Tami tengah melintasi jalanan yang sepi, tiba-tiba saja mobil mereka dihadang oleh empat orang pria bertato.
“Nona, tetaplah di dalam, biar saya saja yang turun.”
“Jangan, Mbak. Mereka pasti mau berbuat jahat, a-aku akan menelepon polisi, kita tunggu di dalam mobil saja.” Dengan tangan yang gemetaran Alin menghubungi kantor polisi.
Belum sempat Alin menekan tombol hijau, kaca mobil sudah digedor-gedor dari luar. Bukan hanya sampai di situ, kaca bagian depan mobil sudah retak karna di pukul oleh pria lainnya.
__ADS_1
“Keluar, kalian!” teriak si pria berjaket hitam, si pria itu terlihat seperti pimpinan dari kelompok itu.
Karna kaca mobil yang sudah ringsek dan hancur, mau, tidak mau Alin dan Tami pun terpaksa keluar dari mobil.
“Cepat cari barang berharga mereka!” Si pria berjaket hitam kembali berteriak.
Tiga orang anak buahnya langsung mengacak-acak isi mobil.
“Mereka tidak memiliki uang, Bos! Hanya ada ini barang berharga yang mereka miliki.” Si pria bertindik mengangkat dua buah ponsel milik Alin dan Tami.
“Apa sudah kalian cari dengan benar?”
“Sudah, Bos!” Serentak ketiganya menjawab.
“Kalian belum memeriksa bagian tubuh mereka.” Si pria berjaket hitam menyeringai menatap ke arah Alin.
“Kalian boleh mengambil ini,” Tami melempar kartu ATM ke arah si pria berjaket. “Kalau kalian mau, kalian juga boleh membawa mobil itu. Tapi jangan sentuh Nona Alin.” Tami sudah pasang badan di depan Alin.
Karna si preman kampung yang benar-benar kampungan, tidak tahu kegunaan dari kartu ATM. Ia pun menjadi marah dan merasa kalau Tami sedang bermain-main dengan mereka.
Untungnya Tami sudah siap dengan serangan si pria berjaket, perkelahian antara Tami dan pria berjaket hitam itu pun terjadi.
Awalnya si pria berjaket mengangkat tangan, meminta anak buahnya untuk tidak ikut campur, karna ia merasa Tami bukanlah lawan yang sepadan untuknya. Mungkin dengan satu tangan saja Tami akan Terkalahkan olehnya, tapi nyatanya. Ia malah tersungkur lagi, dan lagi di atas aspal yang keras dan kasar hingga menimbulkan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya yang terhempas.
Saat melihat sebagian dari mereka telah kalah oleh Tami, pria yang lainya pun ikut maju.
Si pria kedua kembali tersungkur di atas aspal, hingga pria ketiga kembali maju bukan hanya dengan tangan kosong, pria yang ketiga mengeluarkan senjata tajam dari balik punggungnya. Dengan melihat dua temannya yang sudah terkapar oleh Tami, dia menyadari kalau wanita itu tidak bisa lagi dia anggap remeh.
“Kau jangan diam saja, bantu dia!” teriak si pria berjaket pada anak buahnya yang masih berdiri menunggu giliran untuk maju.
Akhirnya Tami pun berkelahi dengan dua pria sekaligus. Selain jumlah yang tak imbang, para preman itu pun juga menggunakan senjata tajam keduanya. Akhirnya Tami pun terkalahkan, ia mengalami beberapa luka di bagian lengan dan perutnya.
Alin hanya bisa berteriak histeris, saat melihat perkelahian yang terjadi tepat di depan matanya. Ia memang sering berkelahi, tapi lawan yang ia hadapi hanya sebatas David dan Amel, bukan preman kampung bersenjata tajam seperti yang sekarang ini.
“Nona! Lari!” teriak Tami dengan sisa tenaganya. Ia sudah tidak mampu lagi untuk berdiri.
Belum sempat Alin tersadar dari teriakan Tami, tubuhnya sudah ditahan oleh salah satu preman bersenjata tajam.
__ADS_1
“Bos, kalau kita tidak dapat uangnya. Kita bisa menikmati yang ada saja, Bos.” ujar si pria yang memeluk Alin dari belakang.
“Bawa dia ke markas. Akan sia-sia jika barang sebagus ini hanya kita nikmati sekali. Itu pemborosan namanya.”
Sontak keempat preman itu tertawa bersama, merayakan kemenangan mereka.
Tubuh Alin langsung menggigil mendengar kata-kata si Bos preman. Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, ia pun menginjak kaki si pria yang menyekapnya. Ia pun berhasil lolos.
Keempat pria itu bukannya langsung mengejar Alin, mereka malah terus tertawa bersama.
“Sepertinya dia ingin mengajak kita bermain-main dulu di sini, Bos.”
“Ayo turuti maunya. Kita kejar dia.”
Alin berlari ke arah hutan, karna saking ketakutannya ia tidak menyadari ada akar pohon yang melintang di depannya. I ia terjatuh tersungkur ke atas tanah. Dengan susah payah ia kembali berdiri dan berlari dengan tertatih-tatih. Darah segar mengalir dari lututnya.
“Sudahlah, Nona. Lebih baik kau simpan saja energimu untuk kita bersenang-senang nanti!” Si pria berjaket ternya sudah berada tidak jauh di belakang Alin. Dalam sekejap Alin sudah berhasil ditangkapnya.
“Tolong! Tolong!” Alin berteriak-teriak minta tolong, sementara keempat preman itu sudah menelentangkan tubuhnya di atas tanah.
Alin sudah pasrah, ia sudah tidak bertenaga lagi untuk merontak. Tangan dan kakinya sudah ditahan oleh preman-preman bejat itu. Alin menangis menyesali nasibnya.
SRREKKK!
Preman-preman itu berhasil merobek kemeja yang Alin pakai. Detik itu juga terdengar keempatnya serentak tertawa terbahak-bahak. Alin mengepalkan tangannya, matanya terpejam dengan erat ia terlalu jijik melihat wajah keempat preman itu. Ia hanya mampu berteriak dalam batinnya, memanggil-manggil nama mamanya.
BUG!
Suara tawa si preman terhenti. Alin tidak mendengar suara tawa lagi, melainkan suara perkelahian. Tangan dan kakinya pun sudah terlepas tidak ada lagi yang memeganginya.
“Kak Hazar!” gumam Alin lirih. Diambang kesadarannya ia masih bisa melihat suaminya sedang berkelahi menghadapi empat orang preman bersenjata. “Kakak!” teriak Alin saat ia melihat si preman berhasil menancapkan sebilah pisau pada pinggang suaminya, seketika itu pun cairan darah menyeruak membasahi baju bagian pinggang Hazar. Alin terkulai lemas, sebelum kemudian ia benar-benar kehilangan kesadarannya.
*
*
*
__ADS_1