
Satu jam sebelum Kakek Setyo menghubungi Papa Adi...
Kakek Setyo menerima panggilan telepon dari Amel. Karna kepalanya yang sedang pusing memikirkan kebangkrutan Yayasannya, Kakek Setyo terus saja mengabaikan ponselnya.
Namun saat panggilan kelima akhirnya Kakek Setyo pun menjawab telepon Amel dengan marah. “Ada perlu apa kau meneleponku? Aku sedang sibuk, nanti saja kau bicara.” Kakek Setyo hendak menutup panggilan teleponnya tapi urung karna mendengar teriakan Amel di seberang sana.
“Papa harus dengarkan aku dulu!” seru Amel dari seberang. “Aku sudah tahu siapa dalang dibalik kebangkrutan Yayasan.”
“Siapa!?”
“Tuan Tomi, Kakeknya Hazar!”
“Siapa? Tuan Tomi, katamu!” seru Kakek tak percaya.
“Iya, Papa. Aku tahu dari temanku Lia, suaminya juga menarik investasinya dari Yayasan. Katanya, Tuan Tomi menjanjikan kerja sama yang lebih menguntungkan pada para investor.”
“Kurang ajar!” geram Kakek Setyo.
“Dan Papa tahu kabar baiknya?”
“Ada apa lagi!?”
“Aku baru saja melewati jalanan yang sepi. Aku melihat Alin ada di sana, dan sepertinya dia sedang sendirian di dalam mobil. Karna aku juga melihat mobil pengawalnya agak jauh dari tempatnya parkir.” Amel terdiam sejenak. “Bukankah sekarang Papa sedang butuh barang taruhan!”
Kakek Setyo terdiam sejenak. “Kau tunggu di sana. Akan aku kirimkan orang-orang untuk membantumu.” Kakek Setyo langsung memutuskan panggilan telepon.
“Beraninya mereka mengusikku!” Kakek Setyo menyeringai, ternyata orang yang tak disangka-sangkanyalah yang menghancurkan Yayasannya. “Baiklah, akan aku balas mereka.”
“Cukup buat dia terluka, atau kalian patahkan kaki dan tangannya. Jangan sampai dia terbunuh, karna aku masih membutuhkannya untuk menjamin Yayasanku.” Pesan Kakek Setyo pada orang-orang bayarannya yang akan menculik Alin.
***
Orang bayaran Kakek Setyo tak tanggung-tanggung. Mereka bersenjata tajam dan berjumlah puluhan orang. Bobi dan kawanannya yang hanya berjumlah lima orang langsung dilumpuhkan di menit ketiga penyerbuan. Setelah orang bayarannya berhasil melumpuhkan para pengawal Alin, barulah Amel turun dari mobil.
Amel bertepuk tangan dan tersenyum dengan senangnya. “Sekarang kalian kejar anak sialan itu. Buat dia ketakutan terlebih dahulu, setelah dia kabur dengan mobilnya barulah kalian buat dia kecelakaan. Ingat pesan Papa Mertuaku, kalian hanya boleh melukainya, bukan membunuhnya!” Amel kembali masuk ke dalam mobil. “Karna aku sendiri yang akan menghabisi anak sialan itu.” Gumam Amel. Amel meraih ponselnya dan menghubungi nomer David.
“Oh, David seharusnya kau ada di sini sekarang, sayang!” seru Amel kegirangan.
__ADS_1
“Apa ada kabar baik, Ma?”
“Ya, ini adalah kabar yang sangat membahagiakan. Kamu tahu sekarang Mama sedang menyaksikan detik-detik terakhir kehidupan Alin.”
“Maksud, Mama, Alin akan mati?” tanya David tak mengerti.
“Matinya bukan sekarang. Ceritanya panjang. Besok saja Mama ceritakan saat kamu sudah pulang. Intinya sekarang, Mama sedang menyaksikan kehancuran Alin. Mobil yang dikendarainya akan kecelakaan sebentar lagi. Dan dia akan berdarah-darah dan mati secara perlahan.”
***
Sementara Papa Adi sibuk menyadarkan Mama Rosa yang pingsan. Kakek Tomi kembali mendekatkan ponsel ke telinganya. “Dia cucumu, dan dia juga darah dagingmu. Apa kau tidak sakit melihat cucumu seperti itu?” geram Kakek Tomi.
“Di dalam tubuhnya juga ada darah daging cucu Anda, Tuan. Apa kalian tahu kalau dia sedang hamil sekarang?” Kakek Setyo tergelak. “Ternya dia memang cucuku, dia sangat pintar berbohong dan bersandiwara. Kita semua pernah tertipu olehnya.”
“Apa yang kau inginkan?” tanya Kakek Tomi. Ia sudah kalah telak sekarang. Setyo, si manusia bejat tak ber perasaan itu bisa saja mencelakai Alin dan janinnya.
Kakek Setyo tergelak, karna dia sedang di atas angin sekarang. Ialah pemenangnya. Dengan adanya Alin di tangannya semua masalah di Yayasannya akan tuntas, semua akan baik-baik saja seperti sediakala.
“Kau menginginkan Yayasanmu kembali?” tanya Kakek Tomi lagi.
“Ya, saya menginginkan Yayasan saya kembali. Tapi... Bukan itu saja. Anda, sudah mengambil satu dari saya, dan Anda tidak bisa hanya mengembalikannya satu pula.” Bukan Setyo namanya jika tidak memanfaatkan situasi.
“Berikan sepuluh persen saham perusahaan Anda pada saya. Dan buat perjanjian tertulis bahwa Anda tidak akan mengganggu Yayasan saya lagi.”
“Jika Anda bersedia, silakan hubungi saya di nomer ini dalam satu jam ke depan. Jika tidak, mungkin Anda akan menerima kabar baik dini hari nanti.”
“Ah, iya, Anda pastinya sudah tahu dalam masalah ini kita tidak melibatkan pihak berwajib. Saya tidak harus menunggu pagi untuk bertindak.”
Panggilan telepon langsung terputus.
Kakek Tomi menghela napas panjang. Ia menatap Mama Rosa dengan penuh penyesalan. Ternya yang dikhawatirkan anaknya siang tadi, benar terjadi. Setyo memang tidak bisa dianggap remeh.
Mama Rosa terkulai lemas di atas sofa. Bayangan wajah Alin nan bergelimangan darah masih tergambar jelas di pelupuk matanya. Bagaimana nasibnya anak yang malang itu sekarang. Bukan orang lain, Kakeknya sendiri tega membuat Alin seperti itu.
“Berikan semua sahamku. Cepat selamatkan Alin, Pa. Dia pasti sedang kesakitan sekarang. Kepalanya sangat banyak mengeluarkan darah.” Ratap mama Rosa memohon.
“Haris!” Mama Rosa tiba-tiba teringat sesuatu. “Hubungi Haris! Dia pasti bisa membujuk Papanya untuk tidak menyakiti Alin dan dia pasti bisa membebaskan Alin juga, Pa.” Mama Rosa mengguncang lengan Papa Adi, mata sembabnya terlihat tidak fokus.
__ADS_1
“Mama tenang dulu. Aku akan menghubungi Haris.” Papa Adi menghela napas panjang, telah banyak hari-hari berat yang dilalui keluarganya belakangan ini. Tapi ini belum seberapa dibandingkan dengan derita yang ditanggung Alin selama ini. Seorang Kakek yang seharusnya menjadi pelindung dan tempatnya mengadu, malah tega mencelakainya seperti ini. “Mama tunggulah di sini, Papa akan ke luar, sebentar.” Papa Adi pamit pada Kakek Tomi sebelum kemudian ke luar dari ruangan.
*
Setelah mobil yang ditumpanginya keluar dari parkiran kantor, Papa Adi langsung menghubungi nomer Hazar.
“Di mana kau? Siapa yang menemani Alin ke luar rumah?”
“Bobi, dia yang pergi mengikuti Alin, Pa. Aku masih di rumah.” Jawab Hazar dengan suara seraknya.
“Hubungi Bobi, Tanyakan di mana keberadaannya, sekarang!"
***
Bagai disambar petir, jantung Papa Haris nyaris terhenti saat mendapat kabar dari Papa Adi. Foto putrinya yang tampak mengenaskan sangat membuat ngilu ulu hatinya. Ia bahkan sampai kehilangan akal tak tahu harus berbuat apa.
Hanya dengan menggunakan kaos rumahan dan bercelana pendek selutut, Papa Haris langsung menghambur keluar dari apartemen. Sialnya di saat-saat seperti ini ada saja hal kecil yang menjadi masalah. Saat ia sampai di parkiran malah kunci mobilnya yang ketinggalan.
Tin!... Tin!...
Bagai malaikat penolong, Sekretaris Jon muncul di sana. Papa Haris langsung menghambur masuk saat pintu depan mobil dibuka Sekretaris Jon dari dalam.
Seolah tahu tujuan Tuannya, Sekretaris Jon langsung memacu kendaraannya meninggalkan parkiran apartemen.
“Kau tahu di mana Papaku?” tanya Papa Haris.
“Saya tidak tahu keberadaan Tuan Setyo. Tapi saya tahu di mana Nona Alin.” Sekretaris Jon mengulurkan ponselnya pada Papa Haris dengan sebelah tangan, sementara tangan yang satunya tetap berpegang pada kemudi.
“Kau menaruh alat pelacak pada putriku?” Papa Haris menatap tajam pada Sekretaris Jon.
“Iya, Tuan.”
Papa Haris menghela napas panjang, ini bukan saatnya ia mempermasalahkan tentang alat pelacak. “Apa kau tidak bisa mengemudi lebih cepat!” Hardik Papa Haris.
“Baik, Tuan.” Sekretaris Jon langsung menambah laju kendaraannya.
*
__ADS_1
*
*