
Apa yang diharapkan Angel pun terjadi...
Pagi itu rumah utama dikejutkan oleh kepulangan Hazar beserta Kakek, Mama dan papanya. Bibi Yona beserta pelayan yang lainnya pun juga ikut terkejut. Sebab kepulangan keluarga besar itu samasekali tidak mereka ketahui.
“Aku mau ke kamar dulu,” ujar Hazar sambil terus melangkah menghampiri tangga.
“Apa kau sudah serindu itu pada Alin, sampai meninggalkan kami disini. Makanya kalau tahu mau pergi lama harusnya kau bawa dia kemana pun kau pergi,” ujar Papa Adi sedikit berteriak agar godaannya bisa didengar oleh Hazar yang semakin menjauh. “Jangan lupa beri istrimu sarapan dulu sebelum kau mengajaknya berolahraga. Aduh...!” Papa Adi tiba-tiba saja mengaduh dan berhenti berteriak. “Kamu apa-apaan sih, Ma.” Rutuk Papa Adi saat pinggangnya dicubit oleh Mama Rosa.
“Berhentilah menggoda anakmu.” cibir Mama Rosa sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Kakek Tomi.
“Undanglah Setyo dan Haris untuk makan malam disini. Kita belum pernah menjamu keluarga Alin.” ujar Kakek Tomi.
“Iya, Pa. Akan aku siapkan semuanya.”
***
Karna hari ini adalah jadwal liburnya Alin pun bermalas-malasan didalam kamar. Ia sudah bangun sejak tadi tapi masih malas untuk turun dari kasur. Karna posisinya yang sedang membelakangi pintu, Alin pun tidak menyadari kedatangan Hazar disana. Alin terkejut karna merasakan ada pergerakan di belakangnya disusul dengan melingkarnya lengan seseorang diperutnya.
“Kakak...” pekik Alin. Dia dapat melihat wajah Hazar saat dia mengalihkan kepalanya.
“Kau sudah bangun?” tanya Hazar sambil mengeratkan dekapannya pada tubuh Alin.
“Hmmm... Ya...” jawab Alin sambil menggeliat berusaha menjauhkan wajah Hazar dari ceruk lehernya.
“Apa kau lapar?” tanya Hazar sambil terus mengendus leher Alin.
“Tidak, memangnya kenapa?”
“Baguslah, aku tidak perlu menundanya lagi.” ujar Hazar sambil menelentangkan tubuh Alin dan menindihnya.
***
Senyuman di bibir Angel tak pernah pudar sejak tadi pagi. Ia merasa sangat bahagia sekarang, bahkan kebahagiaannya melebihi dari kebahagiaan Hazar yang sedang melepaskan kerinduannya pada Alin. Bagaimana tidak, sudah berhari-hari dia memikirkan bagaimana caranya agar Nyonya Rosa pulang ke rumah itu. Tapi dia masih saja tidak menemukan caranya. Kepulangan keluarga besar itu bagaikan sebuah Oase untuknya. Membuat hatinya serasa berbunga-bunga, tinggal satu langkah lagi. Maka rencananya pun akan berhasil. Dia akan bisa memiliki Hazar dan menjadi Nyonya di keluarga itu.
Angel tetap merasa paling bahagia, meskipun tadi pagi ia harus merasa sedikit kecewa sebab Hazar dan Alin tidak ikut serta sarapan di bawah, sudah bisa ia pastikan apa penyebabnya Alin dan Hazar tidak bisa sarapan bersama di bawah.
“Angel...” panggil Bibi Yona, tapi yang punya nama malah tidak menyadari panggilannya itu. Angel malah makin asik mengaduk sesuatu di depan kompor dengan bibir yang tak henti-hentinya mengembang. “ANGEL!!!”
Angel terlonjak kaget, ia bahkan menumpahkan sedikit bumbu yang sedang diaduknya.
“Ada apa sih Bibi, teriak-teriak segala.” sewot Angel.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Bibi Yona menatap Angel penuh sidik.
“Bukan urusan Bibi. Ada apa Bibi memanggilku?”
__ADS_1
“Nyonya Rosa memanggilmu. Cepatlah keluar beliau sedang di ruang tengah sekarang.” Ujar Bibi Yona.
Angel mengangguk dan kembali tersenyum senang. “Lanjutkan ini,” Angel meminta asistennya untuk mengambil alih masakannya. Kemudian dia melenggang dengan pongahnya menuju ruang tengah.
*
Angel kembali masuk ke dapur dengan wajah berkerut. Ia terus saja merengut sepanjang langkahnya dari ruang tengah. Nyonya Rosa memanggilnya tadi hanya untuk meminta dia agar menyiapkan jamuan makan malam untuk menyambut keluarga Alin yang akan bertamu ke rumah ini nanti malam. Dan hatinya semakin bertambah kesal, saat Nyonya Rosa kembali menanyakan namanya. Ya, Nyonyanya itu selalu saja lupa dengan namanya.
“Siapa namanya? Kok saya bisa lupa terus ya dengan nama kamu,” Ini akan selalu menjadi kalimat pembuka saat Nyonya Rosa ingin memulai pembicaraan dengannya.
“Angel, Nyonya.” jawabnya dengan hidung mengembang karna kesal.
“Bagaimana bisa dia selalu saja lupa dengan namaku. Apa aku barus selalu memperkenalkan diri setiap hari saat aku jadi istri Hazar nanti!” rutuk Angel.
***
Alin merutuk kesal, karna Hazar baru saja memberitahunya bahwa dia tidak pulang sendirian, ada Kakek Tomi, Mama Rosa dan juga Papa Adi di bawah.
“Mengapa kau harus marah? Kau bisa saja menyapa mereka nanti. Sekarang tidurlah lagi.” Hazar kembali menarik tangan Alin, membuat Alin kembali berbaring di sampingnya. “Mereka pasti juga sedang istirahat sekarang.”
“Aku mau sarapan.” Alin menggeliat mencoba meloloskan diri.
“Sarapanmu akan diantar sebentar lagi.”
“Pergilah...” ketus Hazar sambil melepaskan dekapannya.
Alin pun tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung bangkit dan masuk ke kamar mandi. Mengabaikan kekesalan Hazar.
*
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian Alin langsung turun ke lantai bawah. Ia langsung disambut oleh teriakan Mama Rosa.
“Alin... Sini...”
Alin langsung mempercepat langkahnya menghampiri Mama Mertuanya itu. “Mama... maaf, Alin baru saja bangun tidur.” ujarnya.
Mama Rosa langsung menarik tubuh Alin ke dalam dekapannya. “Tidak apa-apa.” Mama Rosa mengusap-usap punggung Alin.
Alin menyalami Kakek Tomi yang duduk di kursi roda kemudian menyalami Papa Adi secara bergantian. Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah hari pernikahan beberapa bulan yang lalu.
Ini adalah yang pertama kalinya bagi Alin, duduk berkumpul mengitari sebuah meja, berbincang hangat layaknya sebuah keluarga. Tapi, bukan hanya rasa hangat yang menyelimuti hatinya sekarang, kegundahan dan keraguan pun juga ikut mengusik hatinya. Sebab, tak jarang pengalaman pertamanya juga bisa menjadi yang terakhir.
Setelah selesai bertukar kabar dan berbincang-bincang ringan. Mama Rosa pun teringat akan sesuatu.
“Alin, belum sarapan?” tanya Mama Rosa.
__ADS_1
“Nanti saja, Ma.” Jawab Alin. Rasanya dia sangat enggan meninggalkan perbincangan mereka.
“Sarapan dulu... nanti sakit. Biar Mama yang temani.” Ujar Mama Rosa sambil berdiri dan menarik tangan Alin untuk ikut bersamanya.
“Mau kemana?” Hazar baru saja muncul dan hendak bergabung dengan keluarganya. Tapi, Mamanya malah mengajak Alin untuk pergi.
*
Sore itu Kakek Setyo, Papa Haris dan Amel pun bersiap-siap hendak pergi ke rumah Hazar. Untuk memenuhi undangan Kakek Tomi yang mengajak mereka untuk makam malam bersama.
“Jangan pernah kau ungkit masalah Alin pada keluarga Hazar!” ancam Kakek Setyo saat Papa Haris hendak melangkah masuk ke dalam mobil.
Papa Haris menghentikan langkahnya, menatap datar pada Kakek Setyo. “Bukan aku yang harus Papa suruh tutup mulut. Tapi, Alin. Sepertinya dia sangat ingin Hazar tahu tentang itu.” Ujar Papa Haris.
Kakek Setyo hanya terdiam dengan rahang yang terlihat mengeras. Pancaran kemarahan tampak dari bola matanya.
Amel yang saat itu sedang berdiri di belakang Papa Haris pun merasa penasaran. Ia mempertajam pendengarannya dan melangkah mendekati Kakek Setyo dan Papa Haris.
“Memangnya ada masalah apa dengan Alin?” desak Amel karna Kakek Setyo dan Papa Haris malah sama-sama terdiam saat ia telah mendekat.
Amel langsung diam dan tertunduk saat melihat Kakek Setyo melotot ke arahnya.
“Apa mereka sudah tahu kalau Alin mandul. Tapi, mengapa harus dirahasiakan dariku. Dan mengapa Papa Setyo tidak marah dan mencampakkan Alin. Seharusnya dia langsung meminta David untuk pulang dan menjaga putraku itu dengan baik, saat dia tahu kalau Davidlah satu-satunya harapan dia sekarang.” Batin Amel.
***
Makan malam itu pun berjalan sebagaimana mestinya. Terselip berbagai obrolan ringan saat mereka menikmati hidangan makan malam. Hanya Alin yang terlihat banyak diam. Ia hanya bersuara saat Mama Rosa bertanya padanya, dan jawabannya pun selalu singkat dan kaku.
Amel awalnya pun juga kurang menikmati makan malam keluarga itu. Karna dia masih penasaran dengan obrolan Kakek Setyo dan Papa Haris tadi. Tapi, semangatnya langsung bangkit saat Mama Rosa mengungkit masalah oleh-oleh. Meski hidupnya berkecukupan dan berlimpah barang mewah, Amel tetaplah manusia biasa yang sangat bahagia bila dihadiahi sesuatu oleh orang lain. Ia bahkan sudah tidak sabar untuk mengetahui hadiah apa yang Mama Rosa siapkan untuknya. "Pasti barang mewah." batinnya.
Usai makan bersama, kini mereka berpindah ke ruang tengah untuk melanjutkan obrolan mereka.
“Alin, Hazar. Kalian tahu waktu Kakek tidak akan lama lagi.” Ujar Kakek Tomi membuka pembicaraan di ruang tengah. Pembicaraan saat ini sangat berbeda dari ruang makan tadi. Suana ruang tengah pun tiba-tiba saja menjadi hening. Semua kepala pun ikut tertunduk saat Kakek Tomi memulai pembicaraan.
Semua orang di ruangan itu pun sudah bisa menebak kemana arah tujuan pembicaraan Kakek Tomi saat ini. Kakek Setyo adalah orang yang paling merasa gusar sekarang.
Sedangkan Papa Haris dan Alin terlihat datar saja.
Bibir Amel langsung terkembang sempurna. Rasanya, Kakek Tomi baru saja memberikannya hadiah berupa sebongkah berlian.
*
*
*
__ADS_1