Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 22


__ADS_3

“Kakak! Kak Hazar!” Alin menepuk-nepuk pipi Hazar. Hazar hanya bergumam matanya masih tertutup rapat “Aku akan mengganti pakaian Kakak” Izin Alin.


Merawat orang sakit tentu bukan hal yang baru bagi Alin. Serta perihal membuka dan memakai pakaian pasien, Alin tentu juga sudah pernah melakukannya, bahkan ia sering melakukannya saat dia praktik lapangan dulu.


Alin terlebih dahulu membuka celana Hazar, dan menyisakan celana pendek. Ia beralih membuka semua kancing kemeja, Alin sedikit kesusahan membuka jas yang di kenakan Hazar, hingga dia harus mendudukkan Hazar terlebih dahulu.


Alin memerlukan tenaga yang cukup ekstra untuk mendudukkan tubuh Hazar yang hampir dua kali lipat lebih besar dari tubuhnya, terlebih dalam keadaan lemah seperti sekarang tubuh lunglai Hazar terasa lebih berat olehnya. Alin berhasil, ia mendekap tubuh lemah itu ke pelukannya agar dia lebih mudah membuka jas dan kemeja Hazar yang tinggal di dorongnya ke belakang.


Tubuh Alin meremang saat hembusan napas Hazar menerpa lehernya. Ia menggeser dagu Hazar yang menempel sempurna di pundaknya untuk sedikit menjauh dari lehernya, dan itu berhasil. Alin kembali berusaha untuk membuka jas dan kemeja Hazar. Saat semua sudah terlepas dan hanya menyisakan kaos putih tipis, Alin kembali hendak membaringkan Hazar. Tiba-tiba kedua tangan Hazar memeluknya dengan erat, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Alin.


“Kakak!” Pekik Alin, ia terkejut dengan tindakan Hazar. Alin berusaha menjauhkan tubuh Hazar darinya, namun itu sia-sia Hazar malah semakin kuat mendekapnya. Akhirnya Alin hanya pasrah dan membiarkan Hazar yang berkali-kali terdengar menghela napas panjang di lehernya. Tindakan Hazar itu sangat membuat Alin merasa tidak nyaman tentunya, hati dan pikirannya menjadi tak karuan, serta detak jantungnya menjadi berantakan.


“Kakak!” kesadaran Alin kembali pulih saat merasakan sentuhan dingin bibir Hazar di lehernya “Kakak! Lepas!” Alin berusaha mendorong dada Hazar. Hazar melepaskan bibirnya dari leher Alin, namun itu hanya untuk berpindah guna membungkam bibir Alin “Hmmm...” Alin hanya bisa bergumam saat bibir Hazar membungkam mulutnya. Kini Hazar telah membaringkan tubuh mereka berdua.


Setelah beberapa saat Hazar memberi kesempatan untuk Alin mengambil napas. Di tatapnya wajah Alin yang berada di bawahnya, wajah itu tampak memerah namun tidak ada air mata atau raut kemarahan tergambar di sana. Lama mereka terdiam dengan posisi itu, tatapan mata Hazar seperti sedang menunggu izin untuk melanjutkan aksinya, namun Alin hanya diam dan tak bereaksi.


Hazar hendak bangkit dari tubuh Alin, namun urung tiba-tiba kedua tangan Alin mengalungi lehernya “Anggap saja ini sebuah tindakan penurun panas” Ujar Alin sebelum menarik tengkuk Hazar mendekat pada wajahnya.


Tok! tok! tok!!!


“Nona!” Suara ketukan dan panggilan Bibi Yona di luar, tidak di gubris oleh mereka berdua.


***


“Sudah buka saja!” Seru Angel tidak sabar. Dia, Karin, Bibi Yona, bibi Fatma dan dokter telah menunggu di luar kamar hampir satu jam lamanya. Namun tidak ada tanda-tanda si penghuni kamar akan keluar.


“Diamlah! Lagian apa urusanmu berada di sini?” Ujar Karin.

__ADS_1


Anggel terlihat gelagapan “Aku, aku hanya menghawatirkan Tuan Hazar” Jawabnya sambil membuang muka dari Karin yang menatap penuh sidik padanya.


“Sebaiknya kita tunggu di bawah saja, Nona Alin pasti akan memanggil kita jika dia butuh sesuatu” Ujar Karin.


Semua yang ada di sana mengangguk setuju, hanya Angel yang terlihat tidak suka dengan usulan Karin barusan. Dengan terpaksa dia mengikuti yang lainya menuruni tangga.


*


Satu jam setelah mereka meninggalkan kamar Tuan dan Nonanya, barulah terlihat Hazar menuruni tangga. Bibi Yona, Karin dan dokter dibuat bingung sebab Hazar terlihat baik-baik saja, dia tampak segar bugar dengan wajah yang tampak berseri-seri. Tidak tampak seperti tuduhan Alin dua jam yang lalu, yang mengatakan Tuan mereka tengah demam tinggi.


“Anda baik-baik saja Tuan?” Tanya Bibi Yona, setelah mendekat pada tempat Hazar berdiri “Kata Nona Alin, Anda sedang demam tinggi Tuan” Bibi Yona memperhatikan Hazar dengan saksama.


“Ya! Tadinya. Dia sudah merawatku dengan baik” Hazar terlihat tersenyum tipis, nyaris tidak tampak oleh mata Bibi Yona yang sedang menatapnya penuh sidik “Dan aku rasa aku harus mencabut izin praktiknya mulai sekarang. Akan bahaya jika dia merawat pasiennya seperti tadi” Hazar dengan cepat berbalik badan menuju ruang makan, guna menyembunyikan senyumannya dari tatapan Bibi Yona, Karin dan dokter yang berdiri di depanya. Ketiga orang itu terlihat masih bingung mencerna kata-kata Hazar barusan, namun tetap mengikuti langkah Hazar ke ruang makan.


“Apa ini?” Hazar menunjuk dua mangkuk bubur bayam yang terlihat menghijau di atas meja makan.


“Ini bubur bayam pesanan Nona Alin Tuan” Jawab Bibi Fatma “Apa Nona Alin baik-baik saja Tuan?” Tanya Bibi Fatma khawatir, sebab ia tidak melihat wajah Nonanya sejak pagi tadi.


“Mengapa raut wajahmu begitu?” Tanya Hazar saat melihat raut wajah Bibi kesayangan istrinya itu tampak khawatir.


Bibi Fatma semakin menundukkan kepalanya “Tidak Tuan” Ujar Bibi Fatma lirih.


“Akan saya siapkan sarapan Anda Tuan. Tunggulah sebentar” Angel tiba-tiba bersuara.


“Tidak perlu! Bibi panaskanlah bubur itu, akan aku bawakan ke kamar” Ujar Hazar.


“Baik Tuan” Jawab Bibi Fatma cepat. Dan berlalu ke dapur.

__ADS_1


“Biar saya saja yang mengantarnya Tuan, Tuan tunggulah di atas” Ujar Bibi Yona. Menawarkan bantuannya.


“Tidak usah Bibi, biar aku saja yang membawanya untuk istriku” Hazar menatap dokter keluarganya yang masih berdiri di ruang makan “Dokter pulanglah, aku sudah baik-baik saja”


“Baiklah Tuan, saya permisi” Ujar Dokter itu. Terbuang sudah waktunya dua jam ini.


Bibi Fatma muncul dari dapur membawa sebuah nampan yang berisi dua mangkuk bubur dan dua cangkir teh panas “Ini Tuan” Bibi Fatma meletakan nampan ke atas meja.


“Nonamu baik-baik saja. Dia hanya terlalu mudah dibuat tidur” Ujar Hazar saat masih melihat raut khawatir di wajah Bibi Fatma.


Hazar kembali tersenyum saat semua orang tertinggal di belakangnya.


Hazar masuk ke kamarnya dan di sambut dengan pemandangan yang buruk, pakaiannya dan Alin bertebaran di mana-mana. Hazar meletakan nampan yang di bawanya ke atas meja, kemudian mengumpulkan pakaian yang berserakan ke dalam keranjang.


Hazar menepuk pipi Alin yang masih tertidur pulas “Alin bangunlah”


“Hmmm...” Alin semakin mendekap selimut tebal yang menutupi badannya, dengan mata yang masih tertutup rapat. Hazar mencoba menarik selimut Alin “Aku masih mengantuk, tunggulah sebentar lagi” Gumamnya.


“Ini sudah hampir jam sepuluh, kau harus sarapan dulu. Akan aku buat kau tertidur lagi nanti” Mata Alin terbuka sempurna saat mendengar kata-kata Hazar barusan. Hazar menyunggingkan sudut bibirnya.


“Pergilah sana!” Usir Alin “Aku akan mandi sekarang, jadi Kakak pergilah keluar dulu” Pinta Alin.


“Mengapa aku harus keluar dulu baru kau akan mandi?”


“Pergilah! Apa kakak juga menjalani operasi ginjal baru-baru ini! Kakak menjadi lebih cerewet seperti Bibi Fatma” Alin merutu tak jelas.


“Kau akan sulit berjalan. Biar aku yang memandikanmu” Hazar bersiap hendak menggendong Alin.

__ADS_1


“Tidak! Aku bisa sendiri” Cegah Alin.


__ADS_2