Alin & Hazar

Alin & Hazar
BAB 58


__ADS_3

Pada hari ketiga Papa Adi baru bisa mendapat kabar Hazar dari Bobi. “Dimana dia?” tanya Papa Adi pada Bobi yang menunggunya di lobby apartemen Hazar.


“Tuan Hazar ada di atas, Tuan.” jawab Bobi. “Mari saya antar, Tuan.”


Papa Adi dan Bobi pun masuk ke dalam lift. Saat lift hendak tertutup tiba-tiba saja ada sebuah tangan menahan pintu.


“Mama ikut!” Mama Rosa muncul dengan muka pucatnya, keningnya tampak keringatan dan napasnya pun tak teratur. Mama Rosa bahkan sedikit membungkuk dan memegang dadanya yang sesak.


“Mama!” Papa Adi langsung mendekati Mama Rosa. “Mama, tidak apa-apa?” Papa Adi memegang pundak Mama Rosa, menatap khawatir pada istrinya. “Kita duduk, dulu.” Papa Adi hendak mengajak Mama Rosa untuk istirahat sebentar di lobby.


“Tidak usah, Mama ingin bertemu Hazar.” Mama Rosa melepaskan tangan Papa Adi dari pundaknya. Ia langsung masuk ke dalam lift.


“Cepat antarkan aku ke tempat Hazar!” ujar Mama Rosa pada Bobi yang hanya diam di tempatnya.


Bobi menatap Papa Adi, meminta persetujuan.


Papa Adi mengangguk, lalu berdiri di samping istrinya.


Tubuh Mama Rosa tampak gemetaran, kedua tangannya saling menggenggam erat, raut wajah pucatnya tampak sangat cemas.


Papa Adi mengusap punggung istrinya. “Apa dokter tahu, kalau Mama pergi?”


“Apa Hazar baik-baik saja?” Bukannya menjawab pertanyaan Papa Adi, Mama Rosa malah bertanya tentang kabar anaknya.


Melihat tatapan sayu penuh kecemasan itu, Papa Adi pun mencoba tersenyum untuk sedikit menghibur istrinya.


“Hazar baik-baik saja, hanya hatinya yang tidak baik, sebab penawarnya masih belum juga Bobi temukan.”


Mendengar ucapan Papa Adi barusan Mama Rosa malah meneteskan air mata. “Ini semua salah Mama. Alin pergi karna merasa kecewa pada Mama, Pa. Bagaimana kalau Alin tidak mau lagi kembali pada Hazar? Hazar pasti tidak akan memaafkan Mama. Hazar pasti akan sangat membenci Mama, Pa!” Isakan Mama Rosa semakin menjadi, ia terus saja meratapi kesalahan yang sudah diperbuatnya.


Papa Adi menghela napas, sambil terus menenangkan istrinya. “Alin tidak akan meninggalkan Hazar, dia pasti kembali suatu hari nanti. Karna hanya anak kita yang bisa mencintainya sebesar ini. Jika Alin tetap tidak mau kembali, Hazar pasti memiliki banyak cara untuk membuat Alin kembali padanya. Yang perlu Mama lakukan hannyalah berdoa, agar rumah tangga Alin dan Hazar kembali membaik seperti sedia kala.”


*


Hati Mama Rosa semakin perih saat memasuki apartemen Hazar yang kacau, pengap dan remang. Semua jendela tertutup rapat tak ada sedikit pun cahaya matahari yang masuk.


Banyak pecahan kaca dan barang-barang yang berserakan di lantai. Ada bekas darah mengering berbentuk jejak kaki di lantai. Sudah bisa dipastikan itu adalah jejak telapak kaki Hazar yang terluka.


Papa Adi menghidupkan lampu, dan memerintahkan Bobi untuk membuka tirai jendela. Saat Papa Adi nyaris membuka pintu kamar Hazar, tiba-tiba saja bel apartemen Hazar berbunyi.

__ADS_1


Ting Tong! Ting Tong!


“Biar saya saja yang keluar, Tuan.” Bobi menawarkan diri untuk bertemu dengan tamu Hazar.


“Pergilah.” jawab Papa Adi.


Papa Adi urung membuka pintu kamar Hazar saat mendapati istrinya sedang membungkuk memunguti barang-barang yang berserakan di lantai. “Mama duduk saja. Nanti biar Bibi Yona yang bereskan semua ini.” Papa Adi membatu Mama Rosa untuk duduk di sofa.


“Tuan!” Bobi telah kembali masuk ke dalam, dengan membawa sebuah amplop surat di tangannya.


“Ada apa?”


“Sepertinya ini surat dari Nona Alin, Tuan.” jawab Bobi.


Kabar dari Alin! Seharusnya Bobi dan semua orang yang mencari Alin senang akan itu, tapi mengapa nada suara Bobi seperti tidak enak didengar, bahkan raut wajahnya tampak tidak senang.


CKLEK!!!


Pintu kamar Hazar terbuka dari dalam, Hazar muncul dengan raut kusutnya. Kedua telapak kakinya tampak diperban dengan sembarangan.


Hazar langsung merampas surat yang diulurkan Bobi pada Papa Adi. Dengan gerakan cepat dibukanya amplop surat itu.


Mata Hazar tampak membulat penuh, baru beberapa detik surat itu dibacanya, tangannya langsung terkepal erat meremas surat yang dikirim Alin untuknya. Raut wajahnya tampak mengeras, marah.


Mata merah Hazar menatap marah pada Mama Rosa. “Apa ini yang Mama inginkan! Apa Mama senang melihatku seperti ini!” Hazar berteriak pada Mamanya.


PLAK!


“PAPA!!!” pekik Mama Rosa tertahan saat melihat Papa Adi menampar pipi Hazar.


“Ini semua bukan sepenuhnya salah Mamamu. Alin menggugat cerai, karna kebodohanmu yang tidak bisa menyelesaikan masalah rumah tanggamu sendiri. Kau selalu kabur dan lari dari masalahmu, dan inilah hasilnya!” Papa Adi melempar surat panggilan sidang cerai tepat di wajah Hazar. “Apa kau pikir, kau, masih pantas menjadi kepala keluarga dengan sifat kekanakanmu itu.” Tuding Papa Adi marah.


Hazar tidak membatah tudingan Papa Adi padanya, ia hanya membalas tatapan marah papanya.


“Ce-cerai!” Dengan tangan gemetarnya Mama Rosa memungut surat yang dilemparkan oleh Suaminya tadi. Air mata Mama Rosa langsung bercucuran saat membaca surat gugatan cerai dari Alin. “Maafkan Mama! Maafkan Mama, Hazar! Mama akan memohon pada Alin untuk membatalkan gugatannya ini.” Ratap Mama Rosa terduduk di lantai.


Hazar mengabaikan Mamanya, ia kembali masuk ke kamar dan membanting pintu sekuat-kuatnya.


“Berdirilah, menangis tidak akan mengembalikan keadaan.” Papa Adi membantu Mama Rosa untuk berdiri. “Bobi, cepat lacak keberadaan Alin melalu surat ini, lihat semua CCTV di sekitar kantor pengadilan.” Perintah Papa Adi.

__ADS_1


“Baik, Tuan.”


“Kita balik ke rumah sakit, sekarang. Kita bicarakan masalah ini dengan Haris.” ujar Papa Adi.


Mama Rosa hanya mengangguk mengiyakan. Ia masih menangis dan terisak dengan kepala yang tertunduk dalam.


***


Setelah kepergian Mama dan Papanya, Hazar pun kembali keluar dari kamar. Tampilannya sedikit lebih rapi, perban di kakinya telah ia buang entah kemana.


Kabar perceraian Alin dan Hazar pun tersebar dengan cepat, hampir seluruh pelayan di rumah utama sudah mengetahui tentang kabar itu, termasuk Bibi Fatma. Sejak tiga hari ini Bibi Fatma hanya bisa pasrah, dan berdoa. Ia tidak berani meminta izin untuk keluar dari rumah Hazar. Sebab keadaan rumah yang kian hari makin kacau sejak kepergian Alin. Tapi, Bibi Fatma tetap berkemas untuk berjaga-jaga. Ia sudah mencoba meminta izin cuti pada Bibi Yona, ia juga ingin ikut serta mencari keberadaan Nona Mudanya. Tapi, Bibi Yona malah menyuruhnya untuk minta izin langsung pada Tuan Hazar, atau pada Mbak Karin, kedua orang yang belum pernah dijumpainya sejak tiga hari yang lalu.


“Bibi, apa boleh saya pindah ke rumah belakang? Saya akan menempati kamar lama saya.” Bibi Fatma kembali meminta izin pada Bibi Yona. Kali ini bukan tentang cuti, ia hanya ingin pindah ke rumah belakang. Ia sudah merasa tidak diperlukan lagi di rumah utama, sebab Nona Mudanya bukan lagi istri dari pemilik rumah utama ini. Luna, wanita cantik yang tempo hari pernah datang ke rumah ini dan mengaku-ngaku sebagai calon istri Tuan Hazar, wanita itulah yang akan menjadi Nona barunya kelak.


Bibi Yona terlihat bingung ingin menjawab apa.


“Nona Alin tidak akan kembali ke rumah ini, Bibi. Dan Nona Luna tentu juga tidak membutuhkan saya. Saya hanya pelayan biasa seperti yang lainya, izinkan saya untuk kembali menggunakan kamar saya yang lama.”


“Jaga omongan Bibi jika bicara!” Sergah Hazar.


Semua orang tampak terkejut melihat kemunculan Hazar yang tiba-tiba. Semua kepala langsung tertunduk dan tak berani menatap wajah Hazar yang terlihat mengeras karna marah. “Jangan pernah merubah apa pun sampai Alin pulang ke rumah ini!” Semua orang yang berada di dapur saat itu masih hanya bisa tertunduk diam, tak ada satu pun yang berani menjawab Hazar. “Apa kalian tidak mendengarku!? Mengapa kalian diam saja!?” Hazar kembali berteriak, entah kenapa semuanya terasa sangat menyebalkan baginya.


“Baik, Tuan.” Serentak Bibi Yona dan pelayan lainnya menjawab.


***


Papa Adi dan Mama Rosa pun langsung menemui Papa Haris, untuk membicarakan tentang surat cerai yang dilayangkan Alin pada Hazar. Awalnya Papa Adi sangat berpikiran positif bahwa besannya itu juga akan menentang perceraian anak-anak mereka. Tapi, semua diluar dugaannya, Papa Haris malah mendukung perceraian Alin dan Hazar.


“Saya dengar Hazar akan menikah beberapa hari lagi. Sudah seharusnya pula Hazar menceraikan Alin. Saya rasa ini juga yang terbaik untuk mereka dan calon istri Hazar kelak.” ujar Papa Haris tanpa keraguan sedikit pun. Matanya bahkan menatap Mama Rosa dan Papa Adi penuh keyakinan.


Mama Rosa kembali hanya bisa menangis dan semakin menyesali perbuatannya. Ternyata banyak pihak yang tersakiti oleh keputusannya yang memaksakan Hazar untuk menikah lagi.


“Hazar tidak ingin bercerai, dan dia juga tidak ingin menikahi wanita lain. Pernikahan Hazar dan Luna sudah dibatalkan, sebab itu hanya keputusan sepihak yang dibuat Mamanya tanpa persetujuan dari Hazar.” Terang Papa Adi. Jujur, ia sedikit kecewa mendengar ucapan Papa Haris tadi, yang seolah tidak menyayangkan sedikit pun pernikahan anak-anak mereka. Dan sikap besannya itu terbilang terlalu cuek untuk seorang ayah yang tengah kehilangan putrinya.


Papa Haris dapat menangkap tatapan ketidak sukaan Papa Adi padanya.


“Jika Hazar tidak menikah lagi, Alin akan semakin merasa bersalah.” Papa Haris menghela napas. “Alin sebenarnya tahu, kalau Kakek Tomi sedang dirawat di rumah sakit lain, dan dia juga tahu, kalau kalian sedang berbohong tentang mengajak Kakek Tomi pergi berlibur. Alin tahu semuanya tentang kesehatan Kakek Tomi.” Papa Haris menatap besannya bergantian. “Alin pergi karna rasa bersalahnya, dan mungkin dia sedang menyesali perbuatannya sekarang.” Lanjut Papa Haris.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2