Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 81


__ADS_3

“Hanya mengingin anak dan setelah itu dia akan aku bebaskan. Aku juga pernah berkata seperti itu padanya!” ujar Hazar tiba-tiba setelah keheningan tercipta selama beberapa menit. Setelah Papa Adi melemparkan gelas ke layar televisi.


Kakek Tomi, Papa Adi dan Mama Rosa sontak mengalihkan pandangan mereka ke arah Hazar.


“Apa maksudmu!?” Papa Adi.


Hazar seperti tergelak dengan wajah kacaunya, mata merahnya memancarkan keputus asaannya yang sangat mendalam. Ternyata memang dia sendiri yang membuat Alin percaya pada omongan David. Dia memang terlihat sama seperti yang David bicarakan dalam video tadi. “Kami bertengkar, pada malam ketiga pernikahan kami. Aku juga berbuat kasar padanya malam itu, aku bahkan memaksanya untuk_” Hazar tak kuasa meneruskan kata-katanya, air matanya lolos begitu saja saat bayangan wajah Alin malam itu kembali tergambar jelas di matanya. Bagaimana diam dan pasrahnya Alin setelah mendengar ucapannya yang ternyata sangat membekas dalam hidup istrinya itu.


“Kau!” Papa Adi tiba-tiba saja sudah berdiri di dekat Hazar, ia mencekam kerah baju Hazar dan membuat Hazar berdiri dari duduknya.


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Hazar.


“Papa!” Pekik Mama Rosa.


“Sudah berapa kali aku bilang! Semarah apa pun kau pada istrimu, jangan pernah, kau, berbuat kasar padanya! Dan sekarang kau lihat, kau sendiri yang membuat istrimu tega untuk membunuh anaknya dari pada dia dianggap seperti_” Papa Adi menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Ia juga tak sanggup meneruskan kata-katanya yang mungkin saja tak enak di dengar orang lain. “Kau, bahkan memperlakukannya lebih buruk dari keluarganya!”


Tubuh Hazar bergetar hebat, air matanya mengalir dengan deras. Semua yang dikatakan Papa Adi sangatlah benar. Ia memang lebih buruk dari Kakek Setyo, Amel dan David.


Papa Adi menghempaskan tubuh Hazar kembali ke atas sofa. “Apa saja yang kau katakan padanya!” seru Papa Adi marah. Ia memang sudah curiga sejak malam istri dan anaknya mendapat surat misterius yang ternyata berisikan rekam medik Alin. Ia sudah merasa bahwa ada yang ganjil sejak malam itu.


Hazar memejamkan matanya, kata-kata kasarnya malam itu kembali terngiang di telinganya.


“Anak! Jika kau ingin bebas dan tak ingin dikekang, lahirkan seorang anak untukku. Setelah itu kau akan aku lepaskan!”


Meski sedang emosi tak seharusnya kata-kata itu ia ucapkan pada Alin. Betapa hancur dan sedihnya istrinya malam itu.


“Aku hanya memintanya untuk melahirkan anak untukku, dan setelah itu dia akan aku lepaskan,” lirih Hazar.


"Hanya... Katamu!"


“Papa! Cukup!” Mama Rosa dengan cepat menahan tangan Papa Adi yang hampir saja kembali menampar Hazar.


PLAK!


Bukan Papa Adi, sekarang tamparan Kakek Tomi yang mendarat di pipi Hazar. Tubuh Hazar hingga terpental ke sandaran sofa.


*


Begitu pintu lift terbuka, Hazar langsung menghambur keluar.


Sementara Mama Rosa terlihat kesusahan mengejar langkah anaknya. Ia terlihat berjalan dengan pandangan kosong.


“Mama, kita pake mobil lain saja. Biarkan Hazar.” Papa Adi menahan tangan Mama Rosa.


Mama Rosa tampak tertegun, ia seperti baru saja tersadar.


“Alin!” ujarnya seperti orang kebingungan. “Kata Hazar, Alin sedang muntah hebat di rumah. Kita harus cepat pulang.” Mama Rosa meninggalkan Papa Adi begitu saja.


“Papa.” Papa Adi menatap Kakek Tomi. Ia sebenarnya mau mengejar Mama Rosa, tapi ia tidak mungkin meninggalkan mertuanya sendirian di lobby kantor.


“Pergilah, kejar Rosa. Dia pasti kebingungan sekarang.”


Tanpa menunggu diperintahkan untuk kedua kalinya, Papa Adi langsung mengejar Mama Rosa.


***


Setelah memuntahkan semua isi lambungnya, Alin kembali meringkuk di atas kasur. Entah karna menangis atau bukan, yang pastinya mata dan hidungnya telah berair.


“Di mana Kak Hazar?”


“Tuan Hazar sedang di kantor, Nona.” Jawab Bibi Fatma cepat, saking cemasnya ia samasekali tak ingat untuk mengatakan kalau Hazar hanya pergi sebentar. “Sebentar, saya hubungi Tuan sebentar.” Ujarnya.

__ADS_1


“Tidak usah!” cegah Alin. “Biarkan saja dia dengan pekerjaannya. Aku mau tidur lagi. Bibi, lebih baik istirahat saja.”


“Tapi, Nona.”


“Tidak apa-apa, Bibi. Bibi istirahat saja,”


Akhirnya Bibi Fatma pun terpaksa ke luar dari kamar Alin. Karna Alin terus memaksa meminta ditinggalkan sendirian di kamar.


“Mengapa Bibi, di sini?” tanya Karin bingung melihat Bibi Fatma yang berdiri di luar kamar, bukannya di dalam menemani Alin yang sedang sakit.


“Nona Alin memaksa, minta ditinggalkan sendirian, Bu Karin.” Jawab Bibi Fatma, masih dengan raut cemasnya.


Karin diam, tak berkomentar lagi. Kalau sudah begini dia juga tidak bisa berbuat banyak. Tidak mungkin ia berani masuk ke kamar Tuannya tanpa permisi. Tapi membiarkan Alin sendirian di kamar dalam keadaan seperti ini juga tidak baik.


Akhirnya Karin memutuskan untuk menghubungi Hazar.


“Kalian tunggu saja di luar, aku sebentar lagi akan sampai.” Pesan Hazar saat di telepon.


***


Begitu sampai di rumah Hazar langsung berlari ke lantai dua. Karin, Bibi Yona, dan Bibi Fatma masih berdiri di luar kamar. Tanpa menanyakan apa pun Hazar langsung memutar hendel pintu.


CKLEK! Ternya pintu kamar dikunci Alin dari dalam.


“Alin! Buka pintunya!” teriak Hazar sambil mengetuk-ngetuk pintu. “Alin!” Hazar menghela napas panjang. Sepertinya istrinya benar-benar marah sekarang. “Bibi, tolong ambilkan kunci kamarku,” pinta Hazar pada Bibi Yona.


“Baik, Tuan.” Bibi Yona langsung berlari menuruni tangga.


Sambil menunggu Bibi Yona mengambil kunci, Hazar masih terus berusaha memanggil Alin, meski pun dia tahu usahanya hanya akan sia-sia.


Hazar duduk di sisi ranjang, di samping istrinya yang sedang meringkuk di atas kasur. Hazar menghela napas panjang, ia menatap Alin dengan segala penyesalannya. Ternyata begitu besar kesalahan yang telah ia perbuat pada wanita ini.


“Kau menangis? Apa ada yang sakit?” Hazar menyibakkan rambut yang menutupi wajah istrinya. Ia sedikit kesusahan karna ada sebagian rambut yang sudah menempel karna terkena air mata istrinya. “Kita ke rumah sakit, ya.” Ujar Hazar sambil mengusap rambut Alin.


Hazar ikut berbaring di samping Alin, dan memeluk Alin dari belakang. “Kau marah, karna aku memindahkanmu?”


Alin tetap diam, namun kali ini dia tidak menolak di sentuh Hazar.


Hazar mengencangkan dekapannya, “Maafkan aku,” gumam Hazar lirih di balik punggung Alin.


“Maafkan aku, karna tadi aku meninggalkanmu. Tadi Papa memintaku untuk datang ke kantornya. Dan aku tadi tidak mau menggagu tidurmu.”


Alin masih diam, hanya suara isakannya yang terdengar.


“Kau mau menghukumku?" ujar Hazar tiba-tiba, ia semakin risau melihat Alin yang mendiaminya. Dengan menghukumnya mungkin saja Alin mau memaafkannya. "Katakan, hukuman apa yang pantas untukku?” ujar Hazar sambil membalikkan badan Alin yang memunggunginya secara perlahan untuk menghadap padanya. “Kau tidak mau menghukumku?” tanya Hazar lagi, setelah berhasil membuat tubuh istrinya menelentang, hingga ia lebih leluasa melihat wajah pucat yang basah itu.


Hazar menarik Alin ke dalam dekapannya. Sambil membisikkan kata maaf, ia benar-benar menyesal.


“Pergi, sana!” hardik Alin tiba-tiba.


Hazar tertegun mendapat pengusiran dari Alin, namun sedetik kemudian ia langsung tergelak tanpa bersuara. Bagaimana tidak, Alin mengusirnya untuk pergi, namun istrinya itu malah memeluknya dengan erat.


“Kau mengusirku? Apa itu hukumannya?” tanya Hazar sambil mengusap kepala istrinya.


“Ya, pergi saja sana! Tapi itu bukan hukuman.” Ketus Alin.


“Lalu apa hukuman untukku?”


Alin mengangkat kepalanya, mata sembabnya menatap sendu pada Hazar. “Kakak tidak marah jika aku hukum?” tanyanya ragu.


Kali ini Hazar benar-benar tergelak lepas. Yang sedang marah siapa? Dan yang sedang ketakutan sekarang siapa? Hazar membelai wajah istrinya. Apa semua wanita hamil seperti ini? Jika iya, dia sangat ingin memiliki banyak anak bersama istrinya ini. Apakah bisa, kesalahannya di masa lalu di hapus dari ingatan istrinya ini.


Alin kembali menyembunyikan wajahnya pada dada Hazar. Ia kembali menangis dengan keras.

__ADS_1


“Hei, mengapa menangis!?” Hazar ingin menatap wajah istrinya, namun tidak bisa sebab Alin telah menguncinya dengan sangat erat. “Aku tidak marah. Katakanlah, kau mau memberikan hukuman apa padaku?”


“Benarkah?” Alin kembali mengangkat wajahnya. Saat melihat Hazar menganggukkan kepala, Alin langsung duduk. “Kesinikan ponsel, Kakak!” Alin menadah tangannya.


Hazar mengerutkan keningnya, “Untuk apa ponselku?”


“Cepat berikan!” desak Alin.


Hazar merogoh saku celananya, tempat di mana ia menyimpan ponselnya. Kemudian ia bangkit dan ikut duduk.


“Ini kenapa!?” Tangan Alin terangkat untuk menyentuh pipi Hazar yang memerah.


“Bukan kenapa-kenapa,”


“Kakak, tadi bertemu Wira!?” Alin menatap Hazar penuh sidik.


Hazar menghela napas panjang. “Untuk apa aku bertemu dengannya!”


“Lalu, siapa lagi teman Kakak berkelahi?”


Hazar tidak menjawab, ia hendak kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Namun...


Alin langsung merampas ponsel Hazar, dan menyimpannya di balik punggungnya. “Selama satu minggu ke depan, Kakak, tidak boleh keluar dari rumah. Kakak, juga tidak boleh bekerja, dan tidak boleh bertemu dengan Mbak Karin dan Pak Naf!” seru Alin membacakan berbagai macam hukumannya untuk Hazar.


Hazar kembali tergelak. Tidak boleh bekerja dan tidak boleh keluar dari rumah, itu adalah hukuman yang paling sering ia berikan untuk istrinya yang licik ini. “Jika aku tidak bekerja, kita mau makan dari mana?” protes Hazar.


Alin tidak menjawab, namun ia membelalakkan matanya, menatap sengit pada Hazar.


Hazar berdehem, untuk menetralkan tawanya yang tak habis-habisnya karna melihat tingkah istrinya. Kegundahan hatinya sedikit terlupakan, meski hanya sementara. “Baiklah, aku masih punya banyak tabungan. Mungkin itu cukup untuk makan kita selama seminggu ke depan.” Hazar menggigit bibir bawahnya untuk menghentikan tawanya yang masih tak kunjung mereda. Hazar mengusap sisa air mata Alin.


“Mbak Karin dan Pak Naf, juga tidak boleh menemui Kakak ke rumah!” Masih dengan mata melototnya Alin kembali mengingatkan hukuman Hazar.


“Pak Naf sudah tidak bekerja denganku lagi. Dia sudah dipindahkan Papa ke luar negeri. Dan Karin, dia sudah cuti kerja sejak dua bulan yang lalu.”


“Mengapa Pak Naf, sampai di pindahkan? Angel juga tidak bekerja di sini lagi!” tanya Alin.


“Aku tidak tahu. Papa yang memindahkannya.” Hazar turun dari kasur. “Ayo kita ke bawah, Mama pasti menunggumu.”


Alin menerima uluran tangan Hazar, “Lalu kenapa Mbak Karin masih sering ke sini?” Ternyata Alin masih penasaran tentang Karin.


“Dia bekerja untuk Mama.”


“Mama! Memangnya apa yang Mama kerjakan?”


Hazar menghentikan langkahnya. Menatap tajam pada Alin. “Diamlah, mengapa kau jadi cerewet seperti ini,”


Alin mencibir, kemudian mendahului langkah Hazar. “Kakak, cepatlah, aku sudah lapar!” seru Alin ketika Hazar sudah tertinggal jauh darinya.


Hazar menatap sendu punggung istrinya yang sedang menuruni tangga dengan sedikit berlari kecil.


Seperti saat ini. Tidak bisakah Alin memaafkannya seperti sekarang? Hanya dengan sedikit bujukan, Alin terlihat sudah lupa dengan kemarahan tadi.


*


*


*


Like nya Kakak...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya!!!😊 🤗


Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2