Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 51


__ADS_3

Usai perdebatannya dengan Papa Setyo, Haris memacu kendaraannya menuju apartemennya. Tempat yang menyimpan banyak kenangan manisnya bersama Diana. Mendiang istri tercintanya.


Berada di lantai paling atas gedung apartemen. Rumahnya itu masih tampak terawat rapi meski dia tidak terlalu sering mengunjunginya. Semua masih terlihat sama, tidak ada yang berubah. Penataan ruangan semua masih sama seperti yang diinginkan Diana dulu. Warna putih masih mendominasi seisi ruangan.


Hanya saja sekarang dinding-dinding apartemen sudah disulap menjadi galeri. Banyak foto-foto yang terpajang disana sini.


Haris menjatuhkan badannya di sofa. Matanya menerawang menatap langit-langit apartemen.


Dulu ia memang menentang perjodohan Alin dan Hazar. Sebab ia tidak ingin lagi memaksakan Alin untuk melakukan sesuatu yang tak diinginkan oleh putrinya itu. Ia hanya ingin putrinya menikah dan hidup bahagia dengan laki-laki pilihan putrinya sendiri. Tapi, ia berubah pikiran saat Hazar sendiri yang meminta restu darinya. Ia merasa bahwa Hazar adalah orang yang bertanggung jawab dan sangat tepat untuk putrinya.


Haris memandangi foto Diana yang terpajang di depannya. Matanya menatap lama dan dalam gambar itu. “Apa aku salah... karna menerima lamaran Hazar waktu itu?” lirih Haris sambil membelai foto Diana.


***


Satu minggu telah berlalu sejak malam itu. Tidak ada satu pun orang yang berani mengungkit masalah kemandulan Alin di rumah utama.


Alin merasa semua orang terlihat kaku ketika bersikap padanya. Meski pun Kakek Tomi, Mama Rosa dan Papa Adi masih bersikap manis padanya. Tetap saja ada yang berbeda dari sebelumnya.


Dan entah karna kejadian malam itu. Kesehatan Kakek Tomi pun kian memburuk. Hingga hampir setiap hari dokter harus memeriksanya ke rumah. Dua orang perawat telah ditugaskan untuk merawat Kakek dua puluh empat jam penuh.


Sedangkan Hazar terlihat sangat sibuk belakangan ini . Dia selalu pulang tengah malam dan berangkat kerja pagi-pagi sekali. Hazar bahkan tidak pernah lagi sarapan di rumah. Meski begitu kecupan selamat pagi dan malam tak pernah lupa Hazar berikan. Dia selalu pamit pada Alin saat ia akan berangkat dan pulang kerja walau pun Alin sedang tidur saat itu.


Kakek Setyo pun sudah tidak memedulikan masalah Alin lagi. Dia sudah menyerah dengan Alin. Dia bahkan tidak mau lagi memaksa Alin untuk melakukan berbagai macam pengobatan yang mungkin bisa saja menyembuhkan Alin.


Dengan bungkamnya semua orang membuat Angel dan Amel menjadi kesal. Harusnya Alin sudah menangis darah dan diusir dari rumah itu. Tapi, mengapa semua orang terlihat biasa saja. Alin malah tambah disayang dan diperlakukan lebih manis dari sebelumnya.


Kepulangan David pun hanya mimpi semata. Kakek Setyo bahkan akan memperpanjang masa pendidikan David diluar negeri. Itu membuat Amel semakin menggila.


Begitu pun dengan Angel. Jangankan untuk diangkat sebagai menantu. Dilirik Nyonya Rosa saja dia tidak pernah lagi.


“Jadi kita harus bagaimana?” tanya Amel saat dia dan Angel bertemu di sebuah cafe. Penampilan keduanya tampak kacau sekarang.


“Berhentilah menanyakan hal itu padaku! Apa kau tidak bisa memikirnya sendiri?” sewot Angel. “Mengapa aku harus mau bekerja sama dengan orang bo doh seperti dia.” Gumam Angel namun masih bisa didengar oleh Amel.


“Kau_.”


Angel langsung berdiri dengan gerakan kasar sebelum Amel menyudahi kalimatnya.


“Mau kemana kau?” tanya Amel.


“Bukan urusanmu. Lebih baik kita tidak usah bertemu lagi.” Ujar Angel kemudian melenggang ke luar cafe.


“Sia_lan!” umpat Amel. “Apa dia pikir Hazar akan mau menikah dengannya? Cih... dasar wanita ja_lang.”


*


Pada malam yang kesekian kalinya Alin sengaja tidak tidur. Ia menanti kepulangan Hazar di dalam kamar mereka. Sudah lewat tengah malam. Tapi, Hazar masih juga belum pulang. Hingga ia pun tertidur di sofa.

__ADS_1


Paginya saat Alin terbangun, ia sudah berada di atas kasur. Alin mengerjapkan matanya. Tidur nyenyaknya terusik oleh seseorang.


“Selamat pagi!” Hazar kembali menghadiahkan kecupan di bibir Alin.


Itu adalah sapaan yang sudah jarang didengar Alin belakangan ini. Alin tidak membalas sapaan Hazar. Dia hanya diam seribu bahasa.


Ini adalah kali pertama Hazar sarapan di rumah, setelah kejadian malam itu.


Alin menghela napas, semua masih terasa kaku olehnya. Saat semua orang sudah selesai sarapan Alin pun bersuara. Ia menahan lengan Hazar saat Hazar nyaris berdiri.


“Aku mau bicara.”


Semua orang di ruang makan pun menoleh pada Alin.


Hazar terdengar menghela napas panjang, air mukanya langsung berubah. Ia sepertinya sudah dapat merasakan gelagat tidak enak dari nada suara Alin yang tertangkap oleh pendengarannya.


“Kita bicara di kamar saja.” Hazar kembali berdiri.


“Tidak, Kakek, Mama dan Papa juga harus mendengarkan ini.” Alin menepis genggaman tangan Hazar dari lengannya.


Alin memandangi Mama Rosa, Papa Adi dan Kakek Tomi secara bergantian. Raut wajah ketiganya tampak gusar menatap cemas pada Hazar Yang terlihat membuang muka.


“Jangan sekarang! Aku harus berangkat kerja.” Hazar masih saja berdiri dan membuang muka. Dia sedang berbohong sekarang.


“Lalu... Kakak mau sampai kapan menghindar begini?”


“Aku samasekali tidak pernah menghindar darimu,” Hazar mengalihkan wajahnya, menatap tajam pada Alin.


Karna tak sanggup lagi menatap mata Alin, Hazar kembali membuang muka. Kemudian berlalu meninggalkan ruang makan.


Kakek Tomi menghela napas panjang dan berat, sambil memegangi dadanya. Melihat itu Mama Rosa pun meminta perawat untuk mengantarkan Kakek Tomi ke kamar.


Mama Rosa berdiri dan berpindah duduk di samping Alin.


*


Selepas dari ruang makan Hazar kembali ke kamarnya. Ia langsung berganti pakaian. Dan berangkat ke kantor. Sebenarnya hari ini adalah jadwal liburnya. Tapi, ia harus kembali menghindari Alin. Ya, sebenarnya ia memang sedang menghindar dari Alin. selama beberapa hari belakangan ini ia samasekali tidak sibuk. Tidak ada pekerjaan kantor yang menyibukkannya hingga harus pulang larut malam. Ia hanya sedang menata hati dan perasaannya. Sembari memikirkan cara agar hubungannya dengan Alin tetap sama seperti sediakala.


Sejak malam kejadian itu, ia sudah berusaha untuk bersikap seperti biasa. Tapi, tetap saja tidak semudah yang ia bayangkan. Seperti pagi ini, ia sudah berusaha menyiapkan hatinya, ia sangat tersiksa dengan keadaan yang seperti ini. Tapi, lihatlah sekarang! Alin malah kembali mengusik kegundahan hatinya yang samasekali belum siap sepenuhnya. Hingga ia harus kembali...


Melarikan diri!


Dulu kata-kata itu samasekali tidak ada dalam kamus hidupnya.


“Saya akan pergi sendiri.” Ujar Hazar saat Pak Sukri membukakan pintu mobil untuknya. Ia langsung duduk di belakang kemudi.


Hazar tidak tahu harus kemana. Dia hanya terus memacu kendaraannya tanpa tahu arah dan tujuan. Pada saat seperti ini biasanya orang akan mencari teman untuk berbagi masalah. Tapi ia tidak memiliki yang satu itu.

__ADS_1


Teman?


Ya, teman!


Teman yang ia miliki hannyalah sebatas rekan bisnis. Tidak ada teman untuk ia berbagi masalah pribadinya.


Bagaimana dengan teman sekolah?


Saat masa sekolah ia sangat sibuk dan penyendiri. Ia tidak memiliki waktu untuk sekedar bersosialisasi dengan teman-teman satu sekolahnya. Ia juga sangat tidak suka berinteraksi dengan orang lain saat masa remajanya itu.


Apa hidupnya se membosankan itu?


Hazar menginjak pedal rem secara tiba-tiba. Ia baru tersadar dari lamunannya. Tanpa ia sadari mobil yang dikendarainya telah memasuki gang perumahan tempat rumah singgah Mama Diana.


Setelah cukup lama berdiam diri di dalam mobil Hazar dikejutkan oleh suara ketukan di kaca jendelanya.


Hazar menghela napas saat mengetahui bahwa Wiralah orang yang mengusik lamunannya.


***


Mama Rosa mengantarkan Alin untuk kembali beristirahat ke kamar.


“Kamu tidak usah bekerja hari ini. Istirahatlah.” Ujar Mama Rosa sambil menuntun Alin untuk duduk di sisi ranjang. Ia pun juga ikut duduk di samping Alin.


“Hazar samasekali tidak marah, apalagi kecewa padamu. Dia hanya sedang tidak tahu untuk bersikap seperti apa.” Mama Rosa membelai lembut kepala Alin


“Aku akan mengizinkan Kak Hazar untuk menikah lagi, Ma.” lirih Alin.


“Apa!” Mama Rosa terlonjak kaget, ia terlihat tidak senang mendengar ucapan Alin barusan. “Itu tidak akan terjadi.” Sergahnya.


“Apa Mama tidak menginginkan seorang cucu?”


“Mama memang sangat menginginkan seorang cucu. Tapi, tidak semua keinginan Mama harus terpenuhi. Jangan pernah lagi kamu berbicara seperti tadi.” Mama Rosa berkata tegas.


“Tapi, Ma.”


“Sudahlah, kamu istirahat saja.”


“Bagaimana dengan Kakek Tomi. Dia sangat menginginkan seorang cicit dari Kak Hazar. Aku tahu, kesehatan Kakek semakin buruk, juga karna aku.”


“Ini samasekali tidak ada hubungannya. Kesehatan Kakek seperti ini karna faktor usianya. Bukan karna yang lain.”


“Jika kita terus berlarut dalam masalah ini. Kesehatan Kakeklah yang akan dipertaruhkan, Ma. Aku samasekali tidak masalah jika Kak Hazar nikah lagi. Aku sangat merasa bersalah di sini. Dan aku tidak akan bisa tenang jika keadaannya seperti ini terus, Ma. Lagian apa salahnya kalau Kak Hazar nikah lagi.” Alin berkata dengan sungguh-sungguh.


Mama Rosa hanya bisa menghela napas panjang. Mengapa semuanya menjadi rumit seperti ini. Batinnya.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2