Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 78


__ADS_3

“Aku masih ingin lama duduk di sini,” Alin menatap sebal pada Bibi Yona dan Karin. “Tapi aku harus pergi, jika Bibi dan Mbak Karin, tetap berdiri seperti ini.”


“Jangan hiraukan kami, Nona. Silakan nikmati waktu, Anda.” Ujar Karin.


“Tidak ada yang bisa aku nikmati jika begini!” Alin berdiri dari duduknya, menarik tangan Bibi Yona untuk ikut duduk di kursi taman. “Bibi, duduklah. Bisa encok tulang Bibi jika berdiri terus.” Alin menatap Karin. “Mbak Karin, mau duduk sendiri, atau mau aku bantu?”


Akhirnya Karin pun memilih duduk juga. Dan saat Karin dan Bibi Fatma telah duduk manis di kursi taman, Alin malah pergi dari sana.


“Anda, mau ke mana, Nona!” Karin kembali bangkit dan mengejar langkah Alin. Bibi Yona pun melakukan hal yang sama.


Alin menghela napas panjang, dan menghentikan langkahnya. Ia kembali menatap sebal pada Karin. “Aku hanya mau memetik bunga, Mbak Karin.” Jawabnya jengah.


“Bunga apa yang Anda inginkan, Nona? Akan saya ambilkan.”


“Aku mau memetiknya sendiri.” Alin bersedekap, menatap tajam pada Karin. “Apa yang diperintahkan oleh Kak Hazar, hingga Mbak Karin harus seperti ini padaku? Aku hanya mau memetik bunga, bukan memanjat pohon! Ini samasekali tidak membahayakan.” racau Alin dengan emosi.


“Bukan aku yang menyuruhnya.” Tiba-tiba saja Hazar sudah muncul di sana. Hazar memberi isyarat pada Karin, untuk meminta meninggalkannya dan Alin di sana.


Karin dan Bibi Yona pun pamit undur diri.


“Kau mau memetik bunga?”


Alin mengangguk, dengan mata meneliti raut wajah Hazar. Ia tidak terlalu yakin kalau Hazar akan mengizinkannya.


“Tunggulah di sini sebentar. Aku ambilkan gunting.” Hazar pun pergi dari sana.


Mata Alin mengerjap tak percaya. Apa yang tadi benar suaminya? Bagaimana bisa Hazar mengizinkannya untuk beraktivitas di bawah teriknya matahari, dan memetik bunga tentu ia akan berhadapan dengan tanah dan duri-duri tajam. Apa sifat posesif suaminya sudah mulai berkurang? “Oh, ini sangat menyenangkan!” seru Alin riang. Ia sudah tidak sabar ingin memetik bunga-bunga yang bermekaran.


Dua menit kemudian...


“Hanya satu!” seru Alin tak percaya. Pupus sudah semua euforia Alin dua menit yang lalu. Ternya Hazar hanya mengizinkan memetik satu tangkai bunga, tidak lebih.


“Memangnya kau mau memetik berapa? Cepat petik sekarang atau tidak samasekali!”


Alin menatap tak percaya pada setangkai bunga yang sudah dibersihkan duri-durinya dan sedang dipegang oleh tukang kebun. Jadi ia hanya tinggal mengguntingnya, si bapak tukang kebun juga yang akan memegang bunga jika sudah digunting nanti. Dan hanya untuk memegang sebuah gunting ia harus menggunakan sarung tangan. Ini lebih mirip dengan acara pemotongan pita untuk meresmikan sesuatu. Tidak seperti memetik bunga yang tadi dibayangkannya.


Alin tergelak, ia merutuki dirinya sendiri yang tadi sempat bereuforia. “Ya, sadar Alin, sadar! Suamimu adalah seorang Hazar. Bukan manusia biasa.” Batin Alin.


“Kenapa kau malah tertawa? Kau tidak mau memetiknya?”


Alin tersenyum, matanya menatap tak percaya pada Hazar. “Tidak, aku akan memetiknya. Akan sayang, jika tidak jadi. Aku sudah memakai sarung tangan.” Alin mengangkat kedua tangannya.


Saat gunting telah bersiap di tangkai bunga, Alin kembali menatap suaminya. "Anggap saja ini peresmian cintaku pada, Kakak." batinnya.


"Apa yang kau pikirkan?" Hazar seperti tahu kalau Alin sedang memikirkan sesuatu.


"Eh," Alin kebingungan mau menjawab apa, namun suatu ide berlian muncul di benaknya. "Apa Kakak mau... Kakak saja yang memegang bunganya saat aku potong nanti." Mata Alin mengerjap manja, ia sangat berharap kalau Hazar mau menuruti kemauannya sekarang, meski ia tidak terlalu berharap sepenuhnya. Karna ia tahu Hazar bisa saja menolak permintaannya. Di luar dugaan! Bukannya penolakan yang ia terima, Hazar malah memeluknya dari belakang. menggenggam kedua tangannya dan membimbingnya untuk memetik setangkai bunga keramat itu.


*


Saat makan siang, ternya tak seburuk yang Alin bayangkan. Sebelum masuk ke ruang makan tadi ia sempat berpikiran buruk kalau ia akan kembali merasa mual karna bau makanan, ternyata tidak. Ia malah makan banyak hingga Hazar pun terheran-heran dibuatnya.


“Makanlah pelan-pelan. Tidak ada orang lain yang mau mengambil makananmu!” Hazar membelai kepala istrinya dengan sayang.


“Kakek sama Papa, ke mana?” tanya Alin dengan mulut penuh.

__ADS_1


“Mereka sedang ke kantor.”


“O.” Alin mangut-mangut, kembali fokus pada makanannya. “Oh, aku tidak boleh makan banyak.” Alin menatap sendu pada piringnya yang hampir kosong.


“Siapa yang melarang!?” Hazar setengah berteriak. Istrinya sangat membutuhkan banyak nutrisi sekarang. Siapa pula yang berani melarangnya untuk banyak makan.


Mata Alin mengerjap tak percaya. Hari ini benar-benar banyak kejutan yang terjadi.


“Siapa yang melarangmu untuk makan?” Hazar mengulangi pertanyaannya.


“Eh, tidak ada yang melarang. Aku hanya harus menyisakan sedikit ruang di lambungku. Karna tadi aku menitip rujak sama Mama.”


“Kau menginginkan rujak?”


“Tidak.” Alin menggeleng cepat. “Aku tadi hanya bingung ingin menitip apa pada Mama.” jawab Alin lirih, matanya memandang sendu pada sisa makanan yang masih banyak di atas meja.


Hazar mengerutkan keningnya. Menatap bingung pada Alin. “Mengapa begitu?”


Alin menghela napas terlebih dahulu, sebelum kemudian menjawab pertanyaan Hazar. “Mama tadi bertanya, kalau aku mau titip apa? Saat aku jawab tidak ada, Mama malah memintaku untuk berpikir. Ya, aku bingung mau jawab apa. Jadi aku katakan saja kalau aku titip rujak!”


Hazar menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata kebiasaan memaksanya berasa dari Mama Rosa. “Makan yang banyak. Biar aku yang makan rujaknya nanti.”


Mata Alin mengerjap bahagia. “Benarkah!?”


“Hmmm... Habiskan makananmu,”


“Aku boleh nambah?”


***


Alin memejamkan matanya, menghirup udara segar sedalam-dalamnya untuk memenuhi seluruh rongga parunya. Sekarang ia tengah bersantai di teras samping rumah, setelah makan dengan sepuasnya. Perutnya terasa sangat kenyang dan penuh. Ia tak sendirian di sana. Ada Bibi Fatma dan Bibi Yona yang menemaninya. Sementara suaminya sedang berada di ruang kerja bersama Karin.


“Tidak usah. Bibi, duduk saja.”


“Kalau begitu saya permisi ke dapur sebentar,” ujar Bibi Fatma lagi.


“Bibi, mau ngapain lagi? Bibi mau minum?”


“Saya ada perlu sebentar. Nona, tunggulah di sini.” Bibi Fatma mengusap punggung tangan Alin yang sedang menahan lengannya untuk tidak pergi dari sana. “Cuma sebentar.”


Akhirnya Alin pun membiarkan Bibi Fatma untuk pergi.


“Panas-panas begini, akan enak jika kita minum jus mangga. Iyakan, Bibi!” ujar Alin pada Bibi Yona yang diam saja sedari tadi. Ya, Bibi Yona terlihat sangat kaku duduk di sampingnya.


“Sebentar, saya buatkan, Nona.” Bibi Yona langsung hendak berdiri.


“Eitss...” Alin cepat menahan tangan Bibi Yona. “Aku hanya berpendapat, Bibi. Bukan menginginkannya.” Lanjut Alin. “Bibi, duduk saja. Aku sudah kenyang dan tak ada ruang lagi di sini.” Alin mengusap-usap perutnya.


Namun tak lama setelah itu, Bibi Fatma kembali ke teras dengan membawa sebuah nampan berisikan tiga gelas jus mangga.


Mata Alin sontak mengerjap kagum. “Apa Bibi sudah bisa membaca pikiran orang?” Alin menyambut gelas jus miliknya dengan suka cita. Dan langsung meminumnya.


“Pelan-pelan, Nona. Perut Anda bisa sakit jika tergesa-gesa seperti ini.” Ujar Bibi Fatma, menatap khawatir pada Nonanya.


Alin meletakan gelasnya ke atas meja, jus miliknya sekarang hanya tersisa setengah. “Hmmm.... Sangat segar, Bibi!” serunya senang. Alin cengengesan saat mendapati wajah heran Bibi Yona. “Ternya masih ada ruang di sini, Bibi.” Alin menunjuk perutnya sendiri. Itu belum sampai dua menit setelah ia mengatakan perutnya sudah kenyang dan tak memiliki sisa ruang di sana. Tapi nyatanya segelas jus hampir ludes hanya dalam hitungan detik.

__ADS_1


Alin berkali-berkali menguap, mungkin karna faktor perut yang kenyang, dilatari oleh sejuknya suasana teras dengan semilir angin yang menenangkan. Membuat Alin tak kuasa menahan kantuknya.


“Bibi, aku ke kamar dulu.” Pamitnya pada Bibi Yona dan Bibi Fatma.


“Baik, Nona.”


***


Sementara di tempat lain, Papa Haris sedang termenung di ruangannya. Pikirannya benar-benar buntu sejarang. Merahasiakan kehamilan dari Alin tentu bukan hal yang mudah. Putrinya terlalu pintar untuk dikecoh. Cepat atau lambat Alin pasti akan mengetahui kehamilannya. Sejak mendengar pernyataan Hazar semalam, Papa Haris baru mengetahui kekacauan apa yang akan timbul jika Alin tiba-tiba saja hamil.


Papa Haris memandang surat perjanjian yang dibuat Alin bersama Dokter Qori. Di sana telah tertulis dengan jelas kalau Alin akan menggugurkan kandungannya jika saja sewaktu-waktu dia hamil.


Papa Haris mengusap wajahnya dengan kasar. Sebenarnya apa yang membuat Alin tidak bisa menerima Hazar? Hazar adalah laki-laki yang baik dan sangat mencintai putrinya itu.


Papa Haris tertegun, tiba-tiba saja ia teringat akan sesuatu. Perjodohan! Ya, ia kembali teringat saat dimana putrinya terikat di atas ranjang pasien, setelah melakukan percobaan bunuh diri. Ia dan Papa Setyo telah mengancam Alin sedemikian rupa hingga putrinya itu terpaksa menyetujui perjodohan itu. Papa Haris langsung bangkit dari duduknya, meraih ponsel dan kunci mobil, langsung berhambur keluar dari ruangannya.


***


Sudah hampir lima belas menit Alin berbaring di kasur. Ia merasa sangat mengantuk, namun ia tak bisa tertidur. Alin membolak balikan tubuhnya, mencari posisi yang nyaman, namun itu samasekali tak berpengaruh. Ia masih tetap terjaga. Alin meraih ponselnya, dan menghubungi nomer suaminya.


“Ada apa?” saut Hazar dari seberang telepon.


“Kakak, sedang sibuk?”


“Tidak, ada apa?”


Tut! Tanpa menjawab Alin langsung memutuskan panggilan telepon. Ia turun dari ranjang dan ke luar dari kamar.


Tok! Tok! Tok! Alin mengetuk pintu ruang kerja Hazar.


Hazar yang saat itu sedang duduk di meja kerjanya pun menyahut dari dalam. “Masuk!” teriaknya.


Alin membuka sedikit pintu ruang kerja Hazar. Hanya kepalanya yang menyembul di balik pintu. Ia memperhatikan seluruh ruangan, hanya Hazar sendiri di sana. “Ke mana perginya Mbak Karin?” batin Alin. Karna merasa aman, tak ada orang lain di sana, Alin pun masuk ke dalam ruangan.


Hazar pun hanya diam memperhatikan istrinya dari meja kerjanya. Belakangan ini ia sudah terbiasa dengan keanehan sikap istrinya. Mungkin itu bawaan dari bayi mereka? “Oh, Nak! Terserah apa yang mau kau perbuat. Tapi jangan menyusahkan Mamamu.” Gumam Hazar, matanya masih setia mengikuti segala gerak-gerik istrinya yang sekarang sudah duduk di sofa.


Alin merasa jengkel, karna Hazar tak menghiraukan kehadirannya. Menyambutnya saja tak Hazar lakukan. Ia merasa seperti tamu yang tak diundang di ruangan itu. Terserahlah ia memang datang tanpa diundang!


Alin mengalihkan matanya untuk menatap ke arah meja kerja Hazar dengan penuh keraguan. Ia terlonjak kaget. Ternyata Hazar sedang melotot ke arahnya. Entah melotot atau tidak, yang penting suaminya itu juga sedang melihat ke arahnya dengan segala kebisuan.


Alin menyengir. “Hmmm... Apa aku mengganggu?” tanyanya, kedua ibu jarinya saling bermain kuku. Jujur saja ia sedikit gelisah melihat diamnya Hazar.


“Ke sinilah!” Hazar menjentikkan jari telunjuknya, meminta Alin untuk mendekat ke sana.


“Eh,” Alin malah semakin kikuk saat disuruh Hazar untuk mendekat ke sana. Tapi ia juga tidak berani untuk menolak.


Saat Alin hampir sampai di dekatnya, Hazar langsung memutar kursinya untuk menyamping dari meja kerjanya. Ia membuka kedua tangannya lebar-lebar. Bersiap menanti Alin untuk ikut bergabung dengannya di sana.


*


*


*


Ini sudah saatnya Author ingin berbincang-bincang dengan Kakak-kakak para pembaca setianya Alin dan Hazar! 🙏😁 Terimakasih... Kakak... Terimakasih.😘😘😘

__ADS_1


Setidanya ada 30 pembaca setia yang sering meninggalkan jejak di sini, memberi like dan comen. Dan ada juga yang berbaik hati memberi Vote untuk Alin dan Hazar, Novel yang hanya remahan roti ini 😥 Pertama-tama Author ucapkan banyak terimakasih pada Kakak-kakak semua 🙏😍😘 Semoga Kakak semua selalu sehat dan berbahagia. Amin 🤲😇


Berhubung Novel ini akan segera Tamat, jangan sampai bosan ya Kak, menanti Alin dan Hazar hingga di penghujung kisah mereka. Meskipun Authornya agak lelet Up nya 🙏🙏🙏😊 Terimakasih... Kakak... Terimakasih.🤗🤗🤗


__ADS_2