
Mama Rosa poV
Betapa hancur dan sakitnya hatinya kala menyaksikan Hazar masuk ke dalam rumah dengan mengangkat tubuh Alin yang telah memucat karna kedinginan. Remuk dan menyesakkan, membuatnya kesulitan untuk bernapas.
Kalau saja tidak dipegangi oleh Bibi Yona ia mungkin saja sudah jatuh tersungkur menyaksikan pemandangan itu.
Teganya seorang Kakek menyiksa cucunya sampai seperti itu.
Dengan sisa tenaganya ia ikut menyusul Hazar dari belakang. Sepanjang langkahnya ia selalu berdoa semoga Alin dan bayinya baik-baik saja. Waktu serasa berjalan lambat saat ia menanti Dokter melakukan pemeriksaan pada Alin. Dan itu makin membuatnya tersiksa.
“Nona Alin dan bayinya baik-baik saja, Tuan.”
Kalimat itu bagaikan sihir. Detik itu juga dadanya merasa lega, batu-batu besar yang tadi menyesakkan telah terangkat tak tersisa. Tangis kelegaan akhirnya pecah juga. Segera ia memeluk dan mencium kening Alin. Beribu kata maaf ia serukan di telinga Alin, sebab ia tidak bisa berbuat banyak, yang ia lakukan sedari tadi hannyalah duduk dan menunggu sambil menangis.
Kelegaannya ternyata hanya bersifat sementara. Perkumpulan keluarga dini hari itu kembali mencabik-cabikan hatinya. Kata-kata Fatma dini hari itu membuatnya makin terpukul dan merasa bersalah. Ternyata ia sama sekali belum mengenal Alin. Tak ada satu pun yang ia tahu tentang masa lalu menantunya. Dan tak pernah disangkanya kalau masa kecil Alin se mengenaskan itu. Ia adalah mertua terburuk yang pernah ada.
“Beri Nona Alin waktu untuk mengetahui apa yang sebenarnya yang dia harapkan, Tuan. Beri dia waktu untuk memahami perasaannya sendiri. Maafkan Nona Alin, Tuan. Maafkan dia. Tolong beri dia waktu sebentar saja, Tuan.” Ratap Fatma dini hari itu. Wanita paruh baya itu hannyalah orang asing di sini. Tapi dia juga yang terlihat sangat hancur. Apa arti Alin di dalam hidupnya? Sesayang itukah dia pada Alin? Ia menatap sendu pada Bibi Fatma.
“Waktu, apa yang kamu maksud? Bagaimana caranya kita memberi waktu pada Alin?” Hanya Papa Adi yang bersuara, semua orang masih diam kesedihan mereka, setelah mendengar kata-kata Fatma.
“Setujui permintaan cerai Alin.”
“MAMA!” pekik Hazar tak percaya.
“Kamu mau Hazar menceraikan Alin!” Papa Adi tak kalah terkejutnya dari Hazar.
“Bukan menceraikan Alin. Hanya menyetujui,” terangnya.
“Apa bedanya?” Nada suara Papa Adi masih sama.
Mama Rosa mengusap sisa air matanya. Ucapan Fatma tadi sudah dipahaminya sepenuhnya. Memberi Alin waktu, artinya mereka harus menuruti semua kemauan Alin. Anak yang terlanjur membenci itu harus diberi waktu untuk mengetahui apa yang sebenarnya yang dia inginkan. Beri dia waktu untuk mengetahui apa artinya Hazar dalam hidupnya.
Mama Rosa poV End.
***
Pagi harinya setelah insiden penculikan Alin.
“Kamu, istirahatlah. Biar Mama Yang menjaga Alin.” ujar Mama Rosa sambil merapikan selimut Alin. “Siang nanti Mama, Papa, Kakek dan Fatma akan berangkat.”
__ADS_1
“Apa Mama yakin? Bukankah ini nantinya akan berdampak pada kehamilan Alin. Setidaknya biarkan Bibi Fatma tetap di sini. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Alin dan bayinya.” Keluh Hazar. Ia masih tidak setuju dengan rencana yang telah disiapkan oleh mamanya semalam.
“Kemasi barang-barang, kamu.” ujar Mama Rosa seperti tak menghiraukan ucapan Hazar.
“Aku tidak mau pindah kamar.”
Mama Rosa menghentikan kegiatannya. Sekarang ia menghadap lurus pada Hazar.
“Lalu kamu mau berlarut-larut dalam masalah ini?”
“Tapi ini sudah keterlaluan, Ma. Dan Alin juga sedang hamil sekarang.”
“Kamu dengar sendiri semalam ucapan Dokter Yuanita. Kandungan Alin baik-baik saja. Alin adalah anak yang sehat dan kuat, dia juga masih muda. Lagian belum tentu dia akan tersiksa dengan kamunya pindah kamar.” Mama Rosa mendengus, menatap kesal pada Hazar. “Sudah kamu pergi saja, sana. Mulai sekarang jangan tidur di kamar ini lagi. Ingat! Yang harus kamu lakukan hannyalah diam. Jangan pernah mengajak Alin bicara atau menatapnya sekali pun. Jika dalam satu minggu ke depan Alin masih ingin bercerai, kamu tidak akan bisa berbuat apa pun. Kamu akan benar-benar kehilangan dia.”
Hazar menghela napas panjang, dengan langkah beratnya ia pun keluar dari kamar. Ia tidak bisa menolak rencana Mama Rosa yang dianggapnya tidak masuk akal ini, karna semua orang termasuk Kakek Tomi pun telah setuju dengan rencana ini.
*
Hari pertama dijalankannya misi mendiami Alin.
Di saat Alin sedang makan dengan kepala sedikit menunduk, Hazar tak kuasa menahan diri, ia pun mencuri pandang untuk menatap Alin. Wajah istrinya itu sudah tidak pucat lagi. Luka di pelipis, bibir dan pipi Alin pun sudah tampak mengering. Meski merasa terbebani karna tak bisa menyentuh dan memeluk wanita ini, ia tetap merasa bersyukur. Sebab mereka masih bisa tinggal dalam satu rumah, sarapan bersama dan yang terpenting mereka akan tetap berjumpa setiap harinya.
Karena menuruti dan mematuhi rencana Mama Rosa, Hazar harus merelakan satu momen penting di dalam hidupnya. Yaitu, menemani istrinya memeriksa kehamilan pertama untuk calon bayi mereka. Meski ia sempat protes, namun tetap saja, tak ada yang bisa menggoyahkan keteguhan Mama Rosa.
“Aku hanya akan duduk diam mendampinginya.”
“Sama saja mau kamu duduk diam atau berkoar-koar, itu tetap sama.”
“Ma, mau kami bertengkar atau apa pun itu, aku tetap ayah dari anak yang dikandung Alin. Aku berhak tahu perkembangan anakku di dalam sana.”
“Terserah...!” Mama Rosa langsung memutuskan panggilan telepon.
“Ma... Mama!” Hazar berdecak kesal, melempar ponselnya ke atas meja.
Tok! Tok! Tok!
“Di mana Alin?” tanya Hazar pada Karin yang baru saja masuk ke ruang kerja.
“Nona Alin sedang bersiap di kamarnya, Tuan.”
__ADS_1
“Kau, rekam semua yang dikatakan Dokter nanti. Jangan sampai ada satu pun yang terlewatkan.”
“Baik, Tuan.”
Hari kedua.
Baru satu hari berlalu, Hazar sudah mulai merasa jengah. Ia dan Alin masih sah berstatus suami istri, tapi mengapa ia harus pindah kamar segala. Mendiami Alin, kan juga bisa walau mereka satu kamar. Ini bukan kali pertama ia mendiami Alin. Apa sudah dua atau tiga kali ia menghukum istri nakalnya itu dengan cara mendiami. Dan selama masa hukuman itu mereka tetap saja satu kamar dan satu ranjang. Bahkan boleh dikatakan hubungan mereka malah tambah intens saat dalam masa mendiami itu. Jika kembali dipikirnya, tetap saja rencana Mama Rosa terasa tidak masuk akal. Bagaimana ia akan tahu kalau Alin sayang atau tidaknya pada dirinya jika mereka tak berteguran seperti ini. Bukankah hubungan mereka akan semakin renggang jika terus-terusan begini.
Hazar meraih ponselnya dan menghubungi nomer mamanya.
“Barang-baranku masih ada yang tertinggal di kamar atas. Aku harus mengambilnya sekarang.” Hazar masih harus beralasan, ia tak berani berterus terang menentang rencana mamanya.
“Minta Bibi Yona yang ambil,” jawab Mama Rosa dengan santainya.
“Ma!” Hazar berdecak kesal. “Mama kan tahu... aku paling tidak suka barang-barangku disentuh orang lain.”
“Minta Bibi Yona menggunakan sarung tangan.”
“Aku sendiri yang akan mengambilnya!” seru Hazar kesal. Mau beribu alasan yang ia kemukakan, mamanya akan selalu saja memiliki banyak cara untuk melarangnya. Hazar hendak memutuskan panggilan telepon, namun urung sebab Mama Rosa kembali bersuara di seberang sana.
“Mulai besok Alin akan bekerja menggantikan papanya di rumah sakit.”
“Apa! Ma, Alin lagi hamil. Bagaimana bisa dia bekerja!”
“Alin hamil. Bukan sakit, Hazar.” Suara Mama Rosa sudah mulai tak enak didengar.
“Aku tidak mau dia kecapean.”
“Dia tahu batas dirinya sendiri. Dia pasti akan istirahat jika merasa lelah. Lagian dia bekerja hanya untuk menggantikan papanya. Bukan merawat pasien.”
*
“Pasangkan CCTV di kamarku,”
“Kamar Anda yang mana, Tuan?”
Hazar menatap sinis pada Karin. “Kau tidak dengar. Kamarku! Kamarku hanya ada satu di rumah ini. Apa kau sudah mulai pikun!” seru Hazar dengan muka merah padam. Ia menjadi sangat sensitif sejak kemarin. Semua orang terlihat sangat mengesalkan baginya. Karin yang bisanya selalu perfek dalam menjalankan tugas, pun sudah mudah tidak kompeten di matanya. Apa Sekretarisnya itu sudah mulai menua sekarang!
“Baik, Tuan.” jawab Karin.
__ADS_1