
“Silakan duduk Nona” Bibi Fatma sedikit menekan kedua pundak Alin, hingga Alin kembali duduk. Dan berbisik “Jika Anda menyelesaikan sarapan Anda dengan cepat, cepat pula Anda bisa keluar dari sini. Bukankah Anda sangat merindukan dunia luar Nona”
“Ya aku sangat merindukan itu” gumaman Alin hanya bisa didengar oleh Bibi Fatma “Kalian boleh pergi sekarang!” Perintah Alin pada semua orang yang berada di ruang makan.
Diam, tak ada satu pun pelayan yang bergerak. Alin mendongakkan kepalanya “Apa kalian tidak mendengarku?” Tanya Alin.
“Maaf Nona kami di perintahkan oleh Tuan Hazar untuk memastikan Anda sarapan dengan baik Nona” Jawab Bibi Fatma sambil memindahkan sepotong Sandwich besar ke piring Alin.
“Mengapa Mbak Karin masih di sini?” Tanya Alin saat dia masih melihat Karin berdiri bersama pelayan yang lainnya di ruang makan. Alin masih belum memakan sarapannya.
“Saya di perintahkan Tuan Hazar, untuk tinggal di sini selama dia pergi Nona” Jawab Karin.
“Ya! itu terserah dia, ingin siapa pun yang tinggal di sini, ini kan rumahnya. Tapi apa Mbak Karin akan mengawasi aku juga?” Alin melipat tangannya di atas meja, menatap penuh sidik ke arah Karin yang berdiri di samping Angel.
“Tidak Nona, Tuan Hazar hanya ingin saya berada di sisi Anda, saat Anda membutuhkan sesuatu Nona”
“Aku sedang tidak butuh apa-apa. Mbak Karin boleh pergi ke kantor atau kemana pun sekarang” Ujar Alin “Bukankah Kantor akan sibuk juga saat Hazar tidak ada!” lanjutnya.
“Saya akan mengerjakan tugas kantor setelah ini Nona”
“Nona cepatlah sarapan, Anda akan telat jika terus menginterogasi ibu Karin” Ujar Bibi Fatma.
“Aku akan sarapan di jalan” Alin mengambil Sandwich yang di taruh Bibi Fatma tadi, dan memakannya sambil berjalan.
“Nona makan sambil berjalan tidak baik untuk kesehatan Anda Nona!” Karin menghadang langkah Alin.
“Kalau begitu ini untuk Mbak Karin saja” Alin memindahkan Sandwich bekas gigitannya ke tangan Karin “Aku sudah telat”
“Nona tolong kembalilah dan habiskan sarapan Nona dengan tenang” Ujar Bibi Fatma sambil berlutut di samping meja makan. Semua pelayan yang berada di sana di buat terkejut oleh Bibi Fatma.
“Apa yang Bibi lakukan!” Alin mendekati Bibi Fatma dengan tergesa dengan raut muka keheranan “Berdirilah cepat” Alin berjongkok meraih kedua lengan Bibi Fatma.
“Tidak Nona! Saya tidak akan berdiri sebelum Nona menghabiskan sarapan Nona” Bibi Fatma menjauhkan tangan Alin yang menyentuh lengannya.
“Baikalah! Akan aku habisi semuanya. Mengapa Bibi bisa senekat ini” Ketus Alin. Ia kembali duduk di kursinya “Ck, AKU-BENCI-HAZAR” Teriak Alin dalam hati. Tangannya mengepal erat di atas meja.
Ternyata definisi kata “BEBAS” kali ini sangat berbeda untuk Alin. Sekarang ia sedang di dalam mobil yang di kendarai oleh Bobi. Sempat terjadi kembali perdebatan sebelum ia berangkat tadi, dan kembali di akhiri dengan permohonan oleh Bibi Fatma. Bukan hanya itu Bibi Fatma bahkan mengingatkannya untuk langsung pulang setelah jam kerjanya habis.
__ADS_1
“Kalau Nona tidak langsung pulang, saya akan kembali ke kampung bersama ibu saya Nona” Ujar Bibi Fatma sebelum keberangkatannya tadi “Akan sulit untuk saya, bila Nona terus mengabaikan perintah Tuan Hazar” Sambung Bibi Fatma.
Alin kembali menghela napas, menyandarkan kepalanya pada jendela mobil.
“Kita sudah sampai Nona” Ujar Bobi dari luar sambil mengetuk kaca mobil yang di sandari kepala Alin.
Alin kembali menghela napas, menegakkan kepalanya. Bobi langsung membukakan pintu dari luar.
Alin keluar dari mobil dengan pandangan yang terlihat kosong, dia terlihat sangat tidak bersemangat melangkah. Sampai ia tak menyadari ada orang di depanya.
“Aww!” Alin tersadar saat merasakan benturan di keningnya “Wira!” Pekik Alin sambil mengusap keningnya. Ternyata Wira dengan sengaja merentangkan laptopnya saat ia hampir menubruknya tadi “Sakit TAU!” Alin menatap sebal.
“Siapa suruh main seruduk aja, jalan itu pake mata bukan perasaan” Wira melanjutkan langkahnya.
Alin mengejar Wira “Jalan itu pake kaki, bukan mata!” Ujarnya.
“Terserah kamu mau jalan pake apa saja, yang penting jangan mengganggu jalanku”
“Apa Lo tahu Gue sekarang rekan kerja Lo di IGD” Alin tersenyum mekar.
Wira menghentikan langkahnya “Itu kabar buruk untukku pagi ini” menatap Alin sebentar kembali melanjutkan langkahnya.
“Aku akan sibuk siang nanti” Wira masuk ke ruang ganti laki-laki, Alin masih mengekorinya “Apa kau akan tetap mengikutiku saat berganti pakaian?”
Alin melihat sekeliling, untung hanya Wira yang ada disana “Aku akan menunggumu di luar”
“Bukankah kau harus melapor di hari pertamamu”
“Ah iya! Gue sampai lupa. Maukah Lo temenin Gue!”
“Dengan senang hati. Aku menolak” Wira mendorong Alin keluar dan menutup pintu.
Hari ini terasa sangat menjengkelkan bagi Wira, yang mana dia harus seharian bersama Alin, kemana pun itu. Karna perintah dari atasannya.
“Dokter bolehkah aku meminta Wira untuk menjadi tutorku di minggu pertama aku bekerja” Pinta Alin saat pagi tadi, saat mereka sedang berkumpul di ruangan Dokter Rio selaku penanggung jawab ruang IGD.
“Tentu boleh Nona” Jawab dokter Rio cepat, tanpa menanyakan kesediaan Wira.
__ADS_1
“Dokter tidak boleh memanggilku seperti itu, di saat jam kerja seperti ini” Ujar Alin, ia melihat ke arah Wira dengan senyuman kemenangan, yang di tatap hanya menampilkan muka lempengnya.
“Cepat habiskan makananmu, kita harus segera kembali ke rumah sakit” Ujar Wira, dia sangat geram sekarang. Sudah hampir setengah jam yang lalu dia selesai makan, namun Alin masih tidak mau beranjak dari duduknya.
“Tunggulah sebentar lagi, sekretaris kakek Gue akan datang”
“Aku akan pergi terlebih dahulu, kau tunggulah sekretaris kakekmu itu” Wira meletakan uang dalam Bil di atas meja mereka, dan beranjak keluar.
Alin dengan cepat menyambar Bil yang baru di letakan Wira, mengambil uangnya dan menyimpannya ke dalam tasnya.
“Ada apa Anda memanggil saya Nona” Sekretaris Jon sudah berdiri di depannya.
“Lama tidak berjumpa sekretaris Jon. Duduklah” Alin terlihat sangat senang dengan kedatangan sekretaris kakeknya itu.
“Tidak perlu Nona, sebutkan saja apa tujuan Anda memanggil saya”
“Rindu!” Alin kembali tersenyum.
Sekretaris Jon menghela napas “Saya sangat sibuk sekarang Nona. Jika Anda sudah selesai saya permisi”
“Tunggu! Aku lupa tidak bawa uang” Alin menyeringai “Bayarkan makan siangku. Dan pinjamkan aku kartu Kakek yang waktu itu” Alin menadahkan tangannya.
“Saya akan membayarnya Nona” Sekretaris Jon mengambil Bil di atas meja. Dan memanggil pelayan.
“Cepatlah sekretaris Jon, aku harus ke rumah sakit segera” desak Alin karna sekretaris Jon masih belum memberikan apa yang ia pinta.
“Saya tidak bisa memberikan kartu itu pada Anda Nona”
“Lalu apa kau mau menyuruhku berjalan kaki ke rumah sakit?” Suara Alin sudah mulai mengeras.
“Saya akan mengantar Anda Nona”
“Tidak perlu, Aku tidak mau berduaan denganmu di dalam mobil. Sudah cepat pinjamkan aku hari ini saja” Alin mengacung-acungkan tangannya pada sekretaris Jon.
“Saya akan membayar ongkos taxi Anda Nona”
“Kalau begitu beri aku uang lima ratus juta”
__ADS_1
Sekretaris Jon mengerutkan keningnya “Untuk apa uang sebanyak itu Nona”
“Apa sekarang aku juga harus memberi laporan keuanganku padamu sekretaris Jon” Alin sudah mulai terlihat kesal. Ia kira akan mudah jika ia meminta kartu itu melalu sekretaris Jon.