Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 52


__ADS_3

Hazar berjalan didampingi oleh Wira, mereka melewati beberapa kelompok orang tua dan anak-anak yang menginap di rumah singgah itu.


Wira mengantarkan Hazar ke sebuah ruangan yang cukup luas dan memiliki banyak jendela kaca. Ruangan itu biasa ditempati untuk mengadakan pertemuan oleh para tenaga medis dan para sukarelawan di rumah itu. Di sana terdapat sebuah meja besar yang dikelilingi oleh banyak kursi di setiap sisinya.


Wira menarik sebuah kursi dan mempersilakan Hazar untuk duduk.


“Saya tinggal sebentar, Pak.” Ujar Wira saat Hazar telah duduk di kursi yang ditariknya tadi.


Hazar hanya mengangguk kecil, nyaris tak tampak malah. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Sejak awal tadi Wira telah menggunakan bahasa formal padanya. Sangat jauh berbeda dari pertemuan pertama dan kedua mereka dulu.


Saat Wira telah menghilang di balik pintu. Hazar pun menghela napas dan menghembuskannya dengan gusar. Mengapa ia harus terlihat kikuk dan mati gaya di depan bocah ingusan itu. Ini samasekali bukan dirinya.


Hazar mengedarkan pandangannya menatap sekeliling ruangan. Tangan kanannya terus saja mengetuk-ngetuk permukaan meja.


Wira kembali dengan membawa secangkir teh panas.


“Silakan, Pak.” Wira menaruh cangkir teh di atas meja, kemudian berdiri tidak jauh dari tempat Hazar.


Hazar menatap Wira, tapi tetap diam. Yang ditatap pun juga diam ditempat-Nya. Setelah beberapa detik Hazar pun menunjuk kursi dengan gerakan matanya. Tanda meminta Wira untuk ikut duduk.


Seakan mengerti Wira pun duduk. Posisinya sekarang tepat berhadapan dengan Hazar.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?”


“Bukan, saya. Sepertinya Anda yang ingin bicara sekarang, Tuan.”


Kening Hazar mengerut menatap bingung pada Wira.


“Baiklah, sepertinya Hari ini kita membahas tentang rumah singgah ini saja, Tuan.” ujar Wira karna Hazar sepertinya samasekali tak berniat untuk bersuara.


Tujuh menit berlalu...


Wira dengan lugasnya menjelaskan segala kegiatan apa saja yang dilakukan oleh para pengurus dan para relawan di rumah singgah Mama Diana. Sebenarnya ia tidak harus melaporkan langsung pada Hazar. Dia bisa saja mengirimkan laporan melalui email kepada Karin yang diberikan tugas oleh Hazar untuk mengurus segala keperluan rumah singgah itu. Tapi, mau bagaimana lagi tidak ada topik pembicaraan selain ini.


“Lalu apa lagi yang kalian butuhkan?” tanya Hazar setelah Wira menyelesaikan laporannya.


Kecanggungan yang terjadi di awal tadi pun hilang begitu saja. Hazar seperti sedang mendengarkan presentasi dari karyawan perusahaannya saja. Hingga tanpa sadar ia pun hanyut dalam laporan Wira.


Wira seperti mengingat sesuatu. “Oh iya, Tuan. Besok rencananya kami mau membuat kegiatan baru. Kami mau mengajak anak-anak untuk berkebun.” jawab Wira.


“Bukankah lahan di belakang masih kosong,”


“iya, masih kosong, Tuan. Apa Tuan mengizinkan kami memakai lahan yang di belakang?”


“Tentu saja, pakailah. Akan aku kirimkan segala keperluan untuk berkebun besok.”


“Terimakasih, Tuan.”


Hazar mengangguk, sekarang matanya tengah memandang ke arah jendela kaca. Tatapan matanya tampak sayu dan kosong. Ingatannya kembali pada Alin. Mengapa istrinya itu tidak pernah lagi ke sini? Apa Rumah ini tidak seperti yang istrinya mau?


Hazar mendesah.


“Anda baik-baik saja, Tuan?”


“Ya.” Hazar menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.


“Apa Anda tidak sibuk?”


“Tidak.”


“Apa Anda mau beristirahat di kamar?”


“Tidak.” lirih.

__ADS_1


“Apa Anda mau mengakhiri pernikahan, Anda?”


“Tidak.” Hazar hanya menjawab asal. Pancaran matanya masih tampak kosong.


“Bagaimana dengan Alin?” Wira masih bertanya.


“Aku tidak tahu.” Hazar menghela napas panjang.


Tunggu!...


Hazar menegakkan punggungnya. Beralih menatap Wira.


Apa yang baru saja dia bicarakan?


*


“Keadaan Tuan Tomi semakin memburuk, Nyonya. Sebaiknya Tuan Tomi dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari.” Ujar dokter Farhan.


Mama Rosa memijat keningnya yang semakin terasa berdenyut. Ia bahkan hampir kehilangan keseimbangannya, untunglah suaminya dengan sigap menahan punggungnya.


Papa Adi mengusap punggung Mama Rosa. Tadi Mama Rosa sudah menceritakan tentang ucapan Alin waktu di kamar tadi. Jika Papa Tomi kembali harus dirawat, sudah bisa dipastikan Alin akan kembali merasa bersalah.


“Kita rawat Papa di rumah sakit lain saja.” Ujar Papa Adi hanya ini satu-satunya cara yang terlintas di benaknya sekarang.


Mama Rosa menatap bingung pada Papa Adi.


“Kita rahasiakan dari Alin.” Jelas Papa Adi.


Mama Rosa menghela napas panjang, kemudian mengangguk, setuju dengan saran suaminya.


Siang itu pun Kakek Tomi dibawa ke rumah sakit.


“Kata dokter, Kakek seperti ini karna kurang refleksi. Jadi Mama mau bawa Kakek untuk jalan-jalan selama beberapa hari ini. Kamu baik-baik ya, di rumah. Nanti Mama kabari kalau Mama sudah sampai.” Pamit Mama Rosa pada Alin


“Sudah Papa beritahu tadi.” jawab Papa Adi berbohong.


Hazar samasekali belum diberitahu oleh mereka.


Saat mobil yang ditumpangi oleh Kakek Tomi dan Mama Rosa menghilang di kejauhan Papa Adi pun mengajak Alin untuk kembali masuk ke dalam rumah.


“Mengapa Papa tidak ikut dengan Mama?” tanya Alin.


“ Hari ini Papa masih ada pekerjaan. Mungkin besok Papa nyusul. Kamu istirahatlah, Papa harus pergi sebentar lagi.” Papa Adi menepuk halus pundak Alin, kemudian masuk ke kamarnya.


*


“Bibi, aku lapar.” Ujar Alin saat ia hendak menaiki tangga, Bibi Fatma muncul dari arah dapur.


Bibi Fatma tersenyum, mendekat pada Alin. “Nona mau saya buatkan apa?” tanyanya.


Alin tidak langsung menjawab, ia menatap lamat wajah Bibi Pengasuhnya. Sejak kejadian malam itu sikap Bibi Fatma pun juga berubah padanya. Bibi Fatmanya yang dulu telah kembali lagi. Ya, dulu sekali, sebelum Bibi Fatma dipecat, Bibi Fatma selalu menuruti apa pun keinginannya. Bahkan Bibi Fatma juga sering membantu Alin untuk kabur dari rumah. Membuatkan Alin makanan super pedas secara diam-diam, karna kalau sampai ketahuan Papa Haris, Alin bisa saja dihukum.


“Apa pun yang Bibi masak. Aku tunggu di kamar, Bibi.” Alin menarik sudut bibirnya.


“Baiklah, Nona. Pesanan Anda akan segera saya antar.” Bibi Fatma membungkuk bak seorang pelayan restoran.


Alin terkekeh, ia turut membungkuk seperti Bibi Fatma. Dulu, jika Bibi Fatma bertingkah seperti ini, itu tandanya makanan terlaranglah yang akan diantar ke kamarnya kelak.


“Aku maunya level maksimal, Bibi!” Alin berteriak sebab Bibi Fatma nyaris hilang di balik pintu.


***


Siang itu pun Hazar beristirahat di rumah singgah. Ia menempati kamar tidur milik Alin, yang sengaja ia sediakan untuk istrinya itu jika mau menginap di sana. Kamar yang dulu mereka tempati saat sehari sebelum peresmian rumah singgah itu.

__ADS_1


Tidur Hazar terusik oleh nyaringnya nada dering ponselnya. Dengan mata yang masih terpejam Hazar meraba-raba kasur di sampingnya, guna mencari benda yang berisik itu.


Sebelum mengangkat panggilan telepon Hazar lebih dulu membuka matanya. Ternyata Papa Adi yang menelepon.


“Halo, Pa.”


“Kamu lagi tidur? dimana?!” tanya Papa Adi heran. Jelas-jelas ia melihat putranya itu pergi dari rumah dan pamitnya mau ke kantor.


Bagaimana bisa anaknya itu malah tidur saat jam kerja seperti ini.


“Di rumah singgah, Pa. Ada apa, Pa”


“Papa sedang di kantor kamu sekarang.”


*


Dari rumah singgah Hazar langsung memacu kendaraannya ke rumah sakit yang tadi disebutkan oleh Papanya. Ia sempat protes kenapa Kakeknya dirawat di rumah sakit yang cukup jauh dari rumah mereka. Dan mengapa tidak di rumah sakit tempat Alin bekerja? Fasilitas di rumah sakit Alin tentu lebih baik dan canggih dari rumah sakit yang disebutkan Papanya tadi. Tapi, Papa Adi hanya menjawab.


“Nanti Papa jelaskan, sekarang kamu cepat ke sini.”


“Bagaimana keadaan Kakek sekarang?” tanya Hazar, dia langsung menghampiri ranjang Kakek saat sampai di ruang rawatan. Papa Adi lebih dulu sampai di sana.


“Duduklah!” Mama Rosa meminta Papa Adi dan Hazar untuk bergabung dengannya di sofa. “Kakek baik-baik saja, dia hanya sedang tidur, dokter baru saja memberinya obat tidur.”


Hazar dan Papa Adi bergabung dengan Mama Rosa. Kini ketiganya tengah duduk di sofa.


“Jangan sampai Alin tahu... kalau Kakek sedang dirawat sekarang.”


Hazar mengerutkan keningnya, menatap penuh tanya pada Mama Rosa.


Mama Rosa menghela napas panjang, menelungkupkan wajahnya pada kedua telapak tangan.


Papa Adi mengusap punggung istrinya, mencoba menenangkan.


“Alin tadi ngomong sama Mama, kalu kamu boleh nikah lagi.” Papa Adi berkata lirih.


“Apa?!” Hazar langsung menarik punggungnya dari sandaran sofa. Air mukanya langsung berubah marah.


“Dia merasa bersalah dengan keadaan Kakek sekarang.”


Hazar mengusap wajahnya dengan kasar. Inilah hal yang paling dihindarinya sejak kejadian malam itu.


“Papa mertuamu, tadi ke sini. Dia juga berkali-kali meminta maaf. Katanya, keadaan kamu dan Alin sekarang memang sangat mempengaruhi kesehatan Kakek.” Air mata Mama Rosa sudah mengalir.


Hazar sangat benci dengan situasi seperti ini. Dia langsung berdiri dan hendak pergi. Tapi tangannya keburu ditahan oleh Mama Rosa.


“Tidak ada salahnya kamu nikah lagi. Alin sudah mengizinnya.” Mama Rosa memohon.


“MAMA!” Mata Hazar terbelalak, dia samasekali tidak menyangka kalau Mamanya akan berkata seperti itu.


“Ini demi Kakek, Hazar. Kamu bisa memilih wanita mana pun yang kamu inginkan. Biar Mama yang mengurus semuanya.” Pinta Mama Rosa berderai air mata.


Hazar melepaskan dengan paksa pegangan tangan Mamanya. Kemudian berlalu pergi.


“HAZAR!”


Mama Rosa kehilangan keseimbangannya hingga ia jatuh ke lantai.


“Mama!” Papa Adi dengan sigap menangkap tubuh istrinya.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2