
Hazar tidak sendirian di ruang rawatan saat Alin kembali ke sana. Ada seorang Dokter laki-laki dan Perawat perempuan yang sedang sibuk membersihkan luka Hazar.
“Apa sudah waktunya, perbannya diganti?” tanya Alin pada Dokter dan Perawat yang sedang berdiri di samping ranjang Hazar.
“Iya, Nona.”
Alin meletakan kotak bekal pemberian Mama Wira ke atas meja, kemudian berjalan menghampiri ranjang Hazar. Hazar sekarang sedang duduk di atas kasur, dan luka di lengannya sedang dibersihkan oleh Dokter. Hazar saat ini sedang bertelanjang dada, mungkin Dokter baru saja selesai menukar perban pada luka di perut dan pinggangnya.
“Biar aku saja. Dokter, boleh pergi.”
“Baik, Nona. Saya permisi,” Pamit si Dokter.
“Iya, Terimakasih.” Saut Alin.
Alin tidak langsung membersihkan luka Hazar. Ia malah ikut melangkah ke pintu beriringan dengan Dokter dan Perawat.
CKLEK!
Alin mengunci pintu saat Dokter dan Perawat tadi telah keluar dari ruangan.
Hazar hanya memandangi Alin dalam diamnya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan gelagat istrinya saat ini.
Dan benar saja, bukanya melanjutkan pekerjaan Dokter membersihkan luka Hazar, Alin malah menjauhkan semua peralatan medis dari ranjang Hazar.
Hazar masih diam, tak berkomentar, walau pun ia sangat bingung sekarang.
“Pakai baju, Kakak!” Perintah Alin tiba-tiba, sambil melemparkan baju pada Hazar.
Hazar mengerutkan keningnya, luka di lengannya masih terbuka sekarang, masih belum ditutupi. “Kau tidak menutupi luka ini?” Hazar menunjuk luka di lengannya.
Alin menatap berang pada Hazar. “Tutupi ini!” Alin menunjuk tubuh Hazar yang bertelanjang dada. “Jangan biarkan wanita mana pun melihat ini. Karna ini hanya milikku!”
Hazar mengerutkan keningnya, bingung. Ia pun hanya diam, dan membiarkan Alin meliliti tubuhnya dengan selimut.
“Mengapa, Kakak, biarkan Perawat tadi melihat Kakak dalam keadaan bertelanjang!” seru Alin kemudian, setelah selesai menggulung Hazar dengan selimut, sekarang hanya kepala dan tangan kanan Hazar yang terlihat. “Apa sekarang Kakak jadi suka bertelanjang di depan wanita lain, dan Kakak juga terlihat sangat suka dipegang-pegang perawat tadi!” kicau Alin.
“Hey! Siapa yang bertelanjang?” sergah Hazar cepat. “Dan siapa pula yang dipegang-pegang?” protes Hazar.
Alin makin terlihat kesal mendengar protes dari Hazar barusan, ditambah lagi wajah suaminya itu terlihat tidak merasa bersalah sedikit pun.
Tiba-tiba saja Hazar tergelak, ia baru faham kalau istrinya sedang cemburu sekarang. “Kau cemburu pada Perawat yang tadi?” tanya Hazar diselangi dengan tawanya.
Alin menghela napas dan menghembuskannya dengan kasar, ia menatap kesal pada Hazar.
“Ok! Kita anggap saja impas!” seru Alin.
“Apanya yang impas?”
“Kakak, bertelanjang dan dipegang-pegang oleh Perawat tadi. Dan aku tadi dipeluk oleh Wira,” Alin menyunggingkan salah satu sudut bibirnya, menatap sinis pada Hazar.
“Apa! Kau berpelukan dengannya?” tawa Hazar seketika itu jua sirna. Berganti kan dengan raut kemarahan di wajahnya.
“Ya, bukan hanya sekali. Dia memelukku dua kali.” Alin menyeringai mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya pada Hazar membentuk huruf “V.” Sekarang keadaan telah berbalik, Alin yang tersenyum senang melihat kemarahan di mata Hazar.
__ADS_1
“Kau, tidak akan aku izinkan lagi untuk keluar dari ruangan ini!” Kecam Hazar berang.
Alin mengendikan bahunya, tanda kalau dia tidak peduli dengan ancaman Hazar barusan. “Ah... Aku baru ingat. Aku juga menyuapinya waktu makan siang tadi.” Bibir Alin terkembang sempurna melihat wajah kesal suaminya. Ia masih menang banyak dari suaminya itu.
Alin berjalan ke arah meja, ia mengambil kotak bekal yang tadi dibawanya. “Ke sinilah! Kakak juga harus makan siang,” Alin duduk di sofa sambil membuka tutup-tutup kotak bekal, dan menghidangkannya di atas meja.
Setelah selesai menghidangi makanan di atas meja, Alin masih tidak mendengar tanda-tanda kalau Hazar akan menyusulnya ke sana. Karna posisinya yang sedang membelakangi ranjang Hazar, Alin pun terpaksa harus memutar kepalanya untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu. Namun baru saja ia memutarkan lehernya, kepalanya malah kembali menghadap ke tempat semula. Ternya Hazar sudah berdiri di depanya dan menangkup kedua pipinya.
Alin mengerjapkan matanya. “Apa yang Kakak lakukan?” tanyanya heran.
Bukanya menjawab Hazar malah membenamkan bibirnya pada bibir Alin. Tak hanya sampai disitu, Hazar bahkan sudah berhasil membuat Alin terbaring sempurna di atas sofa.
“Kakak, Stop!” Alin langsung bersuara saat mendapatkan kesempatan untuk menarik napas, kedua tangannya berusaha menahan dada Hazar. “Kita sedang di rumah sakit, jangan lakukan sekarang.” Ujar Alin sambil terengah-engah menghirup udara. “Aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Sesal Alin.
Raut wajah Hazar masih terlihat marah, ia masih enggan beranjak dari atas Alin. Matanya masih menatap tajam pada istrinya yang menyebalkan itu.
“Berdirilah, lengan Kakak akan sakit jika kita terus begini.” Alin merasa sangat takut ditatap oleh Hazar sedemikian rupa.
Alin menghela napas panjang, sembari memejamkan matanya. Pada akhirnya, dia tidak pernah menang melawan Hazar, selalu dia yang apes pada akhirnya.
Alin menggigit bibir bawahnya, sudah hampir tiga menit ia dan Hazar hanya diam dengan posisi itu. Dan ia semakin merasa ketakutan dengan diamnya Hazar. “Kakak, bangunlah! Aku harus menutupi luka Kakak terlebih dahulu. Setelah itu kita baru makan.” Bujuk Alin, ia sedikit mendorong dada Hazar dengan mata yang dialihkan ke sembarang arah, ia sangat takut untuk menatap mata suaminya, meski begitu ia masih berusaha untuk membuat Hazar bangkit dari atasnya.
***
“Cerai!” Pekik Amel terkejut, saat membaca surat cerai yang dilayangkan oleh Haris padanya. “Apa Papa akan diam saja dan menyetujui percerai ini!?” Mata Amel beralih menatap Kakek Setyo.
“Tanda tangani surat itu, dan pergi dari sini!” ketus Kakek Setyo. Kepalanya makin terasa pening menghadapi kejadian tak mengenakkan yang datang secara bertubi-tubi belakangan ini. Dimulai dari berita kemandulan Alin, disusul pula oleh berita pernikahan Hazar yang kedua. Meski ia bisa bernapas lega sebab pernikahan itu ternyata sudah dibatalkan. Tapi sekarang malah Haris yang berulah. Ia harus menyelesaikan perceraian Haris dan Amel yang tentunya tak akan mudah terselesaikan. Ada Fandi (Papa Amel) besannya yang harus ia urusi terlebih dahulu.
Fandi pasti tidak akan tinggal diam saat mengetahui perceraian Amel dan Haris. Kakek Setyo sangat tahu akan itu.
*
“Apa Tuan Hazar akan menikah lagi?” tanya Mama Wira. Saat ini ia dan Wira sedang berada di ruangan Alin.
“Pernikahan itu sudah dibatalkan.” Jawab Wira lirih.
Mama Wira bernapas lega, “Syukurlah. Mama kira Alin akan_”
“Alin mandul,” ujar Wira tiba-tiba memotong ucapan mamanya. “Suaminya ingin menikah lagi karna Alin tidak bisa memberikannya keturunan. Cepat atau lambat suaminya pastikan akan menikah lagi.” Lirih Wira.
Mata Mama Wira sontak terbelalak, “Alin mandul!?” pekiknya tertahan.
Wira menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. “Aku masih tidak percaya itu. Tapi aku tidak bisa memastikannya, karna Dokter kandungan Alin sudah tidak bekerja di sini lagi. Dia sudah menghilang tanpa jejak. Karna itu aku semakin yakin kalau Alin hanya berpura-pura mandul.”
“Maksud, kamu?” tanya Mama bingung.
“Ini bisa saja akal-akalan Alin untuk bisa terbebas dari suami dan keluarganya. Mama tahu sendiri kalau hubungan Alin dan keluarganya sangatlah tidak baik.”
“Jadi maksud kamu, Alin hanya berpura-pura mandul?”
“Iya,”
“Mengapa dia harus berpura-pura seperti ini. Dia bisa saja kehilangan suaminya,”
__ADS_1
“Dia pasti punya alasan, hingga berbuat sejauh ini. Bahkan dia sendiri yang meminta suaminya untuk menikah lagi.” Wira berdiri dari duduknya.
“Tapi... Tuan Hazar terlihat sangat mencintai Alin, mungkin semua orang tahu akan itu. Mengapa Alin harus berbohong sejauh ini.” ujar Mama masih tidak percaya.
“Mama tidak akan bisa mengerti bagaimana kehidupan orang-orang kaya seperti mereka.” Wira meraih jas putihnya yang diletakan Alin di sandaran sofa.
Mama hendak kembali bersuara, tapi urung, karna Wira malah mengajaknya untuk pulang.
“Ayo, kita pulang. Aku akan mengantar Mama.”
***
Alin berulang kali menghela napas panjang, sambil menyaksikan seorang Dokter yang di bantu oleh perawat sedang membalut luka di lengan Hazar.
Setelah kejadian tadi Hazar samasekali tidak mau berbicara pada Alin. Ia bahkan tidak mau dirawat oleh istrinya itu. Jadilah ia meminta Dokter lain untuk menutupi lukanya. Alin sudah berulang kali meminta maaf padanya. Namun ia masih saja mendiami Alin.
“Apa sudah selesai?” tanya Alin pada Dokter, sementara si Perawat sedang membereskan peralatan yang sudah dipakai Dokter tadi.
“Sudah, Nona.”
“Terimakasih, maaf merepotkan, Dokter.”
“Tidak, Nona. Ini memang sudah tugas saya.”
Sementara Alin masih berbincang dengan Dokter, Hazar pun turun dari ranjang, dan melangkah masuk ke kamar mandi.
Alin mondar mandir di depan pintu kamar mandi, sudah cukup lama Hazar di dalam sana. Tapi Hazar tetap diam saat ia mengetuk pintu dan memanggil dari luar. Saat Alin mencoba membukakan pintu, ternyata pintu dikunci Hazar dari dalam.
Alin benar-benar merasa sangat risau sekarang. Ia sangat takut jika didiami seperti ini oleh suaminya itu. Akan lebih baik jika mereka bertengkar dengan memperdebatkan sesuatu, dari pada harus main kucing-kucingan seperti ini.
CLEKK!
Pintu kamar mandi terbuka, dan Hazar keluar dari sana dalam keadaan baik-baik saja. Yang tidak baiknya, Hazar masih mendiami Alin.
Hazar meraih ponselnya dari atas nakas, kemudian dia terlihat menghubungi seseorang dari ponselnya.
“Bawakan laptopku ke sini sekarang!” perintah Hazar pada orang di seberang telepon.
Hazar kembali meletakkan ponselnya ke tempat semula. Kemudian naik ke atas tempat tidurnya. Saat itulah Alin kembali mendekat.
“Kakak, tidak makan?” tanya Alin. Makanan yang dibawa Mama Wira tadi masih belum tersentuh oleh suaminya itu.
Hazar masih diam, ia bahkan membuang muka. Meraih buku yang tersimpan di atas nakas kemudian membacanya. Ia samasekali tak menghiraukan keberadaan Alin.
Alin kembali menghela napas panjang, kemudian kembali duduk di sofa, kembali menutupi kotak-kotak makan siang yang telah dibukanya tadi. Dia tidak terlalu pandai dalam hal membujuk dan meminta maaf. Karna kesunyian yang tercipta, akhirnya ia malah ketiduran di sofa.
*
Alin terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan mata dan memperhatikan sekitar. Ia menghela napas kecewa, karna saat ia terbangun, ia masih berada di atas sofa. Apa Hazar benar-benar marah padanya? Biasanya suaminya itu akan memindahkannya ke atas kasur jika ia tertidur sembarangan, tapi sekarang lihatlah! Ia masih di atas sofa, bahkan sehelai selimut pun tak diberikan Hazar untuk menyelimutinya.
*
*
__ADS_1
*