Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 26


__ADS_3

David tentu tidak tinggal diam, saat melihat mamanya di perlakukan seperti itu. Dia hendak mendorong Alin, namun alin kembali bisa menghindar. Amel yang saat itu berada di dekat Alin, kembali bertindak, ia langsung menjambak rambut Alin dengan kasar. Alin tidak menjerit saat kulit kepalanya terasa hampir terlepas, karna kuatnya jambakan Amel. Ia langsung menginjak kaki Amel dengan sentakan kuat, hingga rambutnya pun terlepas, namun kuku Amel tidak dapat Alin hindari hingga melukai pipinya.


“Aww! Aduh.” Amel kembali mengaduh. Dia sudah terduduk di lantai, kakinya terasa sangat nyeri, ibu jari kakinya tampak mengeluarkan darah.


“Mama tidak apa-apa!” David berjongkok hendak membantu Amel. Alin langsung menerjang punggung David dari belakang, hingga David pun tersungkur di samping Mamanya.


“Sudah jelas Mama Lo mengaduh kesakitan. Masih nanya Mama tidak apa-apa!.” cibir Alin. “Sebagai seorang dokter, Lo terlihat seperti orang bodoh dengan pertanyaan tadi.” Ujar Alin, kemudian masuk ke dalam lift.


Beruntung, kejadian tadi terjadi di lantai atas. Karna hanya ruangan Haris yang ada di lantai itu. Hanya Dina yang menyaksikan kejadian tadi, hingga dia masih mematung di tempatnya berdiri tanpa bergerak sedikit pun.


David membantu Mamanya untuk berdiri. “Hei! Apa kau hanya akan diam di situ. Bantu aku!” hardik David, yang melihat Dina hanya diam menyaksikan penderitaannya dan Mamanya.


“Ba-baik Tuan!” Dina langsung berlari mendekat.


“Kamu gendong Mama! Kaki Mama sangat nyeri saat di pijakkan.” Ujar Amel.


“Mana kuat aku Ma!” David tampak berkerut, mendengar permintaan Mamanya barusan.


“Cepat!” Amel menarik lengan David. Dengan terpaksa David pun menggendong Mamanya dengan susah payah.


“Cepat bukakan liftnya!” Seru David pada Dina. Wajah David sudah memerah menahan beban.


Sudah berkali-kali dina menekan tombol yang ada di dinding lift. Namun pintu itu masih tidak mau terbuka. Wajah Dina sudah tampak ketakutan.


“Mengapa lama sekali!” David kembali menghardik Dina.


“Saya juga tidak tahu Tuan.” Dina menundukkan kepalanya. Tangannya masih berusaha menekan tombol apa pun yang ada di dinding lift.


Karna hanya ada satu lift di lantai itu, David pun terpaksa melewati tangga untuk membawa Mamanya ke lantai bawah.


***


“Apa yang kamu lakukan dengan sapu itu?” tanya Wira heran, melihat Alin merentangkan tangkai sapu di pintu lift khusus petinggi rumah sakit.


“Bukan apa-apa!” Alin menepuk-nepuk tangannya. “Beres!” serunya riang. “Ayo kita kemon!” Alin menggandeng tangan Wira menuju ruang kerja mereka.


“Mengapa pipi kamu bisa terluka?” Wira memperhatikan pipi Alin dengan saksama.


“Ini hanya tergores oleh kuku mak lampir. Bukan masalah besar.” jawab Alin dengan santainya.


“Mengapa kamu tidak masuk kemarin?” tanya Wira lagi.


“Mengapa! Lo kangen!” ujar Alin.


Wira tidak menyahut, dia sudah merasa bersalah karna bertanya pada Alin. Yang tentunya Takkan ada jawaban yang bisa ia dapati.


Ponsel Alin bergetar, tanda ada sebuah panggilan masuk. Ia pun menghentikan langkahnya. Meraih ponsel yang ia simpan di saku celananya. Sementara Wira tetap melanjutkan langkahnya.


Alin mengerutkan keningnya. Sebuah nomer asing terpampang di layar ponselnya. Karna sedang malas berbasa-basi dengan si nomer asing, Alin pun memutuskan panggilan telepon. Kembali mengejar Wira yang sudah jauh berjalan.

__ADS_1


“Siapa sih!” rutuk Alin. Ponselnya kembali bergetar. Dengan malas ia pun mengangkatnya. “Halo!” Ujarnya ketus.


“Apa kau tidak bisa berbicara dengan sopan!” Hardik orang di seberang telepon.


Alin menghela napas. “Kak Hazar!?”


“Ya! Apa kau tidak tahu ini nomer ku!”


“Sekarang aku sudah tahu.” Jawab Alin sekenanya. “ada apa Kakak meneleponku?”


“Apa aku butuh alasan untuk meneleponmu!” kembali terdengar suara kesal Hazar.


“Tentu butuh alasan Kakak! Lalu untuk apa Kakak meneleponku?” Alin sudah mulai dibuat kesal.


“Apa kau baik-baik saja?”


“Tentu aku baik-baik saja! Memang Kakak berharap aku kenapa?” Alin malah balik bertanya.


Tut! Hazar memutuskan panggilan telepon seenaknya.


“Cih! Dia sendiri tidak tahu sopan santun. Malah menyuruhku bersikap sopan padanya.” Alin merutuk. Memasukkan kembali ponselnya ke saku celanya.


*


“Apa videonya sudah kau kirim?” Tanya Hazar pada Karin, saat ini dia sedang melangkah menuju kantor Kakek Alin.


“Selamat datang Tuan, silakan masuk.” Sapa sekretaris Jon yang menyambut kedatangan Hazar, dan langsung membukakan pintu untuk Hazar.


Hazar tidak menyahut, dia langsung masuk ke ruangan Kakek Alin dengan langkah lebar. Kakek yang saat itu sedang duduk di kursi meja kerjanya, langsung berdiri menyambut kedatangan cucu menantunya.


“Duduklah!” ujar Kakek.


Saat mereka berdua telah sama-sama duduk di sofa, sementara sekretaris Jon dan Karin berdiri di belakang Tuannya masing-masing.


“Kau mau aku berbuat apa pada mereka?” Kakek langsung bertanya pada inti kedatangan Hazar saat ini. Tentunya tidak jauh dari keributan yang terjadi di rumah sakit tadi.


“Alin bukan hanya sekedar cucu Kakek lagi, dia juga sudah menjadi bagian dari keluarga Taesan grup. Tindakan Tante Amel dan David tadi, sudah seperti melecehkan keluarga kami. Menurut Kakek, apa yang bisa aku lakukan terhadap mereka!” Hazar menatap tajam pada Kakek. Tidak ada raut keramahan di wajahnya sekarang.


Kakek terdengar menghela napas. “Akan aku peringati mere dengan caraku. Kau juga bisa bertindak terhadap mereka, aku tidak akan melarangnya.” Ujar Kakek. Dia memang tidak terlalu peduli dengan Amel dan David saat ini.


“Cukup Kakek saja yang memperingati mereka kali ini. Dan mintalah mereka untuk meminta maaf pada istriku secara langsung.” Hazar bangkit dari duduknya. Langsung melangkah pergi tanpa pamit, Karin pun mengekorinya dari belakang.


“Dimana mereka sekarang?” tanya Kakek.


“Nyonya dan Tuan David masih di rumah sakit Tuan.” jawab sekretaris Jon.


“Suruh mereka segera pulang.”


“Baik Tuan.”

__ADS_1


***


“Duduklah!” ujar Wira.


“Lo mau apa?” Alin merut, duduk di samping Wira.


Wira meraih sebuah salep di atas meja, membuka tutupnya dan mendekatkan wajah Alin padanya.


“Kamu bertengkar lagi dengan David?” tanya wira saat mengolesi salep ke luka di pipi Alin.


“Hmmm. Sama Mamanya juga.” jawab Alin. Alin mengerjapkan matanya wajah mereka sekarang cukup dekat, hingga bisa merasakan terpaan panas napas mereka. “Lo Ngga deg-degan gitu Ra?” tanya Alin.


Wira menjauhkan wajah Alin dengan segera. “Sudah beres.” Wira hendak berdiri, namun di cegah oleh Alin.


“Lo Ngga gay kan!” Alin terkekeh. “Lo tahu Ngga Mama Lo sempat curhat ke Gue. Dia takut kalo Lo punya kelainan. Masa iya Lo belum pernah dekat sama cewek mana pun!” Alin kembali terkekeh.


“Itu bukan urusan kamu.” Wira melepaskan tangan Alin dari lengannya.


“Serius Lo!” Alin mengejar Wira yang sudah keluar dari ruangan. “makanya Gue comblangin Lo ama Sarah, mau kan! Biar Gue yang kasih tahu dia ya!”


Wira menghentikan langkahnya, menatap tajam pada Alin. “Sudah aku bilang, itu bukan urusan kamu.” Mimik muka Wira tampak serius kali ini.


“Baiklah.” Kata-kata itu langsung lolos dari mulut Alin, ada aura yang tidak biasa pada muka Wira saat ini.


Saat jam makan siang Alin meminta izin untung pulang lebih cepat. Karna dia harus menghubungi dokter Qori. Dokter kandungan yang di pecat karna telah menyebarkan Video pertengkarannya bersama David waktu di lobby rumah sakit waktu itu.


Alin terlihat sedang duduk di sudut ruangan Cafe, sepertinya dia datang terlalu cepat dari waktu yang di janjikan. Minuman pesanannya pun sudah habis separuh.


Seorang wanita terlihat celingukan di pintu masuk, menyapu seluruh isi Cafe dengan pandangannya dan berhenti tepat di sudut tempat Alin duduk. Dia berjalan agak tergesa menghampiri Alin, wajahnya tampak sedikit ketakutan.


“Maaf saya terlambat Nona.” Kepalanya sedikit membungkuk, kedua telapak tangannya meremas tali tas yang ia pegang.


“Duduk!”


Wanita itu langsung duduk di depan Alin dengan tergesa, kepalanya tetap tertunduk. Tidak berani menatap Alin.


Alin melempar sebuah amplop coklat ke atas meja. “Baca itu dengan cepat dan tanda tangani segera.” Perintah Alin.


Wanita itu melakukan yang di perintahkan oleh Alin. “Nona saya tidak bisa melakukan ini semua Nona, ini diluar wewenang saya.”


“Aku sedang tidak menanyakan kesediaanmu. Cepat tanda tangani, atau kau memang tidak akan pernah lagi kembali ke dunia medis.” Alin melempar sebuah pena ke atas meja.


Dengan terpaksa wanita itu pun menandatangani surat yang di berikan oleh Alin tadi.


“Ingat kau hanya bekerja untukku, bukan Kakek atau Papaku. Jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang ini.”


“Baik Nona”


Alin mengambil kembali surat yang sudah di tanda tangani oleh Qori, dan pergi keluar dari Cafe.

__ADS_1


__ADS_2