Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 6


__ADS_3

Alin menatap Kakek “Dan tidak akan sulit untukku menghancurkan yayasan yang kau bangga-banggakan itu” Geram Alin, air mata Alin menetes ia tidak mampu lagi menahan sesak di dadanya.


Haris hendak memarahi Alin, menurutnya perkataan Alin barusan sangatlah tidak sopan, namun urung karna seseorang mengetuk pintu dari luar.


Sekretaris Jon membukakan pintu, tak lama setelahnya ia kembali masuk dengan membawa sebuah tab di tangannya. Membisikan sesuatu pada Kakek, sepertinya kabar baik, sebab wajah Kakek tampak bahagia. Sekretaris Jon menyerahkan tab pada Kakek, kemudian menjauh.


“Kau mungkin belum mengenalnya” Kakek memperlihatkan sebuah Video pada Alin. David yang sedari tadi hanya duduk diam memanjangkan lehernya, ingin ikut serta melihat isi Video.


Di Video tampak seorang wanita tua yang sudah bungkuk, memikul seikat kayu bakar di pundaknya, dan terlihat susah saat berjalan.


“Dia ibu kandung Fatma. Semenjak aku memecatnya suaminya yang sakit-sakitan saat itu mati. Dan Fatma sangat kesusahan mencari pekerjaan untuk membiayai kehidupan ibunya. Dan saat ini dia sedang sakit keras, tapi ibunya tidak tahu. Yang dia katakan pada ibunya bahwa dia pergi mencari pekerjaan ke kota. Apa menurutmu lebih baik aku yang memberitahu ibunya? Agar penyakit jantungnya kambuh” Ujar Kakek.


“Apa kau masih mau membantahku? Operasi Fatma tidak akan bisa di lakukan tanpa persetujuan dariku” Lanjut Kakek.


***


Ikatan di tubuh Alin sudah di lepaskan, ia sekarang sedang di dandani oleh Bibi Ella. Sebab sebentar lagi calon suami dan calon mertuanya akan datang menjenguknya.


“Ingat jangan lakukan hal-hal bodoh yang bisa merugikan orang-orang di sekitarmu!” Ancam Kakek tadi pagi sebelum dia keluar dari ruangan Alin.


Bibi Ella telah memberikan sentuhan terakhirnya pada bibir Alin “ Waw Nona. Nona tampak sangat cantik. Bibi yakin Tuan Hazar akan sulit berpaling dari wajah ini” Bibi Ella berseru riang.


Alin hanya menanggapinya dengan senyuman tipis, ia tampak seperti kehilangan semangat hidup.


“Apa Nona membutuhkan sesuatu?” Tanya Bibi Ella.


“Tidak ada Bibi”


“Kalau begitu saya pamit pulang dulu Nona” Pamit Bibi Yona, yang di balas Alin dengan anggukan kepala.


“Apa semuanya sudah beres?” Tanya Bibi Ella pada pelayan yang ikut dengannya.


*

__ADS_1


Tak lama setelah kepergian Bibi Ella dan asistennya, seseorang mengetuk pintu ruang rawatan Alin. Pintu terbuka dari luar, tampak tiga orang yang asing menurut Alin masuk ke ruangannya, dua orang laki-laki dan satu orang perempuan.


“Selamat malam nak Alin” Sapa si wanita ramah, bibirnya menyunggingkan senyuman.


“Malam Tante” Saut Alin tak kalah ramahnya, Alin hendak turun dari ranjang, namun di cegah oleh tante tadi.


“Nak Alin berbaring saja, tidak apa-apa. Kami hanya mampir sebentar kok” merapikan kembali selimut yang menutupi kaki Alin.


“Oh iya, Tante sampai lupa memperkenalkan diri” Alin hanya tersenyum “Kenalin nama Tante Rosa, ini Om Adi dan ini anak tante Hazar”


“Selamat Malam Om, kak Hazar” Sapa Alin.


Adi membalas sapaan Alin dengan senyuman dan anggukan sedikit kepalanya. Sedangkan Hazar! Dia hannya diam dengan muka temboknya, kaku dan dingin.


“Benar kata David. Hazar memang terlihat seperti Papa dan Kakeknya terlihat dingin dan acuh. Dengan wajah tampannya itu pasti sudah banyak wanita yang di buat sakit hati olehnya. Oh tidak. Dia samasekali tidak tampan, orang yang tampan itu adalah laki-laki yang baik dan ramah. Ya! Hati adalah penentu tampan atau tidaknya seseorang itu, bukan wajahnya” Batin Alin. Kepalanya mengangguk-angguk.


“Bagaimana keadaan nak Alin sekarang?” Tanya Om Adi.


“Baik Om. Maaf saya membuat om dan tante jadi repot”


“Iya” Jawab Hazar datar.


“Kamu Ngga usah kaku begini Zar. Atau kamu malu, karna Mama dan Papa masih di sini!” Goda Rosa pada anaknya.


“Apa-apaan sih Mama” Rutuk Hazar.


Rosa dan Adi sontak tertawa “Ya sudah kalau gitu. Alin Om tinggal dulu. Ngobrol yang banyak kalian berdua.” Adi menepuk punggung Hazar “Kalau kamu mau nginap di sini, Ngga apa-apa biar Papa yang bilang sama Om Haris” Bisik Adi pada Hazar. Hazar sama sekali tak menanggapi godaan Papanya barusan.


“Ayo Ma kita pulang!” Adi merangkul pundak Rosa.


“Alin, Tante pulang dulu ya! Titip anak tampan Tante” Pamit Rosa.


Alin mengangguk dan tersenyum. Papa dan Mama Hazar terlihat sangat hangat dan ramah. Jauh berbeda dengan anak mereka, yang kini sudah duduk di sofa tanpa di persilahkan oleh si pemilik ruangan.

__ADS_1


Lama mereka berdiam diri, tak ada percakapan apa pun. Hazar masih sibuk dengan ponselnya. Alin hanya diam memperhatikan Hazar dari kejauhan. Akhirnya Alin pun merasa bosan dan mengantuk, ia pun memilih untuk memanggil perawat, menggunakan telefon yang terletak di atas meja kecil di samping ranjangnya.


“Ada yang bisa saya bantu Nona?” Terdengar suara dari spiker telfon.


“Tolong bawakan obatku sekarang, aku mau tidur” Jawab Alin.


“Baik Nona”


Alin kembali memperbaiki posisinya di atas kasur. Hazar yang dapat mendengar percakapan Alin tadi pun langsung bangkit dari duduknya, berjalan ke arah pintu, keluar dari ruangan tanpa pamit pada si penghuni ruangan. Alin hanya bisa geleng-geleng kepala.


***


“Selamat pagi Nona. Ada perlu apa Anda memanggil saya pagi buta seperti ini?” Sapa sekretaris Jon, saat Alin baru keluar dari kamar mandi bersama seorang perawat. Sekretaris Jon terlihat sedikit kesal, dia sudah menunggu Alin dari tadi hampir satu jam lamanya. Terlebih lagi ini adalah hari liburnya, yang seharusnya dia bisa bersantai-santai di rumah.


Dari lima orang majikan yang harus dia layani, Alin adalah majikan yang paling di hindarinya. Terlalu banyak alasannya, hingga dia sendiri pun bingung, kenapa dia harus menghindari si Nona Muda ini.


“Hei, sekretaris Jon! Mengapa kau cemberut begitu? Ini masih pagi, kau harus memulai harimu dengan senyuman, agar apa pun yang kau kerjakan nanti akan lancar.” Alin tersenyum cerah. Ia sangat senang, melihat raut wajah kesal sekretaris Kakeknya itu. Opss! Bukan bukan, lebih tepatnya sekretaris keluarga sebab sekretaris Jon lah yang mengurus semua keperluan keluarga mereka.


“Anda sadar ini masih pagi, dan masih menanyakan alasan wajah kusamku ini, senyum senyum” Rutuk sekretaris Jon dalam hati.


Alin duduk di kursi samping ranjangnya, perawat tadi berdiri di belakangnya untuk mengeringkan rambutnya.


“Biar aku saja” Alin mengambil alih handuk di tangan perawat “kau boleh pergi sekarang, Terimakasih” Ujar Alin.


“Saya permisi Nona” Perawat melangkah keluar.


“Apa aku mengganggu hari liburmu sekretaris Jon?” Tannya Alin basa basi. Padahal dia sangat sadar bahwa dia sangat mengganggu. Hehehe.


“Tidak Nona” Padahal raut wajahnya semakin suram.


“Kau sangat tampan berpakaian seperti itu sekretaris Jon!” Ujar Alin, memberi penilaian dengan pakaian semi formal, yang di kenakan sekretaris Jon hari itu.


“Ada perlu apa Anda memanggil saya Nona?” Sekretaris Jon tak menanggapi ocehan Alin tentang pakaiannya.

__ADS_1


“Hei, ayolah sekretaris Jon. Kau jangan kaku seperti ini, bukankah sekarang hari liburmu! Berarti sekarang kau bukan sekretaris Kakek lagi. Ah iya aku lupa!” Alin menepuk jidatnya sendiri “ jika hari ini kau bukan sekretaris Kakek, aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?” Alin tampak sedang berpikir.


“Sebutkan saja apa keperluan Anda memanggil saya Nona. Tidak perlu memikirkan yang lain” Geram sekretaris Jon. Dia berbicara dengan menautkan gigi atas dan bawanya, ia semakin kesal.


__ADS_2