
Tadi sebelum Hazar kembali ke kamarnya, Bibi Fatma sempat menceritakan tentang kisah Mama Diana dan Papa Haris. Yang mana cerita itu membuat Hazar merasa kehilangan cara untuk meminta maaf pada Alin. Karna sekarang hatinya semakin dirundung rasa bersalah.
Hazar menjatuhkan badannya di samping Alin. Memandangi wajah lelah istrinya yang tertidur lelap. Hatinya begitu sakit sekarang, setelah mengetahui betapa beratnya hidup yang dijalani oleh istrinya selama ini.
Hazar menghujani banyak ciuman ke wajah Alin. Dan itu berhasil membuat Alin terganggu olehnya.
“Mandi dulu ya... kau tidak akan nyaman tidur dengan baju ini,” ujar Hazar.
Alin hanya bergumam, membalikkan badanya membelakangi Hazar.
Hazar kembali membalikkan badan Alin, dan mendekapnya dengan kuat hingga Alin merasa sesak karna susah bernapas. Alin membuka matanya dengan malas, menatap wajah lebam Hazar.
Alin menghela napas, tangannya terangkat menyentuh pelipis Hazar yang lebam. “Akan aku obati nanti,” Ujarnya. Alin kembali menutup matanya.
Napas Alin kembali teratur tanda bahwa dia telah kembali ke dalam mimpinya. Hazar bangkit dan keluar dari kamar. Memanggil Bibi Yona.
“Bibi...minta Bibi Fatma untuk menyiapkan makanan kesukaan istriku, dan antarkan ke kamar,”
“Baik Tuan,”
“Susu untuk istriku juga!”
“Baik Tuan,”
Hazar kembali masuk ke kamarnya. Ia langsung mengangkat tubuh Alin, dan membawanya masuk ke kamar mandi. Meski istrinya itu masih tertidur lelap.
“Alin... bangunlah! Kita sudah di kamar mandi.” ujar Hazar sambil menepuk halus pipi Alin.
Alin hanya bisa merutuk saat dimandikan paksa oleh Hazar. Kepalanya terasa sedikit pusing karna tidur singkatnya yang terganggu. Tapi, saat melihat sesuatu yang terhidang di atas meja membuat ia kembali merasa hidup. Aroma khas makanan pedas langsung menyeruak masuk ke hidungnya saat ia keluar dari kamar mandi.
Alin langsung menghambur duduk di sofa. Ia berkali-kali menelan air liurnya. Saat melihat mi goreng pedas dan udang balado serta sepiring nasi hangat di depan matanya.
“Pakai bajumu!” Hazar duduk di samping Alin. Menyerahkan baju tidur yang ia ambil di ruang ganti tadi pada Alin.
“Nanti.” Alin metakan bajunya di atas sofa. Meraih sendok dan membuka acara makannya dengan menyantap mi goreng terlebih dahulu.
Hazar hanya bisa memandangi Ali dengan keheranan, hanya butuh waktu lima menit mi goreng itu pun tandas tak bersisa. Alin memulai ronde kedua meraih piring nasi dan udang balado. Hazar pun merasa lapar saat melihat alin yang dengan cepatnya menghabisi makanannya. Ia meraih sepotong sandwich dan mulai memakan sarapannya.
***
“Apa Kakak sering berkelahi?” tanya Alin saat mengobati luka di wajah Hazar.
“Malam tadi yang pertama... dan mungkin akan lebih sering sekarang,”
Alin mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti dengan ucapan Hazar barusan.
“Apa Wira juga terluka separah ini?” tanya Alin.
“Jadi, namanya Wira!”
“Kakak bahkan tidak tahu namanya, malah main hantam saja!” Alin menatap sinis pada Hazar.
“Apa aku harus berkenalan dengannya terlebih dahulu dan meminta izin sebelum menghantamnya!”
__ADS_1
“Apa salah Wira hingga Kakak memukulnya!” seru Alin geram, kini rasa marahnya yang semalam kembali bangkit. Ia menatap marah pada Hazar.
“Apa yang akan kau lakukan jika melihatku tanpa busana di depan wanita lain?” Hazar malah balik bertanya.
Alin terdiam sebentar, untuk mencerna ucapan Hazar barusan. “Mungkin... aku harus menanyakan untuk apa Kakak membuka pakaian,” jawab Alin ragu.
“Jadi kau tidak akan marah?”
Alin menghembuskan napasnya dengan kasar. “Apa Kakak berpikir aku tidak memakai busana tadi malam!” seru Alin.
“Kau nyaris telanj*ng semalam.” Hazar menatap tajam mata Alin yang juga sedang melotot ke arahnya. “Apa maksudmu berpakaian seperti itu?”
Alin membuang muka. “Aku... hanya ingin,” jawab Alin. Hazar dengan cepat menyambar tangan Alin saat wanita itu mencoba untuk lari.
“Mau kemana kau?” Hazar menarik tangan Alin, hingga Alin kembali duduk di sampingnya. “Aku belum selesai bicara,” ujar Hazar.
“Apa lagi yang ingin Kakak bicarakan?” rutu Alin dengan wajah yang sudah berkerut. “Dia semakin cerewet saja!” gumamnya.
“Jawab pertanyaanku tadi!” ujar Hazar.
“Pertanyaan yang mana lagi!” sembur Alin. “Tentang gaunku yang semalam? Ya! Aku memang sengaja memakai gaun terbuka seperti itu. Karna aku tahu Kakak sangat tidak menyukainya.” Alin menatap sengit pada Hazar. “Apa Kakak marah? Memang itu tujuanku!” lanjut Alin berapi-api. dada tampak naik turun dengan napas yang memburu. ia berkacak pinggang siap menantang Hazar.
“Kesinilah...!” Hazar menyentikan jarinya, meminta Alin untuk mendekat padanya.
Alin menjadi bingung, mengapa Hazar hanya terlihat biasa saja saat mendengar ucapannya tadi. Semangat dan emosinya yang memburu perlahan memudar. Ia menuruti perintah Hazar, ia menggeser duduknya mendekat pada Hazar. Kebiasaan alam bawah sadarnya yang selalu patuh pada Hazar.
“Maafkan aku... aku lupa memberitahu Kakek untuk membatalkan acara ulang tahunmu,” Hazar sedikit mengangkat tubuh Alin, mendudukkan istrinya itu di pangkuannya. Hazar menarik tengkuk Alin dan meninggalkan sebuah kecupan di kening Alin.
“Apa kau masih mengantuk?” tanya Hazar sambil merapikan rambut Alin, dan menyelipkannya ke belakang telinga.
“Iya, aku mau tidur sekarang.” jawab Alin cepat.
“Tidurlah... akan aku bangunkan kau jam dua nanti,”
“Tidak perlu, aku bisa bangun sendiri!” Alin hendak berdiri dari pangkuan Hazar, namun tidak bisa. Karna, Hazar kembali mengunci pinggangnya. “Apa lagi!” seru Alin malas.
“Apa... aku harus menidurkanmu?” tanya Hazar.
Alin menatap Hazar dengan sinis. “Aku capek, dan aku lagi ngga mau!” rutu Alin sambil mencoba melepaskan tangan Hazar dari pinggangnya.
“Apanya yang kau tidak mau... Aku hanya ingin meninabobokanmu. Memangnya apa yang kau pikirkan?” Hazar mengerutkan keningnya menatap Alin.
Alin terlihat salah tingkah. Memangnya apa yangku pikirkan? Batinnya.
Hazar menyeringai menatap Alin yang membuang muka tak mau menatap ke arahnya.
“Lepas! Aku tidak butuh dininabobokan,” Alin mencubit lengan Hazar, dan ia berhasil melepaskan diri.
*
Hazar kembali keluar dari kamar saat Alin kembali terlelap. Istrinya itu memang patut diberi gelar putri tidur. Jika sudah bertemu bantal hanya butuh waktu kurang dari lima menit dia akan tepar, dan tak sadarkan diri lagi.
Hazar masuk ke ruang kerjanya, disusul oleh Bibi Fatma dan Karin. Mereka tampak mendiskusikan sesuatu. Karin berulang kali menuliskan dan membacakan apa saja yang Hazar sebutkan tadi. Kemudian menghubungi seseorang dengan ponselnya.
__ADS_1
Karin, Bibi Fatma dan beberapa pelayan di rumah belakang tampak sedang beberes seperti hendak pergi ke suatu tempat. Sementara Hazar kembali masuk ke kamarnya, dengan menjinjing laptop di tangannya.
*
Wira tidak merasa heran lagi saat dia mendapat telepon dari Sekretaris yayasan. Sudah dapat ia duga, pasti tidak jauh dari kejadian malam tadi. Dia yang dengan beraninya memukuli menantu kesayangan Ketua Yayasan.
“Silakan dibaca dulu,” Sekretaris Jon meletakan sebuah amplop cokelat ke atas meja di depan Wira.
Wira langsung membuka amplop tanpa harus disuruh untuk kedua kalinya.
“Jika dokter setuju silakan ditanda tangani,” Sekretaris Jon meletakkan sebuah pena di atas meja.
Wira tertawa sumbang menatap Sekretaris Jon. “Aku kira... aku akan dituntut di pengadilan karna telah memukuli orang kaya.” Wira masih saja tertawa. “Ternyata dunia orang kaya tidak seperti yang aku lihat di televisi. Aku malah untung sekarang.” lanjutnya.
Sekretaris Jon hanya diam tidak menggubris ucapan Wira tadi.
Wira meraih pena yang ditaruh Sekretaris Jon tadi langsung membubuhkan tanda tangannya.
“Uangnya sudah saya transfer ke rekening Anda,” ucap Sekretaris Jon setelah menghubungi seseorang melalui ponselnya.
“Apa aku boleh pergi sekarang?”
“Silakan dokter,”
***
“Nona... ! Bangunlah bukankah kita akan pergi siang ini?” ujar Bibi Fatma sambil mengguncangkan bahu Alin.
“Hmmm.... jam berapa sekarang?” gumam Alin dengan suara khas bangun tidur.
“Sudah jam tiga sore Nona,”
Alin membuka matanya dengan malas. “Aku akan bersiap,” ujarnya.
“Baiklah Nona... saya akan menunggu Anda di bawah.”
Alin berkali-kali menguap, dengan langkah yang terseok-seok dia masuk ke ruang ganti.
*
“Anda sudah siap Nona,” sapa Karin saat Alin telah berada di lantai bawah.
“Ya!...” Alin mengitari pandangannya ke sekeliling rumah. “Dimana Kak Hazar?”
“Tuan Hazar sedang menunggu Anda di suatu tempat Nona,” jawab Karin.
“Menungguku?”
“iya, Nona. Mari saya antar,”
Alin menghela napas dan menghembuskannya dengan kesal. “Aku sudah ada janji dengan Bibi Fatma.” ujar Alin.
"Cih... dia memang selalu menyebalkan, dan selalu berbuat semaunya." rutuk Alin kesal.
__ADS_1